Krisis di Europa Union yang sedang berjalan sekarang, diantaranya disebabkan 
oleh ancaman GLOBALISASI dan kelanjutan dari GLOBALISASI yaitu apa yang 
dinamakan TTIP (Trans Atlantik Free Trade Agreement/TransAtlantic Trade and 
Investmen Partnership), yang dipaksakan oleh Washington-Administration Mr.Obama 
dan Kanzlerin Merkel adalah seorang Penguasa Berlin yang keranjingan dengam 
Amerikanisasi Europa Union, baik Politik, Ekonomi dan Militer (NATO), terutama 
dalam context Politik Revance-Idee Merkel memusuhi Russia disegala bidang 
akibat dari kekalahan Jerman melawan Sowyet Union pada Perang Dunia ke-II. 
Justru itu Merkel membutuhkan pelaksanaan TTIP dan Pembangunan kekuatan NATO.

Kanzlerin Merkel dalam khayalannya sudah melihat "German Raya", yang berbatas 
dari Portugal sampai ke Ukraina, dari Skandinavia lewat Baltikuim dan Balkan 
sampai ke Yunani dan  melaksanakan Plan Fasisme Jerman-Hitler dengan apa yang 
dinamakan Saktion gegen Russland, supaya Russia bertekuk lutut. 1941 s/d 1943 
Hitler memerintahkan Blokade Leningrad disegala bidang, supaya semua yang hidup 
di Leningrad mati kelaparan. Merkel mengulangi apa yang dibikin Hitler, hanya 
nama lain: Sanktion=Blokade! 

Inggeris sudah lama melihat permainan politik Merkel dan Inggeris sebagai 
negeri Kolonial yang berpengalaman tidak ingin diperintah Merkel untuk 
kebutuhan "German-Raya" dan Inggeris keluar dari Europa Union. Kegoncangan 
didalam Europa Union mulai berjalan, dan Aksi Inggeris memberikan keberanian 
kepada Anggota-Anggota lainnya untuk tidak selalu melaksanakan keinginan 
Politik Souvinisme Merkel-Berlin, diantaranya Hongaria, Tschekhai 
Slowakia,,Polandia, etc.
Apakah Europa Union akan masih seperti Europa Union 1916?  Sangat diragukan.. 
Perjuangan didalam Intern Europa Union sangat keras, terutama melawan politik 
Souvinisme Merkel-Berlin; dan kebutuhan akan suatu Negara Nasional Demokrasi 
yang berdaulat diantara Anggota-Anggota Europa Union sangat terlihat.

Di Republik Indonesia  Masyarakat tidak memperoleh Informasi yang luas mengenai 
bahaya dari FTAs, RCEP maupun TPP bagi sebuah negeri. seperti Republik 
Indonesia yang tidak mempunyai Produksi Industri apapun, dan saya yakin 
Presiden R.I. Mr.JOKOWI sendiri tidak mampu melihat bahaya langsung dari 
Perdagangan Bebas Asia & Pasific, bahwasanya di Regional Asia & Pacific bertemu 
Kepentingan Tiga Negara Besar kuat disegala bidang: RRChina, Russia dan USA., 
dan R.I. akan dilanda habis oleh Topan Perdagangan Bebas (Permpokan Bebas, 
seperti yang dilakukan USA dan Europa Union di Balkan,Irag, Afhganistan, Libya, 
Ukraina dan Suriah.Apakah nanti R.I. akan menjadi Balkan kedua, atau Iraq, atau 
Ilbya, atau Suriah, dan Ukraina?, karena Presiden R.I. tidakmampu memproteksi 
Kemerdekaan R.I.dan TNI taklain daripada pelaksana kebutuhan kekuasaan Politik, 
Ekonomi dan Militer USA di Asia & Pacific.
R.I.sangat membutuhkan Presiden seperti Bung Karno!

