JUMAT 02 DESEMBER 2016 02:20 WIB DIBACA (88335)
 KOMENTAR (0)


 
 Buya Syafii Maarif: 400 Tahun untuk Ahok 
https://indonesiana.tempo.co/read/102151/2016/12/02/info.indonesiana/buya-syafii-maarif-400-tahun-untuk-ahok
 

 Jika dalam proses pengadilan nanti terbukti terdapat unsur pidana dalam 
tindakan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 27 September 2016 itu, saya 
usulkan agar dia dihukum selama 400 tahun atas tuduhan menghina Al-Quran, kitab 
suci umat Islam, sehingga pihak-pihak yang menuduh terpuaskan tanpa batas. 
Biarlah generasi yang akan datang yang menilai berapa bobot kebenaran tuduhan 
itu. Sebuah generasi yang diharapkan lebih stabil dan lebih arif dalam membaca 
politik Indonesia yang sarat dengan dendam kesumat ini.
 Saya tidak tahu apakah di KUHP kita terdapat pasal tentang rentang hukuman 
sekian ratus tahun itu. Jika tidak ada, ciptakan pasal itu dan Ahok saya 
harapkan menyiapkan mental untuk menghadapi sistem pengadilan Indonesia yang 
patuh pada tekanan massif pihak tertentu.
 Di media sosial, dalam minggu-minggu terakhir yang panas ini beredar kicauan 
bahwa, melalui Ahok, konglomerat "Sembilan Naga" akan lebih leluasa menguasai 
ekonomi Indonesia yang memang sebagian besar sudah berada dalam genggaman 
mereka. Benarkan demikian? Jawabannya: tidak salah, tapi tidak perlu melalui 
Ahok yang mulutnya dinilai liar dan jalang itu, karena prosesnya sudah berjalan 
puluhan tahun, jauh tersimpan dalam rahim paruh kedua abad ke-20 setelah 
kekuasaan Bung Karno terempas karena salah langkah dalam mengurus bangsa dan 
negara.
 Tapi pihak manakah yang memberi fasilitas kepada para naga yang jumlahnya bisa 
puluhan itu-bukan sebatas sembilan? Tidak sulit mencari jawaban atas pertanyaan 
ini: fasilitatornya adalah penguasa dan pihak perbankan Indonesia yang sebagian 
besar beragama Islam. Sekali lagi, sebagian besar beragama Islam. Pihak-pihak 
inilah yang memberi surga kepada para naga itu untuk menguasai dunia bisnis di 
negeri ini. Saya memasukkan para pihak ini ke kategori bermental anak jajahan, 
sekalipun sering berteriak sebagai patriot sejati.
 Atau, mungkin juga, berbisnis dengan kalangan sendiri belum tentu selalu taat 
janji, karena tidak jarang yang punya mental menerabas. Serba sulit, memang. 
Tapi harus ada terobosan dari negara untuk mendidik warganya ke arah 
pemberdayaan anak bangsa secara keseluruhan agar punya mental manusia merdeka 
yang terampil berbisnis, bukan manusia hamba yang lebih senang tetap menjadi 
wong cilik.
 Baca Juga:
 Kasus Al Maidah 51: 6 Alasan Ahok Tak Akan Dipenjara 
https://indonesiana.tempo.co/read/97742/2016/11/07/iwank.1.2/kasus-al-maidah-51-6-alasan-ahok-tak-akan-dipenjara
 Demokrasi Kerumunan ~ Poltak Partogi Nainggolan 
http://indonesiana.tempo.co/read/100031/2016/11/23/info.indonesiana/demokrasi-kerumunan-poltak-partogi-nainggolan
 Karena itu, kita harus jujur kepada diri sendiri: mengapa mereka yang mengaku 
sebagai warga negara tulen tidak punya mental kuat dengan disiplin tinggi agar 
uang menjadi jinak di tangan mereka? Lihatlah pihak sana, sekali memasuki dunia 
bisnis, perhatiannya 100 persen tercurah untuk keperluan itu. Nilai inilah yang 
seharusnya kita ambil dari mereka. Jika terpaksa jadi jongos dalam perusahaan 
teman kita ini, sifatnya mestilah sementara, untuk kemudian semua kemahiran 
dagang mereka kita ambil alih. Jangan tetap setia jadi jongos sampai ke liang 
kubur.
 Semestinya pembenci Ahok tidak hanya mahir bermain secara hiruk-pikuk di hilir 
lantaran buta peta, karena masalah utamanya berada di hulu-setidak-tidaknya 
bisa ditelusuri sejak rezim Orde Baru. Selama masalah besar dan utama ini 
dibiarkan berlanjut, jangan bermimpi kesenjangan sosial yang masih menganga 
dapat dipertautkan. Dan, prahara sosial bisa muncul setiap saat untuk 
meluluhlantakkan apa yang telah dibangun selama ini. Sikap benci dan marah 
tanpa bersedia mengoreksi diri secara jujur dan berani, sorak-sorai demo, akan 
berujung pada kesia-siaan. Apalagi, kabarnya, kekerasan juga telah menjadi 
ladang usaha bagi sebagian orang yang punya mentalitas duafa, sekalipun 
menikmati mobil super mewah.
 Tapi, Tuan dan Puan, jangan salah tafsir. Yang bermental patriotik dan 
nasionalis dari kelompok etnis ini juga tidak kurang jumlahnya. Saya punya 
teman dekat dari kalangan ini, sekalipun mereka belum tentu masuk dalam barisan 
naga itu. Dan, naga itu pun tidak semuanya masuk dalam lingkaran konglomerat 
hitam. Cinta teman dekat saya ini kepada tanah leluhur sudah lama mereka 
tinggalkan dan tanggalkan. Tanah air mereka tunggal: Indonesia! Mereka lahir 
dan berkubur di sini, sikap mereka tidak pernah mendua.
 Adalah sebuah angan-angan kosong sekiranya Ahok dijatuhi hukuman selama 400 
tahun, sementara mentalitas terjajah atau jongos tetap diidap sebagian kita. 
Ujungnya hanya satu: kalah. Dan, kekalahan mendorong orang menuju sikap kalap 
yang bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Maka, amatlah nista 
bila nama Tuhan disebut-sebut untuk membenarkan mentalitas kalah dan kalap ini. 
Tanpa perbaikan mendasar dalam struktur kejiwaan kita, maka ungkapan Bung Karno 
tentang bangsa kuli di antara bangsa-bangsa bukan mustahil menjadi kenyataan. 
Ke depan, diperlukan otak dingin dan kecerdasan spiritual tingkat tinggi untuk 
membenahi Indonesia. Masalah bangsa ini sangat kompleks, tapi pasti ada 
solusinya, dengan syarat kita semua masih punya akal sehat dan hati nurani.
 Ahmad Syafii Maarif
 Pendiri Maarif Institute
 *) Artikel ini terbit di Koran Tempo edisi 2 Desember 2016
 

Kirim email ke