Mari Bela Islam dengan Maulid Nabi 
http://www.nu.or.id/post/read/73679/mari-bela-islam-dengan-maulid-nabi
 
 Ahad, 11 Desember 2016 19:30
 

 

 Oleh M. Rikza Chamami

Masih ada sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa perayaan Maulid Nabi itu 
bid'ah. Wajar. Wajar saja, karena memang mereka belum menemukan hujjah yang 
tepat. Atau memang belum bisa memaknai maksud dari bid'ah. Sebab bid'ah itu 
beraneka warna.

KH Sholeh Darat dalam karyanya Kitabul Mahabbah wal Mawaddah secara tegas 
menyatakan: "Imam Abu Syamah Syaikh Nawawi menyatakan bahwa sebagian bid'ah 
yang paling bagus pada zaman ini adalah membuat bahagia saat malam Maulid Nabi 
dengan bershadaqah, memberi makan faqir, membuat hiasan, menjukkan kebahagiaan 
dengan niat cinta pada Nabi Muhammad melalui kebahagiaan yang penuh atas 
kelahiran Nabi".

Jadi benar bahwa Maulid Nabi itu bid'ah, tapi bid'ah hasanah. Bukan bid'ah 
sebagaimana dialamatkan oleh Wahabi dengan bid'ah yang sesat. Aneh-aneh saja.

Sudah jelas bahwa ketika ada orang yang dikasihi kemudian diperingati hari 
lahirnya. Sama dengan kita merayakan ulang tahun saudara dan teman kita. 

Bedanya karena Nabi Muhammad milik umat Islam dunia, maka cara untuk merayakan 
Maulid Nabi dengan membaca kalimat-kalimat pujian seperti: Simtud Durar, 
Burdah, Barzanji, Diba' dan lain-lain.

Inilah hakikat bela Islam, yakni dengan merayakan Maulid Nabi. Sangat naif jika 
mengaku bela Islam, tapi masih membid'ahkan dan menyesatkan orang yang 
merayakan maulid.

Boleh dilihat, zaman Wali Songo hingga kerajaan Mataram, perayaan Maulid Nabi 
selalu mendapatkan tempat istimewa sebagai hari raya muludan, baik di kampung 
hingga di pendopo istana.

Sudah saatnya umat Islam mulai menggugah semangat Maulid Nabi dengan meyakinkan 
bahwa Maulid Nabi sebagai amaliyah yang sangat istimewa sebagaimana nasehat KH 
Sholeh Darat.

KH Sholeh Darat menjelaskan bahwa pertama kali Maulid Nabi digelar oleh Raja 
Mudzafar yang mengumpulkan seluruh umat Islam untuk menghias istana sejak bulan 
Muharram hingga Rabi'ul Awal. Saat itu dibacakan manaqib maulidil karim mulai 
tanggal 1 Rabiul Awal oleh para ulama syu'ara'. Raja juga memerintahkan untuk 
menyembelih sapi, domba dan unta untuk makanan acara maulid.

Tidak tanggung-tanggung yang disembelih sebagaimana penjelasan KH Sholeh Darat 
adalah 5.000 domba, 10.000 ayam dan 100 kuda. Biaya yang dikeluarkan adalah 
300.000 dinar.

Pembacaan Maulid Nabi dilakukan oleh para ulama dan tokoh-tokoh sufi dari sejak 
dzuhur hingga fajar. Kebahagiaan yang sangat luar biasa itu hingga membuat para 
hadirin berjoget (menggerakkan tubuh dan kepala).

Mbah Sholeh Darat menyebutkan joget dalam bermaulud tidak haram dan tidak 
makruh karena Allah memiliki sifat ghafur dan rahim. Hukum berjoget saat maulid 
itu tidak haram dan tidak makruh dengan catatan tidak disertai munkarat minal 
malahi.

Sungguh indah bermaulid Nabi. Mari bela Islam dengan Maulid Nabi. Sebab ini 
adalah bid'ah yang paling bagus.


Penulis adalah Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

 

 

Kirim email ke