Menjenguk Warga Bukit Duri Di Asrama Poncol 
http://www.rmol.co/read/2016/12/30/274443/Menjenguk-Warga-Bukit-Duri-Di-Asrama-Poncol-
 MENUJU PERADABAN  JUM'AT, 30 DESEMBER 2016 , 06:55:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA


 
http://rmol.co/images/berita/normal/77813_07063030122016_Menjenguk_Warga_Bukit_Duri_Di_Asrama_Poncol.jpg
 
 PADA 27 Desember 2016, saya bersama Aylawati Sarwono diantar sang pendekar 
kemanusiaan dari Jeneponto, Sandyawan Sumardi, menjenguk para warga Bukit Duri 
korban penggusuran eh penertiban yang untuk sementara mengungsi di asrama 
Poncol di tepi sungai Ciliwung.

 Di luar dugaan, ternyata asrama pengungsi Poncol rapih, tertib, bersih, 
hiegienis. Suasana emosional warga tergusur eh tertertib juga cenderung optimis 
ketimbang pesimis. Kesan positif tersebut dapat diyakini tidak dibuat-buat 
sebab kunjungan kami bersifat mendadak alias tanpa pemberitahuan terlebih 
dahulu.

Sebenarnya saya merasa malu berjumpa dengan para warga Bukit Duri korban 
penertiban di asrama pengungsi Poncol, akibat pada tanggal 28 September 2016 
terbukti saya tidak berdaya mencegah aksi penertiban Pemprov DKI Jakarta 
membumiratakan gubuk-gubuk warga Bukit Duri yang kini terpaksa mengungsi itu.

Ternyata para pengungsi akibat musibah penertiban di Poncol menyambut 
kedatangan saya dan ibu Ayla dengan penuh ramah-tamah nan tulus. Tampaknya 
mereka memaafkan ketidak-berdayaan saya sebab mahfum bahwa saya memang mustahil 
berdaya melawan penertiban yang dilakukan oleh laskar penertiban Pemprov 
dilengkapi mesin-mesin berat ukuran raksasa kaliber Transformers dikawal polri 
dan TNI!

Yang menarik, adalah pada saat kunjungan di tengah hari itu, mayoritas warga 
yang berada di asrama Poncol adalah manula dan anak-anak kecil. Ternyata 
sebagian warg  sedang tidak berada di asrama Poncol akibat memang ke luar 
asrama demi menunaikan perjuangan mencari nafkah masing-masing. Di sini, 
terbukti keabsahan alasan keberatan warga dipaksa pindah ke rusunawa yang di 
samping wajib bayar sewa juga terletak di lokasi lebih dari duapuluh kilometer 
dari Bukit Duri sebagai lokasi pencarian nafkah sehari-hari mereka.

Dipaksa pindah ke rusunawa yang lokasinya nun jauh dari lokasi permukiman, 
berarti sama saja dengan mencabut akar sumber nafkah rakyat. Bahkan di 
pelataran depan asrama, ada sebuah warung makan pemilik seorang warga yang 
mencari nafkah melalui usaha warung makan. Ada pula semacam counter meja kecil 
menjajakan minuman dalam kemasan serta jamu yang dikelola seorang penghuni 
asrama Poncol. Counter tersebut tidak ada yang menjaga, akibat saling percaya 
yang sudah terjalin di antara warga penghuni asrama Poncol.

Di serambi depan asrama kami duduk di sebuah benda kumuh mirip sofa dengan 
lebih banyak lubang ketimbang busa penutup tempat duduknya.

Dari perbincangan dengan warga korban penertiban Bukit Duri yang kini menghuni 
asrama Poncol terkesan betapa dahsyat gelora semangat perjuangan hidup 
maju-tak-gentar, rawe-rawe-rantas-malang-malang-putung, 
patah-satu-tumbuh-seribu dalam menghadapi angkara-murka yang mengendala 
perjuangan hidup mencari nafkah demi menghidupi diri serta sanak-keluarga 
masing-masing.

Para korban penertiban yang mengungsi di asrama Poncol maupun tersebar di 
beberapa kos-kosan di sekitar Bukit Duri tetap bersatupadu dalam mengajukan 
gugatan class-action menuntut keadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan 
PTUN Jakarta Utara. Dengan sabar mereka bersatupadu dalam menanti keputusan 
majelis hakim. Mereka semua masih percaya bahwa para penegak hukum akan 
menegakkan keadilan seadil-adilnya adil sesuai asas kemanusiaan adil dan 
beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia di Tanah-Air-Udara 
tercinta kita bersama ini. [***]

Penulis adalah pemrihatin nasib para korban penertiban atas nama pembangunan

 

Kirim email ke