Pada Kamis, 17 November 2016 3:51, "'Chan CT' [email protected]
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:
Ahok Tersangka, Jokowi Serang Balik Sampai Lebaran Kuda 16 November 2016
12:34:30 http://www.kompasiana.com/ lahagu/ahok-tersangka-jokowi-
serang-balik-sampai-lebaran- kuda_582befdc327b613d155ec323 Ahok tersangka
adalah pilihan terbaik dari dua option yang ada. Kalau Ahok dinyatakan bebas,
bisa anda bayangkan gaduhnya negeri ini. Demo bergelombang terus berlanjut,
ekonomi mulai goyah, dan pemerintah menjadi tidak fokus bekerja. Lalu potensi
pertikaian sesama bangsa semakin besar. Sementara jika Ahok tersangka, maka
musuh Ahok puas, demo berhenti dan pemerintah menjadi fokus bekerja. Sinyal
bahwa Ahok tersangka terlihat dari pernyataan Jokowi Selasa (15/11/2016) bahwa
tidak ada lagi demo ke depan. Artinya, Jokowi sudah tahu bahwa Ahok tersangka.
Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa tidak ada demo lagi karena Ahok sudah
tersangka, sesuai dengan tuntutan para pendemo sebelumnya. Jadi Jokowi sudah
tahu bahwa Ahok akan dijadikan tersangka sebelum Bareskrim Polri
mengumumkannya. Sebetulnya Jokowi bisa mempertahankan Ahok agar tidak dijadikan
sebagai tersangka dan dinyatakan bebas oleh Bareskrim Polri. Namun Jokowi tidak
melakukan itu. Jokowi setuju Ahok jadi tersangka. Pertanyaannya adalah mengapa
Jokowi setuju Ahok menjadi tersangka? Pertama, pilihan menjadikan Ahok
tersangka adalah pilihan tepat. Alasannya biarlah Ahok membuktikan dirinya di
pengadilan apakah ia benar salah atau tidak. Dengan demikian Jokowi tidak bisa
lagi dituduh melindungi Ahok, melindungi “Si Penista Agama” karena pengadilan
di luar wewenang Jokowi. Status Ahok sebagai tersangka pun bukan berarti
segala sesuatu menjadi kiamat. Jalan masih panjang. Lewat siaran terbuka
nantinya, Ahok akan bertarung membela diri. Ia bisa membela diri dengan
argumen-argumen yang valid dan mendatangkan saksi ahli dari luar negeri. Jelas
butuh waktu yang lama sebelum akhirnya Ahok ditetapkan bersalah oleh
pengadilan. Tentu saja, publik Jakarta tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan
bahwa Ahok telah tamat. Alasannya sesuai dengan undang-undang Pilkada, Ahok
masih bisa berlaga dalam Pilkada Februari 2017 mendatang. Di situ akan terlihat
apakah ada pengaruh status tersangka itu bagi para pemilihnya atau justru
masyarakat Jakarta berbondong-bondong memilih Ahok sebagai Gubernur DKI periode
kedua. Bisa jadi masyarakat Jakarta yang muak melihat skenario politik busuk
yang sangat menginginkan Ahok terjungkal justru termotivasi untuk memilih Ahok.
