Untuk membantu mengetahui lagu dan menyanyikan lirik Lagu "12 November
1926" berikut saya attachmentkan dengan format pdf notasi lagu 12
November 1926 yang dimuat dlm Mjl. Bintang Merah.15 Nov. 1950.

Selamat melantangkan lagu perjuangan para perintis kemerdekaan kita.
Salam Lusi.-



Beginn der weitergeleiteten Nachricht:

Datum: Sat, 19 Nov 2016 18:37:15 +0000 (UTC)
Von: "Chalik Hamid [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> An: "Yahoo! Inc."
<[email protected]>,  Jaringan Kerja Indonesia
<[email protected]>,  Gelora 45
<[email protected]>,  Sastra Pembebasan
<[email protected]>,  "Yahoo! Inc."
<[email protected]>,  DISKUSI FORUM HLD
<[email protected]> Betreff: [GELORA45] Trs: [wahana-news]
12 November 1926: Hari Pemberontakan Anti-Kolonial


     Pada Sabtu, 19 November 2016 15:09, "'Tsasando' [email protected]
     [wahana-news]" <[email protected]> menulis: 

     
http://www.berdikarionline.com/12-november-1926-pemberontakan-anti-kolonial-pertama/
       12 November 1926: Hari Pemberontakan Anti-Kolonial
     ·        HISTORIA /13 NOVEMBER 2012 | 2:35     12 November tahun
     peringatan Pemberontakan kita diIndonesia Ya! ya! ya! Itulah
     yangakan, mendatangkan dunia kemerdekaan. Dari itu
     bersiaplahsegera Hayo rapat kawan kitasemua
     Hancurkanlahpengkhianat dunia Hayo rapat kawan kitasemua…
Berpuluh kawan di tianggantungan
Beratus-ratus melayangjiwanya.
Laki dan istri dalambuangan
Beribu-ribu di dalampenjara.
Ya! ya! ya! Itulah yangakan, mendatangkan dunia kemerdekaan. 

