Pada Sabtu, 19 November 2016 15:09, "'Tsasando' [email protected] 
[wahana-news]" <[email protected]> menulis:
 

     
http://www.berdikarionline.com/12-november-1926-pemberontakan-anti-kolonial-pertama/
    12 November 1926: Hari Pemberontakan Anti-Kolonial ·        HISTORIA /13 
NOVEMBER 2012 | 2:35     12 November tahun peringatan
Pemberontakan kita diIndonesia
Ya! ya! ya! Itulah yangakan, mendatangkan dunia kemerdekaan.
Dari itu bersiaplahsegera
Hayo rapat kawan kitasemua
Hancurkanlahpengkhianat dunia
Hayo rapat kawan kitasemua…
Berpuluh kawan di tianggantungan
Beratus-ratus melayangjiwanya.
Laki dan istri dalambuangan
Beribu-ribu di dalampenjara.
Ya! ya! ya! Itulah yangakan, mendatangkan dunia kemerdekaan. Itulah lirik lagu 
perjuangan “12 November”. Lagu inimengingatkan kita pada peristiwa 12 November 
1926. Dalam sejarah resmiIndonesia, peristiwa 12 November 1926 disebut sebagai 
pemberontakan PartaiKomunis Indonesia (PKI). Ironisnya, kendati pemberontakan 
ini diarahkan kepada penguasakolonial, sejarah resmi Indonesia tak memberi 
apreasiasi secuil pun. Negarajuga tidak memberikan penghormatan apapun terhadap 
peristiwa heroik itu.Sebaliknya, sejarah resmi berusaha memberi pengertian 
negatif terhadappemberontakan 12 November 1927. PKI menyiapkan pemberontakan 
ini selama setahun. Awalnya,pemberontakan ini digagas melalui sebuah Konferensi 
di Prambanan, 25 Desember1925. Setelah setahun bersiap, dengan berbagai polemik 
yang menyertai internalPKI, pemberontakan 12 November 1926 pun pecah di 
tengah-tengah kekuasaankolonial. Awal pemberontakan bermula di Jakarta. Gerakan 
pemberontakansudah berlangsung sejak sore hari 12 November. Menjelang tengah 
malam, gerakanpemberontak sudah bergerak menyerang polisi, merusak sambungan 
telpon, danmenyerbu penjara Glodok. Ratusan orang juga menyerang polisi di 
daerah meestercornelis (Jatinegara). Pemberontakan serupa juga terjadi di 
Tangerang, Banten,Priangan, Solo, Banyumas, Pekalongan, Kediri, dan Surakarta. 
Pemberontakanpaling keras terjadi di Priangan dan Banten. Di kedua daerah itu, 
momenpemberontakan bertemu dengan keresahan luas di kalangan kaum tani. 
Sebagianbesar pemberontak hanya bersenjatakan pisau dan kelewang. Hanya 
sebagian kecilyang menggunakan senapan. Di Sumatera, pemberontakan PKI baru 
dimulai tanggal 1 Januari1927. Pusat pemberontakan berlangsung di Sawahlunto 
(Silungkang). Di sinipemberontakan dipimpin langsung oleh PKI dan Sarekat 
Rakyat (SR). Sejumlahopsir berdarah Indonesia juga berpartisipasi dalam 
pemberontakan. Pemberontakan PKI berhasil dipatahkan penguasa kolonial.Beberapa 
catatan menyebutkan, akibat pemberontakan menemui kegagalan, sekitar13.000 
orang ditangkap di seluruh Hindia-Belanda. Beberapa orang langsungditembak. 
5000 orang ditempatkan dalam penahanan untuk pencegahan. Lalu, 4500orang 
dipenjara setelah pengadilan. Dan 1300-an orang dibuang ke Boven Digul,Papua. 
