Untuk membantu mengetahui lagu dan menyanyikan lirik Lagu "12 November 1926" berikut saya attachmentkan dengan format pdf notasi lagu 12 November 1926 yang dimuat dlm Mjl. Bintang Merah.15 Nov. 1950.
Selamat melantangkan lagu perjuangan para perintis kemerdekaan kita. Salam Lusi.- Beginn der weitergeleiteten Nachricht: Datum: Sat, 19 Nov 2016 18:37:15 +0000 (UTC) Von: "Chalik Hamid [email protected] [GELORA45]" <[email protected]> An: "Yahoo! Inc." <[email protected]>, Jaringan Kerja Indonesia <[email protected]>, Gelora 45 <[email protected]>, Sastra Pembebasan <[email protected]>, "Yahoo! Inc." <[email protected]>, DISKUSI FORUM HLD <[email protected]> Betreff: [GELORA45] Trs: [wahana-news] 12 November 1926: Hari Pemberontakan Anti-Kolonial Pada Sabtu, 19 November 2016 15:09, "'Tsasando' [email protected] [wahana-news]" <[email protected]> menulis: http://www.berdikarionline.com/12-november-1926-pemberontakan-anti-kolonial-pertama/ 12 November 1926: Hari Pemberontakan Anti-Kolonial · HISTORIA /13 NOVEMBER 2012 | 2:35 12 November tahun peringatan Pemberontakan kita diIndonesia Ya! ya! ya! Itulah yangakan, mendatangkan dunia kemerdekaan. Dari itu bersiaplahsegera Hayo rapat kawan kitasemua Hancurkanlahpengkhianat dunia Hayo rapat kawan kitasemua… Berpuluh kawan di tianggantungan Beratus-ratus melayangjiwanya. Laki dan istri dalambuangan Beribu-ribu di dalampenjara. Ya! ya! ya! Itulah yangakan, mendatangkan dunia kemerdekaan. Itulah lirik lagu perjuangan “12 November”. Lagu inimengingatkan kita pada peristiwa 12 November 1926. Dalam sejarah resmiIndonesia, peristiwa 12 November 1926 disebut sebagai pemberontakan PartaiKomunis Indonesia (PKI). Ironisnya, kendati pemberontakan ini diarahkan kepada penguasakolonial, sejarah resmi Indonesia tak memberi apreasiasi secuil pun. Negarajuga tidak memberikan penghormatan apapun terhadap peristiwa heroik itu.Sebaliknya, sejarah resmi berusaha memberi pengertian negatif terhadappemberontakan 12 November 1927. PKI menyiapkan pemberontakan ini selama setahun. Awalnya,pemberontakan ini digagas melalui sebuah Konferensi di Prambanan, 25 Desember1925. Setelah setahun bersiap, dengan berbagai polemik yang menyertai internalPKI, pemberontakan 12 November 1926 pun pecah di tengah-tengah kekuasaankolonial. Awal pemberontakan bermula di Jakarta. Gerakan pemberontakansudah berlangsung sejak sore hari 12 November. Menjelang tengah malam, gerakanpemberontak sudah bergerak menyerang polisi, merusak sambungan telpon, danmenyerbu penjara Glodok. Ratusan orang juga menyerang polisi di daerah meestercornelis (Jatinegara). Pemberontakan serupa juga terjadi di Tangerang, Banten,Priangan, Solo, Banyumas, Pekalongan, Kediri, dan Surakarta. Pemberontakanpaling keras terjadi di Priangan dan Banten. Di kedua daerah itu, momenpemberontakan bertemu dengan keresahan luas di kalangan kaum tani. Sebagianbesar pemberontak hanya bersenjatakan pisau dan kelewang. Hanya sebagian kecilyang menggunakan senapan. Di Sumatera, pemberontakan PKI baru dimulai tanggal 1 Januari1927. Pusat pemberontakan berlangsung di Sawahlunto (Silungkang). Di sinipemberontakan dipimpin langsung oleh PKI dan Sarekat Rakyat (SR). Sejumlahopsir berdarah Indonesia juga berpartisipasi dalam pemberontakan. Pemberontakan PKI berhasil dipatahkan penguasa kolonial.Beberapa catatan menyebutkan, akibat pemberontakan menemui kegagalan, sekitar13.000 orang ditangkap di seluruh Hindia-Belanda. Beberapa orang langsungditembak. 5000 orang ditempatkan dalam penahanan untuk pencegahan. Lalu, 4500orang dipenjara setelah pengadilan. Dan 1300-an orang dibuang ke Boven Digul,Papua. Banyak kelompok kiri, termasuk bekas PKI seperti Tan Malaka,menyalahkan pemberontakan itu. Tan Malaka menganggap pemberontakan itu tindakan“advonturis” dan berakibat hancurnya satu generasi PKI. Baginya,sebelum PKI memutuskan pemberontakan, seharusnya dukungan rakyat sudahdipastikan. Bagi seorang Ali Archam, seorang pemimpin PKI, tak ada yangpatut disalahkan dari pemberontakan tersebut. Ia sendiri bilang, “suatu pemberontakan yang mengalami kekalahanadalah tetap sah dan benar. Kita terima kekalahan ini karena musuh lebih kuat.Kita terima pembuangan ini sebagai satu risiko perjuangan yang kalah. Tidak adadi antara kita yang salah, karena kita berjuang melawan penjajahan. Pemerintahkolonial yang bersalah. Kita harus melawannya, juga di tanah pembuangan ini.Dan persatuan harus terus kita pelihara.” Njoto, salah seorang pimpinan PKI di tahun 1950-an, jugamenyampaikan apresiasinya yang besar terhadap pemberontakan itu. Njoto bilang, “pemberontakan