Bisa jadi publik Jakarta menjadi semakin paham bahwa Ahok hanyalah korban
politik busuk dan karena itu mendapat simpati dari mayoritas masyarakat
Jakarta. Tentu saja sekarang publik akan wait and see melihat perkembagan kasus
Ahok di pengadilan. Jika ke depan Ahok terlihat sebagai korban dari permainan
politik busuk, maka rakyat Jakarta akan beralih untuk mendukungnya dan
berbondong-bondong memilihnya dalam Pilkada mendatang. Kedua, demo Ahok yang
terjadi selama ini sudah bercampur-baur dengan politik. Itu yang dipahami oleh
Jokowi. Keadaan sudah tidak bisa dipisahkan yang mana soal agama dan yang mana
politik. Karena itu lawan-lawan politik Jokowi amat mudah menunggangi demo-demo
yang ditujukan kepada Ahok. Dan ini sangat berbahaya. Musuh bisa berkamuflase
dan mendapat kendaraan untuk menyerang Jokowi dengan cara menunggangi demo
lanjutan. Dengan ditetapkannya Ahok sebagai tersangka, maka skenario lawan
politik untuk melengserkan Jokowi gagal total. Ketiga, Jokowi rela
mengorbankan Ahok demi menekuk lawan-lawan politiknya. Dengan ditetapkannya
Ahok menjadi tersangka, maka tidak ada alasan lagi para lawan politiknya untuk
menghantam langsung pemerintahan Jokowi. Nah, di sini Jokowi justru bisa mulai
melancarkan serangan balik mematikan. Ibarat bermain catur, Jokowi rela
mengorbankan kudanya demi men-skakmat raja lawan. Artinya Jokowi rela
mengorbankan Ahok untuk mendapat korban lebih banyak dari lawannya. Ada korban
dari pihak gue, tetapi gue juga akan memakan korban dari pihal loe. Begitulah
bahasa gaulnya. Jadi sama-sama ada korban. Bedanya korban yang diincar Jokowi,
pasti yang lebih gede. Dengan ditetapkannya Ahok tersangka, maka sekarang
Jokowi bisa mengatur ulang posisi politiknya. Ia dengan tenang membidik SBY,
Ibas dengan kasus-kasus sebelumnya seperti Century, kasus TPF Munir, kasus
Antasari, kasus 34 proyek PLN yang mangkrak. Itu akan terus ditelusuri sampai
lebaran kuda. Jokowi juga dengan tenang akan membidik FPI, HTI dan siap
membubarkan ormas-ormas sangar ini. Bersama dengan mereka Bareskrim Polri akan
membidik Buni Yani, Ahmad Dhani, Fahri Hamzah, Fadli Zon, Habib Rizieg dan
seterusnya yang selama ini punya kasus diata publik. Nah sebentar lagi
Bareskrim Polri akan panen tersangka. Hal yang sama bagi MUI. Ke depan Jokowi
akan tenang mengaudit lembaga ini terkait dana yang diterima lewat pemberian
sertifikasi halalnya. Dan jika terbukti korup, maka hak memberikan sertifikasi
itu akan dicabut dan diberikan kepada Kementerian agama agar mudah
mengawasinya. Nah, itulah strategi rela berkorban Jokowi demi mengincar korban
yang lebih besar. Dan itu tidak akan berhenti sampai lebaran kuda, lebaran kuda
dan sampai lebaran kuda berikutnya. Jelas ada banyak korban yang sudah siap
diincar, dibidik oleh Jokowi ke depannya. Tinggal pilih, yang mana yang
pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Permainan semakin menarik. Ke depan
jika Jokowi tetap membutuhkan jasa Ahok demi revolusi mentalnya, maka dengan
gampang Ahok bisa dipilih menjadi salah satu menterinya untuk membabat habis
para koruptor, mafia dan para begal APBN. Tempatkan saja Ahok di kementerian
aparatur negara, maka para bandit di sana dengan gampang dihabisi oleh Ahok.
Rencana itu bukanlah hal yang sulit. Itupun kalau Ahok kalah di PIlkada DKI dan
jika masyarakat akhirnya tidak memilih Ahok. Lalu kalau Ahok tetap dipilih oleh
masyarakat Jakarta? Jika itu terjadi, pertarungan masih berlanjut sampai
lebaran kuda. Nah, untuk sementara, Ahok direlakan Jokowi sebagai tersangka.
