artikel lama
dipotandaKaskus Addict – Join: 05-06-2009, Post: 3,15230-11-2012 15:18   
   - 
    
   - 
Rusunawa Buddha Tzu Chi Bisa Jadi Model Jokowi

KOMPAS.com — Apa jadinya Jakarta tanpa kehadiran para pedagang sayur, buah, dan 
bumbu, para sopir, pemilik warung Tegal, atau para pengasong nasi pecel? Apa 
jadinya Jakarta tanpa para pemulung, pembantu rumah tangga, penggali tanah, 
petugas kebersihan, kuli panggul di pasar-pasar, atau para pekerja dan pemodal 
informal lainnya? Indeks biaya hidup Jakarta bakal tak terjangkau lagi oleh 
kalangan kelas menengah. Hal ini akhirnya berimbas pada kalangan atas juga.

Bayangkan bila semua barang dan jasa harus dibeli di mal-mal, rumah-rumah 
makan, atau kantor-kantor biro jasa. Biaya produksi bakal membengkak. 
Membiarkan masyarakat kelas bawah kian rapuh sama saja dengan membiarkan 
kalangan kelas menengah ikut rapuh. Dan itu artinya, membuat kalangan atas pun 
rapuh.

Dengan asumsi seperti itulah, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan pasangannya, 
Basuki Tjahaja Purnama, mengawali pembenahan Jakarta dengan menertibkan dan 
memberdayakan "kaum informal" (kalangan kelas bawah yang umumnya bekerja di 
sektor informal). Fokus mereka, meremajakan dan membangun rumah susun sederhana 
sewa (rusunawa), penertiban dan pemberdayaan pedagang kakilima, serta kombinasi 
di antara keduanya—membangun pasar berusunawa.

Meski demikian, ada batas pertumbuhan yang bakal sampai pada piramida sosial 
dan ekonomi ideal. Setelah itu, tak ada cara lain selain menggalakkan kembali 
kegiatan transmigrasi sampai ketimpangan ekonomi pusat dan daerah, berakhir.

Tak berpenghuni

Pengalaman tiga tahun terakhir sejak 2007 menunjukkan, pembangunan rusunawa 
dinilai lebih tepat ketimbang pembangunan rumah susun sederhana hak milik 
(rusunami) bagi kaum informal. Bagi mereka, biaya sewa rusunawa Rp 60.000-Rp 
160.000 per bulan lebih terjangkau ketimbang mengangsur rusunami yang harga per 
unitnya kini sudah mencapai Rp 145 juta.

Langkah peremajaan diawali dengan kunjungan Joko Widodo ke Rusunawa Marunda, 
Cilincing, Jakarta Utara (Jakut), Rabu (24/10/2012) lalu. Tampak sejumlah 
fasilitas rusunawa rusak. Tak ada yang bertanggung jawab siapa yang memelihara 
dan mengamankan rusunawa tersebut. Sebab, kata Kepala Unit Pengelola Teknis 
Rusunawa Jakut Kusnindar, rusunawa yang dibangun pemerintah pusat belum 
diserahkan pengelolaannya ke Pemprov DKI.

Hal serupa terjadi di rusunawa Karyawan Dinas Kebersihan di RT 005 dan RW 05, 
Cengkareng Barat, Jakarta Barat (Jakbar). Sejak rusunawa ini didirikan tahun 
2006, bangunan yang terdiri dari 200 unit hunian ini belum dihuni meski sudah 
dua kali diperbaiki. Kali ini alasannya, salah urus Pemprov.

Di Jakut dan Jakarta Timur, 2.430 unit rusunawa belum dihuni. Di Jakut, 1.080 
unit di rusunawa Marunda, 600 unit di rusunawa Jalan Komarudin, dan 400 unit di 
Jalan Pinus Elok. Di Jaktim, 150 unit di rusunawa Cakung Barat, dan 200 unit di 
rusunawa Cipinang Besar Selatan.

Menurut Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemprov DKI Novizal, jumlah rusunawa 
yang belum dihuni di seluruh Jakarta mencapai 4.180 unit atau sekitar sepertiga 
dari seluruh rusunawa yang ada di Jakarta.

Sementara itu, dua pertiga rusunawa di Jakarta yang berpenghuni justru minim 
pemeliharaan. Rusunawa di Tambora dan rusunawa Bulak Wadon di Cengkareng, 
Jakbar, misalnya. Pipa-pipa air kotor yang sudah sebagian rusak merembes ke 
dinding, menimbulkan bau tak sedap.

Ideal

Karut-marut pengelolaan rusunawa oleh Pemprov DKI sebenarnya tak perlu terjadi 
jika Pemprov DKI sejak awal membangun mau konsisten mencontoh kehadiran 
rusunawa Buddha Tzu Chi di RW 17 Cengkareng Timur, Cengkareng, Jakbar. Rusunawa 
ini mulai dihuni 5 Juli 2003, sementara sebagian besar rusunawa di Jakarta 
dibangun tahun 2005.

