Republik Indonesia dengan 13.667 Pulau merupakan Negeri Agraria, Petani adalah 
sumber Produksi Makanan yang harus mendapat tempat yang wajar dalam kehidupan 
Masyarakat dan Tatahidup Kenegaraan, tetapi yang nyata yalah, semenjak Orde 
Baru Dwi Fungsi TNI berkuasa, kehidupan para Petani menjadi morat-marit, 
kehilangan tanah garapan, dirampok oleh para Penguasa ORBA-Dwi Fungsi TNI untuk 
kebutuhan kebun Kelapa Sawit, dengan Kapital dari Europa-Barat, negeri-negeri 
Europa Union dan dari negeri Arab, seperti Jordania dan Arab Saudi dengan para 
Jendral Dwi Fungsi TNI .Kekejaman para Jendral TNI yang luarbiasa, ketika 
mereka menembaki para Petani dari Helicopter untuk merampok Tanah Garapan Para 
Petani disekitar Pakanbaru dan Jambi dan Presiden R.I.Jendrall TNI Susilo 
Bambang Yudoyono ketika itu membenarkan aksi yang tanpa kemanusiaan tersebut.  
Salut dan sangat bersimpati kepada sdr. Muhammad Al-Fayyadl, Koordinator Front 
Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dengan Tulisannya yang 
obyektif mengantarkan kehidupan Petani dan perjuangan para Petani untuk bangun 
kembali dari Ketepurukan, untuk mengambil kembali Hak-Hak Demokratis yang 
terampas.

Salam juang yang hangat Sdr.Muhammad Al-Fayyadi,

Dr,. A. Tjaniago

    
--------------------------------------------
Pada Rab, 7/12/16, 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]> menulis:

 Judul: [GELORA45] Mengenang Salim Kancil, Kaum Tani, Menuju Bangkit dari 
Keterpurukan!
 Kepada: "GELORA_In" <[email protected]>
 Tanggal: Rabu, 7 Desember, 2016, 2:13 PM
 
 
  
 
 
 
   
 
 
     
       
       
       
 
 
 
  
 Mengenang Salim
 Kancil 
 Kaum Tani, Menuju Bangkit dari
 Keterpurukan!
 05-12-2016 -
 11:02 | Views: 
 35.21k 
 
  
 TIMESINDONESIA, 
 MALANG 
 – NASIB kaum tani di negeri ini nyaris lekat dengan
 keterpurukan. Tak hanya 
 profesi petani sering didiskriminasi dengan citra peyoratif:
 Dicap tak 
 menjanjikan dan prospektif, miskin, tak
 berpendidikan.
 Citra-citra yang ditelorkan oleh
 alam pikir pembangunan neoliberalistik 
 di Indonesia, tapi ironisnya dienyam oleh kaum terdidik
 kita.
 Tetapi juga ruang hidup mereka,
 lahan-lahan pertanian produktif mereka 
 dirampas, dan kelangsungan kerja mereka terancam,
 dikorbankan demi mantra 
 “Pembangunan” itu sendiri.
 Tidakkah 
 orang yang berpikiran dengan citra peyoratif itu sadar bahwa
 kaum tani terjebak 
 dalam situasi demikian bukan karena tiba-tiba? Juga bukan
 karena dari sono-nya 
 kaum tani itu miskin dan tak berpendidikan?
 Tetapi, 
 terdapat sejumlah faktor yang
 melatarbelakanginya. 
 Faktor-faktor yang secara sistematis dan bertahap memberi
 landasan bagi 
 penghancuran kaum tani di Indonesia dan budaya agraris yang
 dibangun dan dirawat 
 dari budaya pertanian.
 Pertama, faktor politik. Setelah
 tragedi 
 kemanusiaan 1965-1966, kaum tani mengalami penghancuran
 sebagai suatu kelas 
 politik yang berdikari dan berdaulat atas tanahnya 
 sendiri.
 
 (Foto: 
 okezone)
  
 Hal 
 ini terjadi seiring dengan penghancuran basis massa partai
 yang saat itu aktif 
 menyuarakan perbaikan nasib kaum tani, Partai Komunis
 Indonesia (PKI) dengan 
 organ afiliasi taninya, Barisan Tani Indonesia
 (BTI).
 Dari 
 ratusan ribu korban tragedi 1965-1966 yang menimpa kaum
 komunis dan tertuduh 
 komunis, terdapat ribuan kaum tani yang mulai memiliki
 kesadaran kelasnya untuk 
 bersatu membangun identitasnya sebagai kaum yang
 tertindas.
  
