Seru nih ceritanya bung Narto! Yang menyangkut polemik PKT dan PKUS, memang 
begitulah keadaannya.  Mayoritas memang pro PKT. Termasuk S. Suroso yang diusir 
Remo Soviet dan diterima dengan dua tangan terbuka oleh PKT dan Tiongkok.Tapi 
ingat ya , ketika itu PKT dipimpin Mao dan sedang berjuang melawan Remo Soviet 
dengan dedengkotnya, Khrustjov. Sekarang Mao disalahkan Chan karena RBKPnya dan 
terlalu cepat membabat kaum kapitalis!! ha...ha..Lengket dalam ingatan saya 
mereka yang mengebu-gebu anti Remo!!! Tapi, lain dulu lain sekarang! Mereka 
yang saya  kenal ada di garis depan dalam mengganyang Remo, tahu-tahunya 
sekarang sudah pada berubah 180 derajat!!! Sekarang berada di garis depan 
pembela remo Tkk Liu-Deng dan sosialisme dengan ciri Tkk!! Matanya nggak bisa 
lihat bedanya sosialisme dengan kapitalisme (sebetulnya bisa, hanya ngotot 
tidak mau mengakuinya!), penghisapan manusia atas manusia juga syah dan halal 
untuk membangun "sosialisme khusus Tkk", makanya jumlah miliarder terus 
meningkat!! Itulah "kekhususan" sosialisme Tkk!!! Ajaib!!!

    On Wednesday, November 23, 2016 4:15 PM, Lusi D. <[email protected]> wrote:
 

 Tok, tulisan ttg Nto ini bagus. Aku seneng moco isine karena sesuai dng
jalan hidupmu.

Salam
Lusi.-





Beginn der weitergeleiteten Nachricht:

Datum: Tue, 22 Nov 2016 19:44:53 +0000 (UTC)
Von: "Chalik Hamid [email protected] [nasional-list]"
<[email protected]> An: "Yahoo! Inc."
<[email protected]>,  Jaringan Kerja Indonesia
<[email protected]>,  Gelora 45
<[email protected]>,  Sastra Pembebasan
<[email protected]>,  "Yahoo! Inc."
<[email protected]>,  "Yahoo! Inc."
<[email protected]> Betreff: [nasional-list] 


Penderitaan di Indonesia Menyemangati Hidup Saya

oleh Martin Aleida

Dalam usia 76 tahun dia masih bisa bertahan hidup dengan mengemudikan
taksi di kota Berlin. Agak gemuk, tingginya rata-rata orang Indonesia.
Ramah dan suka guyon. Orang Indonesia yang jumlahnya tak seberapa di
kota ini mengenalnya dengan baik. Dengan taksi yang dikemudikannya,
Sunarto menjemput saya di Richard Strasse, di mana saya menumpang. Saya
duduk di samping kanannya, dan dia membawa saya ke sebuah restoran
Turki. Restoran itu agak sempit, dan di tengah-tengah keramaian
pengunjung yang sedang makan siang wawancara ini berlangsung.

Bagaimana kisahnya Bung sampai di Berlin? 

Suatu hari saya dipanggil polisi di Republik Demokrasi Demokrasi Jerman
(DDR) atau Jerman Timur. Saya disuruh meninggalkan negara itu karena
izin tinggal untuk studi saya sudah habis. Padahal, sebelumnya ada
keputusan Dewan Menteri bahwa orang seperti saya boleh tinggal di
negara tersebut selamanya. Belakangan saya tahu, bahwa DDR ingin
meningkatkan hubungan diplomatik dengan pemerintahan Suharto. Saya
dapat tekanan dari dua pihak ketika itu, dari DDR dan dari komite luar
negeri delegasi PKI di Moskow yang dipimpin oleh Thomas Sinuraya. Tak
ada gunanya melawan, dan saya pergi. Pemerinah Jerman memberikan saya
tiket pesawat Interflug milik DDR untuk terbang pulang ke Jakarta.
Tiket itu tidak saya pakai. Apa saya sudah gila mau pulang? Tiket itu
masih saya simpan sampai sekarang sebagai kenang-kenangan … 
Dari Dresden saya malah berangkat ke Berlin naik kereta-api. Saya
membawa paspor yang sudah saya perpanjang sendiri. Tak ada masalah
dengan polisi perbatasan Jerman. Tiba di Berlin tak ada masalah awal
1970-an itu. Saya melaporkan diri kepada polisi, dan saya jelaskan
bahwa saya mahasiswa yang dikirim oleh Presiden Sukarno untuk belajar
di DDR, tetapi kemudian saya diusir. ‘Kami sudah tahu itu,’ kata
mereka. Saya dapat izin tinggal melalui proses yang cepat, tidak lama.
Ada pengacara yang meyakinkan bahwa saya layak dilindungi. Pemerintah
Jerman yang menyediakan pengacara itu. Saya mana punya uang untuk
membayarnya.

Kapan meninggalkan Indonesia? 

Saya meninggalkan Indonesia  tahun 1962. Dikirim oleh Perguruan Tinggi
Ilmu Pendidikan. Ada perjanjian, kalau sudah selesai studi akan
diangkat jadi pegawai negeri. Dapat uang dari pemerintah Indonesia tiap
bulan 7 poundsterling. Itu untuk bantuan makanan dan pakaian. Untuk
tahun 1963 dibayarkan pada tahun berikutnya. Untuk 1964 dibayarkan
tahun 1965. Kebetulan tahun 1965 terjadi G30S. Saya tidak dikirim oleh
organisasi yang berafiliasi dengan PKI atau organisasi lain. Tidak.
Saya studi di Dresden, bidang industri tekstil. Sebelum pendidikan
reguler dimulai, saya belajar bahasa Jerman terlebih dulu selama
setahun. Studi dimulai Januari 1963. 
G30S meletus, pendidikan jalan terus sampai selesai pada tahun 1968.
Saya berhak atas titel akademis sebagai sarjana teknik industri
tekstil.

Bung sendirian? 

Tidak. Dari Indonesia rombongan terdiri dari 31 orang. Mereka dinamakan
“mahid”, atau mahasiswa ikatan dinas. Selain dari Jawa, ada juga yang
dari Sumatera, Kalimantan.

Bagaimana reaksi mahasiswa Indonesia ketika mendengar G30S? 

