Dia mengakui, kedelai yang digunakan memang merupakan kedelai impor yang 
kabarnya didatangkan dari Amerika Serikat. Alasanya ukuran kedelainya lebih 
besar dari kedelai lokal. Dengan menggunakan kedelai impor, kualitas tempe yang 
dihasilkan juga menjadi lebih baik. Kalau menggunakan kedelai lokal, dia 
mengatakan, selain ukurannya lebih kecil juga kualitasnya tidak baik. 

Dia menduga, kenaikan harga kedelai sejak sepekan terakhir ini, dipengaruhi 
oleh kenaikan kurs dolar AS terhadap mata uang rupiah. "Biasanya selalu begitu. 
Kalau nilai rupiah terhadap dolar melemah, pasti harga kedelai ikut naik,"  
katanya. n eko widiyatno

 ...
 Monday, 14 November 2016, 17:23 WIB
 Pedagang Tempe Kelimpungan Akibat Naiknya Harga Kedelai 
http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/11/14/ogmnim384-pedagang-tempe-kelimpungan-akibat-naiknya-harga-kedelai
 Rep: Eko Widiyatno/ Red: Andi Nur Aminah
 

 Antara

 
 Pekerja sedang membungkus tempe untuk difermentasi
 

 REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Berbagai kebutuhan masyarakat, sejak beberapa 
pekan terus mengalami kenaikan. Tak terkecuali dengan harga kedelai yang 
kebanyakan merupakan kedelai impor. 

Harga kedelai yang sebelumnya di pasaran di jual seharga Rp 6.900, saat ini 
dijual dengan harga Rp 7.250. "Kenaikan harga kedelai ini, berlangsung sejak 
sepekan lalu. Awalnya, naiknya hanya Rp 100 per kg. Namun setiap hari terus 
mengalami kenaikan, hingga menjadi Rp 7.350 per kg," jelas Sumarman, pengrajin 
tempe asal Desa Pliken Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas, Selasa (14/11). 

Dia menyebutkan, sejak beberapa hari terakhir, harga kedelai seperti tidak 
menentu. Harga yang di jual pedagang pada pagi hari, bisa berbeda saat ada 
orang yang membeli pada sore hari. Pada Ahad (13/11) misalnya, sesama pengrajin 
tempe membeli kedelai pada pagi hari, harganya masih Rp 7.250. Namun saat sore 
hari harga kedelai sudah naik menjadi Rp 7.350.

Kondisi ini, Sumarman mengatakan, sangat memberatkan usahanya berjualan tempe. 
Dengan kenaikan harga saat ini yang selisih kenaikannya mencapai Rp 400 per kg, 
maka bila tidak disiasati keuntungannya menjadi sangat kecil. "Bahkan bisa 
merugi," katanya.

Namun untuk menaikkan harga jual tempe yang dibuatnya, dia mengaku khawatir 
barang dagangannya tidak laku. "Yang membuat dan berjualan tempe tidak hanya 
saya saja. Kalau saya naikkan harga jualnya, sementara pengrajin yang lain 
tidak, maka saya bisa ditinggalkan pelanggan," tambahnya.

Untuk itu, agar pelanggan tetap membeli barang dagangannya dan keuntungannya 
tidak tergerus, dia menyiasati dengan memperkecil ukuran tempe buatannya. 
Siasat seperti ini, dia mengatakan, juga dilakukan pedagang lain. "Agar tidak 
merugi, kami terpaksa memperkecil ukuran tempe," jelasnya.

Sumarman mengaku, skala usahanya untuk membuat tempe masih belum terlalu besar. 
Setiap hari dia membutuhkan bahan baku kedelai sebanyak 47 kg. Demikian juga 
para perajin tempe di desanya, kebanyakan hanya membutuhkan bahan baku kedelai 
pada kisaran yang sama.

"Namun karena jumlah pengrajin tempe di desa kami cukup banyak, ada sekitar 568 
pengrajin, maka kedelai yang dibutuhkan di desa kami menjadi cukup besar. 
Mungkin mencapai 13 ton per hari," jelasnya.

Dia mengakui, kedelai yang digunakan memang merupakan kedelai impor yang 
kabarnya didatangkan dari Amerika Serikat. Alasanya ukuran kedelainya lebih 
besar dari kedelai lokal. Dengan menggunakan kedelai impor, kualitas tempe yang 
dihasilkan juga menjadi lebih baik. Kalau menggunakan kedelai lokal, dia 
mengatakan, selain ukurannya lebih kecil juga kualitasnya tidak baik. 

Dia menduga, kenaikan harga kedelai sejak sepekan terakhir ini, dipengaruhi 
oleh kenaikan kurs dolar AS terhadap mata uang rupiah. "Biasanya selalu begitu. 
Kalau nilai rupiah terhadap dolar melemah, pasti harga kedelai ikut naik,"  
katanya. n eko widiyatno

 


 

 

 

Kirim email ke