Berkah itu Ada Di Rusun Cinta Kasih 
http://www.tzuchi.or.id/inspirasi/kisah-humanis/berkah-itu-ada-di-rusun-cinta-kasih/16
 
 
 Sepeninggal suaminya, Muhidah harus berfokus untuk menafkahi anakanaknya. 
Dengan berbekal semangat ini, ia berhasil melanjutkan hidupnya. Pertemuannya 
dengan Tzu Chi, membuat hidupnya semakin indah dan manis.
 

 Setelah seorang wanita paruh baya memasukkan beberapa pastel isi bihun ke 
dalam kantong plastik berwarna putih dan setelah sebuah donat cokelat 
menghentikan rengekan seorang bocah lelaki, Muhidah kembali memanaskan wajan 
berisi minyak dan mulai memasukan adonan kue berwarna cokelat dan hijau ke 
dalam minyak panas. “Ini adalah kue cucur, kue yang pertama kali saya jual saat 
mulai berdagang,” kata Muhidah.
 Muhidah yang bertubuh gemuk dan berusia tak kurang dari 40 tahun adalah satu 
dari ratusan warga bantaran Kali Angke yang merasa mendapat manfaat dari 
pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi. Sebelum tinggal di Perumahan Cinta 
Kasih, Muhidah yang berasal dari Pulau Madura harus berjibaku mencari nafkah di 
tempat yang kurang layak. Padahal beberapa tahun sebelum tinggal di Kali Angke, 
kehidupan Muhid ah bisa dikatakan baik-baik saja dan makmur.
  
 Tak Semuanya Indah
 Pada tahun 1972 seorang pemuda berijazah arsitek datang ke perkampungan di 
Sampang Madura untuk menjalani studi lapangan. Sukarno nama pemuda itu, ia 
bertubuh tegap dan berwajah menawan. Saat ia harus banyak berinteraksi dengan 
para penduduk kampung untuk memuluskan penelitiannya ia berkenalan dengan 
seorang gadis remaja ramah bernama Muhidah. Ketika itu Muhidah masih sangat 
belia, sedangkan Sukarno usianya sudah mendekati 30 tahun. Namun keluguan 
Muhidah mencuri hati Sukarno demikian pula dengan kedewasaan Sukarno yang 
menenteramkan hati Muhidah. Dari keselarasan ini akhirnya mereka pun menjalin 
kasih. Keluarga Sukarno yang berada di Jawa Timur pun akhirnya mengajukan 
lamaran untuk menikahi Muhidah. Lalu setelah menjadi satu keluarga yang rukun, 
Sukarno mengajak Muhidah untuk hijrah ke Jakarta dan meniti karir di sana.
 

 TABAh MENJALNI hidup. Di pasar tradisional yang terletak di belakang Perumahan 
Cinta Kasih, Muhidan menggelar dagangannya. Meski kini penghasilannya tak 
sebesar waktu dulu, tapi ia bersyukur tinggal dilingkungan yang damai.