itumempunyai arti yang besar dalam membangkitkan kesadaran massa dan menanamkankepercayaan kepada diri sendiri serta keyakinan akan kemenangan di haridepan.” Hal senada diungkapkan DN Aidit, pimpinan CC-PKI, padaperingatan HUT PKI ke-35 tanggal 23 Mei 1955. Aidit tegas mengatakan,“satu hal yang tak bisa dilupakan, bahwa pemberontakan ini telahmenunjukkan kepada Rakyat Indonesia, bahwa Belanda bisa dibuat kalang-kabut;kekuasan kolonial dapat digoyangkan; bahwa kekusaan kolonial bukan kekuasaanmutlak.” Takashi Shiraishi, dalam bukunya “Zaman Bergerak”,juga memberikan pendapat mengenai pemberontakan itu. Katanya, sekalipunpemberontakan itu berakhir dengan kematian yang memilukan, tetapi sejak itu idedan bentuk-bentuk pergerakan telah menjadi pengetahuan umum dalam bahasa melayudan Indonesia. Benar saja, tak lama setelah pemberontakan, generasi baru darinasionalis radikal, dengan Sukarno sebagai tokohnya, telah muncul kembali digelanggang pergerakan. Sukarno banyak mewarisi tradisi radikal danrevolusioner-nya PKI. Partai yang didirikan Soekarno, Partai NasionalisIndonesia (PNI), jelas-jelas mengambil jalan “Non-Koperasi”. Soekarno sendiri mengakui hal itu. Dalam bukunya, Sarinah, tahun 1947, Soekarno mengatakan, “Imperialisme Belandapada waktu itu baru saja mengamuk tabula rasa di kalangan kaum Komunis. PartaiKomunis Indonesia dan Sarekat Rakyat dipukulnya dengan hebatnya, ribuanpemimpinnya dilemparkannya dalam penjara dan dalam pembuangan di Boven Digul.Untuk meneruskan perjuangan revolusioner, maka saya mendirikan Partai NasionalIndonesia.” Lalu, saat menyampaikan pidato di HUT PNI ke-38 di StadionGelora Bung Karno, 25 Juli 1965, Soekarno kembali menegaskan penilaiannyaterhadap pemberontakan PKI pada 12 November 1926 itu. Menurut Soekarno,pemberontakan PKI itu pada pokoknya sudah benar, karena bertekad merebutkekuasaan dari tangan kolonialis Belanda. Hanya saja, kata Sukarno, PKI salahdalam caranya, yakni kurang persiapan dalam menyiapkan pemberontakan. Belakangan, ketika aura anti-komunisme menguat pasca G.30.S,Sukarno menolak untuk menghapus pengorbanan PKI dalam perjuangan KemerdekaanIndonesia. Di hadapan Komando Aksi Mahasiswa (KAMI), 21 Desember 1965, Sukarnomengakui, karena perjuangan PKI mendatangkan Indonesia merdeka, 2000 pimpinanPKI dibuang ke Boven Digul. “Di sana mereka hidup, hidup sengsara sekali.Banyak yang mati di Boven Digul,” tandasnya. Sukarno menandaskan, seperti juga kaum nasionalis dan agamaisyang melakukan pengorbanan, PKI juga melakukan pengorbanan. Sukarno kemudiankuat-kuat mengingatkan, “jangan kau lupakan ini, saudara-saudara, bahwaPKI komunis, katakanlan PKI komunis, juga menyumbang kepada kemerdekaanIndonesia ini. Mereka pun berkorban habis-habisan untuk Indonesia Merdeka.Malahan aku yang menyaksikan segala hal itu berkata, pengorbanan mereka (PKI)dalam perjuangan Indonesia Merdeka lebih besar daripada pengorbanan yangpartai-partai lain dan golongan-golongan lain telah adakan.” Kini, 86 tahun setelah kejadian itu, kita sebagai sebuah bangsaseakan menapikan pengorbanan para pejuang kemerdekaan pada peristiwa ini. Tidaksedikit diantara mereka adalah patriot-patriot kemerdekaan. Cita-cita merekapun cukup jelas: mendatangkan dunia kemerdekaan! Karenaitu, sangat pantas jika tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Pemberontakan Anti-Kolonial atau Hari Anti-Kolonialisme. Kita harus lapang-dada dalam melihat sejarah. Prasangka buruk,apalagi ketidakberdayaan akibat rekayasa sejarah, hanya akan membuat kita“tidak berlaku adil sejak dalam fikiran”. Kalau itu terjadi, kitatidak akan pernah bisa melangkah dengan kaki sempurna menuju masa depan. Sebab,satu kaki kita ditawan oleh sejarah. Mahesa Danu #yiv0774264269 #yiv0774264269 -- #yiv0774264269ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp #yiv0774264269hd {color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp #yiv0774264269ads {margin-bottom:10px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp .yiv0774264269ad {padding:0 0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp .yiv0774264269ad p {margin:0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp .yiv0774264269ad a {color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ygrp-lc #yiv0774264269hd {margin:10px 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ygrp-lc .yiv0774264269ad {margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269actions {font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269activity {background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269activity span {font-weight:700;}#yiv0774264269 #yiv0774264269activity span:first-child {text-transform:uppercase;}#yiv0774264269 #yiv0774264269activity span a {color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0774264269 #yiv0774264269activity span span {color:#ff7900;}#yiv0774264269 #yiv0774264269activity span .yiv0774264269underline {text-decoration:underline;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach {clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 0;width:400px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach div a {text-decoration:none;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach img {border:none;padding-right:5px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach label {display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach label a {text-decoration:none;}#yiv0774264269 blockquote {margin:0 0 0 4px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269bold {font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0774264269 .yiv0774264269bold a {text-decoration:none;}#yiv0774264269 dd.yiv0774264269last p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0774264269 dd.yiv0774264269last p span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0774264269 dd.yiv0774264269last p span.yiv0774264269yshortcuts {margin-right:0;}#yiv0774264269 div.yiv0774264269attach-table div div a {text-decoration:none;}#yiv0774264269 div.yiv0774264269attach-table {width:400px;}#yiv0774264269 div.yiv0774264269file-title a, #yiv0774264269 div.yiv0774264269file-title a:active, #yiv0774264269 div.yiv0774264269file-title a:hover, #yiv0774264269 div.yiv0774264269file-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0774264269 div.yiv0774264269photo-title a, #yiv0774264269 div.yiv0774264269photo-title a:active, #yiv0774264269 div.yiv0774264269photo-title a:hover, #yiv0774264269 div.yiv0774264269photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0774264269 div#yiv0774264269ygrp-mlmsg #yiv0774264269ygrp-msg p a span.yiv0774264269yshortcuts {font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0774264269 .yiv0774264269green {color:#628c2a;}#yiv0774264269 .yiv0774264269MsoNormal {margin:0 0 0 0;}#yiv0774264269 o {font-size:0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269photos div {float:left;width:72px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269photos div div {border:1px solid #666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269photos div label {color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269reco-category {font-size:77%;}#yiv0774264269 #yiv0774264269reco-desc {font-size:77%;}#yiv0774264269 .yiv0774264269replbq {margin:4px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-actbar div a:first-child {margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mlmsg select, #yiv0774264269 input, #yiv0774264269 textarea {font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mlmsg pre, #yiv0774264269 code {font:115% monospace;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mlmsg #yiv0774264269logo {padding-bottom:10px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-msg p a {font-family:Verdana;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-msg p#yiv0774264269attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-reco #yiv0774264269reco-head {color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-reco {margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ov li {font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ov ul {margin:0;padding:0 0 0 8px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-text {font-family:Georgia;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-text p {margin:0 0 1em 0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none !important;}#yiv0774264269
|
Pada Sabtu, 19 November 2016 15:09, "'Tsasando' [email protected] [wahana-news]" <[email protected]> menulis: 12 November 1926: Hari Pemberontakan Anti-Kolonial
12 November tahun peringatan
Pemberontakan kita di Indonesia Ya! ya! ya! Itulah yang akan, mendatangkan dunia kemerdekaan. Dari itu bersiaplah segera Hayo rapat kawan kita semua Hancurkanlah pengkhianat dunia Hayo rapat kawan kita semua… Berpuluh kawan di tiang gantungan Beratus-ratus melayang jiwanya. Laki dan istri dalam buangan Beribu-ribu di dalam penjara. Ya! ya! ya! Itulah yang akan, mendatangkan dunia kemerdekaan. Itulah lirik lagu perjuangan “12 November”. Lagu ini
mengingatkan kita pada peristiwa 12 November 1926. Dalam sejarah resmi
Indonesia, peristiwa 12 November 1926 disebut sebagai pemberontakan Partai
Komunis Indonesia (PKI).