Itulah
     lirik lagu perjuangan “12 November”. Lagu inimengingatkan kita
     pada peristiwa 12 November 1926. Dalam sejarah resmiIndonesia,
     peristiwa 12 November 1926 disebut sebagai pemberontakan
     PartaiKomunis Indonesia (PKI). Ironisnya, kendati pemberontakan
     ini diarahkan kepada penguasakolonial, sejarah resmi Indonesia tak
     memberi apreasiasi secuil pun. Negarajuga tidak memberikan
     penghormatan apapun terhadap peristiwa heroik
     itu.Sebaliknya, sejarah resmi berusaha memberi pengertian negatif
     terhadappemberontakan 12 November 1927. PKI menyiapkan
     pemberontakan ini selama setahun. Awalnya,pemberontakan ini
     digagas melalui sebuah Konferensi di Prambanan, 25 Desember1925.
     Setelah setahun bersiap, dengan berbagai polemik yang menyertai
     internalPKI, pemberontakan 12 November 1926 pun pecah di
     tengah-tengah kekuasaankolonial. Awal pemberontakan bermula di
     Jakarta. Gerakan pemberontakansudah berlangsung sejak sore hari 12
     November. Menjelang tengah malam, gerakanpemberontak sudah
     bergerak menyerang polisi, merusak sambungan telpon, danmenyerbu
     penjara Glodok. Ratusan orang juga menyerang polisi di daerah
     meestercornelis (Jatinegara). Pemberontakan serupa juga terjadi di
     Tangerang, Banten,Priangan, Solo, Banyumas, Pekalongan, Kediri,
     dan Surakarta. Pemberontakanpaling keras terjadi di Priangan dan
     Banten. Di kedua daerah itu, momenpemberontakan bertemu dengan
     keresahan luas di kalangan kaum tani. Sebagianbesar pemberontak
     hanya bersenjatakan pisau dan kelewang. Hanya sebagian kecilyang
     menggunakan senapan. Di Sumatera, pemberontakan PKI baru dimulai
     tanggal 1 Januari1927. Pusat pemberontakan berlangsung di
     Sawahlunto (Silungkang). Di sinipemberontakan dipimpin langsung
     oleh PKI dan Sarekat Rakyat (SR). Sejumlahopsir berdarah Indonesia
     juga berpartisipasi dalam pemberontakan. Pemberontakan PKI
     berhasil dipatahkan penguasa kolonial.Beberapa catatan
     menyebutkan, akibat pemberontakan menemui kegagalan, sekitar13.000
     orang ditangkap di seluruh Hindia-Belanda. Beberapa orang
     langsungditembak. 5000 orang ditempatkan dalam penahanan untuk
     pencegahan. Lalu, 4500orang dipenjara setelah pengadilan. Dan
     1300-an orang dibuang ke Boven Digul,Papua. Banyak kelompok kiri,
     termasuk bekas PKI seperti Tan Malaka,menyalahkan pemberontakan
     itu. Tan Malaka menganggap pemberontakan itu tindakan“advonturis”
     dan berakibat hancurnya satu generasi PKI. Baginya,sebelum PKI
     memutuskan pemberontakan, seharusnya dukungan rakyat
     sudahdipastikan. Bagi seorang Ali Archam, seorang pemimpin PKI,
     tak ada yangpatut disalahkan dari pemberontakan tersebut. Ia
     sendiri bilang, “suatu pemberontakan yang mengalami
     kekalahanadalah tetap sah dan benar. Kita terima kekalahan ini
     karena musuh lebih kuat.Kita terima pembuangan ini sebagai satu
     risiko perjuangan yang kalah. Tidak adadi antara kita yang salah,
     karena kita berjuang melawan penjajahan. Pemerintahkolonial yang
     bersalah. Kita harus melawannya, juga di tanah pembuangan ini.Dan
     persatuan harus terus kita pelihara.” Njoto, salah seorang
     pimpinan PKI di tahun 1950-an, jugamenyampaikan apresiasinya yang
     besar terhadap pemberontakan itu. Njoto bilang, “pemberontakan
     itumempunyai arti yang besar dalam membangkitkan kesadaran massa
     dan menanamkankepercayaan kepada diri sendiri serta keyakinan akan
     kemenangan di haridepan.” Hal senada diungkapkan DN Aidit,
     pimpinan CC-PKI, padaperingatan HUT PKI ke-35 tanggal 23 Mei 1955.
     Aidit tegas mengatakan,“satu hal yang tak bisa dilupakan, bahwa
     pemberontakan ini telahmenunjukkan kepada Rakyat Indonesia, bahwa
     Belanda bisa dibuat kalang-kabut;kekuasan kolonial dapat
     digoyangkan; bahwa kekusaan kolonial bukan kekuasaanmutlak.”
     Takashi Shiraishi, dalam bukunya “Zaman Bergerak”,juga memberikan
     pendapat mengenai pemberontakan itu. Katanya,
     sekalipunpemberontakan itu berakhir dengan kematian yang
     memilukan, tetapi sejak itu idedan bentuk-bentuk pergerakan telah
     menjadi pengetahuan umum dalam bahasa melayudan Indonesia. Benar
     saja, tak lama setelah pemberontakan, generasi baru darinasionalis