 Tragedi ini turut menyapu juga kaum
 tani dari organisasi-organisasi lain 
 yang progresif, yang terpengaruh ajaran Marhaenisme Bung
 Karno. Tragedi ini 
 memporakporandakan banyak hal, utamanya di pedesaan,
 mengoyak hubungan sosial di 
 antara sesama warga pedesaan yang rata-rata
 agraris.
 Setelah tidak lagi menjadi suatu
 kelas politik yang memiliki kesadaran 
 maju, kaum tani tercerai-berai menjadi satuan-satuan profesi
 yang tidak lagi 
 memiliki kesadaran bersama untuk mempersatukan
 identitasnya.
 Kedua, faktor kebijakan.
 Penghancuran kaum tani sebagai kelas segera 
 diikuti oleh pelemahan agenda-agenda kebijakan agraris.
 Dimulai dari 
 dimacetkannya UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria) 1960
 sebagai poros kebijakan 
 yang revolusioner warisan pemerintahan
 Soekarno.
 
 (Foto: 
 kompasiana)
  
 Undang-undang itu bersemangatkan
 sosialisme Indonesia, hendak mewujudkan 
 kondisi-kondisi yang bertahap mendukung kebijakan nasional
 bagi terwujudnya 
 kesejahteraan bagi kaum tani, namun dalam praktiknya, tidak
 lagi diterapkan 
 secara holistik tetapi sepotong-potong dan dipelintir
 sedemikian 
 rupa.
 Kebijakan nasional Orde Baru
 Soeharto, alih-alih mendukung kesejahteraan 
 petani, justru bergerak ke arah lain, yaitu rezim
 "pembangunanisme" 
 (developmentalism). Di dalam rezim ini ekonomi bergerak ke
 arah industri yang 
 berlawanan dengan budaya agraris.
 Maka, pemerintah pun getol
 membangun infrastruktur, mengakibatkan 
 penggusuran secara bertahap lahan-lahan pertanian oleh
 proyek 
 pembangunan.
 "Revolusi Hijau" yang
 dicanangkan Soeharto turut melemahkan kaum tani. 
 Itu berlangsung dari tahun 1970 hingga 1984. Selama periode
 itu, Orde Baru 
 mendongkrak pertanian dari sistem tradisional ke sistem
 modern dengan 
 menginjeksikan sistem pasar yang membuat petani bergantung
 kepada bibit dan 
 pupuk impor.
 Petani dipaksa membeli bibit dan
 pupuk impor yang mempercepat produk 
 pertanian, namun dengan risiko jangka panjang perusakan
 kualitas tanah dan 
 ketidaksuburan di mana-mana.
 Kaum tani diasingkan dari
 kedaulatannya mencipta bibit dan pupuk sendiri; 
 dengan iming-iming efisiensi dan kemajuan teknologi, mereka
 dipaksa membeli 
 bibit dan pupuk buatan korporasi-korporasi besar yang
 menangguk untung dari 
 kebijakan Orde Baru ini.
 Puncak "Revolusi Hijau"
 ini adalah penggerusan sistem pasar ke dalam 
 politik agraris. Setelah 1984, Indonesia dipaksa membuka
 kerannya kepada pasar 
 dunia.
 Impor bertambah, Indonesia gagal
 swasembada beras dan ironisnya dikenal 
 sebagai importir beras, dan kaum tani semakin miskin karena
 produknya tidak 
 terbeli tinggi.
 Kebijakan yang membuka keran
 lebar-lebar bagi kapitalisme berlanjut parah 
 di era Reformasi. Hingga kini, liberalisasi produk pangan
 terus berlangsung 
 melalui WTO yang menjerat Indonesia tunduk kepada sistem
 pasar 
 global.
 Membanjirnya pangan impor
 menciptakan pasar pangan dalam negeri tidak 
 stabil dan petani merugi. Ketiga, faktor politik tata ruang.
 Salah urus dan 
 salah kelola pertanian diperparah oleh perkembangan
 kapitalisme yang tidak saja 
 menghisap melalui sistem pasar global yang tidak adil dan
 tidak berpihak kepada 
 kepentingan rakyat Indonesia, melainkan juga berkembang
 dengan dinamika ruangnya 
 yang eksploitatif dan serakah.
 Wajah kapitalisme abad ke-21 diubah
 secara mendasar oleh kebutuhan modal 
 pada ruang-ruang baru untuk investasi. Hal ini seiring
 munculnya kebutuhan 
 pemodal pada lahan-lahan yang meningkat.
 Pergerakan modal yang masuk ke
 dalam negeri memaksa pemerintah menyetujui 
 liberalisasi pada sektor-sektor lain, seperti sumber daya
 alam, infrastruktur, 
 perhotelan, dan lain-lain.
 