A.Tjaniago






--------------------------------------------
Pada Rab, 7/12/16, Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]> menulis:

 Judul: [GELORA45] Ancaman Perjanjian Perdagangan Bebas dan Investasi (FTAs) 
Seperti RCEP Bagi Kedaulatan Rakyat
 Kepada: "Yahoogroups" <[email protected]>, "DISKUSI FORUM HLD" 
<[email protected]>, "GELORA_In" <[email protected]>, "Klub 
ApaKabar" <[email protected]>
 Cc: "Daeng" <[email protected]>, "Lusi.D" <[email protected]>, "Roeslan" 
<[email protected]>, "Rachmat Hadi-Soetjipto" 
<[email protected]>, "Gol" <[email protected]>, "Mitri" 
<[email protected]>, "Jonathan Goeij" <[email protected]>, "Harry 
Singgih" <[email protected]>, "Lingkar Sitompul" 
<[email protected]>, "Ronggo A." <[email protected]>, "Ajeg" 
<[email protected]>, "Mang Broto" <[email protected]>, "Marsiswo 
Dirgantoro" <[email protected]>, "Farida Ishaja" <[email protected]>, 
"[email protected]" <[email protected]>, "Billy Gunadi" 
<[email protected]>, "[email protected]" <[email protected]>, 
"Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia]" <[email protected]>, 
"[email protected]" <[email protected]>, 
"[email protected]" <[email protected]>, "C. Manuputty" 
<[email protected]>, "Oman Romana" <[email protected]>
 Tanggal: Rabu, 7 Desember, 2016, 11:55 AM
 
 
  
 
 
 
   
 
 
     
       
