Bedanya kalau rakyat  'pasang badan" untuk membela hak-hak dan lingkungan, 
rakyat harus menghadapi kekerasan aparat militer, semprotan air, gas air mata, 
pukulan dan tendangan polisi dan tentara, dan pemenjaraan. Sedangkan ketika 
anggota DPR alias komprador "pasang badan" bagi kepentingan pengusaha dan 
pemodal, sama sekali tidak ada resikonya, malah bisa dapat 'komisi' dan 
macam-macam 'hadiah". Obrolan tentang "keuntungan" pabrik semen bagi penduduk 
lokal  adalah penipuan belaka. Selama Rejim Jokowi memberlakukan politik upah 
buruh murah, mana bisa kaum tani yang akan jadi buruh dapat hidup layak dengan 
upah yang didapat dari pabrik semen itu. Omong kosong belaka!







Komisi VI DPR 'Pasang Badan' untuk Pabrik Semen Rembang
Giras Pasopati, CNN IndonesiaSenin, 28/11/2016 07:35 WIB
Komisi VI DPR RI menyatakan bakal menyampaikan kepada Presiden melalui rapat 
kerja agar pembangunan pabrik Semen Indonesia di Rembang bisa terus berjalan. 
(CNN Indonesia/Damar Sinuko)Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi VI Dewan 
Perwakilan Rakyat (DPR) RI melakukan kunjungan kerja ke pabrik PT Semen 
Indonesia (Persero) Tbk di Rembang, Jateng dan Tuban, Jatim pada Sabtu (26/11), 
sebagai tindak lanjut atas hasil putusan yang dikeluarkan Mahkamah Agung (MA) 
terkait izin pabrik perseroan di Rembang beberapa waktu yang lalu.

Ketua Tim Kunjungan ke Pabrik Semen Indonesia di Rembang, Azam Azman Natawijaya 
mengatakan bahwa pembangunan pabrik Semen Indonesia di Rembang sarat akan 
kepentingan, baik dari investor maupun pihak lainnya. 

“Sebagai aset milik negara, keberadaan Semen Indonesia harus dilindungi dan 
didukung. Jangan sampai semen asing ini menguasai pasar kita,” ujarnya dalam 
keterangan resmi, dikutip Minggu (27/11).

Ia menjabarkan, saat ini kondisi industri semen dalam negeri menjadi incaran 
investor asing. 

Sebagai gambaran, BUMN semen hanya menguasai 36 persen kapasitas industri semen 
di Indonesia. Swasta dan asing menguasai 64 persen, sementara Semen Indonesia 
memiliki total kapasitas hanya 34 persen dengan market share sebesar 42,44 
persen.

Anggota Komisi VI DPR RI, Abdul Wahid mengatakan, sebagai langkah konkret 
dukungan, pihaknya akan menyampaikan kepada Presiden melalui rapat kerja agar 
pembangunan pabrik Semen Indonesia di Rembang bisa terus berjalan. 

"Kami dukung sepenuhnya pabrik ini. Semen Indonesia hanya butuh memperbarui 
izin lingkungan untuk melanjutkan pembangunan pabrik ini, selain menjalin 
komunikasi dan pendekatan kepada beberapa pihak,” katanya.

Menurutnya penolakan pendirian pabrik semen di Rembang ini hanya oleh 
segelintir orang saja, tidak lebih dari 5 persen. Sebagian besar warga 
mendukung adanya pembangunan pabrik semen. 

Ia mengungkapkan, di antara penolak tersebut, salah satunya adalah warga Pati, 
Jawa Tengah. Dia merasa terusik dengan adanya pabrik sehingga memprovokasi 
warga untuk melakukan penolakan pendirian pabrik ini.

 "Kami, Komisi VI sepakat dengan Gubernur, Kapolda dan Pangdam untuk mengawal 
agar pembangunan pabrik ini terus berjalan,” ujarnya.

Direktur Enjinering dan Proyek Semen Indonesia, Gatot Kustyadji mengatakan 
progres pembangunan pabrik Semen Indonesia di Rembang per 31 Oktober 2016 telah 
mencapai 97,1 persen. 

Pendirian pabrik dengan rencana investasi sebesar Rp4,9 triliun ini akan 
memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Rembang. Hal itu di antaranya 
penyediaan lapangan pekerjaan, pengembangan ekonomi masyarakat, pembinaan UMKM, 
pemenuhan kebutuhan air, peningkatan kesejahteraan, dan pengentasan kemiskinan. 
“Penyerapan tenaga kerja dalam masa pengerjaan proyek mencapai 6.075 orang, 
dengan tenaga kerja dari Rembang sebanyak 1.236 orang. Kami berharap dengan 
adanya pabrik Semen Indonesia ini, angka kemiskinan di Rembang dapat berkurang 
dari 19,5 persen menjadi dibawah 10 persen”, ungkap Gatot.

Gatot juga mengklaim, melalui berbagai program Corporate Social Responbility 
(CSR), perseroan telah menyalurkan dana sebesar Rp7 miliar pada tahun 2014, dan 
meningkat menjadi Rp10,35 miliar pda tahun 2015. 

“Tahun 2016 ini, Semen Indonesia menganggarkan Rp35 miliar untuk program CSR di 
Rembang. Kami berharap program CSR ini dapat menyejahterakan warga Rembang,” 
katanya. (gir/gen)

Kirim email ke