Ironisnya, kendati pemberontakan ini diarahkan kepada penguasa
kolonial, sejarah resmi Indonesia tak memberi apreasiasi secuil pun. Negara
juga tidak memberikan penghormatan apapun terhadap peristiwa heroik itu.
Sebaliknya, sejarah resmi berusaha memberi pengertian negatif terhadap
pemberontakan 12 November 1927.
PKI menyiapkan pemberontakan ini selama setahun. Awalnya,
pemberontakan ini digagas melalui sebuah Konferensi di Prambanan, 25 Desember
1925. Setelah setahun bersiap, dengan berbagai polemik yang menyertai internal
PKI, pemberontakan 12 November 1926 pun pecah di tengah-tengah kekuasaan
kolonial.
Awal pemberontakan bermula di Jakarta. Gerakan pemberontakan
sudah berlangsung sejak sore hari 12 November. Menjelang tengah malam, gerakan
pemberontak sudah bergerak menyerang polisi, merusak sambungan telpon, dan
menyerbu penjara Glodok. Ratusan orang juga menyerang polisi di daerah meester
cornelis (Jatinegara).
Pemberontakan serupa juga terjadi di Tangerang, Banten,
Priangan, Solo, Banyumas, Pekalongan, Kediri, dan Surakarta. Pemberontakan
paling keras terjadi di Priangan dan Banten. Di kedua daerah itu, momen
pemberontakan bertemu dengan keresahan luas di kalangan kaum tani. Sebagian
besar pemberontak hanya bersenjatakan pisau dan kelewang. Hanya sebagian kecil
yang menggunakan senapan.
Di Sumatera, pemberontakan PKI baru dimulai tanggal 1 Januari
1927. Pusat pemberontakan berlangsung di Sawahlunto (Silungkang). Di sini
pemberontakan dipimpin langsung oleh PKI dan Sarekat Rakyat (SR). Sejumlah
opsir berdarah Indonesia juga berpartisipasi dalam pemberontakan.
Pemberontakan PKI berhasil dipatahkan penguasa kolonial.
Beberapa catatan menyebutkan, akibat pemberontakan menemui kegagalan, sekitar
13.000 orang ditangkap di seluruh Hindia-Belanda. Beberapa orang langsung
ditembak. 5000 orang ditempatkan dalam penahanan untuk pencegahan. Lalu, 4500
orang dipenjara setelah pengadilan. Dan 1300-an orang dibuang ke Boven Digul,
Papua.
Banyak kelompok kiri, termasuk bekas PKI seperti Tan Malaka,
menyalahkan pemberontakan itu. Tan Malaka menganggap pemberontakan itu tindakan
“advonturis” dan berakibat hancurnya satu generasi PKI. Baginya,
sebelum PKI memutuskan pemberontakan, seharusnya dukungan rakyat sudah
dipastikan.
Bagi seorang Ali Archam, seorang pemimpin PKI, tak ada yang
patut disalahkan dari pemberontakan tersebut. Ia sendiri bilang, “suatu pemberontakan yang mengalami kekalahan
adalah tetap sah dan benar. Kita terima kekalahan ini karena musuh lebih kuat.
Kita terima pembuangan ini sebagai satu risiko perjuangan yang kalah. Tidak ada
di antara kita yang salah, karena kita berjuang melawan penjajahan. Pemerintah
kolonial yang bersalah. Kita harus melawannya, juga di tanah pembuangan ini.
Dan persatuan harus terus kita pelihara.”
Njoto, salah seorang pimpinan PKI di tahun 1950-an, juga
menyampaikan apresiasinya yang besar terhadap pemberontakan itu. Njoto bilang, “pemberontakan itu
mempunyai arti yang besar dalam membangkitkan kesadaran massa dan menanamkan
kepercayaan kepada diri sendiri serta keyakinan akan kemenangan di hari
depan.”