       
       Ancaman Perjanjian Perdagangan
 Bebas dan Investasi
 (FTAs) Seperti RCEP Bagi Kedaulatan
 Rakyat7 Desember,
 2016
 Tidak banyak yang tahu jika
 Indonesia akan menjadi tuan rumah untuk  putaran
 perundingan salah satu
 blok perdagangan terbesar di dunia yaitu Regional
 Comperehensive Economic
 Partnership (RCEP). Acara tersebut dilakukan pada tanggal 6
 hingga 10 Desember
 2016 di Tangerang, Banten.(baca
 juga : tentang FTAs ; RCEP
 dan TPP )Secara
 umum sudah banyak yang menyebutkan bagaimana bahaya dari
 FTAs  seperti
 halnya RCEP maupun TPP bagi sebuah negeri. Perkembangan dari
 FTAs sekarang ini
 sendiri tidak lagi sebatas aturan perdagangan, tetapi lebih
 jauh lagi pada isu
 investasi, hak kekayaan intelektual, belanja pemerintah,
 hingga badan hukum
 milik pemerintah.Penolakan
 rakyat atas skema FTAs tersebut terjadi di berbagai negeri,
 baik itu atas TPP
 maupun RCEP. Bahkan TAFTA/TTIP (Trans
 Atlantik Free Trade
 Agreement/TransAtlantic Trade and Investmen
 Partnership), atau
 perjanjian perdagangan lintas Atlantik yang mengatur
 kesepakatan antara Amerika
 Serikat dengan Eropa dipastikan mengalami kegagalan setelah
 rangkaian penolakan
 di Eropa yang masif.Bahkan
 salah satu janji dalam kampanye Trump, presiden AS terpilih,
 adalah menghentikan TPP dan kemudian mengembalikan industri
 manufaktur
 kembali ke Amerika Serikat. Selama ini AS tergantung impor
 barang dari berbagai
 negeri seperti negeri di Asia maupun Mexico untuk
 barang-barang manufaktur, seperti
 misalnya sepatu yang 98 persen dibuat oleh pabrik-pabrik di
 Asia seperti
 Thailand, Indonesia, China dan Vietnam. Mengembalikan
 industri manufaktur
 kembali ke dalam negeri AS merupakan kampanye Trump untuk
 menjaring pemilihnya
 yang melihat kecemasan atas TPP yang akan semakin menjauhkan
 rakyat AS dari
 pekerjaan akibat korporasi yang lebih memilih untuk
 memindahkan pabrik mereka
 ke negara-negara dengan upah buruh yang lebih rendah
 terutama di Asia dan
 Pasifik.Jika
 sekelas Trump saja mencantumkan anti TPP sebagai bahan
 kampanye menjaring
 dukungan di pemilu presiden AS, maka bisa dibayangkan
 bagaimana sesungguhnya
 bahaya FTAs bagi sebuah rakyat di berbagai
 negara.Bagi
 negara semacam AS dengan TNCs  yang telah menggurita ke
 berbagai negeri
 serta memonopoli segala aspek produksi sosial, maka FTAs
 akan sangat
 menguntungkan dengan model rantai pasokan global-nya (global
 supply chains).
  Dalam perundingan TPP misalnya, diketahui ada lebih dari
 600 perusahaan
 dan penasehat perusahaan yang ikut terlibat dalam penyusunan
 dokumen. Sehingga
 rakyat di AS sendiri menganggap TPP adalah kemenangan
 perusahaan (TNCs) atas
 negara.Tetapi
 bagi pekerja, bahkan yang di AS sekalipun hal tersebut
 berarti sebuah pukulan
 telak karena akan semakin sulitnya lapangan pekerjaan akibat
 perusahaan-perusahaan lebih memilih untuk mendekati sumber
 buruh murah
 sekaligus dekat dengan sumber bahan mentah utama serta
 pasar.FTAs Ancaman
 KedaulatanDalam
 skema FTAs, baik itu wujud TPP maupun RCEP, negeri-negeri
 yang selama ini
 tergantung pada investasi dan hutang asing untuk pembangunan
 menjadi sesuatu
 yang seolah-olah tidak bisa di tolak. Gemerlap investasi menjadi daya
 tarik untuk pemerintah
 yang “malas” membangun kedaulatan ekonomi dan lebih
 memilih jalur instan
 jeratan hutang dan investasi asing. Kebijakan
 liberalisasi, deregulasi
 dan privatisasi dengan skala yang kian luas digenjot oleh
 pemerintahan berbagai
 negeri. Meskipun kemudian harus menindas buruh serta
 pekerja, kehancuran
 lingkungan dan penggusuran kaum tani, kesehatan hingga
 aturan keuangan demi
 keuntungan korporasi.Lalu bagaimana dengan
 Indonesia?
 Pertanyaan tersebut terjawab bagaimana selama ini pemerintah
 Indonesia telah