Waktu peristiwa terjadi, keesokan harinya saya sudah membacanya di
koran. Juga mendengar beritanya dari Radio Hilversum. Kuliah jalan
terus. Kami yakin Presiden Sukarno bisa bertahan pada waktu itu. Kami
tidak punya kehawatiran, sekalipun waktu itu ada tuntatan bubarkan PKI.
Suharto sudah muncul sebagai orang kuat. Kami tak punya kekhawatiran.
Kita kuat, dan kepemimpinan Sukarno begitu hebat. Namun, yang kemudian
terjadi adalah dilancarkannya pengejaran terhadap orang-orang progresif
di Indonesia. Pengejaran itu sampai ke Eropa ini juga. Kedutaan
Indonesia yang berada di Cekoslowakia juga mencakup Jerman Timur ketika
itu. Kawan-kawan di luar Jerman Timur sudah mulai di-screening. Paspor
diserahkan, tetapi ternyata kemudian tidak dikembalikan oleh pihak
kedutaan. Kita sadar betapa beratnya hidup kalau tidak punya paspor.

Hidup akan seperti apa? 

Di antara 31 mahasiswa Indonesia, termasuk yang sudah lebih dulu datang
untuk belajar di DDR, terjadi perpecahan. Terjadi kristalisasi. Pihak
sana, menuntut orang-orang seperti saya dipulangkan. Jadi, pengejaran
terhadap kami juga dilancarkan. Screening untuk legalisasi keberadaan
kami, kami tolak. Kami tidak mau mengikuti screening. Karena paspor
harus diserahkan, dan mengisi daftar pertanyaan siapa-siapa saja orang
komunis di antara kami. Siapa Pemuda Rakyat dan lain-lain. Ditanya
siapa-siapa saja kenalanmu. Pertanyaan yang kami anggap merupakan
pelanggaran hebat terhadp hak-hak kami sebagai manusia. Kedudukan Bung
Karno semakin lemah. Pengejaran terhadap kami bertambah keras. 
Kita punya kekuatan, tetapi nyatanya kita kalah. Begitulah kesimpuan
kami pada akhirnya. Kami menolak screening dengan segala konsekuensinya.

Yang melakukan screening datang ke DDR dari kedutaan Indonesia di Ceko.
Usaha mereka yang pertama gagal. Karena kita masih punya pengaruh di
PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Kedatangan mereka yang kedua untuk
melakukan screening secara paksa. Mereka datang ke Dresden. Semua
mahasiswa dikumpulkan. Kami, kira-kira 30 orang, menolak untuk datang.
Yang datang secara keseluruhan sekitar 100-an. Kemudian kedutaan
Indonesia di Cekoslowakia mengeluarkan keputusan berisi daftar
mahasiswa yang paspornya dicabut.
 
Jalannya sejarah tak bisa dihindarkan dan kami sudah siap. Tapi, paspor
tetap di tangan walau pun tidak berlaku. Kami sadar betapa pentingnya
paspor itu. Kami menghubungi pihak tuanrumah, DDR. Ada keputusan yang
menyatakan bahwa Dewan Menteri DDR yang menyatakan selama keadaan tetap
seperti ini mahasiswa Indonesia boleh tinggal di DDR untuk
selama-lamanya. Hebat! Dan kami mulai berpikir secara aktif. Tapi,
taktik bagaimana, dan apa yang harus dilakukan. Yang penting jangan
sampai terjadi pengelompokan diantara kami. Waktu itu yang berkuasa di
DDR masih Walter Ulbrich. Setiap perubahan di pemerintahan DDR ada
efeknya terhadap kami. 

Selama ini kami dapat uang dari DDR, juga dari Indonesia. Dari
Indonesia 7 poundsterling dari DDR 280 Deutsche Mark. Itu cukup untuk
makan, pakaian, kos, untuk ongkos transpor. Mereka yang loyal terhadap
pemerintah Indonesia tetap dapat uang dari Jakarta. Dari 31 mahasiswa
di kelompok saya ketika itu setengahnya memihak pemerintahan
Suharto. 

​Berita-berita tentang kekerasan di Indonesia sampai kepada
kami, sementara kami tak bisa berbuat apa-apa. Anak-anak mahasiswa yang
reaksioner juga mau mengejar kami. Kami lawan. Ternyata mereka takut.
Padahal, orang seperti saya waktu itu kerempeng, tidak seperti
sekarang. Berkelahi saja nggak tahu kok… Penderitaan mempertebal
keberanian untuk melakukan perlawanan. “Kalau kalian berani, ayo …!”
Nyaris bentrok fisik, ternyata mereka mundur. Kalau kita mati mereka
juga musti mati kan? 
Kita ketahui di Indonesia tidak ada perlawanan. Tinggal siap diambil,
dipotong… Menyerah tanpa perlawanan samasekali dan kami belajar dari
kenyataan itu. 

Saya orang pemerintah, saya tak tahu apa yang terjadi di dalam PKI. Dan
kami tidak merasa bersalah. Saya waktu itu memang pro terhadap orang
kiri. Saya bertanya, siapa yang tidak tergerak oleh Bung Karno pada
waktu itu? Oto-kritik PKI sampai ke sini dalam bentuk dokumen. Kita
jadi memahami apa yang terjadi di dalam PKI. Sebelumnya kita tahu
mengenai PKI itu ‘kan hanya instinktif saja. Terjadi perpecahan. Ada
yang setuju oto-kritik, tapi ada yang mendukung garis lama. Kita mulai
belajar buku klasik mengenai komunisme. Sebelumnya ‘kan cuma yakin PKI
itu hebat….!

Bung ikuti pertentangan antara Uni Soviet dan RRT pada waktu itu?
Mengikuti pertentangan antara Uni Soviet dan RRT lebih menarik daripada
mata kuliah. 

Betul! 

Argumen PKT begini, argumen PKUS begitu. Apa itu revisionisme. Kami
memihak kebenaran garis Mao Tse-tung. PKI di luar negeri pecah. Ada PKI
yang memihak Peking, ada yang memihak Moskow. Kami di Dresden
ditinggalkan. 

Thomas Sinuraya di Moskow menyebutkan dia pimpinan PKI di luar negeri.
Dari yang kami pelajari membuat kami jadi memiliki senjata ideologi.
Apa-apaan ini …. Kemudian ada tulisan mengenai PKI, tetapi bahasanya
dan tema-temanya cemplang. Kata-katanya, misalnya, “yang lahir seperti
pisang goreng.” Terminologi ini tidak dikenal. Sekalipun saya bukan
orang partai, saya tahu ini tidak benar. ​

