Minggu, 20 November 2016 | 19:34 
http://www.beritasatu.com/nusantara/400234-komunitas-tanpa-agama-berdoa-untuk-indonesia.html#
   
http://www.beritasatu.com/nusantara/400234-komunitas-tanpa-agama-berdoa-untuk-indonesia.html#
   
http://www.beritasatu.com/nusantara/400234-komunitas-tanpa-agama-berdoa-untuk-indonesia.html#
   http://www.addthis.com/tellfriend.php
 

 
 
 

 Komunitas Tanpa Agama Berdoa untuk Indonesia 
http://www.beritasatu.com/nusantara/400234-komunitas-tanpa-agama-berdoa-untuk-indonesia.html


 Logo Beritasatu.com (Dok Beritasatu.com)

 Tobasa- Seruan Kebhinekaan di Indonesia terus menggema. Tidak hanya di kota 
Jakarta, Medan maupun provinsi lainnya, kecintaan atas perdamaian Indonesia 
juga didoakan ratusan Parmalim, sebuah komunitas yang tidak memiliki agama di 
Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera 
Utara (Sumut).
 Penganut Parmalim tersebut berdoa di dalam gedung yang dijadikan tempat 
sakral, persisnya di depan foto yang dianggap sebagai Raja Mulia, murid setia 
Sisingamangaraja I sampai XII. Prosesi ritual doa ini berlangsung khidmad, dan 
dengan menggunakan Bahasa Batak. Doa bersama dari komunitas Parmalim itu 
dipimpin Sabar Simanjuntak sebagai pimpinan.
 "Kami sangat prihatin melihat kondisi bangsa ini yang berada di ambang 
perpecahan. Apalagi, konflik itu karena ditengarai persoalan agama. Kami 
mendoakan agar bangsa ini hidup dengan rukun, damai dan kembali bersatu dengan 
menolak perpecahan," ujar Sabar Simanjutak seusai melaksanakan doa bersama 
dengan ratusan warga di Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, akhir pekan lalu.
 Simanjuntak menambahkan, warga Parmalin meminta pemimpin bangsa ini untuk 
segera menuntaskan segala persoalan tersebut. Jangan biarkan bangsa ini 
terpecah - belah hanya karena konflik yang berbau suku, agama, ras, dan 
antargolongan. Seluruh persoalan itu dapat diselesaikan melalui penegakan 
hukum. Semua ini harus segera diakhiri.
 "Kami memang berada dari sebuah pelosok desa terpencil, tapi sebagai anak 
bangsa, kami berharap dengan apa yang kami sampaikan ini, bisa menjadi 
penyemangat seluruh rakyat yaitu, Persatuan Indonesia. Kami tidak menginginkan 
bangsa ini terpecah - belah hanya karena persoalan konflik agama maupun 
lainnya. Oleh karena itu, pemerintah harus bijaksana," sebutnya.
 Berdasarkan data, komunitas Parmalin yang Bertuhankan Debata Mulajadi Nabolon, 
saat ini berjumlah 1.334 kepala keluarga. Jumlah itu meliputii 5.555 jiwa yang 
tersebar di 20 provinsi di Indonesia. Dalam melakukan ritual, komunitas ini 
memajangkan patung tiga ekor ayam berwarna putih, hitam, dan merah. Ada makna 
dari tiga warna ayam tertentu tersebut.
 Ayam putih melambangkan kesucian atau halimun, hitam sebagai lambang kerajaan 
tua atau simbol bumi maupun alam semesta dan ayam merah melambangkan kekuatan 
atau berkuasa penuh yaitu Tuhan yang disembah.


 http://www.suarapembaruan.com/home/
 Arnold H Sianturi/PCN
 Suara Pembaruan


 

 

 

Kirim email ke