 Tapi bagai gunung yang tak bisa dipeluk. Ketika kehidupan mereka semakin 
membaik, Sukarno justru terkena penyakit lever yang semakin hari semakin 
memburuk. Banyak harta dan benda yang harus di korbankan untuk pengobatan. Tapi 
semakin banyak ia korbankan, penyakitnya pun semakin parah. Sampai ketika semua 
harta benda habis terjual, Sukarno memutuskan untuk tinggal di kampung bersama 
orang tuanya. Muhidah pun menyetujuinya. Karena tahu keluarganya telah jatuh 
miskin, tanggung jawabnya sebagai seorang istri langsung tumbuh. Dengan berani 
Muhidah mengatakan kepada suaminya kalau ia akan kembali ke Jakarta untuk 
mencari nafkah. Keputusan ini tergolong berani, sebab ketika itu Muhidah tengah 
mengandung anak ketiganya yang baru berusia tiga bulan. Kendati suaminya 
keberatan, namun kemiskinan mengharuskan Sukarno merelakan kepergian istrinya. 
Di bagian barat Jakarta, di tepian Kali Angke Muhidah menghentikan 
penjelajahannya dan bermukim di sana untuk merintis usaha kue dari keahlian 
yang dibekali oleh ibunya. Kendati demikian memulai usaha tidaklah semudah 
menggoreng kue cucur menurutnya.
 Ketika si bungsu lahir dan sebelum usahanya berhasil, suaminya yang ia tinggal 
di kampung meninggal dunia. Putus asa adalah sebuah kesalahan bila dilakukan 
oleh Muhidah. Namun sebagai seorang perempuan yang berjuang seorang diri demi 
keluarga dan berakhir dalam kesedihan, rasa putus asa adalah hal manusiawi yang 
menghantui pikirannya. Lalu dengan tertatih-tatih Muhidah menyemangati dirinya 
untuk menyatukan kembali kepingan-kepingan hatinya yang terpecah belah. Setelah 
melalui proses perenungan yang panjang dan setelah rasa putus asa itu berhasil 
dibenamkan, Muhidah mulai kembali menata hidupnya yang porak poranda. Tanpa 
suami, Muhidah meneguhkan hatinya untuk fokus pada perkembangan anak-anaknya. 
Demi Kardio Handoko si bungsu yang menawan hati, Muhidah rela mengurangi waktu 
istirahatnya hanya untuk meningkatkan produksi kuenya yang ia jajakan dari 
pintu ke pintu di daerah Kali Angke. Lama-kelamaan para konsumen pun 
berdatangan, sampai akhirnya ia memiliki banyak langganan dari para pedagang 
kue asongan yang datang kepadanya untuk membeli secara grosiran. “Dulu saya 
adalah agen kue dan sudah dikenal di wilayah Kali Angke,” kata Muhidah 
mengenang. Tapi sekali lagi keberuntungan itu belum memihak Muhidah. Tatkala 
usahanya semakin berkembang, rumahnya yang  tak permanen di bantaran Kali Angke 
hangus terbakar oleh si jago merah. Beberapa bulan kemudian Muhidah mendapatkan 
kabar kalau pemukiman warga yang tak resmi di wilayah itu akan dibongkar dalam 
program normalisasi Kali Angke. Bukan kepalang kesedihan Muhidah saat itu. Tapi 
karena ada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang akan membangun sebuah komplek 
perumahan (rumah susun) yang diperuntukkan bagi warga yang terkena normalisasi, 
hati Muhida pun sedikit lega.
 Tapi yang membuat Muhidah lebih lega adalah selama perumahan itu belum rampung 
para relawan sering mengunjungi warga Kali Angke untuk bertukar cerita. Relawan 
menceritakan berbagai misi kemanusiaan Tzu Chi yang lintas suku, agama, dan 
ras. Relawan juga menunjukkan ketulusan kasihnya terhadap sesama dengan sikap 
rendah hati, saling memberi perhatian, dan terus berusaha untuk menjadi bagian 
dalam keluarga besar masyarakat Angke. Lama-kelamaan warga pun mengenal budaya 
humanis Tzu Chi. Dan tatkala hubungan antar relawan dan warga semakin harmonis 
suasana pun semakin mengharukan. Beberapa warga mulai belajar memahami Tzu Chi 
dengan ikut aktif sebagai relawan. Mereka turut bekerja untuk memberikan 
perhatian terhadap sesama. Hingga pada pertengahan tahun 2003 seluruh warga di 
bantaran Kali Angke secara bertahap menempati Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi 
Cengkareng, Jakarta Barat. Muhidah adalah salah satu warga yang masuk ke 
Perumahan Cinta Kasih dalam gelombang pertama. “Karena saya sudah tidak punya 
rumah, jadi saya pindah lebih dulu,” kata Muhidah.
 
 ANUGERAH TERINDAH. Selama tinggal di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, Muhidah 
mendapat banyak banyak hal  positif. Dari perhatian relawan Tzu Chi yang kerap 
mengunjungi dan merawat di kala ia sakit hingga kasih Kardio Handoko yang 
begitu tulus pada dirinya.
 

