"Yang paling penting, dengan menjadi pemain Jathilan, sikap-sikap toleran 
otomatis akan menyatu dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Desa kami memiliki 
tradisi muslim yang kuat, tapi kami mampu menyatu dengan tradisi di luar muslim 
yang hidup di sekitar kami," kata Suhadi.

 ...
 Harmoni Keberagaman Semesta dalam Tarian Agraris 
http://regional.liputan6.com/read/2686339/harmoni-keberagaman-semesta-dalam-tarian-agraris
 
 http://www.liputan6.com/me/edhie.prayitno Edhie Prayitno Ige 
http://www.liputan6.com/me/edhie.prayitno 23 Des 2016, 20:00 WIB


 

 

 Liputan6.com, Semarang - Sriyanto (36), sudah bangun pagi-pagi. Biasanya, usai 
menjalankan salat subuh, ia tetap ke sawahnya yang kali ini dia tanami cabai 
rawit. Namun kali ini ada yang berbeda. Ia menyiapkan sejumlah kostum serba 
berwarna putih.
 

 Selesai semua, ia baru menengok sawahnya. Namun di sana ia juga tak betah 
berlama-lama. Hanya dus jam ia melihat-lihat tanaman cabainya. Dengan buru-buru 
ia pulang.
 

 
 "Hooh je. Ngko main neng Keron dadine mulih gasik. Nonton orang Lik? (Iya. 
Nanti main di dusun 
Keron, jadi pulang lebih awal. Mau nonton enggak, paman?)," kata Sriyanto 
menjawab pertanyaan 
seseorang yang berjumpa di sawah.
 

 Sriyanto adalah seorang petani dari Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan 
http://regional.liputan6.com/read/2530333/safari-ramadan-marjo-muntilan-layani-selfie-sampai-mengaji,
 Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sedayu adalah sebuah desa yang memiliki 
tradisi muslim yang kuat dan taat. Di desa itu terdapat sebuah kelompok seni 
jathilan bernama Rukun Agawe Santosa. Meskipun bertradisi muslim sangat kuat, 
namun kehidupan kesenian Jathilan juga sudah mendarah daging.
 

 Menurut Suhadi, Ketua Kelompok Seni Jathilan 
http://regional.liputan6.com/read/2501815/sensasi-hollywood-ala-kulonprogo-belakang-makam-tempat-jathilan
 Rukun Agawe Santosa (RAS), ia hanya meneruskan dan menjaga denyut seni tari 
yang sangat identik dengan kondisi trance.
 

 
 “Sebenarnya ada dua jenis. Pertama Jathilan, kedua adalah seni Jathilan 
Campur. Kenapa semua 
dijaga, karena bentuk seni pertunjukan satu ini sudah menggambarkan harmoni dan 
keseimbangan semesta,” kata Suhadi, Jumat (23/12/2016).
 

 
 Karakter Imajinatif 

 

 Menurut Suhadi, dalam kesenian Jathilan maupun Campur, sejatinya menyampaikan 
pesan harmoni keberagaman semesta. Disebutkan dalam sebuah Jathilan selalu 
berisi banyak karakter. Misalnya, pasukan berkuda, buto (raksasa), tokoh 
pewayangan, karakter binatang dan karakter lain yang imajinatif. 
Karakter-karakter imajinatif itu mewakili adanya kehidupan di luar kehidupan 
manusia awam.
 

 Perbedaan-perbedaan itu ternyata tetap bisa disatukan oleh musik pengiring 
atau musik illustrasi. Jathilan masa kini memang berbeda dengan Jathilan 
klasik, ilustrasi musik di beberapa kelompok ditambah dengan alat musik 
diatonis dan perkusi modern seperti keyboard dan juga drum.
 

 "Tapi lihatlah, karakter-karakter yang berbeda watak itu bisa menyatukan gerak 
mereka mengikuti ritme musik," kata Suhadi.
 

 Suhadi sendiri sempat mengeluhkan banyaknya sikap intoleran yang belakangan 
menonjol di Indonesia. Ia berani memastikan bahwa kelompok intoleran itu lebih 
disebabkan karena tak memiliki akar budayanya sendiri.
 

 Dalam sebuah pertunjukan Jatilan, ada babak yang bernama kiprah. Babak ini 
adalah tarian bebas menyesuaikan dengan karakter yang ada. Sosok buto (raksasa) 
akan menari dengan berangasan, karakter binatang akan menyesuaikan dengan gerak 
gerik binatang.
 