Ketika PPI yang reaksioner itu meminta kami dipulangkan, maka kami
mendirikan PPI tandingan. Di samping saya, ada beberapa kawan lain.
Kemudian sikap yang memihak pada kami bermunculan, dan ikut membenarkan
garis PKT. Namun, perpecahan tetap mengancam. Waktu itu juga ada PPI
Moskow, tetapi kami mempertahankan PPI yang kami bentuk, PPI tandingan
melawan Suharto. Mereka dapat fasilitas, kami tidak. Saya, misalnnya,
yang sudah lulus tak dapat pekerjaan. Kalau pun dapat, hanya sebagai
magang. Supaya kami tidak ngumpul, tempatnya dipisah-pisah. Jadi, kita
dapat hambatan dari orang-orang kita sendiri. Kawan-kawan di Indonesia
begitu menderitanya, tetapi mereka di sini ke mana-mana naik mobil.
Petantang-petenteng. Wataknya jelek walau PKI. Tak mendapat simpati.
Akhirnya, simpati tumpah pada orang-otang yang berpihak pada sikap
Tiongkok. ​Teman-teman yang di Uni Soviet itu naik kedudukannya bukan
karena prestasi kerja, tetapi hadiah. Thomas Sinuraya yang mengangkat.
Kemudian ada yang datang ke Dresden menemui saya, meminta saya
meninggalkan PPI. Saya jawab, “Saya telah menyelamatkan banyak orang,
kok terus keluar. Ke mana muka saya.” Lantas dia mengancam, jangan
kaget PPI dan CGMI yang di sini akan dibunuh. Terserah, kata saya.
Pokoknya saya tak mau ikut-ikutan.

Apa yang Bung lakukan dengan ijazah sarjana teknik industri? 

Selesai studi tahun 1968, saya kirim surat kepada delegasi PKI di
Peking, di bawah pimpinan Yusuf Ajitorop. Saya minta diberangkatkan ke
Peking. Ditolak! “Bung lebih baik berada di tempat di mana Bung bisa
melihat orang,” jawabnya. Karena saya tak menggabungkan diri dengan
kelompok mahasiswa di Uni Soviet, jadi saya tidak dapat fasilitas dari
DDR. Nggak apa-apa. Saya cari pekerjaan sendiri. Dapat. Jauh di luar
kota. Tidak sebagai insinyur tetapi sebagai magang. Tapi, saya pikir
tak apa, untuk sementara sebelum saya bisa keluar. 

Saya membuka hubungan dengan orang-orang yang berada di luar DDR, yang
berada di Berlin ini. Waktu tahun 1968 itu di Jerman Barat berkembang
gerakan pemuda revolusioner. Hebat pemuda-pemuda Jerman itu. Di situ
saya menemukan kontak. Anak-anak muda itu tahu kritik-otokritik PKI.
Mereka membacanya dalam bahasa Jerman. Jadi, saya punya kebanggaan
tersendiri melihat kenyataan itu. Di mana-mana PKI ada hahaha ... Saya
rasa, kritik-otokiritik itu bernilai tinggi. Kritik itu menambah
pengetahuan dan keyakinan saya. ​Saya mengalami sendiri, ketika berada
di DDR, bagaimanna dari negara sosialis negara itu perlahan berubah
menjadi revisionis. Bagaimana moral orang-orang partai berubah menjadi
moral borjuis. Dampaknnya nyata sekali, misalnnya perpanjangan paspor,
wah.. lamanya bukan main. Bagaimana mereka acuh tak acuh terhadap nasib
rakyat mereka. Produksi pabrik tidak melibatkan pekerja, cuma pimpinan
yang menentukan. Target tidak tercapai. Buruhnya yang dipersalahkan.
Dimarahi. Buruh tidak berani protes. Karena kalau protes, gajinya yang
sudah sedikit akan dikurangi lagi. Jadi, kemerosotan ideologi komunis
sudah begitu hebatnya. Sehingga tak mengherankan terjadi perubahan yang
drastis.

Sejauh mana hubungan Bung dengan gerakan pemuda kiri di Jerman?

Kepada para pemuda di Jerman Barat itu saya tanyakan kemungkinan saya
masuk ke Berlin Barat. Mereka nyatakan siap membantu. Sebelumnya saya
juga sudah punya kontak dengan sebuah komite internasional untuk
mendukung rakyat Vietnam, waktu ramai-ramainya Perang Vietnam. Komite
itu ada di berbagai kota, seperti Praha, dan kota lain di Eropa. Juga
Dresden. Tapi, yang di Dresden tidak disenangi karena DDR yang bersikap
bunglon dalam menghadapi masalah Perang Vietnam. 

​Sebelum meninggalkan Dresden, saya pergi menemui Agam Wispi, penyair
dan koresponden Harian Rakyat serta seorang lagi yang bernama Bambang.
Waktu itu mereka ikut dengan komite yang dipimpin Thomas Sinuraya.
Terus terang saya tanyakan apakah konflik intern sudah sampai begini
parahnya? Sampai hati ikut mengusir kawan sendiri. Belakangan, mereka
menuduh saya, “Narto itu kepalanya di Tiongkok, cuma kakinya yang di
sini.”

Ketika permohonan suaka Bung diterima di Jerman yang sudah bersatu ini,
apakah pekerjaan dan tempat tinggal disediakan pemerintah setempat
sebagaimana di negara Eropa Barat lainnya? 

Tidak. Saya cari sendiri. Itu bedanya di Jerman dengan di negara lain,
di mana banyak kawan meminta perlindungan.

Pekerjaan? 

Waktu itu ada mobilisasi mahasiswa di sini. Yang tidak melanjutkan
pendidikan, karena berbagai hal, ditawarkan pekerjaan. Saya ikut.

Apa pekerjaan Bung yang pertama? 

Penjaga toko. Pekerjaannya antara lain menerima barang dan
memasukkannya ke gudang.

Kapan Bung hidup berkeluarga? 

Saya menikah pada usia 40. Ada teman saya di sini, orang Indonesia. Dia
memperkenalkan saya kepada keponakannya yang tinggal di Indonesia.
Ditunjukkannya foto-fotonya. Anak dari Malang. Saya setuju. Suatu hari
saya diminta supaya pulang, walau sejam. 

Pulang? 

Saya bilang, pulang itu nggak mungkin. Dari Indonesia didesak terus.
Pokoknya sejam saja cukup, untuk memenuhi sarat peresmian saja. Saya
mengerti, tapi bagi saya tak memungkinkan. Putus sampai di situ. Karena
saya tak mungkin datang walau hanya satu jam. Saya melangsungkan
pernikahan setelah empat tahun di Berlin sini, sekitar 1975, setelah
dapat suaka. Ceritanya begini. Setelah gagal dengan keponakan teman
saya itu, gadis dari Malang itu, muncul tawaran dari Ibu saya sendiri.
Sebagai orangtua dia tentu punya pikiran dan rencana untuk saya. Saya
diperkenalkan dengan perempaun yang jadi istri saya sekarang. Ada
hubungan famili yang jauh sekali. Dia orang Cepu. Waktu itu, dia
bekerja di konsulat Indonesia di Jepang. Kami berkenalan. Mau nggak?
tanya Ibu. Mau, jawab saya. Kalau mau, dia harap memaklumi keadaan
saya. Tak punya apa-apa. Siap memulai dari nol. Jangan dikira saya di
luar negri punya macam-macam. Dia pulang ke Indonesia. Pernikahan
diresmikan di Indonesia, di Klaten, Jawa Tengah. Saya ‘kan tak bisa
pulang. Tak bisa datang. Yang mewakili saya kakak saya. Alasannya
karena saya sedang dinas di luar negeri. Di dalam surat nikah
disebutkan pengantin lelaki namanya Sunarto, tanggal lahir ini dan
lain-lain dan lain-lain … Sudah. Selesai. Begitu istri saya dapat
paspor, dia lantas berangkat ke sini. Dia sampai di Berlin tahun 1976.
Sampai sekarang punya anak dua. Yang tertua lelaki, 30 tahun. Yang
kedua 26, juga lelaki. Kakak yang mewakil saya dalam pernikahan di
Klaten itu meninggal tahun lalu.