Hal senada diungkapkan DN Aidit, pimpinan CC-PKI, pada
peringatan HUT PKI ke-35 tanggal 23 Mei 1955. Aidit tegas mengatakan,
“satu hal yang tak bisa dilupakan, bahwa pemberontakan ini telah
menunjukkan kepada Rakyat Indonesia, bahwa Belanda bisa dibuat kalang-kabut;
kekuasan kolonial dapat digoyangkan; bahwa kekusaan kolonial bukan kekuasaan
mutlak.”
Takashi Shiraishi, dalam bukunya “Zaman Bergerak”,
juga memberikan pendapat mengenai pemberontakan itu. Katanya, sekalipun
pemberontakan itu berakhir dengan kematian yang memilukan, tetapi sejak itu ide
dan bentuk-bentuk pergerakan telah menjadi pengetahuan umum dalam bahasa melayu
dan Indonesia.
Benar saja, tak lama setelah pemberontakan, generasi baru dari
nasionalis radikal, dengan Sukarno sebagai tokohnya, telah muncul kembali di
gelanggang pergerakan. Sukarno banyak mewarisi tradisi radikal dan
revolusioner-nya PKI. Partai yang didirikan Soekarno, Partai Nasionalis
Indonesia (PNI), jelas-jelas mengambil jalan “Non-Koperasi”.
Soekarno sendiri mengakui hal itu. Dalam bukunya, Sarinah, tahun 1947, Soekarno mengatakan, “Imperialisme Belanda
pada waktu itu baru saja mengamuk tabula rasa di kalangan kaum Komunis. Partai
Komunis Indonesia dan Sarekat Rakyat dipukulnya dengan hebatnya, ribuan
pemimpinnya dilemparkannya dalam penjara dan dalam pembuangan di Boven Digul.
Untuk meneruskan perjuangan revolusioner, maka saya mendirikan Partai Nasional
Indonesia.”
Lalu, saat menyampaikan pidato di HUT PNI ke-38 di Stadion
Gelora Bung Karno, 25 Juli 1965, Soekarno kembali menegaskan penilaiannya
terhadap pemberontakan PKI pada 12 November 1926 itu. Menurut Soekarno,
pemberontakan PKI itu pada pokoknya sudah benar, karena bertekad merebut
kekuasaan dari tangan kolonialis Belanda. Hanya saja, kata Sukarno, PKI salah
dalam caranya, yakni kurang persiapan dalam menyiapkan pemberontakan.
Belakangan, ketika aura anti-komunisme menguat pasca G.30.S,
Sukarno menolak untuk menghapus pengorbanan PKI dalam perjuangan Kemerdekaan
Indonesia. Di hadapan Komando Aksi Mahasiswa (KAMI), 21 Desember 1965, Sukarno
mengakui, karena perjuangan PKI mendatangkan Indonesia merdeka, 2000 pimpinan
PKI dibuang ke Boven Digul. “Di sana mereka hidup, hidup sengsara sekali.
Banyak yang mati di Boven Digul,” tandasnya.
Sukarno menandaskan, seperti juga kaum nasionalis dan agamais
yang melakukan pengorbanan, PKI juga melakukan pengorbanan. Sukarno kemudian
kuat-kuat mengingatkan, “jangan kau lupakan ini, saudara-saudara, bahwa
PKI komunis, katakanlan PKI komunis, juga menyumbang kepada kemerdekaan
Indonesia ini. Mereka pun berkorban habis-habisan untuk Indonesia Merdeka.
Malahan aku yang menyaksikan segala hal itu berkata, pengorbanan mereka (PKI)
dalam perjuangan Indonesia Merdeka lebih besar daripada pengorbanan yang
partai-partai lain dan golongan-golongan lain telah adakan.”
Kini, 86 tahun setelah kejadian itu, kita sebagai sebuah bangsa
seakan menapikan pengorbanan para pejuang kemerdekaan pada peristiwa ini. Tidak
sedikit diantara mereka adalah patriot-patriot kemerdekaan. Cita-cita mereka
pun cukup jelas: mendatangkan dunia kemerdekaan! Karena
itu, sangat pantas jika tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Pemberontakan Anti-Kolonial atau Hari Anti-Kolonialisme.
Kita harus lapang-dada dalam melihat sejarah. Prasangka buruk,
apalagi ketidakberdayaan akibat rekayasa sejarah, hanya akan membuat kita
“tidak berlaku adil sejak dalam fikiran”. Kalau itu terjadi, kita
tidak akan pernah bisa melangkah dengan kaki sempurna menuju masa depan. Sebab,
satu kaki kita ditawan oleh sejarah.
Mahesa Danu
|
Lagu 12 November.pdf
Description: Adobe PDF document
