Memotong rumah dan tinggal seatap dengan 20 orang agar tidak digusur 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-38279822 Rafki HidayatWartawan BBC 
Indonesia
 11 Desember 2016

 Kirim http://www.bbc.com/indonesia/majalah-38279822#share-tools


 
 Image copyrightASF-ID Sejumlah penggusuran yang dilakukan pemerintah Provinsi 
DKI Jakarta terhadap permukiman di pinggir Sungai Ciliwung, membuat warga 
Kampung Tongkol di Jakarta Utara was-was. Mereka pun melakukan berbagai daya 
upaya agar tidak digusur, misalnya dengan memotong rumah dan tinggal seatap 
dengan 20 orang dalam sebuah rumah 'gaya baru' yang mereka sebut sebagai Rumah 
Contoh.
 Pagi itu langit cerah kebiruan, gemericik anak kali Ciliwung dan semilir angin 
yang terasa sejuk, sejenak membuat saya lupa sedang berada di Jakarta.
 Bersama dengan Gugun Muhammad, saya menyusuri tempat tinggalnya di Kampung 
Tongkol, Jakarta Utara yang terletak di pinggir kali.
 Warga Bukit Duri tetap berjuang di jalur hukum 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/09/160928_indonesia_bukit_duri
 Soal penggusuran, Ahok diminta ajak warga berdialog 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160412_indonesia_ahok_penggusuran
 Menarik melihat kampung ini karena permukiman di pinggir kali biasanya identik 
dengan sampah, citra kumuh dan tidak sehat. Namun, kampung Tongkol berbeda, 
bahkan ada jalan selebar lima meter yang membatasi rumah-rumah dan dinding 
sungai.
 Kepada saya Gugun bercerita, sekitar dua tahun lalu keadaannya tidak seperti 
ini. "Dulu kamar mandi dan dapur saya ada di atas kali, sempit sekali," cerita 
Gugun.
Image copyrightAFPImage captionContoh permukiman di pinggir Sungai Ciliwung. 
Situasi berubah ketika pemerintah provinsi DKI Jakarta menggiatkan program 
normalisasi Sungai Ciliwung. Berbagai kampung di pinggir sungai, misalnya 
Kampung Pulo, Jakarta Timur; Pasar Ikan, Jakarta Utara dan Pinangsia, Jakarta 
Barat, digusur.
 "Ada kabar (kami) mau digusur juga. Pemerintah meminta rumah itu jaraknya 
harus 15 meter dari pinggir kali. Ada tawaran juga kami dipindah ke rumah 
susun. Tapi setelah musyawarah, masyarakat tidak setuju karena (rumah susun) 
harus disewa setelah dua tahun," ungkap Gugun.
Image captionGugun Muhammad berupaya mengubah citra Kampung Tongkol yang 
sebelumnya disebut kumuh dan kerap menjadi penyebab banjir. Memutar akal agar 
tidak digusur, mereka pun berusaha "membuat situasi baru, bahwa hidup di 
pinggir sungai itu tidak seperti yang dituduhkan pemerintah."
 Gugun mengeluh bahwa kampungnya kerap dituduh sebagai "pembuat banjir karena 
warga buang sampah ke sungai, mencemari air karena kotoran rumah tangga juga 
dibuang ke sungai, tidak sehat dan tidak manusiawi."
 Memotong rumah Hal pertama yang warga Kampung Tongkol lakukan untuk 
memperlihatkan keinginan berbenah adalah dengan memotong rumah mereka. "Dulu 
itu jarak dari rumah ke dinding batas sungai hanya satu atau dua meter."
 Atas kesepakatan dengan camat setempat, "yang dipotong hanya lima meter dari 
pinggir sungai," cerita Gugun. Aksi bersama memotong rumah itu pun dimulai pada 
awal 2015. Menurutnya kala itu bahkan ada rumah yang benar-benar dibongkar 
karena lokasinya tepat di pinggir dinding sungai.
Image copyrightASF-IDImage captionRumah Contoh ketika baru selesai dibangun. 