 mengikuti putaran perundingan RCEP serta tertarik untuk
 bergabung dalam TPP.Kebijakan – kebijakan neoliberal
 pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla menjadi sinyal
 bagaimana Indonesia akan
 mengambil kebijakan untuk terlibat dalam berbagai perjanjian
 perdagangan dan
 ekonomi regional seperti RCEP maupun TPP. Meskipun kemudian hal tersebut
 harus mengorbankan hak-hak demokratis rakyat untuk
 mengundang dan menjamin
 investasi masuk ke Indonesia.Contoh nyata misalnya kebijakan
 ketenagakerjaan pemerintahan Joko Widodo melalui PP 78 tahun
 2015 yang
 dikeluarkan seiring dengan paket kebijakan jilid 4 (7
 Oktober 2015) yang salah
 satu poin utamanya soal pengupahan yang terproyeksi. Kebijakan tersebut 
menjadi wujud
 nyata dari kompetisi
 upah buruh dan pekerja yang dibutuhkan oleh
 pasar.Kompetisi
 upah merupakan kebijakan politik upah murah menjadi daya
 tarik investasi di
 negeri-negeri seperti Indonesia.  Wujud lainnya ialah dengan
 diterapkannya pasar kerja yang semakin fleksibel dalam
 berbagai hubungan
 ketenagakerjaan. Bahkan UU Ketenagakerjaan di Indonesia saat
 ini sedang menuju
 revisi untuk memberikan ruang yang luas bagi pasar kerja
 fleksibel beroperasi
 di Indonesia, termasuk penggantian sistem pesangon yang saat
 ini berlaku.Kemudian
 13 paket kebijakan yang di rilis oleh pemerintahan Jokowi
 sejak pertengahan
 tahun 2015 hingga 2016 ini semuanya memiliki semangat yang
 sangat neoliberal. Paket-paket tersebut memberikan
 karpet merah bagi investasi masuk ke
 Indonesia.Mulai
 dari deregulasi untuk hambatan investasi dan proyek-proyek
 strategis nasional
 (baca; proyek infrastruktur) dalam paket kebijakan I. Kebijakan kemudahan pajak
 (program insentif
 pajak), percepatan ijin investasi termasuk perijinan sektor
 kehutanan di paket
 kebijakan II yang dirilis 29 September 2015, insentif pajak
 juga muncul pada
 paket kebijakan VII disertai dengan kebijakan percepatan
 penerbitan sertifikat
 tanah, serta kebijakan penyerdehanaan izin pertanahan untuk
 kegiatan penanaman
 modal (baca : pembebasan tanah) dalam paket kebijakan jilid
 III.  Dalam
 paket kebijakan II juga dicantumkan Subsidi energi bagi
 investor dalam bentuk
 diskon tarif energi.Paket
 kebijakan ekonomi ke X yang keluar 11 Februari 2016
 menunjukan politik-ekonomi Jokowi
 yang sangat mengagungkan investasi. Dalam paket tersebut
 terdapat berbagai
 cabang usaha yang dicabut dari daftar negatif investasi,
 bahkan hingga 100
 persen. Di dalamnya terdapat sektor-sektor yang sangat
 strategis dan menyangkut
 kepentingan rakyat atas pelayanan publik murah, seperti
 sektor farmasi dan
 kesehatan, telekomonikasi, pariwisata dan ekonomi
 kreatif,
 infrastruktur jalan hingga industri pengolahan bahan baku.
 (selengkapnya bisa
 baca dalam sektor DNI Joko Widodo)RCEP maupun TPP sama-sama
 mengangkat isu hak kekayaan intelektual. Isu ini bukan untuk
 menghargai Hak
 Kekayaan Intelektual semata, tetapi memproteksi
 produk-produk mereka di pasar
 dalam segala sektor. Mulai dari sektor teknologi
 informatika, konten internet,
 farmasi hingga garmen, tekstil dan sepatu, sekaligus isu tersebut digunakan
 untuk memukul industri-industri kecil termasuk perusahaan
 lokal di Indonesia
 dengan isu pembajakan merek.Paket
 kemudahan investasi tersebut diberikan bersamaan dengan
 upaya menjamin keamanan
 investasi melalui
 kestabilan keamanan yang terus di tingkatkan oleh
 pemerintahah Joko Widodo.
 Hal tersebut mengingatkan bahwa salah satu klausul dalam RCEP
 maupun TPP ialah hak bagi korporasi
 menggugat pemerintah dalam arbitrase internasional jika
 menganggap kebijakan
 pemerintah berpotensi merugikan investasi (korporasi).
 Negara seperti Peru,
 Mesir, Canada dan Australia pernah mengalami gugatan dan