Dengan anak-istri bahasa apa yang digunakan? 

Bahasa Indonesia dong… Dengan Ibunya, anak-anak menggunakan bahasa
Jawa, dengan saya Jerman.

Sudah pernah ke Indonesia? 

Sudah! Tiga kali.

Ketika pulang anak-istri diajak? 

Oh, tidak.

Yang terakhir? 

Dua tahun lalu. Pada waktu Gus Dur, pada tahun 2000, saya berusaha
untuk memperoleh paspor dari KBRI. Setelah sekitar enam tahun menunggu
barulah paspor itu saya dapatkan. Keberhasilan itu merupakan buah dari
upaya yang terus-menerus. Setiap bertemu dengan pejabat KBRI, dan di
dalam pertemuan, seperti seminar yang menyangkut Indonesia, dan
berlangsung di sini, masalah mereka yang tak bisa pulang saya
ketengahkan. Ada yang mengatakan penyelesaiannya sedang diperoses.
Akhirnya, saya dapat paspor. Ketika pulang yang kedua kali ke Indonesia
saya berangkat bersama istri. Anak tidak, karena mereka sekolah. Dengan
anak belum pernah pulang bareng ke sana.

Ketika Bung dan istri tiba di Klaten suasananya seperti apa? 

Sambutan baik sekali. Yang menarik ketika saya datang ke sana, saya
didatangi seorang teman lama. “Jangan banyak ngomong. Mereka masih
banyak,” dia menasihati. Saya tahu arti kata-kata itu. Saya juga sudah
tahu di daerah itu ada kuburan massal. Hanya sehari di Klaten. Datang
dan diterima keluarga saya. Famili dari mana-mana pada datang. Famili
istri yang tinggal di Cepu tak ada yang muncul. Saya anak keempat dari
sepuluh bersaudara. Keponakan-keponakan banyak sekali. Tetangga banyak
yang datang, karena mereka tahu Bapak saya orang pergerakan.

Bung punya paspor Indonesia, istri juga, ada rencana kembali ke
Indonesia? 

Waktu saya datang, terasa berada di suatu tempat yang asing samasekali.
Wilayah yang samasekali baru. Apakah saya bisa hidup di sini? kata saya
di dalam hati. Istri saya sendiri tidak ingin pulang. Pulang tak punya
mata pencaharian. Mau jadi apa? Umur sudah segini. Kenyataan riil yang
tidak mudah untuk dihadapi.
Sudah punya mantu? Berapa cucu? 

Salah seorang dari anak saya, yang tertua, sudah punya istri, belum
punya anak. Anak saya itu arsitek. Yang kedua belajar teknik
informatika dan akan menyelesaikan pendidikannya. Dia dibiayai oleh
pemerintah Jerman untuk praktek di Indonesia. Dia ingin bekerja di ITB.
Setelah sertahun di sana, dia akan kembali ke Berlin dan masa
pendidikannya di Indonesia itu akan diperhitungkan dalam pencapaian
gelar kesarjanaannya di sini. Sekarang dia sudah di ITB. Biarlah dia
mengalami hidup di Indonesia itu seperti apa. Anak saya yang pertama,
untuk menyelesaikan master of art-nya juga tinggal di Indonesia selama
setahun. Di Universitas Parahyangan Bandung. Kenal dengan gadis
Indonesia terus menikah. Istrinya juga arsitek. Nah, adiknya mau
mengikuti jalan kakaknya itu.

Sejak kapan Bung jadi pengemudi taksi?

Tak lama setelah sampai di Berlin.

Bisa hidup dengan nyupir taksi?

Hidup! Nyatanya hidup.

Sudah pensiun? Umur 65 pensiun. 

Sekarang saya 76.

Dan uang pensiun itu mencukupi? 

Cukup.

Kalau tak cukup apakah pemerintah Jerman membantu? 

Dibantu. Tapi saya belum meminta.

Dari perjalanan hidup yang panjang berliku, pelajaran apa yang bisa
dipetik? 

Kenyataan obyektif menunjukkan bahwa manusia itu materialistis. Saya
sudah melalui berbagai pertentangan dan hidup itu memang penuh
pertentangan. Saya tidak menyesal jadi begini. Mungkin, kalau ada
kehidupan kedua saya mau jadi manusia yang lain… hahaha. Limapuluh
tahun tidak di tanah air. Saya hidup di Indonesia hanya 20 tahun. Saya
di sini tidak sendirian, banyak teman yang seperti saya. Saya hidup di
sini dengan disemangati pikiran bahwa kawan-kawan saya di Indonesia
hidup jauh lebih sulit. Tanpa semangat itu mungkin saya tak berani
untuk terus mempertahankan hidup. Saya bisa membayangkan kehidupan
kawan-kawan di Indonesia jauh lebih berat. Saya melihat foto-foto mereka
yang sedang ditangkap, digiring, dipukuli, dibuang … 
Saya tidak dibesarkan dan tidak dididik dalam suasana perjuangan. Saya
bukan aktivis. Ibu saya itu pedagang kain, dan sebagai anak saya
terbiasa harus membantu beliau ke pasar. Tapi, di sini saya lihat yang
dari Pemuda Rakyat dan yang dari organisasi ini-itu, mereka itu tidak
punya inisiatif. Saya lebih aktif. Karena mereka kelihatannya sudah
terbiasa bekerja setelah dapat perintah. Saya kalau kalah di satu
bidang, saya akan mencari kemenangan di bidang lain. Sementara mereka,
kalau sudah kalah ya selesai. 
Waktu itu keadaan sulit. Kontak tak ada. Saya buka toko. Sebab dengan
toko ‘kan banyak yang datang. Bisa komunikasi. Bisa ketemu orang
Indonesia, bisa ngomong. Waktu itu saya buka toko jual bahan makanan.
Terasi, gereh (ikan asin), saya datangkan dari Belanda, saya jual di
sini. Dengan begitu saya punya hubungan. Kalau tidak punya hubungan
dengan manusia, dengan kawan, saya mati! 
Mereka, teman-teman lain, yang tergabung dalam rupa-rupa organisasi di
Indonesia dulu, kerja. Sudah. Kemudian mati. Mereka yang dapat uang
tunjangan sosial sebenarnya ‘kan bisa memanfaatkannya untuk perjuangan
hidup. Berjuang, kalah. Kok gak berjuang lagi. Saya tidak dididik oleh
orangtua saya sebagai pejuang, tapi kalah tetap berjuang untuk hidup.
Saya buka restoran “Bengawan Solo.” Ada konflik dengan kedutaan yang
menganjurkan agar orang Indonesia jangan makan di “Bengawan Solo.”
Waktu itu Suharto berkuasa. Jadi tidak hanya restoran Indonesia di
Paris yang mengalami hal seperti itu. Di restoran itu saya dapat banyak
kontak, sehingga situasi di Indonesia tetap sampai kepada saya. Dengan
begitu saya dapat majalah dan bacaan lain dari Indonesia. Mandeg dalam
berpikir sebenarnya ‘kan nggak ada. Yang ada adalah yang
dimadeg-mandegkan.