Namun, semangat tersebut berujung pilu ketika camat berganti dan pejabat yang 
baru meminta agar jarak permukiman dari pinggir sungai harus 15 meter, sesuai 
Peraturan Daerah Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) DKI Jakarta.
 "Warga pun putus asa, drop, karena kami mulai berpikir akan benar-benar 
digusur."
Image copyrightASF-IDImage captionRumah Contoh di Kampung Tongkol berjarak lima 
meter dari dinding yang membatasi sungai. Namun, kekhawatiran itu diakuinya 
malah membuat warga semakin semangat untuk menunjukkan bahwa permukiman ramah 
lingkungan di pinggir sungai itu mungkin untuk diwujudkan.
 Dengan dibantu dana hibah sebesar Rp160 juta dari LSM Urban Poor 
Consortiumpada November 2015, mereka pun membangun Rumah Contoh. Ada dua Rumah 
Contoh yang telah dibangun di Kampung Tongkol.
Image captionRumah Contoh di Kampung Tongkol. Rumah Contoh adalah rumah tiga 
lantai, untuk menyiasati lebar rumah yang tinggal lima meter setelah dipotong. 
Rumah disekat-sekat. "Ada tujuh keluarga yang tinggal di sini (satu atap Rumah 
Contoh), ada 21 jiwa yang hidup di dalamnya," tutur Gugun yang merupakan 
penghuni salah satu sekat Rumah Contoh.
 Dibantu kelompok arsitek dari Architecture Sans Frontieres Indonesia (ASF-ID), 
Rumah contoh dibangun dengan material ramah lingkungan; bata ringan berpori, 
kayu daur-ulang dan bambu.
Image captionSungai di depan permukiman warga di Kampung Tongkol relatif bersih 
karena warga tidak lagi membuang sampah ke sungai. "Ini gaya hidup baru," tutur 
Gugun sambil tersenyum. "Jarak rumah dengan sungai, cukup. Lalu ada tanki 
septik sendiri di bawah rumah, sehingga kotoran tidak lagi dibuang ke sungai. 
Kamar mandi juga di-share bareng-bareng, jadi gak sendiri-sendiri kayak dulu 
lagi, juga ada air bersih mengalir."
 Bagaimana dengan sampah? Gugun pun mengajak saya masuk ke salah satu sekat 
(ruang) Rumah Contoh. Dengan luas sekitar dua setengah meter kali lima meter, 
ruang itu dihuni oleh satu keluarga.
 Ruang yang tidak besar itu pun dibagi dua. Sekitar dua pertiga untuk bagian 
depan dan sepertiga untuk dapur dan tempat mencuci di bagian belakang.
Image captionBagian depan rumah yang digunakan sebagai 'tempat apa saja,' 
termasuk bekerja. Dengan agak tergelak, Gugun menceritakan fungsi ruang 
depannya, "Ini semuanya di sini. Satu ruangan untuk tidur, makan, nonton TV, 
ruang keluarga, terima tamu, satu ruangan untuk semua fungsi," akunya sambil 
menunjuk-nunjuk ke arah lantai.
 "Rumah Contoh ini cuma perangsang sebenarnya," dia lanjut bercerita. 
"Harapannya diaplikasikan oleh rumah-rumah lain. Sekarang 164 rumah di sini 
semuanya sudah memotong rumah mereka. Dari jumlah itu, yang sudah buat tanki 
septik sudah 22 rumah, memang masih jauh tetapi sudah ada kemajuan, nggak nol."
Image captionTong sampah yang ditemukan di setiap 10 meter di Kampung Tongkol. 
Sementara untuk sampah, warga Kampung Tongkol mengaku "tidak lagi membuangnya 
ke sungai." Ketika saya di sana, sungai memang relatif bersih. Selain itu, di 
sepanjang permukiman, setiap 10 meter ada tong sampah bewarna hijau.
