Apakah tinggal di negara sendiri bisa memakai dwi kewarga negaraan diperolehkan? Setahu saya kalau mereka bekerja di luar negeri baru boleh memakai dwi kenegeraan. Jika diperbolehkan saya dan keluarga daftar menjadi dwi kewarga negara jepang, biar cepat maju
From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Thursday, November 24, 2016 10:58 AM To: [email protected] Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Gempa dan Tsunami Landa Jepang, Seperti Ini Kondisi Warga Bali Re: warga bumi Ini salahsatu contoh yang bisa ditarik ke perspektif ibu-bapak pendiri tentang warga komunitas Indonesia yang malang-melintang di atas dunia. Tentang filosofi tiang lan semeton sane lianan, tentang kebersamaan, di mana pun di muka bumi. Andaikan saudara-saudari asal negeri Bali ini mengajukan permohonan untuk menjadi warganegara Jepang sambil tetap memegang paspor RI, kira-kira negara Jepang yang makmur itu akan menerima? - Gempa dan Tsunami Landa Jepang, Seperti Ini Kondisi Warga Bali Rabu, 23 November 2016 01:52 TRIBUN-BALI.COM, TOKYO – Gempa bumi berkekuatan 7,3 skala richter (SR) melanda Jepang bagian utara pada Selasa (22/11) dini hari. Badan Meteorologi Jepang mengatakan, gempa bumi tersebut memicu tsunami yang terjadi pantai utara Pasifik. Gempa, yang juga terasa di Tokyo, berpusat di lepas pantai prefektur Fukushima pada kedalaman sekitar 10 kilometer dan terjadi pada pukul 05.59 waktu setempat. Pemerintah Jepang juga telah memberikan peringatan tsunami hingga tiga meter. Badan Meteorologi Jepang juga telah mengkonfirmasi adanya tsunami setinggi 60 cm di Pelabuhan Onahama dan 90 cm di Soma, setelah gempa. Daerah tersebut pernah hancur oleh tsunami dan gempa besar pada 2011. Di antara sekian banyak warga yang merasakan dampak gempa bumi yang terjadi di Prefektur Fukushima, puluhan di antaranya adalah krama Bali yang sudah bertahun-tahun merantau mencari nafkah di Negeri Sakura itu. Satu di antaranya adalah I Gede Mudiantara. Pria asal Yangapi Metra, Bangli, yang sudah 2 tahun 3 bulan menetap di Prefektur Chiba ini turut merasakan gempa berkekuatan 7,3 SR itu. Diakuinya gempa bumi yang mengguncang Fukushima adalah gempa yang lain dari biasanya. Meski telah terbiasa berhadapan dengan gempa selama di Jepang, pria yang bekerja di pabrik pengecoran besi dan logam di Saitama ini, mengaku sempat was-was dan khawatir. Gempa Selasa dinihari yang ia rasakan menurutnya sungguh berbeda dari gempa yang biasa terjadi sebelumnya. Guncangan hebat menggetarkan tanah serta raungan bunyi sirine peringatan tsunami tak pelak membuat Gede Mudiantara dan orang-orang di sekelilingnya sempat merasa ketakutan. “Tapi karena sebelumnya sudah ada pemberitahuan dan penyuluhan tentang langkah-langkah bagaimana caranya kalau ada gempa, jadinya semua orang di Jepang dan orang asing di sini tetap tenang,” ujar Mudiantara saat dihubungi lewat Facebook messanger, Selasa (22/11). Ia merasa amat bersyukur tidak menjadi korban gempa. Saudara-saudara sesama perantauan dari Bali di Jepang pun tak ada yang terluka. Para perantau dari Bali yang tinggal di Jepang, menurut Mudiantara paling banyak menetap di Tokyo, Saitama, Chiba, dan Gunma. “Syukurlah untuk nyama-nyama (saudara) Bali jauh dari tsunami. Cuma getaran gempa saja yang terasa,” ucapnya. Hal senada diungkapkan Dewa Agus dan Gede Suantika. Dua warga Buleleng ini juga mengaku dalam kondisi baik-baik pasca gempa yang mengguncang pesisir utara Jepang. "Astungkara, untuk hari mangkin (ini) aman," kata Dewa Agus. "Tiang tinggal di daerah Ibaraki. Tiang lan semeton sane lianan (Saya dan saudara lainnya) selamat," tandas Gede Suantika. Kantor Berita Kyodo melaporkan, seorang wanita menderita luka di bagian kepala, akibat gempa. Kantor pemadam kebakaran Iwaki mengatakan, ada kebakaran di pusat penelitian Kureha di sebuah kompleks petrokimia di Kota Iwaki pada pukul 06.17 waktu setempat. Setelah itu, tidak ada lagi kerusakan besar di Fukushima. Gempa bumi kerap terjadi di Jepang, sebagai salah satu daerah yang dengan aktivitas seismik teraktif di dunia. Jepang menyumbang sekitar 20 persen dari gempa bumi di dunia. Pada 11 Maret 2011, sebuah gempa berkekuatan 9 SR, mengguncang Jepang, sebagai gempa terkuat yang pernah tercatat. Lebih dari 18.000 tewas atau dilaporkan hilang setelah bencana di Fukushima pada 2011 itu. (*) Penulis: I Gusti Agung Bagus Angga Putra Editor: Komang Agus Ruspawan Sumber: Tribun Bali