Sampai pada satu titik, pernah menyesal? 

Saya hidup dan saya tak pernah menyesali hidup saya.

Suka Tunjukkan lebih banyak tanggapan

 

   
 

Penderitaan di Indonesia Menyemangati Hidup Saya
oleh Martin Aleida

Dalam usia 76 tahun dia masih bisa bertahan hidup dengan mengemudikan taksi di kota Berlin. Agak gemuk, tingginya rata-rata orang Indonesia. Ramah dan suka guyon. Orang Indonesia yang jumlahnya tak seberapa di kota ini mengenalnya dengan baik. Dengan taksi yang dikemudikannya, Sunarto menjemput saya di Richard Strasse, di mana saya menumpang. Saya duduk di samping kanannya, dan dia membawa saya ke sebuah restoran Turki. Restoran itu agak sempit, dan di tengah-tengah keramaian pengunjung yang sedang makan siang wawancara ini berlangsung.
Bagaimana kisahnya Bung sampai di Berlin?
Suatu hari saya dipanggil polisi di Republik Demokrasi Demokrasi Jerman (DDR) atau Jerman Timur. Saya disuruh meninggalkan negara itu karena izin tinggal untuk studi saya sudah habis. Padahal, sebelumnya ada keputusan Dewan Menteri bahwa orang seperti saya boleh tinggal di negara tersebut selamanya. Belakangan saya tahu, bahwa DDR ingin meningkatkan hubungan diplomatik dengan pemerintahan Suharto. Saya dapat tekanan dari dua pihak ketika itu, dari DDR dan dari komite luar negeri delegasi PKI di Moskow yang dipimpin oleh Thomas Sinuraya. Tak ada gunanya melawan, dan saya pergi. Pemerinah Jerman memberikan saya tiket pesawat Interflug milik DDR untuk terbang pulang ke Jakarta. Tiket itu tidak saya pakai. Apa saya sudah gila mau pulang? Tiket itu masih saya simpan sampai sekarang sebagai kenang-kenangan …
Dari Dresden saya malah berangkat ke Berlin naik kereta-api. Saya membawa paspor yang sudah saya perpanjang sendiri. Tak ada masalah dengan polisi perbatasan Jerman. Tiba di Berlin tak ada masalah awal 1970-an itu. Saya melaporkan diri kepada polisi, dan saya jelaskan bahwa saya mahasiswa yang dikirim oleh Presiden Sukarno untuk belajar di DDR, tetapi kemudian saya diusir. ‘Kami sudah tahu itu,’ kata mereka. Saya dapat izin tinggal melalui proses yang cepat, tidak lama. Ada pengacara yang meyakinkan bahwa saya layak dilindungi. Pemerintah Jerman yang menyediakan pengacara itu. Saya mana punya uang untuk membayarnya.
Kapan meninggalkan Indonesia?
Saya meninggalkan Indonesia tahun 1962. Dikirim oleh Perguruan Tinggi Ilmu Pendidikan. Ada perjanjian, kalau sudah selesai studi akan diangkat jadi pegawai negeri. Dapat uang dari pemerintah Indonesia tiap bulan 7 poundsterling. Itu untuk bantuan makanan dan pakaian. Untuk tahun 1963 dibayarkan pada tahun berikutnya. Untuk 1964 dibayarkan tahun 1965. Kebetulan tahun 1965 terjadi G30S.
Saya tidak dikirim oleh organisasi yang berafiliasi dengan PKI atau organisasi lain. Tidak. Saya studi di Dresden, bidang industri tekstil. Sebelum pendidikan reguler dimulai, saya belajar bahasa Jerman terlebih dulu selama setahun. Studi dimulai Januari 1963. G30S meletus, pendidikan jalan terus sampai selesai pada tahun 1968. Saya berhak atas titel akademis sebagai sarjana teknik industri tekstil.
Bung sendirian?
Tidak. Dari Indonesia rombongan terdiri dari 31 orang. Mereka dinamakan “mahid”, atau mahasiswa ikatan dinas. Selain dari Jawa, ada juga yang dari Sumatera, Kalimantan.
Bagaimana reaksi mahasiswa Indonesia ketika mendengar G30S?
Waktu peristiwa terjadi, keesokan harinya saya sudah membacanya di koran. Juga mendengar beritanya dari Radio Hilversum. Kuliah jalan terus. Kami yakin Presiden Sukarno bisa bertahan pada waktu itu. Kami tidak punya kehawatiran, sekalipun waktu itu ada tuntatan bubarkan PKI. Suharto sudah muncul sebagai orang kuat. Kami tak punya kekhawatiran. Kita kuat, dan kepemimpinan Sukarno begitu hebat.
Namun, yang kemudian terjadi adalah dilancarkannya pengejaran terhadap orang-orang progresif di Indonesia. Pengejaran itu sampai ke Eropa ini juga. Kedutaan Indonesia yang berada di Cekoslowakia juga mencakup Jerman Timur ketika itu. Kawan-kawan di luar Jerman Timur sudah mulai di-screening. Paspor diserahkan, tetapi ternyata kemudian tidak dikembalikan oleh pihak kedutaan. Kita sadar betapa beratnya hidup kalau tidak punya paspor. Hidup akan seperti apa?
Di antaara 31 mahasiswa Indonesia, termasuk yang sudah lebih dulu datang untuk belajar di DDR, terjadi perpecahan. Terjadi kristalisasi. Pihak sana, menuntut orang-orang seperti saya dipulangkan. Jadi, pengejaran terhadap kami juga dilancarkan. Screening untuk legalisasi keberadaan kami, kami tolak. Kami tidak mau mengikuti screening. Karena papor harus diserahkan, dan mengisi daftar pertanyaan siapa-siapa saja orang komunis di antara kami. Siapa Pemuda Rakyat dan lain-lain. Ditanya siapa-siapa saja kenalanmu. Pertanyaan yang kami anggap merupakan pelanggaran hebat terhadp hak-hak kami sebagai manusia.