     radikal, dengan Sukarno sebagai tokohnya, telah muncul kembali
     digelanggang pergerakan. Sukarno banyak mewarisi tradisi radikal
     danrevolusioner-nya PKI. Partai yang didirikan Soekarno, Partai
     NasionalisIndonesia (PNI), jelas-jelas mengambil jalan
     “Non-Koperasi”. Soekarno sendiri mengakui hal itu. Dalam
     bukunya, Sarinah, tahun 1947, Soekarno mengatakan, “Imperialisme
     Belandapada waktu itu baru saja mengamuk tabula rasa di kalangan
     kaum Komunis. PartaiKomunis Indonesia dan Sarekat Rakyat
     dipukulnya dengan hebatnya, ribuanpemimpinnya dilemparkannya dalam
     penjara dan dalam pembuangan di Boven Digul.Untuk meneruskan
     perjuangan revolusioner, maka saya mendirikan Partai
     NasionalIndonesia.” Lalu, saat menyampaikan pidato di HUT PNI
     ke-38 di StadionGelora Bung Karno, 25 Juli 1965, Soekarno kembali
     menegaskan penilaiannyaterhadap pemberontakan PKI pada 12 November
     1926 itu. Menurut Soekarno,pemberontakan PKI itu pada pokoknya
     sudah benar, karena bertekad merebutkekuasaan dari tangan
     kolonialis Belanda. Hanya saja, kata Sukarno, PKI salahdalam
     caranya, yakni kurang persiapan dalam menyiapkan pemberontakan.
     Belakangan, ketika aura anti-komunisme menguat pasca
     G.30.S,Sukarno menolak untuk menghapus pengorbanan PKI dalam
     perjuangan KemerdekaanIndonesia. Di hadapan Komando Aksi Mahasiswa
     (KAMI), 21 Desember 1965, Sukarnomengakui, karena perjuangan PKI
     mendatangkan Indonesia merdeka, 2000 pimpinanPKI dibuang ke Boven
     Digul. “Di sana mereka hidup, hidup sengsara sekali.Banyak yang
     mati di Boven Digul,” tandasnya. Sukarno menandaskan, seperti juga
     kaum nasionalis dan agamaisyang melakukan pengorbanan, PKI juga
     melakukan pengorbanan. Sukarno kemudiankuat-kuat mengingatkan,
     “jangan kau lupakan ini, saudara-saudara, bahwaPKI komunis,
     katakanlan PKI komunis, juga menyumbang kepada
     kemerdekaanIndonesia ini. Mereka pun berkorban habis-habisan untuk
     Indonesia Merdeka.Malahan aku yang menyaksikan segala hal itu
     berkata, pengorbanan mereka (PKI)dalam perjuangan Indonesia
     Merdeka lebih besar daripada pengorbanan yangpartai-partai lain
     dan golongan-golongan lain telah adakan.” Kini, 86 tahun setelah
     kejadian itu, kita sebagai sebuah bangsaseakan menapikan
     pengorbanan para pejuang kemerdekaan pada peristiwa ini.
     Tidaksedikit diantara mereka adalah patriot-patriot kemerdekaan.
     Cita-cita merekapun cukup jelas: mendatangkan dunia
     kemerdekaan! Karenaitu, sangat pantas jika tanggal 12 November
     diperingati sebagai Hari Pemberontakan Anti-Kolonial atau Hari
     Anti-Kolonialisme. Kita harus lapang-dada dalam melihat sejarah.
     Prasangka buruk,apalagi ketidakberdayaan akibat rekayasa sejarah,
     hanya akan membuat kita“tidak berlaku adil sejak dalam fikiran”.
     Kalau itu terjadi, kitatidak akan pernah bisa melangkah dengan
     kaki sempurna menuju masa depan. Sebab,satu kaki kita ditawan oleh
     sejarah. Mahesa Danu         #yiv0774264269 #yiv0774264269 --
     #yiv0774264269ygrp-mkp {border:1px solid
     #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0
     10px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp hr {border:1px solid
     #d8d8d8;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp #yiv0774264269hd
     {color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
     0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp #yiv0774264269ads
     {margin-bottom:10px;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-mkp .yiv0774264269ad {padding:0
     0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp .yiv0774264269ad p
     {margin:0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mkp .yiv0774264269ad
     a {color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ygrp-lc
     {font-family:Arial;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-sponsor
     #yiv0774264269ygrp-lc #yiv0774264269hd {margin:10px
     0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ygrp-lc .yiv0774264269ad
     {margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269actions
     {font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269activity
     
