Prof Sumanto Al Qurtuby: Cintailah Bangsa Sendiri Bukan Mencintai Bangsa Lain
  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Prof Sumanto Al Qurtuby: Cintailah Bangsa Sendiri Bukan Mencintai Bangsa Lain
 15 Desember 2015, SUARA RAKYAT, ARRAHMAHNEWS.COM – Berikut  tulisan seorang 
professor Warga Negara Indonesia, do...  |   |

  |

  |

 
Wartaislami ~
Saya membuat tulisan ini, bukan untuk merendahkan bangsa saya, Indonesia 
tercintaBukan pula menyerang negara Arab, khususnya Arab Saudi tempat di mana 
saya berdomisili saat ini.Tujuan tulisan singkat saya ini untuk membangunkan 
teman-teman, kakak, dan adik-adik saya dan sesama saudara warga negara 
Indonesia di mana saja berada.Agar bisa memilih dan memilah, mana yang bisa 
dijadikan panutan/pedoman, serta mana pula yang harus diwaspadai.Harapan saya 
hanya satu:Semoga Indonesia selalu dirahmati oleh Allah Tuhan Alam Semesta 
Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, dan anak-anak bangsa ini 
-termasuk saya- tidak menjadi bangsa yang inferior(rendah diri), tidak mudah 
kagum, dan tidak mudah menjadi beo.Begini, saya melihat hubungan antara Arab 
(khususnya Arab Teluk), Barat (khususnya Amerika), dan Indonesia (khususnya 
yang pro-Arab) itu unik, menarik, dan lucu.
Negara-negara Arab, khususnya Teluk itu “sangat Barat” dan jelas2 pro-Amerika 
(dan Inggris).Hampir semua produk2 Barat dari ecek-ecek (semacam restoran fast 
foods) sampai yg berkelas dan bermerk untuk kalangan berduit, semua ada di 
kawasan ini.Mall-mall megah dibangun, a.l., untuk menampung produk-produk Barat 
tadi.Warga Arab menjadi konsumen setia karena memang mereka hobi 
shopping(bahkan terkadang lalai dengan sembahyang).
Orang-orang Barat juga mendapat “perlakuan spesial” disini, khususnya yang 
bekerja di sektor industri (gaji tinggi, fasilitas melimpah).Mayoritas 
orang-orang Arab juga sangat hormat & inferior(rendah diri) terhadap 
orang-orang Barat.Saya sering jalan bareng bersama “kolega bule”-ku ke tempat 
pameran barang-barang branded tsb, dan mereka menganggap saya adalah 
“jongosnya”.Bagi orang2 Arab, non-bule darimanapun asalnya apapun agama mereka 
adalah “Kelas Buruh”, sementara org bule, sekere & sebego apapun mereka, 
beragama atau tidak beragama, dianggap “kelas elit”.Mereka baru menaruh rasa 
hormat, kalau sudah tahu “siapa kita”.Sejumlah universitas2 beken di Amerika 
juga membuka cabang di Arab Teluk, selain Saudi, (Georgetown, New York Univ, 
Texas A & M, Carnegie Melon Univ, dll).Di bawah bendera King Abdullah 
Scholarship, Saudi telah mengirim lebih dari 150 ribu warganya untuk belajar di 
kampus-kampus Barat, khususnya Amerika, Kanada & Eropa (jg Aussie).Tidak ada 
satu pun yang disuruh belajar ke Indonesia!! !Sementara (sebagian) warga Indo 
memimpikan belajar di Arab Saudi.Lucunya, para fans/penyembah Arab Saudi dan 
Arab-Arab lainnya di Indonesia, mereka mati-matian men-tuan-kan Arab, sementara 
Arab sendiri tidak “menggubris” mereka (penyembah Arab).Para 
“cheerleaders/pengidola” Arab ini (para fans Arab di Indonesia),juga mati2an 
anti-Barat padahal orang-orang Arab mati-matian membela Barat.Kita bertutur 
memakai istilah bahasa mereka (akhi, ukhty, antum, dan berbagai istilah arab 
lainnya, padahal, mereka merendahkan kita). Kita seolah gagal faham untuk 