Tujuannya adalah agar Ahok leluasa membela diri dan sekaligus memberi
keleluasaan bagi Jokowi untuk mengincar lawan-lawan politiknya yang lebih
besar. Jadi ibarat bermain catur, saya rela anda makan kuda saya, tetapi saya
akan habisi rajamu dan skak-mat. Salam Kompasiana, Asaaro Lahagu
#yiv2954200117 #yiv2954200117 -- #yiv2954200117ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv2954200117
#yiv2954200117ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv2954200117
#yiv2954200117ygrp-mkp #yiv2954200117hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-mkp #yiv2954200117ads
{margin-bottom:10px;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-mkp .yiv2954200117ad
{padding:0 0;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-mkp .yiv2954200117ad p
{margin:0;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-mkp .yiv2954200117ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-sponsor
#yiv2954200117ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2954200117
#yiv2954200117ygrp-sponsor #yiv2954200117ygrp-lc #yiv2954200117hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2954200117
#yiv2954200117ygrp-sponsor #yiv2954200117ygrp-lc .yiv2954200117ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2954200117 #yiv2954200117actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2954200117
#yiv2954200117activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2954200117
#yiv2954200117activity span {font-weight:700;}#yiv2954200117
#yiv2954200117activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv2954200117 #yiv2954200117activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2954200117 #yiv2954200117activity span
span {color:#ff7900;}#yiv2954200117 #yiv2954200117activity span
.yiv2954200117underline {text-decoration:underline;}#yiv2954200117
.yiv2954200117attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv2954200117 .yiv2954200117attach div a
{text-decoration:none;}#yiv2954200117 .yiv2954200117attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2954200117 .yiv2954200117attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2954200117 .yiv2954200117attach label a
{text-decoration:none;}#yiv2954200117 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv2954200117 .yiv2954200117bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2954200117
.yiv2954200117bold a {text-decoration:none;}#yiv2954200117 dd.yiv2954200117last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2954200117 dd.yiv2954200117last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2954200117
dd.yiv2954200117last p span.yiv2954200117yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv2954200117 div.yiv2954200117attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv2954200117 div.yiv2954200117attach-table
{width:400px;}#yiv2954200117 div.yiv2954200117file-title a, #yiv2954200117
div.yiv2954200117file-title a:active, #yiv2954200117
div.yiv2954200117file-title a:hover, #yiv2954200117 div.yiv2954200117file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2954200117 div.yiv2954200117photo-title a,
#yiv2954200117 div.yiv2954200117photo-title a:active, #yiv2954200117
div.yiv2954200117photo-title a:hover, #yiv2954200117
div.yiv2954200117photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2954200117
div#yiv2954200117ygrp-mlmsg #yiv2954200117ygrp-msg p a
span.yiv2954200117yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2954200117
.yiv2954200117green {color:#628c2a;}#yiv2954200117 .yiv2954200117MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv2954200117 o {font-size:0;}#yiv2954200117
#yiv2954200117photos div {float:left;width:72px;}#yiv2954200117
#yiv2954200117photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2954200117
#yiv2954200117photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2954200117
#yiv2954200117reco-category {font-size:77%;}#yiv2954200117
#yiv2954200117reco-desc {font-size:77%;}#yiv2954200117 .yiv2954200117replbq
{margin:4px;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2954200117
#yiv2954200117ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2954200117
#yiv2954200117ygrp-mlmsg select, #yiv2954200117 input, #yiv2954200117 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2954200117
#yiv2954200117ygrp-mlmsg pre, #yiv2954200117 code {font:115%
monospace;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-mlmsg #yiv2954200117logo
{padding-bottom:10px;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-msg
p#yiv2954200117attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2954200117
#yiv2954200117ygrp-reco #yiv2954200117reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-sponsor
#yiv2954200117ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2954200117
#yiv2954200117ygrp-sponsor #yiv2954200117ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2954200117
#yiv2954200117ygrp-sponsor #yiv2954200117ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv2954200117 #yiv2954200117ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2954200117
#yiv2954200117ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv2954200117