Pengamat politik Arbi Sanit. (teropongsenayan)
 
 Arbi Sanit: Dulu Saya Anggap SBY Pemimpin Terbaik, Tapi Sekarang? 
http://www.netralnews.com/news/megapolitan/read/34609/arbi.sanit.dulu.saya.anggap.sby.pemimpin.terbaik..tapi.sekarang
 Senin, 07 November 2016 | 06:32 WIB

 JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pernyataan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY) yang meminta penegakan hukum atas kasus dugaan penistaan agama yang 
dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), 
agar tidak terjadi aksi demo yang berkelanjutan, mendapat tanggapan dari 
pengamat politik Universitas Indonesia Arbi Sanit.
 Arbi menyesal pernah mengagumi dan mengganggap SBY sebagai salah satu pemimpin 
terbaik. Beberapa alasan yang mendasari Arbi mengagumi SBY, di antaranya soal 
demokrasi, stabilitas politik, dan pertumbuhan ekonomi.
 "Jadi begini, sebelum sampai sejauh ini saya menganggap SBY itu salah satu 
pemimpin atau presiden terbaik," kata Arbi kepada Netralnews.com, Senin 
(7/11/2016).
 "Dengan alasan, pertama, karena di periode dia terjadi demokrasi. Demokrasi 
bisa stabil. Kemudian dalam periode dia ada stabilitas politik. Lalu ketiga 
pada periode dia ekonomi tumbuh hingga 5 sampai 6 persen. Di situ saya 
menganggap presiden terbaik," ungkapnya.
 Namun kini, Arbi justru menganggap Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu tak 
ubahnya seperti politisi lainnya sebagai sumber instabilitas.
 "Tapi sekarang saya berhenti. Saya tidak bisa lagi mempertahankan gelar yang 
saya berikan itu. Karena sekarang dia sumber instabilitas. Padahal dulu 
stabilitas politik itu karya dia terbesar. Secara demokratis stabil. Sekarang 
dihancurkannya sendiri. Jadi bagi saya sekarang SBY gak ada apa-apanya lagi 
itu, hancur udah," jelasnya.
 "Bagi saya dia udah gak ada apa-apanya lagi. Leadership-nya dia sudah hancur. 
Saya aja sebelumnya secara saintifik membuktikan dia terbaik, sekarang secara 
saintifik juga saya bisa membuktikan dia sama aja kayak yang lain. Gak ada 
istimewanya lagi," tutup Arbi.
 Sebelumnya, SBY meminta aparat penegak hukum untuk memproses Ahok terkait 
dengan kasus dugaan penistaan agama. Sehingga jangan sampai menimbulkan opini 
Ahok kebal hukum. Karena jika tidak, maka sampai "lebaran kuda" pun akan tetap 
ada unjuk rasa.
 "Barangkali karena mereka merasa yang diprotes itu tuntutannya tidak didengar. 
Kalau tuntutannya tidak didengar, sampai 'lebaran kuda' bakal ada unjuk rasa," 
kata SBY dalam konferensi pers di kediamannya, Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Rabu 
(2/11/2016).
 SBY menegaskan, jika Ahok bersalah maka perlu diberi sanksi. Namun, jika tak 
bersalah maka Ahok harus dibebaskan. Pada kesempatan tersebut SBY mengajak 
semua pihak untuk menyelesaikan persoalan ini dengan bijaksana.
 
 Reporter : Adiel Manafe
 Editor : Y.C Kurniantoro

 



 



 

 

 

Kirim email ke