http://www.jawapos.com/read/2017/01/02/74505/meneropong-konstelasi-politik-nasional-2017-makin-panas-jika
 
http://www.jawapos.com/read/2017/01/02/74505/meneropong-konstelasi-politik-nasional-2017-makin-panas-jika

  
 Senin, 02 Januari 2017 07:03
 Meneropong Konstelasi Politik Nasional 2017: Makin Panas jika...
 






 
 Bagikan via Facebook (146) Twitter (0)  
http://twitter.com/share?text=Meneropong%20Konstelasi%20Politik%20Nasional%202017:%20Makin%20Panas%20jika...&url=http://www.jawapos.com/read/2017/01/02/74505/meneropong-konstelasi-politik-nasional-2017-makin-panas-jikaGoogle+
 (0) 
https://plus.google.com/share?url=http://www.jawapos.com/read/2017/01/02/74505/meneropong-konstelasi-politik-nasional-2017-makin-panas-jika
 JAWA POS


 -ILUSTRASI: Presiden Joko Widodo saat menemui Ketua MPR Zulkifli Hasan


 Tahun 2016 ditutup dengan situasi politik nasional yang dinamis. Upaya 
pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi terhambat berbagai isu 
politik. Realitas itu sangat mungkin terulang pada 2017 jika tidak ada upaya 
antisipasi yang lebih strategis.
 
---

SITUASI politik nasional pada 2016 dimulai dengan kegaduhan kasus ''papa minta 
saham'' yang melibatkan Ketua DPR Setya Novanto. Konflik tersebut mencuat 
setelah Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menyelesaikan 
konflik internal mereka pada semester awal tahun.

Meski konflik PPP tetap berlanjut sampai akhir 2016, gaungnya tidak sekuat pada 
2015. Bersamaan dengan itu, pemerintah dan DPR pun meloloskan UU Pengampunan 
Pajak untuk kali pertama.

Dinamika politik berkembang lagi setelah presiden memutuskan untuk melakukan 
reshuffle kabinet jilid II. Salah satu topik yang menghangat pasca-reshuffle 
adalah kasus kewarganegaraan mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral 
(ESDM) Arcandra Tahar. Arcandra sempat dicopot, tapi diangkat kembali menjadi 
wakil menteri ESDM tanpa pengawasan kritis dari parlemen.

Konstelasi politik nasional kembali memanas pada akhir tahun. Tidak lagi 
terkait dengan parpol, pemicunya kali ini adalah kasus dugaan penistaan agama 
oleh Gubernur (nonaktif) DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Sorotan deras 
media massa dan media sosial terhadap kasus Ahok, tampaknya, menghambat 
berbagai kebijakan pemerintah. Hal itu ditambah isu makar yang menghiasi aksi 
massa terhadap kasus Ahok.

Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan Arsul Sani menilai, 2017 menandakan 
makin dekatnya pemilu nasional serentak yang terdiri atas pemilu legislatif dan 
pemilu presiden. Dia memperkirakan situasi politik akan lebih dinamis. ''Namun, 
apakah dinamisnya masih dalam kerangka konstruktif atau bercampur hal-hal yang 
destruktif, ini dipengaruhi banyak faktor,'' katanya saat dihubungi.

Menurut dia, kasus Ahok adalah salah satu faktor. Dia menilai, harus ada 
jaminan bahwa proses peradilan yang berlangsung tidak diintervensi kekuatan 
politik atau kekuatan modal mana pun. ''Ketika sudah diintervensi, potensi 
respons yang masuk dalam kerangka destruktif akan menjadi tinggi,'' kata Arsul 
mengingatkan.

Selain itu, daya kritis masyarakat saat ini meningkat. Karena itu, pemerintah 
mulai saat ini lebih baik intens mengomunikasikan kebijakan-kebijakannya kepada 
publik. Kasus tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok juga termasuk isu 
sensitif. ''Kami melihat arahnya menjadikan suatu kawasan sebagai kawasan elite 
seperti halnya proyek reklamasi itu,'' ujarnya.

Dari isu parpol, pembahasan yang paling krusial pada 2017 adalah sejumlah poin 
dalam RUU Pemilu. Menurut Arsul, pembahasan RUU Pemilu akan memunculkan 
dinamika antar kepentingan parpol mengingat masa pembahasannya cukup terbatas. 
''Saya melihat, kalau soal pembahasan legislasi pemilu, meski bisa jadi alot, 
tidak akan menimbulkan gejolak politik yang tinggi,'' ungkapnya.

Secara keseluruhan, dia mengimbau kepada pemerintah untuk meningkatkan 
komunikasi publik. Keterpaduan komunikasi publik dari jajaran pemerintahan akan 
sangat diperlukan, termasuk dalam kasus-kasus yang menyangkut penegakan hukum. 
''Sudah bukan masanya model komunikasi penegakan hukum yang mengedepankan 
ancaman proses pidana."

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai, situasi politik 2017 akan dipengaruhi 
berbagai imbas yang terjadi pada 2016. Dengan berbagai dinamika tersebut, 
terutama kasus Ahok, pemerintah justru memberikan respons dengan kebijakan yang 
mengancam demokrasi. Kebijakan terbaru adalah rencana memantau perbincangan 
masyarakat melalui berbagai aplikasi percakapan dan media sosial. 

Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo menilai, perhatian khusus harus diberikan 
pemerintah pada agenda pemilihan kepala daerah serentak pada Februari 2017. 
Konstelasi politik pilkada menghangat karena masih ada persidangan kasus dugaan 
penistaan agama oleh Ahok. ''Harus dipastikan bahwa agenda nasional seperti 
pilkada serentak 2017 berjalan tertib dan damai,'' katanya.

Dia menyatakan, Polri harus bisa mengantisipasi dan mengelola apa pun reaksi 
publik atas putusan majelis hakim dalam kasus Ahok. Jika memungkinkan, 
sebaiknya aksi pengerahan massa untuk merespons vonis majelis hakim tidak lagi 
dilakukan. Sebab, pengerahan massa ke pusat pemerintahan sekaligus jantung 
bisnis Jakarta sudah menimbulkan sejumlah ekses. 

Bambang juga mengingatkan, hal yang tidak kalah penting adalah terus mengamati 
dan mengantisipasi pergerakan terbaru kelompok militan ISIS (Islamic State of 
Iraq and Syria) setelah kekalahan di Aleppo Timur, Syria. Jika pasukan Syria 
dan Rusia terus menggempur, tidak tertutup kemungkinan pasukan ISIS akan keluar 
dari kawasan tersebut. ''Panglima TNI dan presiden Filipina sudah mengungkap 
rencana ISIS membangun basis di Filipina Selatan,'' ungkapnya. (bay/c5/agm)









 

 

 

Kirim email ke