 harus mengganti sekian
 juta dollar akibat hal tersebut.Kekerasan
 berkaitan dengan pembangunan semakin meningkat, terutama
 dalam kasus-kasus
 pembangunan infrastruktur dan sektor agraria. Indonesia, di
 bawah pemerintahan
 Jokowi saat ini sangat mirip dengan gaya pembangunan yang
 diterapkan oleh orde
 baru. Melalui doktrin
 “pembangunanisme” dengan pembangunan infrastruktur
 besar-besaran dengan harapan
 bisa menciptakan perputaran ekonomi serta titik-titik baru
 pertumbuhan ekonomi
 di berbagai tempat.Mungkin
 saja jalan-jalan beraspal, pusat-pusat perbelanjaan, bahkan
 pabrik baru muncul
 di desa-desa, mereka datang hingga jauh ke desa untuk
 mencari upah buruh yang
 lebih murah maupun mengambil panen kaum tani untuk menjadi
 komoditas dari
 pabrik mereka dengan keuntungan yang berlipat dan bahkan
 tidak sanggup dibeli
 oleh kaum tani dan penduduk pedesaan itu sendiri. Tetapi
 kehancuran ekonomi
 pedesaan juga tidak akan terhindarkan dengan penggusuran,
 penghilangan tanah
 pertanian menjadi kantong-kantong kemiskinan
 baru.Aliansi
 Gerakan Reforma Agraria (AGRA) mencatat dalam waktu dua
 tahun sejak
 pemerintahan Jokowi-JK, setidaknya ada 49 kasus tindak
 kekerasan dan
 kriminalisasi yang dialami oleh rakyat yang mempertahankan
 dan atau menuntut
 haknya atas tanah. Tindak kekerasan terjadi di 18 Provinsi
 dengan 66 orang di
 tembak, 144 luka-luka, 854 orang ditangkap, 10 orang
 meninggal dunia dan 120
 orang dikriminalisasi. Belum lagi sekitar 200 petani
 ditangkap dan
 dikriminalisasikan dengan tuduhan pembakar lahan. Kasus
 tersebut belum termasuk
 yang terjadi di  Papua Barat.FTAs dan Privatisasi Pelayanan
 PublikDengan
 dalih anti monopoli dan untuk persaingan yang sehat, FTAs
 juga akan memaksa
 BUMN-BUMN untuk tidak lagi mendapatkan keistimewaan dari
 negara. Baik itu dalam
 bentuk subsidi, proyek penunjukan langsung oleh pemerintah
 hingga transparansi
 keuangan. Akibatnya adalah
 BUMN akan di perlakukan sama dengan perusahaan swasta
 sehingga BUMN tidak akan
 lagi berfungsi sebagai pelayanan terhadap rakyat untuk
 kebutuhan-kebutuhan
 publik.Pencabutan
 subsidi dan privatisasi pelayanan publik menjadi instrumen
 utamanya. Bukan rahasia lagi jika sektor
 publik adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Siapa yang
 tidak tertarik
 dengan bisnis kesehatan, air hingga transportasi publik
 dengan ratusan juta
 orang menjadi konsumennya.Investasi
 atas bisnis pelayanan publik ini akan menjadi hal yang
 semakin lumrah di era
 FTA. Perusahaan-perusahaan
 keuangan global akan berlomba-lomba menginvestasikan uangnya
 pada asuransi
 kesehatan publik, perusahaan air negara, bahan bakar hingga
 perusahaan
 transportasi. Tentu imbal baliknya adalah keuntungan
 yang harus terus
 dipelihara. Bisa dibayangkan bagaimana Citigroup, AIG dan
 Goldman Sachs
 menanamkan modalnya pada industri kesehatan Indonesia.
 Mereka akan
 mengendalikan mulai dari bisnis obat hingga alat-alat
 kesehatan dan yang
 kebetulan sebagian besar masih sangat tergantung pada
 import.Sekilas
 ini sekedar masalah tarif atau isu privatisasi. Tetapi sesungguhnya FTA ialah 
isu
 kedaulatan, dimana
 rakyat akan melihat negara menjadi penjaga kepentingan
 monopoli kapital serta
 kehilangan kedaulatannya akibat semua sektor berada dibawah
 kendali monopoli
 kapital.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 Peran
 penting tersebut dijalankan dengan aktif oleh pemerintahan
 seperti di Indonesia
 yang selalu mengganggap investasi dan hutang sebagai jalan
 satu-satunya untuk
 membangun. Jika kemudian skema FTAs semacam RCEP dan TPP
 merupakan ancaman bagi
 kedaulatan rakyat di berbagai negeri, tentu hal ini bukan
 hal yang tanpa dasar
 dengan melihat ancaman nyata yang di depan mata saat
 ini. 
 
