·         Health


Kolom

DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.

http://health.kompas.com/read/2016/12/05/084500723/sehat.yang.santun.masihkah.relevan.

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku..

Sehat yang Santun, Masihkah Relevan?
Senin, 5 Desember 2016 | 08:45 WIB

SHUTTERSTOCKIlustrasi.

Terkait
·         Sehat yang Santun, Masihkah Relevan?
·         Ketika Teknologi Mengubah Gaya Hidup hingga Pola Edukasi
·         Sejahtera Tidak Sama dengan Kaya
·         Dari Rumah Makan ke Rumah Sakit
·         Orang Jawa Bermata Biru
Oleh: DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.





KOMPAS.com - Saya menulis ini tepat di hari peringatan AIDS sedunia beberapa 
hari lalu, kembali merenung selepas menunaikan program televisi yang juga 
membahas soal penyakit mematikan tersebut.

Stigma yang selama ini tertanam bahwa biang keladinya adalah perilaku seksual 
menyimpang (baca: dengan sesama jenis atau pekerja seks komersial adalah 
sumbernya) ternyata terhapus sama sekali dengan data statistik Kementrian 
Kesehata yang jelas-jelas menyebut kasus tertinggi ada pada ibu rumah tangga.

Latar belakang pekerjaan sebagai karyawan menempati angka 9603 kasus, sementara 
pekerja seks komersial malah kurang dari sepertiganya, 2578 kasus.

Selang sehari sebelum ini, saya juga terhenyak membaca berita seorang remaja 
putri di bawah umur pukul setengah satu subuh dengan alasan ‘pulang dari main’ 
menumpang angkot dan akhirnya diperkosa beramai-ramai oleh supir angkot dengan 
beberapa orang temannya yang juga usianya tidak lebih dari 21 tahun.

Ketika pemerkosa berhasil ditangkap, jangankan merasa bersalah, malah berbalik 
menantang polisi,”Kok seperti ini saja dipermasalahkan?” Kengerian semakin 
terasa melihat semua fenomena tersebut di negeri yang ‘sedang terserang banyak 
penyakit’ ini.

Cobalah menonton film-film kriminal buatan Amerika di mana seks sudah dianggap 
sebagai hal biasa. Pelaku yang terlibat kasus seks dengan anak di bawah umur, 
kelihatan ketakutan luar biasa dan alibi ‘hubungan atas dasar suka sama suka’ 
tidak pernah dibenarkan pengadilan.

Bahkan seseorang mendapat tudingan “You are sick!” begitu kedapatkan melakukan 
perbuatan asusila terhadap seorang remaja.


"Rekreasi" yang merusak diri

Penyakit dimulai saat istilah rekreasi diterapkan di area yang keliru. 
Pemenuhan dorongan yang tidak didasari perilaku sehat yang santun. Bukan hanya 
soal seks. Dorongan nafsu makan pun sama saja.

Pelampiasan rasa “ingin”, bahkan ketika berbagai jenis emosi datang mulai dari 
senang, sedih, frustrasi – yang ditujukan pada makanan, berujung penyakit yang 
diam-diam datang tanpa permisi.

Betul, salah makan hari ini tidak langsung berakibat gemuk esok hari kok. Tapi, 
bukan tak mungkin jika nantinya diabetes atau pelbagai sindroma metabolik 
muncul. Padahal, tujuan sebenarnya orang makan hanyalah sekadar bertahan hidup.

Begitu pula jika tindakan seksual yang tujuan aslinya meneruskan keturunan, 
bablas menjadi sekadar pemuasan rekreasi.

Rekreasi cenderung dilampiaskan pada orang yang salah, di waktu yang salah, di 
tempat yang salah pula.

Kesantunan tidak mendapat tempat lagi. Bahkan bagi segolongan anak muda 
sekarang, tetap perawan dan perjaka sebelum menikah dianggap hal yang 
menggelikan. Bukan sekadar ‘kuper’, tapi amat sangat purba.

Yang ditakuti hanya kehamilan yang tak diinginkan. Kebetulan kondom muncul 
sebagai perangkat penyelamat. Apalagi, dibilang juga mampu mencegah penularan 
HIV. Promosi yang salah sasaran akhirnya menciptakan masyarakat gagal paham.

Kondom dibenarkan untuk mencegah penularan penyakit terhadap pasangan seksual, 
dalam artian seorang istri yang mengidap HIV akibat cemaran transfusi darah 
tetap masih bisa mempertahankan perkawinan dan kehidupan seksualnya tanpa 
menulari suaminya. Bukan pacar gelapnya.

Saya masih cukup optimis untuk mempertahankan kesantunan hidup sehat di tanah 
air ini. Selama para pengambil peran kesehatan mempunyai misi yang sama.

Fakta bahwa ibu rumah tangga menempati peringkat teratas penderita HIV – bukan 
pecandu narkotik, apalagi pekerja seks komersial – sudah saatnya menjadi 
tamparan keras tentang makna hidup menikah.

Tidak ada sekolah menjadi orangtua memang. Dan tidak ada buku panduan menikah 
dengan kesetiaan dan komitmen. Tapi, yang mencemaskan adalah saat orang menikah 
ternyata hanya desakan usia, nafsu seks yang ingin segera disalurkan, bukannya 
tentang pernikahan itu sendiri.

Sama seperti makanan yang mudah membuat bosan, seks jika hanya dinikmati 
sebagai rekreasi akan menjadi suatu kejenuhan.

Kabar baiknya dengan makanan, berpindah ke variasi lain tidak akan menyebabkan 
kegaduhan. Tapi tidak demikian dengan perilaku seksual.

“Mencicipi” pemberi kenikmatan lain semata ingin lepas dari kejenuhan, bisa 
jadi cikal bakal mengapa latar belakang pekerjaan “baik-baik” sebagai karyawan 
menempati angka tertinggi.

Memilih serong dengan sesama profesi, berselingkuh dengan orang yang tiap hari 
ditemui di kantor, bukan jaminan ‘saya memilih partner seks yang aman’.

Aman tidak bisa dilihat secara kasat mata, karena virus HIV bisa bercokol 
hingga 10 tahun tanpa memberi gejala apa pun. Tapi jangan tanya ganasnya.

Bila kehamilan belum tentu bisa terjadi pada hubungan seks satu kali, maka 
penularan HIV pasti terjadi di hubungan yang ‘hanya sekali itu saja’ – dari 
orang yang ‘kelihatan sehat’, tapi Anda salah terka itu.

Sudah cukup kegaduhan demi kegaduhan menghalangi bangsa ini untuk maju. Banyak 
sekali hal yang semestinya tak perlu terjadi. Asal saja kita semua menata diri. 
Tepatnya tahu diri.

Kembali ke fitrah tidak hanya dijadikan ungkapan klise dan jargon. Tapi perlu 
ada contoh nyata walaupun kecil, untuk memulainya, dan menjadi panutan 
anak-anak nanti.

Rekreasi pangan tidak perlu meniru resep pizza terbaru, cukup mengganti menu 
pecel dengan karedok.

Rekreasi hubungan seks yang membosankan tidak perlu mengganti pasangan main, 
cukup mengganti kaos tidur yang sudah berlubang itu dengan satin berenda. 
Semoga kewarasan dan kesantunan kita masih dalam pemeliharaanNya.

      Editor
     : Bestari Kumala Dewi
     


Kirim email ke