 (Foto: 
 tempo)
 Bidang-bidang ini terbuka kepada
 investasi asing maupun dalam negeri, 
 yang mengakibatkan kebutuhan pada ruang melonjak tinggi.
 Harga sepetak tanah 
 menjadi semakin bernilai.
  
 Setelah kota-kota mengalami ledakan
 pembangunan di bawah Orde Baru,
 ideologi 
 "pembangunanisme" itu berkembang merasuk ke
 pedesaan, di mana lahan-lahan kosong 
 nan perawan menjadi sasaran empuk
 investor.
 Dalam 
 perubahan tata ruang yang dahsyat ini, neoliberalisme
 mengajarkan mantra bahwa 
 tiap ruang adalah bernilai, dan kekayaan diukur dari
 akumulasi ruang yang 
 mungkin untuk dikapitalisasi.
 Semakin banyak lahan yang dikuasai,
 semakin kayalah ia. Semangat 
 feodalisme dan kolonialisme menciptakan racikan mematikan
 pada kapitalisme. 
 Penguasaan lahan yang timpang pada Orde Baru semakin
 mengalami ketimpangan di 
 bawah Reformasi.
 Perburuan 
 lahan oleh pemodal tidak hanya mengancam kaum tani yang
 semakin terpinggirkan, 
 tetapi juga menghancurkan budaya agraris itu sendiri.
 Terjadilah peningkatan 
 konflik agraria di mana kaum tani semakin keras berhadapan
 dengan pemodal dalam 
 mempertahankan lahan dan ruang hidupnya.
  
 
 (Foto: 
 baranewsaceh)
 Pergerakan pemodal yang
 difasilitasi oleh negara itu sebenarnya diam-diam 
 akan mengubur neoliberalisme itu sendiri, karena kaum
 tani semakin muncul 
 sebagai aktor yang sadar atas harga diri dan eksistensinya.
 Mulai terdapat 
 tanda-tanda kebangkitan di mana-mana pada kaum tani, yang
 semakin merasakan 
 kebutuhan untuk bangkit melawan sistem yang tidak
 adil.
 Pertumbuhan serikat-serikat politik
 kaum tani meningkat. Kreativitas kaum 
 tani untuk berinovasi dan menciptakan benih dan pupuk
 sendiri mulai bermunculan. 
 Di sisi lain, kaum tani semakin aktif terlibat perlawanan
 atas kekuatan-kekuatan 
 pemodal dalam berbagai skala, dari lokal hingga nasional,
 bahkan 
 global.
  
 Di 
 suatu siang yang kelabu, seorang petani mati mempertahankan
 sepetak sawahnya 
 yang dibuldozer oleh alat-alat berat para penambang pasir di
 pesisir selatan 
 Lumajang. Namanya Salim Kancil. Ia mati tragis setelah
 dikeroyok oleh mafia 
 penambang yang bekerja menguntungkan sebuah perusahaan
 tambang pasir dari 
 China.
 Keterpurukan petani dilambangkan
 oleh matinya petani di tanahnya sendiri. 
 Namun,
 Pak Salim tidak 
 mati untuk kesia-siaan. Kematiannya adalah tanda kebangkitan
 kaum 
 tani.
 "Petani itulah penolong
 negeri", ujar suatu saat ulama besar KH Hasyim 
 Asy’ari. Kita sadar bahwa petani
 hanya akan menjadi 
 penolong negeri, bila ia mampu menolong nasibnya sendiri dan
 membangun 
 kedaulatannya sendiri sebagai kelas politik yang bangkit
 merebut lagi tanahnya 
 dan hak-haknya yang puluhan tahun tergadaikan. (*)
  
 *
 Penulis adalah Muhammad 
 Al-Fayyadl adalah Koordinator Front Nahdliyin untuk
 Kedaulatan Sumber Daya Alam 
 (FNKSDA).
 -- 
  
 
 
     
      
 
     
     
 