 Warga juga mengurangi sampah dengan "tidak lagi belanja sayur pakai plastik, 
masing-masing sayur diplastikin. Ada lima perwakilan warga yang dijadikan 
pelopor, dijadikan contoh. Mereka bawa tas sendiri kalau belanja. Nah, yang 
bawa tas ini, kalau belanja di atas Rp15.000, dapat diskon Rp500. Kita sudah 
buat kesepakatan sama tukang sayurnya."
 Cara itu, disebut Gugun terbukti mengurangi sampah hingga 88%.
Image captionWarga membuat kebun kecil di sepanjang pinggir sungai. Dengan 
segala perubahan yang dilakukan, saya penasaran dengan pendapat lain warga 
Kampung Tongkol. Saya bertemu Ratna, yang sudah 38 tahun tinggal di sini.
 "Beda banget. Dulu rumah (saya) jelek. Airnya air sumur, kalau nyari air minum 
harus dibeli. Sekarang sudah serba ada," ceritanya dengan penuh semangat.
Image captionRatna yang sudah 38 tahun tinggal di Kampung Tongkol menolak untuk 
direlokasi. Memotong rumah dan tinggal seatap dengan 20 orang agar tidak 
digusur http://www.bbc.com/indonesia/majalah-38279822
 Ketika ditanya, mengapa tidak mau pindah ke rumah susun dengan jaminan tempat 
tinggal yang lebih pasti, Ratna menjawab, "di sini sudah enak suasananya."
 "Kalau dipindah ke rusun kan bayar. Kalau Bapaknya kerja, nggak apa, kalau 
nggakkerja, dari mana dapat uang sewanya. Kalau (kami digusur), sediain tempat 
yang kayak begini lagi, sendiri, bukan rusun, karena sekarang sudah enak, 
nggakkebocoran," ungkapnya.
 Tetap ilegal? Bagaimanapun tetap saja warga Kampung Tongkol tidak memiliki 
sertifikat kepemilikan tanah yang diakui pemerintah provinsi DKI Jakarta.
 Di berbagai lokasi, Kampung-kampung di pinggir Sungai Ciliwung seperti ini, 
sudah digusur agar program normalisasi sungai bisa dijalankan Pemprov.
Image copyrightAFPImage captionAlat berat meratakan permukiman warga di Bukit 
Duri, Jakarta Selatan, pada September 2016. Hingga saat ini, setidaknya sudah 
lima kawasan yang digusur dan direlokasi; Pasar Ikan, Jakarta Utara; Kampung 
Pulo, Jakarta Timur; Bidaracina, Jakarta Timur; Bukit Duri, Jakarta Selatan; 
serta Pinangsia, Jakarta Barat.
 Permukiman di kawasan itu semuanya direlokasi oleh gubernur Basuki Tjahaja 
Purnama (Ahok).
Image copyrightAFPImage captionProgram normalisasi Kali Ciliwung yang 
dilaksanakan pemerintahan Basuki Tjahaja Purnama berujung penggusuran dan 
relokasi sejumlah permukiman di pinggir sungai. Kepada wartawan, April lalu, 
Ahok sempat berkomentar soal Kampung Tongkol, "Kalau belum ada rusun, kami 
enggak akan gusur. Tapi kalau sudah ada, ya kalian harus pindah, kami akan 
gusur."
 Menurut Gugun, sejak Rumah Contoh selesai, belum ada lagi komunikasi dengan 
Pemprov DKI Jakarta, terkait apakah perubahan yang mereka lakukan sudah cukup 
untuk membuat warga Kampung Tongkol tidak digusur.
 Apalagi saat ini Ahok tengah sibuk bersaing sebagai calon gubernur petahana, 
dan menghadapi kasus hukum dugaan penistaan agama yang melilitnya. Tidak 
terdengar lagi informasi apakah Kampung Tongkol tetap akan digusur atau tidak.
Image captionSeorang warga di Kampung Tongkol seusai menjemur burung 
peliharaannya. Saya pun mencoba mengontak Kepala Dinas Penataan Kota DKI 
Jakarta, Benny Agus Chandra, yang baru dilantik Ahok Juni 2016 lalu. Namun, 
lewat pesan singkat, Benny tidak mau berkomentar terkait Kampung Tongkol, dan 
meminta saya menghubungi "Tri, salah seorang kepala bidang perumahan," yang 
menurutnya menangani masalah ini.
