From: [email protected] [GELORA45] 
Sent: Saturday, December 31, 2016 11:57 AM
  



Survei SMRC: Sentimen Anti-Tionghoa Akibat Mobilisasi Politik


Rochmanuddin 

29 Des 2016, 20:08 WIB





Liputan6.com, Jakarta - Isu 10 juta pekerja asal Tiongkok ke Indonesia, 
disebut-sebut hanya pelintiran dari target Kementerian Pariwisata terhadap 
wisatawan asal Negeri Tirai Bambu itu, yakni 10 juta.

Peneliti senior Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Ignatius Haryanto 
mengatakan, beberapa media mainstream yang tidak kredibel memelintir isu 
tersebut dengan motif yang belum ketahui.

"Datanya aja tidak jelas, malah data pemerintah cenderung diabaikan, dan 
narasumber ada yang tidak kredibel. Ada juga narasumber yang spekulatif tapi 
tidak berdasarkan fakta data ngomongnya," ujar dia dalam diskusi bertema Ada 
Apa di Balik Sentimen Anti-China? di LBH Indonesia, Jalan Dipenogoro, Jakarta 
Pusat, Kamis (29/12/2016).

Haryanto mengimbau masyarakat agar tidak percaya terhadap hal-hal yang 
disebarkan media yang tidak bertanggung jawab.

"Jangan terbuai dengan judul-judul provokatif yang cenderung too good to be 
true," ucap dia.

Ignatius juga berharap masyarakat dapat memilih yang mana media mainstream, 
blog, atau media sosial terkait seberapa kredibel sumber itu.
 
"Opini (di media sosial) tentu sah-sah saja, namun pembaca juga harus memahami, 
mana op ini seorang penulis dan yang mana berita yang mengandung check and 
recheck di lapangan," tutur Ignatius.

Mobilisasi Politik

Menurut survei Saiful Mujani Reseach and Consulting (SMRC) menyebutkan, 
sentimen anti-Tiongkok a tau Tionghoa dalam masyarakat, hanya sebesar 0,8% dan 
cenderung stabil dalam kurun waktu 15 tahun.

"Secara statistik 15 tahun ini bisa dikatakan tidak ada persoalan yang 
signifikan, tapi kesan anti-China itu bervariasi. Tapi anti-China berubah-ubah 
berarti yang buat bukan tingkat massa tapi kelompok tertentu," ucap pendiri 
SMRC, Saiful Mujani, dalam diskusi tersebut.

Saiful menilai sentimen anti-Tiongkok sebuah gerakan sosial yang menjadi 
mobilisasi politik tertentu. "Jadi saya melihat bahwa rasialisme muncul bukan 
karena faktor rasialisme, tapi ada mobilisasi politik, ada yang menggunakan ras 
untuk kepentingan politik," dia menambahkan.

S aiful mengatakan, meski dalam tren rendah dan stabil, tetapi sikap 
anti-Tiongkok bervariasi. Sebab, menurut dia, sikap anti-Tiongkok bukan berada 
di tingkat massa tapi pada kelompok tertentu. 

"Selama 15 tahun begini terus, tapi kesan anti-China itu bervariasi. Tapi 
anti-China berubah-ubah, berarti yang membuat bukan tingkat massa, tapi 
kelompok tertentu," tegas dia.

Saiful menjelaskan, gerakan sosial bukanlah tindakan spontan karena kemarahan 
massa, namun lebih terkait faktor-faktor tertentu. Di antaranya political 
opportunity structure, mobilizing structure, dan framing process. 

Faktor pertama, gerakan sosial anti-Tiongkok muncul ketika kelompok terten tu 
melihat bahwa pejabat atau pemerintah yang berkuasa tidak sesuai harapan. 
Sehingga membutuhkan dukungan massa untuk menciptakan opini buruk.

"Peluang itu muncul ketika elite politik dilihat tidak solid dan bersaing, 
sehingga membutuhkan dukungan massa," ucapnya Saiful. 

Faktor yang kedua, mobilizing structure. Saiful menjelaskan, yang berarti 
gerakan anti-Tiongkok muncul hanya apabila dimobilisasi oleh suatu kelompok 
yang memiliki kekuatan. 