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269activity span {font-weight:700;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269activity span:first-child
     {text-transform:uppercase;}#yiv0774264269 #yiv0774264269activity
     span a {color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269activity span span {color:#ff7900;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269activity span .yiv0774264269underline
     {text-decoration:underline;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach
     {clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
     0;width:400px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach div a
     {text-decoration:none;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach img
     {border:none;padding-right:5px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach
     label
     {display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269attach
     label a {text-decoration:none;}#yiv0774264269 blockquote {margin:0
     0 0 4px;}#yiv0774264269 .yiv0774264269bold
     {font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0774264269 
.yiv0774264269bold
     a {text-decoration:none;}#yiv0774264269 dd.yiv0774264269last p a
     {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0774264269
     dd.yiv0774264269last p span
     {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0774264269
     dd.yiv0774264269last p span.yiv0774264269yshortcuts
     {margin-right:0;}#yiv0774264269 div.yiv0774264269attach-table div
     div a {text-decoration:none;}#yiv0774264269
     div.yiv0774264269attach-table {width:400px;}#yiv0774264269
     div.yiv0774264269file-title a, #yiv0774264269
     div.yiv0774264269file-title a:active, #yiv0774264269
     div.yiv0774264269file-title a:hover, #yiv0774264269
     div.yiv0774264269file-title a:visited
     {text-decoration:none;}#yiv0774264269 div.yiv0774264269photo-title
     a, #yiv0774264269 div.yiv0774264269photo-title a:active,
     #yiv0774264269 div.yiv0774264269photo-title a:hover,
     #yiv0774264269 div.yiv0774264269photo-title a:visited
     {text-decoration:none;}#yiv0774264269 div#yiv0774264269ygrp-mlmsg
     #yiv0774264269ygrp-msg p a span.yiv0774264269yshortcuts
     {font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0774264269 
.yiv0774264269green
     {color:#628c2a;}#yiv0774264269 .yiv0774264269MsoNormal {margin:0 0
     0 0;}#yiv0774264269 o {font-size:0;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269photos div {float:left;width:72px;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269photos div div {border:1px solid
     #666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269photos div label
     