Kedudukan Bung Karno semakin lemah. Pengejaran terhadap kami bertambah keras. Kita punya kekuatan, tetapi nyatanya kita kalah. Begitulah kesimpuan kami pada akhirnya. Kami menolak screening dengan segala konsekuensinya. Yang melakukan screening datang ke DDR dari kedutaan Indonesia di Ceko. Usaha mereka yang pertama gagal. Karena kita masih punya pengaruh di PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Kedatangan mereka yang kedua untuk melakukan screening secara paksa. Mereka datang ke Dresden. Semua mahasiswa dikumpulkan. Kami, kira-kira 30 orang, menolak untuk datang. Yang datang secara keseluruhan sekitar 100-an. Kemudian kedutaan Indonesia di Cekoslowakia mengeluarkan keputusan berisi dafatar mahasiswa yang paspornya dicabut.
Jalannya sejarah tak bisa dihindarkan dan kami sudah siap. Tapi, paspor tetap di tangan walau pun tidak berlaku. Kami sadar betapa pentingnya paspor itu. Kami menghubungi pihak tuanrumah, DDR. Ada keputusan yang menyatakan bahwa Dewan Menteri DDR yang menyatakan selama keadaan tetap seperti ini mahasiswa Indonesia boleh tinggal di DDR untuk selama-lamanya. Hebat! Dan kami mulai berpikir secara aktif.
Tapi, taktik bagaimana, dan apa yang harus dilakukan. Yang penting jangan sampai terjadi pengelompokan diantara kami. Waktu itu yang berkuasa di DDR masih Walter Ulbrich. Setiap perubahan di pemerintahan DDR ada efeknya terhadap kami. Selama ini kami dapat uang dari DDR, juga dari Indonesia. Dari Indonesia 7 poundsterling dari DDR 280 Deutsche Mark. Itu cukup untuk makan, pakaian, kos, untuk ongkos transpor. Mereka yang loyal terhadap pemerintah Indonesia tetap dapat uang dari Jakarta. Dari 31 mahasiswa di kelompok saya ketikaa itu setengahnya memihak pemerintahan Suharto.
​Berita-berita tentang kekerasan di Indonesia sampai kepada kami, sementara kami tak bisa berbuat apa-apa. Anak-anak mahasiswa yang reaksioner juga mau mengejar kami. Kami lawan. Ternyata mereka takut. Padahal, orang seperti saya waktu itu kerempeng, tidak seperti sekarang. Berkelahi saja nggak tahu kok… Penderitaan mempertebal keberanian untuk melakukan perlawanan. “Kalau kalian berani, ayo …!” Nyaris bentrok fisik, ternyata mereka mundur. Kalau kita mati mereka juga musti mati kan? Kita ketahui di Indonesia tidak ada perlawanan. Tinggal siap diambil, dipotong… Menyerah tanpa perlawanan samasekali dan kami belajar dari kenyataan itu.
Saya orang pemerintah, saya tak tahu apa yang terjadi di dalam PKI. Dan kami tidak merasa bersalah. Saya waktu itu memang pro terhadap orang kiri. Saya bertanya, siapa yang tidak tergerak oleh Bung Karno pada waktu itu? Oto-kritik PKI sampai ke sini dalam bentuk dokumen. Kita jadi memahami apa yang terjadi di dalam PKI. Sebelumnya kita tahu mengenai PKI itu ‘kan hanya instinktif saja. Terjadi perpecahan. Ada yang setuju oto-kritik, tapi ada yang mendukung garis lama. Kita mulai belajar buku klasik mengenai komunisme. Sebelumnya ‘kan cuma yakin PKI itu hebat….!
Bung ikuti pertentangan antara Uni Soviet dan RRT pada waktu itu?
Mengikuti pertentangan antara Uni Soviet dan RRT lebih menarik daripada mata kuliah. Betul! Argumen PKT begini, argumen PKUS begitu. Apa itu revisionisme. Kami memihak kebenaran garis Mao Tse-tung. PKI di luar negeri pecah. Ada PKI yang memihak Peking, ada yang memihak Moskow. Kami di Dresden ditinggalkan. Thomas Sinuraya di Moskow menyebutkan dia pimpinan PKI di luar negeri. Dari yang kami pelajari membuat kami jadi memiliki senjata ideologi. Apa-apaan ini …. Kemudian ada tulisan mengenai PKI, tetapi bahasanya dan tema-temannya cemplang. Kata-katanya, misalnya, “yang lahir seperti pisang goreng.” Terminologi ini tidak dikenal. Sekalipun saya bukan orang partai, saya tahu ini tidak benar.
​Ketika PPI yang reaksioner itu meminta kami dipulangkan, maka kami mendirikan PPI tandingan. Di samping saya, ada beberapa kawn lain. Kemudian sikap yang memihak pada kami bermunculan, dan ikut membenarkan garis PKT. Namun, perpecahan tetap mengancam. Waktu itu juga ada PPI Moskow, tetapi kami mempertahankan PPI yang kami bentuk, PPI tandingan melawan Suharto. Mereka dapat fasilitas, kami tidak. Saya, misalnnya, yang sudah lulus tak dapat pekerjaan. Kalau pun dapat, hanya sebagai magang. Supaya kami tidak ngumpul, tempatnya dipisah-pisah. Jadi, kita dapat hmbatan dari orang-orang kita sendiri. Kawan-kawan di Indonnesia begitu menderitanya, tetapi mereka di sini ke mana-mana naik mobil. Petantang-petenteng. Wataknya jelek walau PKI. Tak mendapat simpati. Akhirnya, simpati tumpah pada orang-otang yang berpihak pada sikap Tiongkok.
​Teman-teman yang di Uni Soviet itu naik kedudukannya bukan karena prestasi kerja, tetapi hadiah. Thomas Sinuraya yang mengangkat. Kemudian ada yang datang ke Dresden menemui saya, meminta saya meninggalkan PPI. Saya jawab, “Saya telah menyelamatkan banyak orang, kok terus keluar. Ke mana muka saya.” Lantas dia mengancam, jangan kaget PPI dan CGMI yang di sini akan dibunuh. Terserah, kata saya. Pokoknya saya tak mau ikut-ikutan.
Apa yang Bung lakukan dengan ijazah sarjana teknik industri?
Selesai studi tahun 1968, saya kirim surat kepada delegasi PKI di Peking, di bawah pimpinan Yusuf Ajitorop. Saya minta diberangkatkan ke Peking. Ditolak! “Bung lebih baik berada di tempat di mana Bung bisa melihat orang,” jawabnya. Karena saya tak menggabungkan diri dengan kelompok mahasiswa di Uni Soviet, jadi saya tidak dapat fasilitas dari DDR. Nggak apa-apa. Saya cari pekerjaan sendiri. Dapat. Jauh di luar kota. Tidak sebagai insinyur tetapi sebagai magang. Tapi, saya pikir tak apa, untuk sementara sebelum saya bisa keluar.
