Apakah partai-partai pendukung Ahok sedang 'mencari aman' agar tidak menjadi 
sasaran kemarahan umat Muslim?"Ya, bisa dibilang begitu. Seperti yang terlihat 
pada 4 November, isu Ahok ini bukan hanya masalah Jakarta, tapi juga jadi 
masalah nasional. Nah, itu yang sedang dijaga elite-elite partai, jangan sampai 
mereka dianggap tidak sensitif terhadap masalah ini. Makanya partai-partai 
pendukung Ahok-Djarot seakan-akan berada pada jarak antara Ahok dan 
masyarakat," ujar Asfar....
Kasus Ahok: mengapa partai-partai pendukung 'tak lakukan pembelaan?'


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|    |  
Kasus Ahok: mengapa partai-partai pendukung 'tak lakukan pembelaan?'...
 Elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama di pilkada Jakarta turun menurut LSI, 
tapi partai-partai pendukung 'tak...  |   |

  |

  |

 

Jerome WirawanBBC Indonesia   
   - 14 November 2016
KirimImage copyrightTATAN SYUFLANA/APImage captionElektabilitas Ahok saat ini 
mencapai 24,6%, menurut Lembaga Survei Indonesia.Barisan massa meneriakkan 
yel-yel penolakan terhadap Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias 
Ahok, di Rawa Belong, Jakarta Barat, 2 November lalu.Ahok kemudian dibawa 
aparat menggunakan mobil angkutan umum untuk menghindari bentrokan.Selang tujuh 
hari kemudian, aksi serupa berlangsung di kawasan Kembangan, Jakarta Barat. 
Saat itu, massa menolak kehadiran Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful 
Hidayat.Mantan wali kota Blitar tersebut sempat menemui salah seorang 
demonstran dan berkata bahwa mereka tidak usah memilih Ahok-Djarot saat pilkada 
Februari 2017 mendatang, namun jangan menghalangi kedatangannya.Demonstran 
tersebut balas mengatakan, "Ini bukan masalah pilkada, Pak. Ini masalah 
penistaan agama."Dua insiden penolakan itu terjadi sebulan setelah video pidato 
Ahok beredar di media sosial. Dalam pidato itu, Ahok menyebutkan Surat Al 
Maidah 51.
Elektabilitas menurun
Lalu apa kaitan antara insiden penghadangan dan pidato Ahok?Menurut Denny JA, 
selaku pendiri Lembaga Survei Indonesia, jajak pendapat terbaru mereka 
menunjukkan lebih dari 73% warga Jakarta tidak setuju dengan ucapan 
Ahok."Mereka marah dengan cara tidak memilih Ahok," kata Denny JA kepada BBC 
Indonesia.   
   - Pelaporan Ahok atas tuduhan menghina agama dan pemilih
   - Akankah Ahok 'dikorbankan' untuk meredakan suhu politik?
   - Walau yakin dengan janji presiden, pemimpin ormas Islam tak jamin protes 
Ahok tak terulang
Denny JA oleh para pendukung Ahok dinilai condong ke salah satu pesaing 
Ahok.Denny JA mengatakan, berdasarkan survei yang mewawancarai 440 responden 
warga Jakarta dengan metode pengambilan sampel secara acak, elektabilitas Ahok 
mencapai 24,6%.Persentase ini turun 6,8% dari survei yang sama pada bulan 
Oktober 2016, yaitu sebesar 31,4%."Ahok ini secara konsisten turun 
terus-menerus (elektabilitasnya). Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya, di 
era sebulan terakhir, adalah Surat Al Maidah," ujar Denny JA, seraya 
mengingatkan bahwa marjin kesalahan dalam survei mencapai 4,8%.Image 
copyrightREUTERSImage captionDemonstrasi menuntut proses hukum terhadap 
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, pada 4 November lalu.
'Naik-turun itu wajar'
Penurunan elektabilitas Ahok-Djarot rupanya tidak ditanggapi tim kampanye 
pasangan itu dengan sikap kekhawatiran."Biasa saja. Yang namanya survei, 
naik-turun itu wajar. Apalagi nanti mendekati hari pemilihan, naik-turun itu 
wajar," kata Joyce Triatman, anggota tim kampanye Ahok-Djarot.Menurutnya, 
penurunan elektabilitas itu juga lumrah apabila dikaitkan dengan kasus dugaan 
penistaan agama yang melibatkan Ahok."Pak Ahok sedang diserang atau sedang 
mendapatkan tekanan publik seperti ini. Jadi kami juga tidak kebakaran jenggot, 
istilahnya, untuk menaikkan elektabilitas atau apapun itu sebutannya," tambah 
Joyce.Ditanya apa tindakan tim kampanye Ahok-Djarot setelah pasangan itu 
dihadang massa, Joyce mengaku punya strategi."Salah satu strategi yang akan 
dilakukan adalah Pak Ahok akan menerima masyarakat setiap harinya di Rumah 
Lembang. Di balik posisinya, jadi masyarakat yang datang menemui Pak Ahok," 
katanya.Ketika tim kampanye pasangan Ahok-Djarot mendapat tekanan publik, 
partai-partai pendukungnya tampak tidak berupaya mendorong elektabilitas.Ketua 
Partai Nasdem, Surya Paloh, misalnya, menyatakan bakal mengevaluasi dukungan ke 
Ahok jika dia menjadi tersangka kasus dugaan penistaan agama.Adapun Partai 
Demokrasi Indonesia Perjuangan, melalui surat perintah Megawati Soekarnoputri 
kepada para kader partai, menghindari konflik yang menggunakan isu agama."Kami 
tidak akan mau dipancing, kami menahan diri. Jadi kita ingin tahapan pilkada 
tetap berjalan seperti biasa, jangan sampai dikategorikan kacau dan pilkada 
digagalkan," kata Eva Sundari, politisi senior PDI P.Image captionPartai 
Demokrasi Indonesia Perjuangan, melalui surat perintah Megawati Soekarnoputri 
kepada para kader partai, menghindari konflik yang menggunakan isu agama.
Cari aman?
Tindakan partai-partai pendukung pasangan Ahok-Djarot, menurut Muhammad Asfar 
selaku dosen politik Universitas Airlangga, Surabaya, dapat dipahami sebagai 
bagian dari strategi agar tidak terkena imbas kasus SARA yang menimpa 
Ahok."Yang dijaga betul oleh partai-partai pendukung Ahok adalah jangan sampai 
kasus (dugaan penistaan agama) menjadi kontraproduktif terhadap partai. Kalau 
partai berada di garis depan, akan ada penilaian bahwa partai mendukung Ahok 
secara membabi buta," kata Asfar.Apakah partai-partai pendukung Ahok sedang 
'mencari aman' agar tidak menjadi sasaran kemarahan umat Muslim?"Ya, bisa 
dibilang begitu. Seperti yang terlihat pada 4 November, isu Ahok ini bukan 
hanya masalah Jakarta, tapi juga jadi masalah nasional. Nah, itu yang sedang 
dijaga elite-elite partai, jangan sampai mereka dianggap tidak sensitif 
terhadap masalah ini. Makanya partai-partai pendukung Ahok-Djarot seakan-akan 
berada pada jarak antara Ahok dan masyarakat," ujar Asfar.Ahok telah menjalani 
pemeriksaan di Mabes Polri, Jakarta, dalam kasus dugaan penistaan agama pada 7 
November lalu.Presiden Joko Widodo berulang kali menyatakan tidak akan 
mengintervensi proses hukum tersebut.

Kirim email ke