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269reco-category {font-size:77%;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269reco-desc
     {font-size:77%;}#yiv0774264269 .yiv0774264269replbq
     {margin:4px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-actbar div
     a:first-child {margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:Arial,
     helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-mlmsg table
     {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-mlmsg select, #yiv0774264269 input,
     #yiv0774264269 textarea {font:99% Arial, Helvetica, clean,
     sans-serif;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-mlmsg pre,
     #yiv0774264269 code {font:115% monospace;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-mlmsg #yiv0774264269logo
     {padding-bottom:10px;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-msg p a
     {font-family:Verdana;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-msg
     p#yiv0774264269attach-count span
     {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-reco #yiv0774264269reco-head
     {color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-reco
     {margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ov li a
     {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ov li
     {font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px
     0;}#yiv0774264269 #yiv0774264269ygrp-sponsor #yiv0774264269ov ul
     {margin:0;padding:0 0 0 8px;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-text {font-family:Georgia;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-text p {margin:0 0 1em 0;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0774264269
     #yiv0774264269ygrp-vital ul li:last-child
     {border-right:none !important;}#yiv0774264269 

   
 



Pada Sabtu, 19 November 2016 15:09, "'Tsasando' [email protected] [wahana-news]" <[email protected]> menulis:


 
 