     
      
 
     
     
 
 
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094 --
   #yiv3390697094ygrp-mkp {
 border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
 0;padding:0 10px;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mkp hr {
 border:1px solid #d8d8d8;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mkp #yiv3390697094hd {
 color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
 0;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mkp #yiv3390697094ads {
 margin-bottom:10px;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mkp .yiv3390697094ad {
 padding:0 0;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mkp .yiv3390697094ad p {
 margin:0;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mkp .yiv3390697094ad a {
 color:#0000ff;text-decoration:none;}
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-sponsor
 #yiv3390697094ygrp-lc {
 font-family:Arial;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-sponsor
 #yiv3390697094ygrp-lc #yiv3390697094hd {
 margin:10px
 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-sponsor
 #yiv3390697094ygrp-lc .yiv3390697094ad {
 margin-bottom:10px;padding:0 0;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094actions {
 font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094activity {
 
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094activity span {
 font-weight:700;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094activity span:first-child {
 text-transform:uppercase;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094activity span a {
 color:#5085b6;text-decoration:none;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094activity span span {
 color:#ff7900;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094activity span
 .yiv3390697094underline {
 text-decoration:underline;}
 
 #yiv3390697094 .yiv3390697094attach {
 clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
 0;width:400px;}
 
 #yiv3390697094 .yiv3390697094attach div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3390697094 .yiv3390697094attach img {
 border:none;padding-right:5px;}
 
 #yiv3390697094 .yiv3390697094attach label {
 display:block;margin-bottom:5px;}
 
 #yiv3390697094 .yiv3390697094attach label a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3390697094 blockquote {
 margin:0 0 0 4px;}
 
 #yiv3390697094 .yiv3390697094bold {
 font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}
 
 #yiv3390697094 .yiv3390697094bold a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3390697094 dd.yiv3390697094last p a {
 font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv3390697094 dd.yiv3390697094last p span {
 margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv3390697094 dd.yiv3390697094last p
 span.yiv3390697094yshortcuts {
 margin-right:0;}
 
 #yiv3390697094 div.yiv3390697094attach-table div div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3390697094 div.yiv3390697094attach-table {
 width:400px;}
 
 #yiv3390697094 div.yiv3390697094file-title a, #yiv3390697094
 div.yiv3390697094file-title a:active, #yiv3390697094
 div.yiv3390697094file-title a:hover, #yiv3390697094
 div.yiv3390697094file-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3390697094 div.yiv3390697094photo-title a,
 #yiv3390697094 div.yiv3390697094photo-title a:active,
 #yiv3390697094 div.yiv3390697094photo-title a:hover,
 #yiv3390697094 div.yiv3390697094photo-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv3390697094 div#yiv3390697094ygrp-mlmsg
 #yiv3390697094ygrp-msg p a span.yiv3390697094yshortcuts {
 font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}
 
 #yiv3390697094 .yiv3390697094green {
 color:#628c2a;}
 
 #yiv3390697094 .yiv3390697094MsoNormal {
 margin:0 0 0 0;}
 
 #yiv3390697094 o {
 font-size:0;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094photos div {
 float:left;width:72px;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094photos div div {
 border:1px solid
 #666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094photos div label {
 
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094reco-category {
 font-size:77%;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094reco-desc {
 font-size:77%;}
 
 #yiv3390697094 .yiv3390697094replbq {
 margin:4px;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-actbar div a:first-child {
 margin-right:2px;padding-right:5px;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mlmsg {
 font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean,
 sans-serif;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mlmsg table {
 font-size:inherit;font:100%;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mlmsg select,
 #yiv3390697094 input, #yiv3390697094 textarea {
 font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mlmsg pre, #yiv3390697094
 code {
 font:115% monospace;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mlmsg * {
 line-height:1.22em;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-mlmsg #yiv3390697094logo {
 padding-bottom:10px;}
 
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-msg p a {
 font-family:Verdana;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-msg
 p#yiv3390697094attach-count span {
 color:#1E66AE;font-weight:700;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-reco
 #yiv3390697094reco-head {
 color:#ff7900;font-weight:700;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-reco {
 margin-bottom:20px;padding:0px;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-sponsor #yiv3390697094ov
 li a {
 font-size:130%;text-decoration:none;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-sponsor #yiv3390697094ov
 li {
 font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-sponsor #yiv3390697094ov
 ul {
 margin:0;padding:0 0 0 8px;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-text {
 font-family:Georgia;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-text p {
 margin:0 0 1em 0;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-text tt {
 font-size:120%;}
 
 #yiv3390697094 #yiv3390697094ygrp-vital ul li:last-child {
 border-right:none !important;
 }
 #yiv3390697094 
 

Kirim email ke