Rusunawa Buddha Tzu Chi memiliki 55 blok yang masing-masing berlantai lima. 
Setiap lantai memiliki empat unit berukuran masing-masing 6 meer x 6 meter yang 
terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang keluarga, dapur, dan 
ruang cuci. Jumlah seluruh unit, 1.100.

Sebanyak 150 unit di antaranya digunakan untuk mes, kios, gudang, dapur 
operasional, tempat tinggal pengelola, dokter, karyawan rumah sakit dan guru 
yang bekerja di sekolah dan rumah sakit Budha Tzu Chi yang masih berada di 
kompleks rusunawa ini. Kompleks bangunan ini juga dilengkapi pemulasaraan 
jenazah, mushola, lapangan sepak bola, futsal, basket, voli, badminton, dan 
tenis meja.

Rusunawa yang dibangun di atas lahan 5,1 hektar ini menghabiskan dana 8,5 juta 
dollar AS atau Rp 70 miliar dengan penyandang dana, Nyonya Liu Su Mei, Sugianto 
Kusuma atau A Guan, dan Franky Ongko Widjaja.

Sudiyono dari bagian humas rusunawa Buddha Tzu Xhi menjelaskan, penghuni 
pertama rusunawa ini adalah warga DKI yang tergusur dari bantaran Kali Angke. 
Total yang dipindahkan 850 kepala keluarga (KK).

"Sebelum dipindahkan ke rusunawa, setiap KK mendapat uang saku Rp 500.000 untuk 
hidup selama setahun di 'pengungsian'. Jumlah penghuni saat ini ada 3.500 jiwa 
dari 692 KK. Penghuni susulan yang masuk ke rusunawa ini adalah warga DKI yang 
telah mendapat rekomendasi dari lurah dan camat, menyangkut batas tingkat 
kesejahteraan mereka yang boleh menghuni rusunawa ini," tutur Sudiyono yang 
ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Jujur, tertib

Ia menjelaskan, pengelola sangat mengutamakan kejujuran, ketertiban, dan 
disiplin para penghuni. "Yang tertangkap mengalihkan rusunawa pada pihak lain, 
atau tersangkut kejahatan, angkat kaki dari rusunawa," ujar Sudiyono.

Untuk masalah ketertiban dan disiplin penghuni, pengelola mengandalkan 
pendampingan ratusan relawan Buddha Tzu Chi. Para relawan inilah yang 
mengawasi, menegur, serta membimbing para penghuni yang melanggar tata tertib 
rusunawa. "Kami menempel selebaran tata tertib di setiap pintu unit rusunawa 
para penghuni," ujar Sudiyono.

Setelah perilaku hidup tertib dan bersih para penghuni terbentuk, jumlah 
relawan pendamping secara bertahap dikurangi. "Sekarang jumlah pengelola 
rusunawa ini hanya sembilan orang. Kami tidak kerepotan lagi mengontrol 
ketertiban dan kebersihan rusunawa ini karena masing-masing penghuni sudah 
sadar pentingnya ketertiban dan kebersihan rusunawa ini," jelas Sudiyono.

Setiap bulan, lanjutnya, yayasan memberi subsidi pengelolaan sebesar Rp 100 
juta. Dengan demikian, para penghuni hanya ditarik sewa Rp 70.000-Rp 90.000 per 
bulan. "Kami menyebutnya bukan sewa, tetapi iuran pengelolaan lingkungan," kata 
Sudiyono.

Ia menjelaskan, untuk memberdayakan para penghuni, pengelola mengadakan 
kegiatan jahit menjahit, membuat kue, belajar komputer, serta kejar Paket C. 
Sayang, kegiatan ini hanya berjalan dua tahun karena terbatasnya dana subsidi 
dari yayasan. Meski demikian, para pengurus lingkungan rusunawa melanjutkan 
kegiatan pemberdayaan ini secara mandiri.

Tahun 2003, lewat divisi hasta karya rusunawa, diadakan tawaran kerja 
bekerjasama dengan perusahaan lain. Lagi-lagi hanya bertahan beberapa tahun 
saja. "Tapi setidaknya kami pernah melakukan dan menjadi inspirasi para 
pengurus lingkungan melanjutkan kegiatan ini," ucap Sudiyono.

Kini, sejumlah penghuni bisa hidup layak dari jasa mencuci, menyeterika, serta 
penitipan anak. Sebagian lain membuka warung di ruang terbuka kompleks rusunawa.
Editor : Marcus Suprihadi

sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2...i.Model.Jokowi

Kirim email ke