Banyak kelompok kiri, termasuk bekas PKI seperti Tan Malaka,menyalahkan 
pemberontakan itu. Tan Malaka menganggap pemberontakan itu tindakan“advonturis” 
dan berakibat hancurnya satu generasi PKI. Baginya,sebelum PKI memutuskan 
pemberontakan, seharusnya dukungan rakyat sudahdipastikan. Bagi seorang Ali 
Archam, seorang pemimpin PKI, tak ada yangpatut disalahkan dari pemberontakan 
tersebut. Ia sendiri bilang, “suatu pemberontakan yang mengalami 
kekalahanadalah tetap sah dan benar. Kita terima kekalahan ini karena musuh 
lebih kuat.Kita terima pembuangan ini sebagai satu risiko perjuangan yang 
kalah. Tidak adadi antara kita yang salah, karena kita berjuang melawan 
penjajahan. Pemerintahkolonial yang bersalah. Kita harus melawannya, juga di 
tanah pembuangan ini.Dan persatuan harus terus kita pelihara.” Njoto, salah 
seorang pimpinan PKI di tahun 1950-an, jugamenyampaikan apresiasinya yang besar 
terhadap pemberontakan itu. Njoto bilang, “pemberontakan itumempunyai arti yang 
besar dalam membangkitkan kesadaran massa dan menanamkankepercayaan kepada diri 
sendiri serta keyakinan akan kemenangan di haridepan.” Hal senada diungkapkan 
DN Aidit, pimpinan CC-PKI, padaperingatan HUT PKI ke-35 tanggal 23 Mei 1955. 
Aidit tegas mengatakan,“satu hal yang tak bisa dilupakan, bahwa pemberontakan 
ini telahmenunjukkan kepada Rakyat Indonesia, bahwa Belanda bisa dibuat 
kalang-kabut;kekuasan kolonial dapat digoyangkan; bahwa kekusaan kolonial bukan 
kekuasaanmutlak.” Takashi Shiraishi, dalam bukunya “Zaman Bergerak”,juga 
memberikan pendapat mengenai pemberontakan itu. Katanya, sekalipunpemberontakan 
itu berakhir dengan kematian yang memilukan, tetapi sejak itu idedan 
bentuk-bentuk pergerakan telah menjadi pengetahuan umum dalam bahasa melayudan 
Indonesia. Benar saja, tak lama setelah pemberontakan, generasi baru 
darinasionalis radikal, dengan Sukarno sebagai tokohnya, telah muncul kembali 
digelanggang pergerakan. Sukarno banyak mewarisi tradisi radikal 
danrevolusioner-nya PKI. Partai yang didirikan Soekarno, Partai 
NasionalisIndonesia (PNI), jelas-jelas mengambil jalan “Non-Koperasi”. Soekarno 
sendiri mengakui hal itu. Dalam bukunya, Sarinah, tahun 1947, Soekarno 
mengatakan, “Imperialisme Belandapada waktu itu baru saja mengamuk tabula rasa 
di kalangan kaum Komunis. PartaiKomunis Indonesia dan Sarekat Rakyat dipukulnya 
dengan hebatnya, ribuanpemimpinnya dilemparkannya dalam penjara dan dalam 
pembuangan di Boven Digul.Untuk meneruskan perjuangan revolusioner, maka saya 
mendirikan Partai NasionalIndonesia.” Lalu, saat menyampaikan pidato di HUT PNI 
ke-38 di StadionGelora Bung Karno, 25 Juli 1965, Soekarno kembali menegaskan 
penilaiannyaterhadap pemberontakan PKI pada 12 November 1926 itu. Menurut 
Soekarno,pemberontakan PKI itu pada pokoknya sudah benar, karena bertekad 
merebutkekuasaan dari tangan kolonialis Belanda. Hanya saja, kata Sukarno, PKI 
salahdalam caranya, yakni kurang persiapan dalam menyiapkan pemberontakan. 