 Meskipun dengan kepindahannya ke Perumahan Cinta Kasih menyebabkan tingkat 
ekonominya menurun drastis, tetapi ia tetap merasa bahagia dan bersyukur karena 
telah memiliki sebuah tempat bernaung dari terik matahari dan terjangan angin 
dingin yang permanen dan bersih. Selain itu, lingkungan Perumahan Cinta Kasih 
Tzu Chi yang asri dan bersahaja sangat bagus untuk pertumbuhan dan perkembangan 
kepribadian Kardio Handoko, putranya. Terutama dengan adanya sekolah Cinta 
Kasih Tzu Chi yang berfokus pada pendidikan budi pekerti.
 Menemukan Mutiara Hati
 Dengan tinggal di perumahan ini, Muhidah seolah bak menemukan sebuah mutiara. 
Muhidah mensyukuri atas berkah yang ia dapat selama menghuni di Perumahan Cinta 
Kasih Tzu Chi blok B ini. Berkah yang ia dapat berupa anugrah transenden yang 
menembus sekat-sekat budaya dan agama. Kenyataan ini telah ia buktikan ketika 
ia terkena stroke pada tahun 2003, beberapa bulan setelah ia menetap di 
perumahan Cinta Kasih. Ketika ia jatuh sakit, ia merasa sangat sedih dan 
sendiri. Seolah dunia yang cerah telah pergi meninggalkannya. Ketika asa untuk 
sembut mulai pupus, saat itu lah relawan dan dokter Tzu Chi datang dan 
merawatnya dengan penuh kasih. Dan ketika ia membutuhkan buah dari kasih 
sayang, saat itu pula Kardio Handoko putranya yang terkecil menjadi anak yang 
berbakti yang setia merawat dan melayani ibunya berkat pelajaran budi pekerti 
di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi. “Dia adalah semangat hidup saya,” kata Muhidah.
 

 Selama menderita stroke Muhidah banyak menerima kasih sayang dari para 
tetangga dan relawan Tzu Chi. Sehari-hari Muhidah yang tinggal berdua dengan 
Kardio Handoko menerima persembahan makan dari para tetangga. Meski ketika itu 
Kardio Handoko baru berusia 3 tahun, namun di usia yang penuh kelucuan itu, 
Handoko harus tahu dan bisa merawat ibunya. Ketika ibunya butuh minum, 
Handokolah yang memberikannya dan ketika ibunya butuh makan Handoko pula yang 
menyuapinya. Muhidah hanya bisa pasrah, namun semakin ia mengacuhkan 
keadaannya, semakin ia merasa pedih menjalani hidup ini. Tapi ajaibnya 
kepedihan itulah yang justru mejadi pemicu semangatnya untuk sembuh. Selain itu 
sikap para relawan dan dokter yang merawatnya dengan penuh  perhatian juga 
mendorong tekadnya untuk membangkitkan kembali hidupnya. Melalui pengalamanan 
ini akhirnya Muhidah menyadari bahwa inilah yang dinamakan berkah, bahwa di 
tengah ketidakberdayaan ia menemukan mutiara hati berupa ketulusan dari para 
relawan Tzu Chi. Di tempat ini ia juga mendapatkan indahnya kebersamaan dari 
para tetangga yang saling mengasihi.
 Sekarang sepuluh tahun sudah Muhidah tinggal di Perumahan Cinta kasih Tzu Chi. 
Dan selama itu pula ia merasakan bahagianya saling berbagi meski ia sendiri 
bukan keluarga berpunya. Melalui berkah ini ia terus menjalani hidup dengan apa 
adanya dan saling toleransi. Putra bungsunya, Kardio Handoko telah tumbuh 
menjadi remaja yang berbakti, ia selalu membantu pekerjaan ibunya. Menerapkan 
pelajaran budi pekerti di rumah dan menginspirasi ibunya untuk berbagi kepada 
sesama melalui celengan bambu. Sebagai seorang penjual kue Muhidah justru bisa 
melakukan banyak hal. Ia senang menyediakan kue pada saat warga di 
lingkungannya sedang mengadakan acara bersama. Ia juga senang membagikan kuenya 
kepada anak-anak yang uangnya tak cukup saat membeli kuenya. Dan ia juga senang 
melebihkan kue kepada para pelanggannya. “Buat saya hidup tidak selalu untuk 
mencari keuntungan. Dari semua yang kita miliki ada sebagian milik orang lain,” 
kata Muhidah.
 Jurnalis : Apriyanto
 
 Fotografer : Siladhamo Mulyono
 

 

Kirim email ke