Terimakasih Ahok
Selasa, 13 Desember 2016 02:36 WIB

http://www.tribunnews.com/tribunners/2016/12/13/terimakasih-ahok



TRIBUNNEWS/HERUDIN

Ahok 

Oleh: Alex Palit

Bisa jadi ada yang tidak suka dengan judul artikel ini. Dan itu wajar dan 
sah-sah saja. Terlepas tidak suka atau suka, sepandangan atau tidak, pastinya 
ada banyak pelajaran dan pembelajaran yang bisa kita dapatkan dan dipetik dari 
“Kasus Ahok” atas pasal dugaan penistaan agama.

Hari Selasa ini (13/12/2016), lantaran ucapannya, Ahok harus duduk di kursi 
pesakitan untuk menjalani proses hukum persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta 
Utara, dijerat pasal penistaan agama.

Soal keterbuktian atau tidaknya melakukan penistaan agama biarlah para majelis 
hakim “wakil Tuhan di dunia” yang mengadili dalam tentukan putusan hukumnya.

Dari kasus Ahok ini kita banyak mendapatkan pembelajaran begitu berharga bahwa 
persoalan sentimen paham keagamaan ini sangat sensitif  ibarat bom waktu gesek 
yang bila kena gesekan-gesekan sedikit saja bisa meledak yang efek radiusnya 
bisa meluas kemana-mana. Termasuk dari dugaan kasus pasal penistaan agama efek 
radiusnya ke Pilkada DKI Jakarta 2017.   

Dari rentetan dinamika peristiwa politik yang terjadi jelang Pilkada DKI 
Jakarta 2017, bukan warga Jakarta saja, rakyat Indonesia juga semakin cerdas 
dan kritis dalam membaca dan memilah mana hitam putihnya dan mana abu-abu di 
balik muatan aksi 'penjarakan' Ahok.

Pada akhirnya warga Jakarta, pastinya juga rakyat Indonesia dapat membaca 
kepentingan politik pragmatis mana yang bermain dari aksi tersebut, siapa 
penunggang kudanya, siapa kuda tunggangannya, bahkan sampai muncul pula 
pernyataan istilah kata-kata bersayap ”Lebaran Kuda”.

Begitu pula dari “Aksi Super Damai 212 – Gelar Sajadah Doa Untuk Negeri”, 
sholat Jumat bersama di Monas yang diikuti jutaan umat muslim berjalan lancar, 
tertib, khusuk, dan berakhir super damai, bahwa damai itu indah.

Mungkin cerita usai sholat bersama yang super tertib, super khusuk dan super 
damai, ceritanya akan menjadi lain seandainya di pagi hari itu pihak kepolisian 
tidak mengamankan sejumlah aktivis atas sangkaan tudingan pemufakatan makar.  

Sebagaimana kita membayangkan – walau bukan bagian dari rentetan kasus Ahok – 
apa yang terjadinya atau apa jadinya seandainya Densus 88 pada hari Sabtu 
(10/12/2016) tidak menangkap dan mengamankan pelaku teror bom di rumah 
kontrakan Bintara Jaya 8 - Bekasi, yang akan diledakan di depan Istana Negara, 
Minggu pagi (11/12), berapa banyak orang tak berdosa yang jadi korban olehnya.

Dari rentetan peristiwa atas nama aksi demo dengan peran utamanya Ahok ini 
akhirnya membuka mata kita semua – mudah-mudahan juga terbukalah mata hati kita 
semua, dalam membaca pesan dari yang tersurat dan tersirat secara jernih 
disertai logika akal sehat dalam membaca, memilah dan menyikapi apa sejatinya 
yang terjadi di balik semua itu. Ambil hikmahnya, ambil indahnya, demi spirit 
Bhinneka Tunggal Ika dan keutuhan NKRI.

Terimakasih Ahok, kau telah telah membukakan mata kita semua, mudah-mudahan 
juga terbukalah mata hati kita semua dalam membaca ini semua.

Termasuk dalam membaca, memilah dan menyikapi atas rentetan dinamika peristiwa 
politik yang menyertai, seperti Aksi Demo 411, Aksi Super Damai 212, dan cerita 
peristiwa lainnya yang menyertai di balik itu semua.

Semoga!   

* Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen” 

Editor: Toni Bramantoro

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari 
aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau 
dikirim ke email [email protected]


Kirim email ke