membedakan antara Islam dan Arab.Islam menghargai kita sedangkan Arab 
menganggap kita ini bangsa budak.
Saya bukan anti-Arab atau anti-Barat karena teman-teman baikku banyak sekali 
dari “dua dunia” ini.Saya juga bukan pro-Arab atau pro-Barat. Saya adalah saya 
yang tetap orang kampungan Jawa.Daripada “menjadi Arab” atau “menjadi Barat”, 
akan lebih baik jika kita menjadi “diri kita sendiri” yang tetap menghargai 
warisan tradisi dan kebudayaan leluhur kita.Itulah orang Saudi, mereka 
menganggap kecil terhadap orang Indonesia, di hotel, di kantor, bahkan mrk 
menyangka saya cuma tenaga profesional ecek ecek, mereka tanya gaji, disangka 
CUMA 2 ribu atau 3 ribu Real. (1 real = 3700)
Waktu saya bilang jumlah gaji saya, mereka baru tahu gaji saya sama dengan 
orang Amerika atau Inggris, dan mereka tanya kok bisa begitu.Saya bilang, saya 
pernah training di Inggris dan di Amerika, dan ternyata gaji saya lebih besar 
dari gaji dokter Saudi.Itulah kenyataannya, dan yang menggaji saya perusahaan 
di Abu Dhabi yang tidak menganggap rendah karyawannya berdasarkan kebangsaan 
atau Nationality profiling.Mudah-mudahan pemerintah tidak mengirim lagi TKI 
atau TKW sehingga mereka tidak menganggap orang Indonesia bangsa budak.Tetapi 
kirim tenaga terdidik, terutama yang menguasai bahasa Inggris.
Sekali lagi:Saya bukan anti Arab dan juga bukan anti Barat saya cuma orang Jawa 
– Indonesia yang dipercaya sebagai orang yang bekerja sebagai tenaga ahli yang 
dibayar berdasarkan keahliannya.Suatu hari, dan ini bukan untuk menyombongkan 
diri, saya merasa bangga ketika saya keluar dari sebuah hotel di Jeddah, saya 
dijemput oleh sopir orang Arab berasal dari Thaif.Itu kebanggaan saya, karena 
biasanya yg jadi sopir itu orang Indonesia.Mudah-mudahan kita tidak jadi bangsa 
budak dan budak diantara bangsa lain.Belum lama ini sy mengadakan survei dg 
responden para mahasiswaku (sekitar 100 mhs) yg mayoritas beretnik Arab & 
Saudi. Survei ini bersifat “confidential” dan identitas mahasiswa tdk 
diketahui. Salah satu pertanyaan dlm survei adl: “Agar lebih Islami, apakah 
masyarakat Muslim non-Arab harus meniru & mencontoh masyarakat Arab & 
menjalankan kebudayaan mrk?” Jawaban mrk, sekitar 60% bilang “tidak”, 12% 
bilang “ya”, selebihnya “mungkin” & “tidak tahu”.Saya tdk tahu secara pasti 
apakah jawaban mrk itu ada kaitannya dg “doktrin2” pentingnya menghargai 
pluralitas budaya, agama, & masyarakat yg selama ini sy “ajarkan” di kelas atau 
mungkin karena pengaruh pendidikan yg semakin meningkat atau gelombang 
modernisasi & “internetisasi” yg mewabah di kawasan Arab.Apapun faktor2nya yg 
jelas hasil survei ini “sedikit menggembirakan” (setidaknya buatku), meskipun 
masih bny tantangan cukup besar menghadang di depan mata. Bukan suatu hal yg 
mustahal jika kelak kaum Muslim Arab & Saudi khususnya bisa menjadi lebih maju, 
terbuka, dan toleran. Dan bukan suatu hal yg mustahal pula jika kelak kaum 
Muslim Indonesia justru “nyungsep” menjadi umat yg bebal, tertutup, dan 
intoleran.
Di saat masyarakat Arab mulai lelah dg konflik & kekerasan serta mulai 
menyadari pentingnya keragaman & hidup bertoleransi, sejumlah kaum Muslim di 
Indonesia justru menjadi umat intoleran dan anti-kemajemukan…
Sumanto Al Qurtuby, seorang professor Warga Negara Indonesia, dosen di King 
Fahd University for Petroleum

Kirim email ke