 Ketika dihubungi, Tri meminta saya mengontak "Kelik," karena Tri mengaku dia 
"tidak lagi di perencanaan teknis." Namun, dihubungi lewat pesan singkat dan 
telpon, Kelik tidak merespon.
 Layakkah diberi kesempatan? Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna menilai apa 
yang dilakukan warga Kampung Tongkol adalah "bentuk pembelaan diri."
Image captionPengamat Tata Kota Yayat Supriatna. "Karena masyarakat miskin tahu 
mereka tidak memiliki tanah tersebut. Jawaban mereka, ya kami tahu kami salah, 
tapi jangan salahkan kami saja. Kami juga bisa berbenah. Yang pemerintah klaim 
kami tinggal di daerah rawan bencana, kotor, kami bisa perbaiki," tutur Yayat.
 Menurutnya, permasalah permukiman di pinggir sungai ini "tidak semuanya harus 
(diselesaikan) dengan menggusur, karena membuat orang tidak berdaya."
Image captionAnak-anak di Kampung Tongkol sedang bermain bola. Yayat bercerita 
bahwa masyarakat kampung akan sangat sulit untuk menerima relokasi, meskipun ke 
tempat yang dinilai lebih nyaman seperti rusun, karena "di kampung terbangun 
nilai, ada norma bersama yang disepakati dan dijalankan bersama. Sementara di 
rusun beda, tidak ada nilai. Semuanya transaksional belaka."
 Ditambahkan Yayat, pemerintah seharusnya mengajak masyarakat berdialog. "Mau 
nggak pemerintah mendengarkan apa yang menjadi keinginan masyarakat. Supaya 
hasilnya win-win."
Image captionKampung Tongkol menjadi inspirasi bagi budayawan dan seniman 
asing, misalnya Christiane Dorken dari Jerman, yang tertarik membuat panggung 
seni di kampung ini. Persoalan batas aman permukiman dari sungai, yaitu lima 
(yang dibuat warga Kampung Tongkol) atau 15 meter (yang disetujui Pemprov) 
misalnya, "itu bisa dibicarakan."
 Menurut Yayat kalau sungai memiliki kedalaman tiga sampai lima meter, warga 
bisa membangun permukiman dengan jarak minimal tiga meter dari pinggir sungai, 
kalau ada tanggul yang cukup tinggi. "Nah, pertanyaannya apakah pemerintah 
pernah membuat tanggul?"
 Pembongkaran Kalijodo lancar tanpa perlawanan 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160229_indonesia_kalijodo_update
 Akan digusur, warga Kampung Dadap melapor ke Komnas HAM 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160511_indonesia_dadap_komnasham
 Sejalan dengan itu, salah satu arsitek yang ikut mengerjakan Rumah Contoh, 
Andrea Fitrianto, mengungkapkan jarak tiga sampai lima meter itu sudah cukup 
untuk memberikan akses bagi kebutuhan dasar seperti "gerobak sampah dan mobil 
pemadam kebakaran."
Image captionAndrea Fitrianto dari Architecture Sans Frontieres Indonesia 
sedang berbincang dengan Ratna. "Kalau dibuat sampai 15 meter, artinya kita 
mengubah pola lingkungan dari yang awalnya pejalan kaki, menjadi yang bisa 
diakses mobil. Sebelumnya warga bisa bincang-bincang pinggir sungai, kemudian 
akan bising karena mobil bisa lewat dan ujung-ujungnya dikomersialkan, akan 
dibangun ruko dan kafe, sehingga hilang ciri khas kampung," papar Andrea.
 Meskipun begitu, keputusan menggusur atau tidak, ada di tangan Pemprov DKI 
Jakarta. "Kita hanya ingin membuktikan bahwa permukiman di pinggir sungai itu 
mungkin. Kita hanya ingin melawan semua mindset publik dan pemerintah itu," 
pungkas Gugun.

 

 

Kirim email ke