Saya membuka hubungan dengan orang-orang yang berada di luar DDR, yang berada di Berlin ini. Waktu tahun 1968 itu di Jerman Barat berkembang gerakan pemuda revolusioner. Hebat pemuda-pemuda Jerman itu. Di situ saya menemukan kontak. Anak-anak muda itu tahu kritik-otokritik PKI. Mereka membacanya dalam bahasa Jerman. Jadi, saya punya kebanggaan tersendiri melihat kenyataan itu. Di mana-mana PKI ada hahaha ... Saya rasa, kritik-otokiritik itu bernilai tinggi. Kritik itu menambah pengetahuan dan keyakinan saya.
​Saya mengalami sendiri, ketika berada di DDR, bagaimanna dari negara sosialis negara itu perlahan berubah menjadi revisionis. Bagaimana moral orang-orang partai berubah menjadi moral borjuis. Dampaknnya nyata sekali, misalnnya perpanjangan paspor, wah.. lamanya bukan main. Bagaimana mereka acuh tak acuh terhadap nasib rakyat mereka. Produksi pabrik tidak melibatkan pekerja, cuma pimpinan yang menentukan. Target tidak tercapai. Buruhnya yang dipersalahkan. Dimarahi. Buruh tidak berani protes. Karena kalau protes, gajinya yang sudah sedikit akan dikurangi lagi. Jadi, kemerosotan ideologi komunis sudah begitu hebatnya. Sehingga tak mengherankan terjadi perubahan yang drastis.
Sejauh mana hubungan Bung dengan gerakan pemuda kiri di Jerman?
Kepada para pemuda di Jerman Barat itu saya tanyakan kemungkinan saya masuk ke Berlin Barat. Mereka nyatakan siap membantu. Sebelumnya saya juga sudah punya kontak dengan sebuah komite internasional untuk mendukung rakyat Vietnam, waktu ramai-ramainya Perang Vietnam. Komite itu ada di berbagai kota, seperti Praha, dan kota lain di Eropa. Juga Dresden. Tapi, yang di Dresden tidak disenangi karena DDR yang bersikap bunglon dalam menghadapi masalah Perang Vietnam.
​Sebelum meninggalkan Dresden, saya pergi menemui Agam Wispi, penyair dan koresponden Harian Rakyat serta seorang lagi yang bernama Bambang. Waktu itu mereka ikut dengan komite yang dipimpin Thomas Sinuraya. Terus terang saya tanyakan apakah konflik intern sudah sampai begini parahnya? Sampai hati ikut mengusir kawan sendiri. Belakangan, mereka menuduh saya, “Narto itu kepalanya di Tiongkok, cuma kakinya yang di sini.”
Ketika permohonan suaka Bung diterima di Jerman yang sudah bersatu ini, apakah pekerjaan dan tempattinggal disediakan pemerintah setempat sebagaimana di negara Eropa Barat lainnya?
Tidak. Saya cari sendiri. Itu bedanya di Jerman dengan di negara lain, di mana banyak kawan meminta perlindungan.
Pekerjaan?
Waktu itu ada mobilisasi mahasiswa di sini. Yang tidak melanjutkan pendidikan, karena berbagai hal, ditawarkan pekerjaan. Saya ikut.
Apa pekerjaan Bung yang pertama?
Penjaga toko. Pekerjaannya antara lain menerima barang dan memasukkannya ke gudang.
Kapan Bung hidup berkeluarga?
Saya menikah pada usia 40. Ada teman saya di sini, orang Indonesia. Dia memperkenalkan saya kepada keponakannya yang tinggal di Indonesia. Ditunjukkannya foto-fotonya. Anak dari Malang. Saya setuju. Suatu hari saya diminta supaya pulang, walau sejam. Pulang? Saya bilang, pulang itu nggak mungkin. Dari Indonesia didesak terus. Pokoknya sejam saja cukup, untuk memenuhi sarat peresmian saja. Saya mengerti, tapi bagi saya tak memungkinkan. Putus sampai di situ. Karena saya tak mungkkin datang walau hanya satu jam.
Saya melangsungkan pernikahan setelah empat tahun di Berlin sini, sekitar 1975, setelah dapat suaka. Ceritanya begini. Setelah gagal dengan keponakan teman saya itu, gadis dari Malang itu, muncul tawaran dari Ibu saya sendiri. Sebagai orangtua dia tentu punya pikiran dan rencana untuk saya. Saya diperkenalkan dengan perempaun yang jadi istri saya sekarang. Ada hubungan famili yang jauh sekali. Dia orang Cepu. Waktu itu, dia bekerja di konsulat Indonesia di Jepang. Kami berkenalan. Mau nggak? tanya Ibu. Mau, jawab saya. Kalau mau, dia harap memaklumi keadaan saya. Tak punya apa-apa. Siap memulai dari nol. Jangan dikira saya di luar negri punya macam-macam.
Dia pulang ke Indonesia. Pernikahan diresmikan di Indonesia, di Klaten, Jawa Tengah. Saya ‘kan tak bisa pulang. Tak bisa datang. Yang mewakili saya kakak saya. Alasannya karena saya sedang dinas di luar negeri. Di dalam surat nikah disebutkan pengantin lelaki namanya Sunarto, tanggal lahir ini dan lain-lain dan lain-lain … Sudah. Selesai. Begitu istri saya dapat paspor, dia lantas berangkat ke sini. Dia sampai di Berlin tahun 1976. Sampai sekarang punya anak dua. Yang tertua lelaki, 30 tahun. Yang kedua 26, juga lelaki. Kakak yang mewakil saya dalam pernikahan di Klaten itu meninggal tahun lalu.
Dengan anak-istri bahasa apa yang digunakan?
Bahasa Indonesia dong… Dengan Ibunya, anak-anak menggunakan bahasa Jawa, dengan saya Jerman.
Sudah pernah ke Indonesia?
Sudah! Tiga kali.
Ketika pulang anak-istri diajak?
Oh, tidak.
Yang terakhir?
Dua tahun lalu. Pada waktu Gus Dur, pada tahun 2000, saya berusaha untuk memperoleh paspor dari KBRI. Setelah sekitar enam tahun menunggu barulah paspor itu saya dapatkan. Keberhasilan itu merupakan buah dari upaya yang terus-menerus. Setiap bertemu dengan pejabat KBRI, dan di dalam pertemuan, seperti seminar yang menyangkut Indonesia, dan berlangsung di sini, masalah mereka yang tak bisa pulang saya ketengahkan. Ada yang mengatakan penyelesaiannya sedang diperoses. Akhirnya, saya dapat paspor.