Belakangan, ketika aura anti-komunisme menguat pasca G.30.S,Sukarno menolak 
untuk menghapus pengorbanan PKI dalam perjuangan KemerdekaanIndonesia. Di 
hadapan Komando Aksi Mahasiswa (KAMI), 21 Desember 1965, Sukarnomengakui, 
karena perjuangan PKI mendatangkan Indonesia merdeka, 2000 pimpinanPKI dibuang 
ke Boven Digul. “Di sana mereka hidup, hidup sengsara sekali.Banyak yang mati 
di Boven Digul,” tandasnya. Sukarno menandaskan, seperti juga kaum nasionalis 
dan agamaisyang melakukan pengorbanan, PKI juga melakukan pengorbanan. Sukarno 
kemudiankuat-kuat mengingatkan, “jangan kau lupakan ini, saudara-saudara, 
bahwaPKI komunis, katakanlan PKI komunis, juga menyumbang kepada 
kemerdekaanIndonesia ini. Mereka pun berkorban habis-habisan untuk Indonesia 
Merdeka.Malahan aku yang menyaksikan segala hal itu berkata, pengorbanan mereka 
(PKI)dalam perjuangan Indonesia Merdeka lebih besar daripada pengorbanan 
yangpartai-partai lain dan golongan-golongan lain telah adakan.” Kini, 86 tahun 
setelah kejadian itu, kita sebagai sebuah bangsaseakan menapikan pengorbanan 
para pejuang kemerdekaan pada peristiwa ini. Tidaksedikit diantara mereka 
adalah patriot-patriot kemerdekaan. Cita-cita merekapun cukup jelas: 
mendatangkan dunia kemerdekaan! Karenaitu, sangat pantas jika tanggal 12 
November diperingati sebagai Hari Pemberontakan Anti-Kolonial atau Hari 
Anti-Kolonialisme. Kita harus lapang-dada dalam melihat sejarah. Prasangka 
buruk,apalagi ketidakberdayaan akibat rekayasa sejarah, hanya akan membuat 
kita“tidak berlaku adil sejak dalam fikiran”. Kalau itu terjadi, kitatidak akan 
pernah bisa melangkah dengan kaki sempurna menuju masa depan. Sebab,satu kaki 
kita ditawan oleh sejarah. Mahesa Danu         #yiv0774264269 #yiv0774264269 -- 
#yiv0774264269ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 
0;padding:0 10px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp hr {border:1px solid 
#d8d8d8;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp #yiv0774264269hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp #yiv0774264269ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp .yiv0774264269ad 
{padding:0 0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp .yiv0774264269ad p 
{margin:0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp .yiv0774264269ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-sponsor 
#yiv0774264269ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ygrp-lc #yiv0774264269hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ygrp-lc .yiv0774264269ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0774264269
 #yiv0774264269activity span {font-weight:700;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv0774264269 #yiv0774264269activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0774264269 #yiv0774264269activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv0774264269 #yiv0774264269activity span 
.yiv0774264269underline {text-decoration:underline;}#yiv0774264269 
.yiv0774264269attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv0774264269 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0774264269 
.yiv0774264269bold a {text-decoration:none;}#yiv0774264269 dd.yiv0774264269last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0774264269 dd.yiv0774264269last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0774264269 
dd.yiv0774264269last p span.yiv0774264269yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv0774264269 div.yiv0774264269attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv0774264269 div.yiv0774264269attach-table 
{width:400px;}#yiv0774264269 div.yiv0774264269file-title a, #yiv0774264269 
div.yiv0774264269file-title a:active, #yiv0774264269 
div.yiv0774264269file-title a:hover, #yiv0774264269 div.yiv0774264269file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0774264269 div.yiv0774264269photo-title a, 
#yiv0774264269 div.yiv0774264269photo-title a:active, #yiv0774264269 
div.yiv0774264269photo-title a:hover, #yiv0774264269 
div.yiv0774264269photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0774264269 
div#yiv0774264269ygrp-mlmsg #yiv0774264269ygrp-msg p a 
span.yiv0774264269yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0774264269 
.yiv0774264269green {color:#628c2a;}#yiv0774264269 .yiv0774264269MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv0774264269 o {font-size:0;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269photos div {float:left;width:72px;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0774264269
 #yiv0774264269reco-category {font-size:77%;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269reco-desc {font-size:77%;}#yiv0774264269 .yiv0774264269replbq 
{margin:4px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269ygrp-mlmsg select, #yiv0774264269 input, #yiv0774264269 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269ygrp-mlmsg pre, #yiv0774264269 code {font:115% 
monospace;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mlmsg #yiv0774264269logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-msg 
p#yiv0774264269attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269ygrp-reco #yiv0774264269reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-sponsor 
#yiv0774264269ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0774264269 
#yiv0774264269ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv0774264269 

   

Kirim email ke