 "Meski memiliki ciri gerak berbeda, namun mereka disatukan oleh ilustrasi 
musik, sehingga mereka tidak saling mengganggu. Memang ada semacam drama. 
Misalnya karakter binatang macan akan selalu mengejar karakter binatang yang 
menjadi mangsanya, namun karena ada kesadaran ruang, mereka malah membentuk 
suatu harmoni yang bisa menghibur penontonnya," kata Suhadi.
 

 Dalam pertunjukan jathilan Muntilan ini, babak yang ditunggu penonton memang 
babak kiprah di mana puncaknya adalah para pemain akan mengalami trance. 
Meskipun demikian, dalam kondisi tidak sadar dan hanyut terbawa alunan musik 
pengiring, para pemain ini masih mampu menari dengan membentuk sebuah harmoni. 
Bukan hanya harmoni gerak, namun juga harmoni bunyi yang dihasilkan dari bunyi 
giring-giring yang diikat di kaki mereka, juga harmoni warna yang ditunjukkan 
melalui pakaian dan make up mereka.
 

 Yang menarik, jathilan Muntilan ini selalu tampil kolosal. Minimal membawa 80 
pemain, tak satu pun mereka memiliki tukang rias. Para pemain ini akan merias 
dirinya sendiri sesuai karakternya dan selera mereka.
 

 "Anehnya, hasil riasan mereka ternyata membentuk sebuah harmoni berbeda lagi 
dengan pemain lain. Dan itu dicapai tanpa komunikasi," kata Suhadi.
 

 
 Sriyanto, petani yang disebut di awal tulisan ini, selalu memerankan karakter 
Hanoman. Meskipun tak ada karakter Rahwana yang menjada lawan Hanoman, namun ia 
selalu mampu membentuk keselarasan dengan riasan maupun gerak penari lain, 
tanpa harus kehilangan ciri karakter geraknya sebagai Hanoman.
 

 Kontemplatif 

 

 "Yang paling penting, dengan menjadi pemain Jathilan, sikap-sikap toleran 
otomatis akan menyatu dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Desa kami memiliki 
tradisi muslim yang kuat, tapi kami mampu menyatu dengan tradisi di luar muslim 
yang hidup di sekitar kami," kata Suhadi.
 

 Semua karakter yang ditarikan secara skenario memang dibuat bermusuhan. 
Misalnya pasukan berkuda dibuat dua kelompok yang bermusuhan. Namun sebagai 
bahan kontemplasi, dalam sebuah peperangan mereka akan bergantian mengalami 
kekalahan.
 

 "Yang menang tak boleh jumawa dan merasa hebat, yang kalah tak perlu malu dan 
rendah diri. Hidup itu berputar. Baik dan jahat itu ada di benak masing-masing 
orang. Sejauh mana mampu mengelola dan mengubahnya menjadi baik sangka, itu 
inti sari hidup," kata Suhadi.
 

 Perbedaan yang terjadi akhir-akhir ini lebih berlatar belakan beda agama, 
keyakinan, atau etnis. Namun dalam sebuah seni jathilan 
http://regional.liputan6.com/read/2501815/sensasi-hollywood-ala-kulonprogo-belakang-makam-tempat-jathilan,
 ternyata perbedaan justru lebih kompleks. Bukan hanya isi kepala, namun juga 
berbeda wujud, berbeda dunia.
 

 "Perbedaan sekarang itu sebatas kulitnya saja karena masih sama-sama manusia. 
Belajarlah bermain jathilan, maka akan mengerti bagaimana perbedaan wujud, 
karakter, keyakinan, isi kepala, makanan bukanlah halangan membentuk suatu 
harmoni," kata Suhadi.
 

 Begitulah. Ketika gamelan pengiring sudah memasuki fase tembang Macapat 
Megatruh, semua akan berkontemplasi. Sriyanto yang memainkan karakter Hanoman, 
Ardi yang membawakan karakter Buto Ijo (Raksasa Hijau), Mbah Sarno yang 
memerankan Penthul (sosok manusia kebanyakan) semua memang masih trance dan 
tidak sadar.
 

 Banyak yang menyebut mereka kerasukan. Namun kerasukan kali ini tak ada 
anarkisme, tak ada sifat destruktif. Justru di akhir babak mereka diajak 
berkontemplasi melalui tembang.
 

 Penonton bubar dengan puas. Pemain lemas namun juga puas.
 

Kirim email ke