http://bisnis.liputan6.com/read/2688829/opini-ekonomi-indonesia-hadapi-lawan-lawan-tak-kelihatan

Ekonomi

Liputan6 
27 Des 2016, 12:04 WIB


OPINI: Ekonomi Indonesia Hadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan





Rhenald Kasali.

Liputan6.com, Jakarta - Proyeksi ekonomi Indonesia 2017 beserta angka-angka 
pertumbuhan, inflasi, lapangan kerja, peta investasi, dan seterusnya sudah 
sering Saudara baca.

Demikian juga ancaman dan peluang dari pasca terpilihnya Donald Trump dan dunia 
yang semakin protektif. Kehidupan berusaha dan berprofesi di tahun-tahun 
mendatang juga tidak akan lebih mudah karena muncul peta yang sama sekali baru.

Banyak hal-hal baru yang menakutkan incumbents hadir di depan mata. Salah 
satunya, proses penghancuran melalui inovasi, bisnis model, dan disrupsi.

Lawan-Lawan Tak Kelihatan

Yang jelas para usahawan tengah menghadapi kompetisi baru yang identitasnya tak 
begitu kelihatan. Seperti Blue Bird dan Express yang kecolongan Grab dan Uber. 
Lawan itu datang tanpa logo, tanpa pelat nomor kuning, dan tak ada tulisan 
taksi. Tahu-tahu armada itu sudah besar dan menggerogoti penerimaan perusahaan.

Akibatnya, Express rugi Rp 81 miliar per kuartal ketiga 2016. Sedangkan laba 
Blue Bird turun dari Rp 625,42 miliar ke Rp 360 miliar pada kuartal ketiga 2016.

Pada 2016 akhir, kita juga mendengar banyak kalangan pemilik hotel yang 
menyatakan keinginan untuk exit dari industri ini per kuartal III 2016. 
Alasannya adalah kontraksi dana APBN yang membuat okupansi hotel untuk 
keperluan meeting pemerintah berkurang.

Faktanya, para traveler pemula (the millenials) tengah beralih dari hunian 
hotel ke penginapan-penginapan berbasiskan sharing economy, seperti Airbnb dan 
Couchsurfing. Di Bali, di sepanjang Jalan Sunset Road, tumbuh rumah-rumah kos 
elite yang ditawarkan dengan pola ini.

Belum lagi restoran-restoran yang kelak akan kehilangan pengunjung dengan 
tawaran-tawaran makan siang atau malam bersama penduduk di rumah-rumah mereka 
melalui platform sharing economy.

Lantas, bagaimana dengan produk sehari-hari? Ambil saja produk makanan. Sejak 
tahun 2009 konsumen kelas menengah dunia sudah mulai meninggalkan makanan dalam 
kemasan, beralih ke makanan segar dan organik.

Di berbagai kota besar di Indonesia, kita saksikan rombongan tukang sayur 
bersepeda motor semakin banyak mendatangi kawasan perumahan. Lalu toko 
buah-buahan segar dan sayuran tumbuh pesat.

Di Amerika Serikat sendiri, sejak tahun itu 25 produsen utama makanan olahan 
telah kehilangan pendapatan sebanyak US$ 18 miliar.

Di Laut juga Berubah

Masalah dalam angkutan laut ternyata juga sama. Lagi-lagi banyak pihak salah 
membaca menyusul bangkrutnya raksasa Shipping Lines, Hanjin (Korea) yang 
menguasai pangsa pasar 3 persen dunia.

Umumnya para analis menunjuk pelemahan pertumbuhan ekonomi dan melemahnya 
harga-harga komoditi dunia, yang bahkan mengakibatkan harga kapal anjlok 60 
persen dari harga semula.

Akan tetapi, fenomena ini sebenarnya tak berbeda jauh dengan fenomena bisnis 
taksi, sebab shipping company kini tak perlu lagi mempunyai kapal sendiri. 
Cukup menjadi operator saja. Jadi, order angkutan barang dari Kalimantan 
menjadi mahal kalau harus diangkut dengan kapal dari Jakarta. Kini operator 
cukup mengontak kapal-kapal yang ada di dekat lokasi yang pasti lebih murah.

Dengan strategi ini, Djakarta Lloyd yang dulu juga sempat terancam bangkrut 
antara 2008-2013 rugi terus dengan total Rp 554 miliar, kini sudah kembali 
sehat dengan catatan keuangan di tahun 2016 mampu menorehkan laba bersih Rp 40 
miliar, sebagai operator company.

Gerak perusahaan operator ini memang tak kelihatan dan begitu luas di seluruh 
industri dan sektor, tetapi selalu disangkal incumbent. Padahal, perubahan ini 
sudah mengikuti hukum moore yang terjadi secara eksponensial, supercepat.

Saya harap bulan depan anda sudah bisa membaca kajiannya dalam buku saya yang 
berjudul Disruption. "Sekalipun Anda Incumbent, dan menghadapi lawan-lawan tak 
kelihatan, cegah kehancuran sekarang juga."

Saya harap Anda bersabar dulu. Jadi ini adalah sebuah era yang membutuhkan 
disruptive regulation, disruptive mindset, dan disruptive marketing.

Mari Kita Kenali Ciri-Cirinya

Pertama, teknologi mengubah kita semua dari peradaban time series menjadi real 
time. Time series statistic menghasilkan indikator-indikator lagging 
(ketinggalan). Ia menghitung dengan benar, tetapi basis datanya adalah masa 
lalu.

Peradaban real time bisa menghasilkan indikator-indikator kekinian (current 
indicator), saat ini, yaitu saat kita menghadapinya sehingga lebih relevan 
untuk membuat keputusan. Ini tentu berkat teknologi big data analitycs.

Kedua, dulu untuk berbisnis, Anda harus memilikinya sendiri. Kini Anda bisa 
saling memanfaatkan resources. 

Ketiga dulu, teknologi tak memungkinkan kesegeraan. Kita semua harus antri (on 
the lane), sabar dan rela menunggu. Kini, Anda hidup dalam on demand economy. 
Jarak sudah mati, stok, data, dan armada, sudah dipindahkan ke dekat lokasi 
yang membutuhkannya. Teknologi dan algoritma data besar memungkinkan bagi kita 
untuk melakukannya.

Keempat, kurva supply-demand yang dulu Anda pelajari adalah 
permintaan-dan-penawaran tunggal. Kini kita hidup dalam dunia apps yang pada 
saat bersamaan dikerjakan oleh puluhan, bahkan ribuan jejaring.

Kelima, musuh-musuh Anda (kompetitor) sudah tak lagi kelihatan. Mereka langsung 
masuk ke sasaran-sasaran utama, kepada konsumen, door to door, langsung. 
Seperti Uber yang tak kelihatan, tak berbendera, tak bertanda apa-apa.

Sekali lagi, sejak dunia mengenal hukum Moore, disruption ini bersifat 
eksponensial, bukan linear. Artinya supercepat. Bayangkan apa jadinya kalau 
Anda terlalu lama membuat keputusan, desain perusahaan rigid dan statik, dan 
pegawai Anda bermental passenger?

Selamat Tahun Baru, 2017. Happy Holiday.


Rhenald Kasali

Guru Besar Ilmu Manajemen UI

@Rhenaldkasali

Kirim email ke