12 November 1926: Hari Pemberontakan Anti-Kolonial
·         HISTORIA /13 NOVEMBER 2012 | 2:35
 
 12 November tahun peringatan
Pemberontakan kita di Indonesia
Ya! ya! ya! Itulah yang akan, mendatangkan dunia kemerdekaan.
Dari itu bersiaplah segera
Hayo rapat kawan kita semua
Hancurkanlah pengkhianat dunia
Hayo rapat kawan kita semua…
Berpuluh kawan di tiang gantungan
Beratus-ratus melayang jiwanya.
Laki dan istri dalam buangan
Beribu-ribu di dalam penjara.
Ya! ya! ya! Itulah yang akan, mendatangkan dunia kemerdekaan.
Itulah lirik lagu perjuangan “12 November”. Lagu ini mengingatkan kita pada peristiwa 12 November 1926. Dalam sejarah resmi Indonesia, peristiwa 12 November 1926 disebut sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Ironisnya, kendati pemberontakan ini diarahkan kepada penguasa kolonial, sejarah resmi Indonesia tak memberi apreasiasi secuil pun. Negara juga tidak memberikan penghormatan apapun terhadap peristiwa heroik itu. Sebaliknya, sejarah resmi berusaha memberi pengertian negatif terhadap pemberontakan 12 November 1927.
PKI menyiapkan pemberontakan ini selama setahun. Awalnya, pemberontakan ini digagas melalui sebuah Konferensi di Prambanan, 25 Desember 1925. Setelah setahun bersiap, dengan berbagai polemik yang menyertai internal PKI, pemberontakan 12 November 1926 pun pecah di tengah-tengah kekuasaan kolonial.
Awal pemberontakan bermula di Jakarta. Gerakan pemberontakan sudah berlangsung sejak sore hari 12 November. Menjelang tengah malam, gerakan pemberontak sudah bergerak menyerang polisi, merusak sambungan telpon, dan menyerbu penjara Glodok. Ratusan orang juga menyerang polisi di daerah meester cornelis (Jatinegara).
Pemberontakan serupa juga terjadi di Tangerang, Banten, Priangan, Solo, Banyumas, Pekalongan, Kediri, dan Surakarta. Pemberontakan paling keras terjadi di Priangan dan Banten. Di kedua daerah itu, momen pemberontakan bertemu dengan keresahan luas di kalangan kaum tani. Sebagian besar pemberontak hanya bersenjatakan pisau dan kelewang. Hanya sebagian kecil yang menggunakan senapan.
Di Sumatera, pemberontakan PKI baru dimulai tanggal 1 Januari 1927. Pusat pemberontakan berlangsung di Sawahlunto (Silungkang). Di sini pemberontakan dipimpin langsung oleh PKI dan Sarekat Rakyat (SR). Sejumlah opsir berdarah Indonesia juga berpartisipasi dalam pemberontakan.
Pemberontakan PKI berhasil dipatahkan penguasa kolonial. Beberapa catatan menyebutkan, akibat pemberontakan menemui kegagalan, sekitar 13.000 orang ditangkap di seluruh Hindia-Belanda. Beberapa orang langsung ditembak. 5000 orang ditempatkan dalam penahanan untuk pencegahan. Lalu, 4500 orang dipenjara setelah pengadilan. Dan 1300-an orang dibuang ke Boven Digul, Papua.
Banyak kelompok kiri, termasuk bekas PKI seperti Tan Malaka, menyalahkan pemberontakan itu. Tan Malaka menganggap pemberontakan itu tindakan “advonturis” dan berakibat hancurnya satu generasi PKI. Baginya, sebelum PKI memutuskan pemberontakan, seharusnya dukungan rakyat sudah dipastikan.
Bagi seorang Ali Archam, seorang pemimpin PKI, tak ada yang patut disalahkan dari pemberontakan tersebut. Ia sendiri bilang, “suatu pemberontakan yang mengalami kekalahan adalah tetap sah dan benar. Kita terima kekalahan ini karena musuh lebih kuat. Kita terima pembuangan ini sebagai satu risiko perjuangan yang kalah. Tidak ada di antara kita yang salah, karena kita berjuang melawan penjajahan. Pemerintah kolonial yang bersalah. Kita harus melawannya, juga di tanah pembuangan ini. Dan persatuan harus terus kita pelihara.”
Njoto, salah seorang pimpinan PKI di tahun 1950-an, juga menyampaikan apresiasinya yang besar terhadap pemberontakan itu. Njoto bilang, “pemberontakan itu mempunyai arti yang besar dalam membangkitkan kesadaran massa dan menanamkan kepercayaan kepada diri sendiri serta keyakinan akan kemenangan di hari depan.”
Hal senada diungkapkan DN Aidit, pimpinan CC-PKI, pada peringatan HUT PKI ke-35 tanggal 23 Mei 1955. Aidit tegas mengatakan, “satu hal yang tak bisa dilupakan, bahwa pemberontakan ini telah menunjukkan kepada Rakyat Indonesia, bahwa Belanda bisa dibuat kalang-kabut; kekuasan kolonial dapat digoyangkan; bahwa kekusaan kolonial bukan kekuasaan mutlak.”
Takashi Shiraishi, dalam bukunya “Zaman Bergerak”, juga memberikan pendapat mengenai pemberontakan itu. Katanya, sekalipun pemberontakan itu berakhir dengan kematian yang memilukan, tetapi sejak itu ide dan bentuk-bentuk pergerakan telah menjadi pengetahuan umum dalam bahasa melayu dan Indonesia.
Benar saja, tak lama setelah pemberontakan, generasi baru dari nasionalis radikal, dengan Sukarno sebagai tokohnya, telah muncul kembali di gelanggang pergerakan. Sukarno banyak mewarisi tradisi radikal dan revolusioner-nya PKI. Partai yang didirikan Soekarno, Partai Nasionalis Indonesia (PNI), jelas-jelas mengambil jalan “Non-Koperasi”.
Soekarno sendiri mengakui hal itu. Dalam bukunya, Sarinah, tahun 1947, Soekarno mengatakan, “Imperialisme Belanda pada waktu itu baru saja mengamuk tabula rasa di kalangan kaum Komunis. Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Rakyat dipukulnya dengan hebatnya, ribuan pemimpinnya dilemparkannya dalam penjara dan dalam pembuangan di Boven Digul. Untuk meneruskan perjuangan revolusioner, maka saya mendirikan Partai Nasional Indonesia.”
Lalu, saat menyampaikan pidato di HUT PNI ke-38 di Stadion Gelora Bung Karno, 25 Juli 1965, Soekarno kembali menegaskan penilaiannya terhadap pemberontakan PKI pada 12 November 1926 itu. Menurut Soekarno, pemberontakan PKI itu pada pokoknya sudah benar, karena bertekad merebut kekuasaan dari tangan kolonialis Belanda. Hanya saja, kata Sukarno, PKI salah dalam caranya, yakni kurang persiapan dalam menyiapkan pemberontakan.
Belakangan, ketika aura anti-komunisme menguat pasca G.30.S, Sukarno menolak untuk menghapus pengorbanan PKI dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Di hadapan Komando Aksi Mahasiswa (KAMI), 21 Desember 1965, Sukarno mengakui, karena perjuangan PKI mendatangkan Indonesia merdeka, 2000 pimpinan PKI dibuang ke Boven Digul. “Di sana mereka hidup, hidup sengsara sekali. Banyak yang mati di Boven Digul,” tandasnya.
Sukarno menandaskan, seperti juga kaum nasionalis dan agamais yang melakukan pengorbanan, PKI juga melakukan pengorbanan. Sukarno kemudian kuat-kuat mengingatkan, “jangan kau lupakan ini, saudara-saudara, bahwa PKI komunis, katakanlan PKI komunis, juga menyumbang kepada kemerdekaan Indonesia ini. Mereka pun berkorban habis-habisan untuk Indonesia Merdeka. Malahan aku yang menyaksikan segala hal itu berkata, pengorbanan mereka (PKI) dalam perjuangan Indonesia Merdeka lebih besar daripada pengorbanan yang partai-partai lain dan golongan-golongan lain telah adakan.”
Kini, 86 tahun setelah kejadian itu, kita sebagai sebuah bangsa seakan menapikan pengorbanan para pejuang kemerdekaan pada peristiwa ini. Tidak sedikit diantara mereka adalah patriot-patriot kemerdekaan. Cita-cita mereka pun cukup jelas: mendatangkan dunia kemerdekaan! Karena itu, sangat pantas jika tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Pemberontakan Anti-Kolonial atau Hari Anti-Kolonialisme.
Kita harus lapang-dada dalam melihat sejarah. Prasangka buruk, apalagi ketidakberdayaan akibat rekayasa sejarah, hanya akan membuat kita “tidak berlaku adil sejak dalam fikiran”. Kalau itu terjadi, kita tidak akan pernah bisa melangkah dengan kaki sempurna menuju masa depan. Sebab, satu kaki kita ditawan oleh sejarah.
Mahesa Danu
 
 


Attachment: Lagu 12 November.pdf
Description: Adobe PDF document

Kirim email ke