Ketika pulang yang kedua kali ke Indonesia saya berangkat bersama istri. Anak tidak, karena mereka sekolah. Dengan anak belum pernah pulang bareng ke sana.
Ketika Bung dan istri tiba di Klaten suasananya seperti apa?
Sambutan baik sekali. Yang menarik ketika saya datang ke sana, saya didatangi seorang teman lama. “Jangan banyak ngomong. Mereka masih banyak,” dia menasihati. Saya tahu arti kata-kata itu. Saya juga sudah tahu di daerah itu ada kuburan massal. Hanya sehari di Klaten. Datang dan diterima keluarga saya. Famili dari mana-mana pada datang. Famili istri yang tinggal di Cepu tak ada yang muncul. Saya anak keempat dari sepuluh bersaudara. Keponakan-keponakan banyak sekali. Tetangga banyak yang datang, karena mereka tahu Bapak saya orang pergerakan.
Bung punya paspor Indonesia, istri juga, ada rencana kembali ke Indonesia?
Waktu saya datang, terasa berada di suatu tempat yang asing samasekali. Wilayah yang samasekali baru. Apakah saya bisa hidup di sini? kata saya di dalam hati. Istri saya sendiri tidak ingin pulang. Pulang tak punya mata pencaharian. Mau jadi apa? Umur sudah segini. Kenyataan riil yang tidak mudah untuk dihadapi.
Sudah punya mantu? Berapa cucu?
Salah seorang dari anak saya, yang tertua, sudah punya istri, belum punya anak. Anak saya itu arsitek. Yang kedua belajar teknik informatika dan akan menyelesaikan pendidikannya. Dia dibiayai oleh pemerintah Jerman untuk praktek di Indonesia. Dia ingin bekerja di ITB. Setelah sertahun di sana, dia akan kembali ke Berlin dan masa pendidikannya di Indonesia itu akan diperhitungkan dalam pencapaian gelar kesarjanaannya di sini. Sekarang dia sudah di ITB. Biarlah dia mengalami hidup di Indonesia itu seperti apa. Anak saya yang pertama, untuk menyelesaikan master of art-nya juga tinggal di Indonesia selama setahun. Di Universitas Parahyangan Bandung. Kenal dengan gadis Indonesia terus menikah. Istrinya juga arsitek. Nah, adiknya mau mengikuti jalan kakaknya itu.
Sejak kapan Bung jadi pengemudi ttaksi?
Tak lama setelah sampai di Berlin.
Bisa hidup dengan nyupir taksi?
Hidup! Nyatanya hidup.
Sudah pensiun?
Umur 65 pensiun. Sekarang saya 76.
Dan uang pensiun itu mencukupi?
Cukup.
Kalau tak cukup apakah pemerintah Jerman membantu?
Dibantu. Tapi saya belum meminta.
Dari perjalanan hidup yang panjang berliku, pelajaran apa yang bisa dipetik?
Kenyataan obyektif menunjukkan bahwa manusia itu materialistis. Saya sudah melalui berbagai pertentangan dan hidup itu memang penuh pertentangan. Saya tidak menyesal jadi begini. Mungkin, kalau ada kehidupan kedua saya mau jadi manusia yang lain… hahaha. Limapuluh tahun tidak di tanah air. Saya hidup di Indonesia hanya 20 tahun. Saya di sini tidak sendirian, banyak teman yang seperti saya. Saya hidup di sini dengan disemangati pikiran bahwa kawan-kawan saya di Indonesia hidup jauh lebih sulit. Tanpa semangat itu mungkin saya tak berani untuk terus mempertahankan hidup. Saya bisa membayangkan kehidupan kawan di Indonesia jauh lebih berat. Saya melihat foto-foto mereka yang sedang ditangkap, digiring, dipukuli, dibuang …
Saya tidak dibesarkan dan tidak dididik dalam suasana perjuangan. Saya bukan aktivis. Ibu saya itu pedagang kain, dan sebagai anak saya terbiasa harus membantu beliau ke pasar. Tapi, di sini saya lihat yang dari Pemuda Rakyat dan yang dari organisasi ini-itu, mereka itu tidak punya inisiatif. Saya lebih aktif. Karena mereka kelihatannya sudah terbiasa bekerja setelah dapat perintah. Saya kalau kalah di satu bidang, saya akan mencari kemenangan di bidang lain. Sementara mereka, kalau sudah kalah ya selesai.
Waktu itu keadaan sulit. Kontak tak ada. Saya buka toko. Sebab dengan toko ‘kan banyak yang datang. Bisa komunikasi. Bisa ketemu orang Indonesia, bisa ngomog. Waktu itu saya buka toko jual bahan makanan. Terasi, gereh (ikan asin), saya datangkan dari Belanda, saya jual di sini. Dengan begitu saya punya hubungan. Kalau tidak punya hubungan dengan manusia, dengan kawan, saya mati! Mereka, teman-teman lain, yang tergabung dalam rupa-rupa organisasi di Indonesia dulu, kerja. Sudah. Kemudian mati. Mereka yang dapat uang tunjangan sosial sebenarnya ‘kan bisa memanfaatkannya untuk perjuangan hidup. Berjuang, kalah. Kok gak berjuang lagi.
Saya tidak dididik oleh orangtua saya sebagai pejuang, tapi kalah tetap berjuang untuk hidup. Saya buka restoran “Bengawan Solo.” Ada konflik dengan kedutaan yang menganjurkan agar orang Indonesia jangan makan di “Bengawan Solo.” Waktu itu Suharto berkuasa. Jadi tidak hanya restoran Indonesia di Paris yang mengalami hal seperti itu. Di restoran itu saya dapat banyak kontak, sehingga situasi di Indonesia tetap sampai kepada saya. Dengan begitu saya dapat majalah dan bacaan lain dari Indonesia. Mandeg dalam berpikir sebenarnya ‘kan nggak ada. Yang ada adalah yang dimadeg-mandegkan.
Sampai pada satu titik, pernah menyesal?
Saya hidup dan saya tak pernah menyesali hidup saya.

Kirim email ke