 
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366 --
   #yiv6222638366ygrp-mkp {
 border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
 0;padding:0 10px;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mkp hr {
 border:1px solid #d8d8d8;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mkp #yiv6222638366hd {
 color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
 0;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mkp #yiv6222638366ads {
 margin-bottom:10px;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mkp .yiv6222638366ad {
 padding:0 0;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mkp .yiv6222638366ad p {
 margin:0;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mkp .yiv6222638366ad a {
 color:#0000ff;text-decoration:none;}
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-sponsor
 #yiv6222638366ygrp-lc {
 font-family:Arial;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-sponsor
 #yiv6222638366ygrp-lc #yiv6222638366hd {
 margin:10px
 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-sponsor
 #yiv6222638366ygrp-lc .yiv6222638366ad {
 margin-bottom:10px;padding:0 0;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366actions {
 font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366activity {
 
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366activity span {
 font-weight:700;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366activity span:first-child {
 text-transform:uppercase;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366activity span a {
 color:#5085b6;text-decoration:none;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366activity span span {
 color:#ff7900;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366activity span
 .yiv6222638366underline {
 text-decoration:underline;}
 
 #yiv6222638366 .yiv6222638366attach {
 clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
 0;width:400px;}
 
 #yiv6222638366 .yiv6222638366attach div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6222638366 .yiv6222638366attach img {
 border:none;padding-right:5px;}
 
 #yiv6222638366 .yiv6222638366attach label {
 display:block;margin-bottom:5px;}
 
 #yiv6222638366 .yiv6222638366attach label a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6222638366 blockquote {
 margin:0 0 0 4px;}
 
 #yiv6222638366 .yiv6222638366bold {
 font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}
 
 #yiv6222638366 .yiv6222638366bold a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6222638366 dd.yiv6222638366last p a {
 font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv6222638366 dd.yiv6222638366last p span {
 margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv6222638366 dd.yiv6222638366last p
 span.yiv6222638366yshortcuts {
 margin-right:0;}
 
 #yiv6222638366 div.yiv6222638366attach-table div div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6222638366 div.yiv6222638366attach-table {
 width:400px;}
 
 #yiv6222638366 div.yiv6222638366file-title a, #yiv6222638366
 div.yiv6222638366file-title a:active, #yiv6222638366
 div.yiv6222638366file-title a:hover, #yiv6222638366
 div.yiv6222638366file-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6222638366 div.yiv6222638366photo-title a,
 #yiv6222638366 div.yiv6222638366photo-title a:active,
 #yiv6222638366 div.yiv6222638366photo-title a:hover,
 #yiv6222638366 div.yiv6222638366photo-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv6222638366 div#yiv6222638366ygrp-mlmsg
 #yiv6222638366ygrp-msg p a span.yiv6222638366yshortcuts {
 font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}
 
 #yiv6222638366 .yiv6222638366green {
 color:#628c2a;}
 
 #yiv6222638366 .yiv6222638366MsoNormal {
 margin:0 0 0 0;}
 
 #yiv6222638366 o {
 font-size:0;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366photos div {
 float:left;width:72px;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366photos div div {
 border:1px solid
 #666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366photos div label {
 
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366reco-category {
 font-size:77%;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366reco-desc {
 font-size:77%;}
 
 #yiv6222638366 .yiv6222638366replbq {
 margin:4px;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-actbar div a:first-child {
 margin-right:2px;padding-right:5px;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mlmsg {
 font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean,
 sans-serif;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mlmsg table {
 font-size:inherit;font:100%;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mlmsg select,
 #yiv6222638366 input, #yiv6222638366 textarea {
 font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mlmsg pre, #yiv6222638366
 code {
 font:115% monospace;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mlmsg * {
 line-height:1.22em;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-mlmsg #yiv6222638366logo {
 padding-bottom:10px;}
 
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-msg p a {
 font-family:Verdana;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-msg
 p#yiv6222638366attach-count span {
 color:#1E66AE;font-weight:700;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-reco
 #yiv6222638366reco-head {
 color:#ff7900;font-weight:700;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-reco {
 margin-bottom:20px;padding:0px;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-sponsor #yiv6222638366ov
 li a {
 font-size:130%;text-decoration:none;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-sponsor #yiv6222638366ov
 li {
 font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-sponsor #yiv6222638366ov
 ul {
 margin:0;padding:0 0 0 8px;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-text {
 font-family:Georgia;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-text p {
 margin:0 0 1em 0;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-text tt {
 font-size:120%;}
 
 #yiv6222638366 #yiv6222638366ygrp-vital ul li:last-child {
 border-right:none !important;
 }
 #yiv6222638366 
 

Kirim email ke