"Gerakan sosial hanya mungkin terjadi apabila ada organisasi yang memobilisasi 
sumber daya manusia, materi, jaringan, skill, dan simbol. Ada organisasi dan 
ada kepemimpinan," ujar Saiful. 

Ketiga, faktor framing yang menunjukkan kelompok ini berupaya menyebarkan 
doktrin tertentu dan menciptakan opini pada etnis Tionghoa di Indonesia. 

"Ya seperti ada ide, semangat, sentimen, jargon, ajaran, doktrin yang memberi 
makna, yang menarik orang hingga terbentuk solidaritas kolektif, dan bahkan 
membentuk semacam identitas atau kelompok sosial baru," saiful memaparkan.

Menurut Saiful, SMRC mensurvei sikap toleransi masyarakat terhadap kelompok 
etnis Tionghoa di Indonesia. 

Hasilnya, masyarakat masih cukup toleran terhadap keberadaan etnis Tionghoa. 
Ketidaksenangan masyarakat pada etnis ini masuk di urutan ke-8 dengan 
persentase 0,8 persen. 

Menurut survei pada November 2016, sebagian besar warga mengaku tidak suka 
kelompok radikal Islam Iraq dan Syria (ISIS), disusul dengan kelompok LGBT 
(Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), Komunis, Yahudi, Kristen, FPI, 
Wahabi, dan yang terakhir adalah etnis Tionghoa. 

"Survei terakhir pada November 2016, kelompok yang tidak disukai oleh paling 
banyak warga adalah Negara Islam Iraq dan Syria (ISIS), sebesar 25,5%. Kemudian 
LGBT 16,6%, dan Komunis 11,8%. Sementara Kristen/Katolik sebagai kelompok yang 
paling tak disukai sebesar 2,6%, da n China/Tionghoa sebesar 0,8%," papar 
Saiful.

Survei SMRC soal tingkat toleransi warga Indonesia terhadap etnis Tionghoa 
dilakukan dalam kurun 2001-2016, dengan menggunakan teknik probability sampling 
atau opini publik sementara, dan ukuran sampel tiap survei selalu di atas 1000. 
Survei ini memiliki margin of error rata-rata +/- 3,5% pada tingkat kepercayaan 
95 persen.

Kasus Ahok

Saiful menilai rasialisme muncul bukan karena faktor rasialisme, namun ada 
upaya dari ketidainginan kelompok tertentu menjadikan minoritas menjadi 
pemerintah atau pejabat terpilih. Dia mencontohkan Basuki Tjahaja Purnama atau 
Ahok.

"Sentimen anti-China ini kan tergolong stabil dan relatif konstan, seperti yang 
sudah disurve i ke masyarakat. Nah, ormas tertentu kan memang sudah dari 
sananya anti-Ahok, karena dia Kristen, dan sudah sering melakukan aksi 
anti-Ahok jauh sebelum Pilkada," kata Saiful.

Saiful mengatakan, sebelum Pilkada sentimen dari ormas tertentu kepada Ahok 
tidak terlalu besar. Fokus intoleransi pada pihak tertentu yang memobilisasi 
anti-Tiongkok tersebut, diprediksi berpeluang besar untuk memperkuat 
sentimennya jelang Pilkada.

"Teman ormas ini bertambah banyak ketika momennya pas dan beredar pidato Ahok 
tentang penistaan agama, hingga membawa massa yang besar. Bukan hanya karena 
ormas, tapi juga karena rival Ahok dan gerbong pendukungnya dalam Pilkada DKI 
membuat framing anti-China itu membesar. Nah, frame itu bukan karena masyarakat 
tidak toleran, tapi karena diciptakan," kata dia.

Saiful menambahkan, kasus penistaan agama tersebut berdampak langsung pada 
mesin politik Ahok dan pendukungnya. 

"Sebelum kasus penistaan tersebut, kaum Islam banyak yang mendukungnya dan 
memilihnya untuk menjadi pejabat. Sejak itu, sebagian besar pendukung Ahok yang 
Islam menurun, bahk an mengambang," Saiful menandaskan.

(Cynthia Lova)







Kirim email ke