http://aceh.tribunnews.com/2016/12/26/pakar-dan-pemerhati-sejarah-aceh-bahas-sosok-cut-meutia-di-uang-rp-1000

Pakar dan Pemerhati Sejarah Aceh Bahas Sosok Cut Meutia di Uang Rp 1.000
Kegiatan ini digelar di 3 in 1 Coffee Lampineung, Banda Aceh, Selasa 
(27/12/2016) pukul 13.45 WIB.
Senin, 26 Desember 2016 20:55

Dok. BI
Uang NKRI baru pecahan Rp 1.000 

Laporan Zainal Arifin M Nur | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sejumlah pakar dan pemerhati sejarah Aceh, Selasa 
siang ini (27/12/2016), dijadwalkan hadir dalam grup diskusi untuk membahas 
sosok Pahlawan Nasional Cut Meutia.

Focus Grup Discussion (FGD) bertajuk "Hijab untuk Cut Mutia" diinisiasi oleh 
Anggota DPRA dari PAN Asrizal H Asnawi, Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), 
serta Sekolah Hamzah Fansuri.

Kegiatan ini digelar di 3 in 1 Coffee Lampineung, Banda Aceh, Selasa 
(27/12/2016) pukul 13.45 WIB.

Asrizal H Asnawi menyebutkan, diskusi ini dilaksanakan untuk mengupas tuntas 
sosok Cut Meutia dan nilai-nilai perjuangannya dalam mengusir penjajah serta 
menegakkan Agama Islam.

Asrizal mengatakan, diskusi tersebut akan difokuskan pada pembahasan "apakah 
benar Cut Meutia pernah berfoto tanpa menggunakan penutup kepala?"

Serta dari mana sumber gambar wanita tidak berkerudung yang selama ini 
digunakan untuk pengganti foto Cut Meutia, termasuk dalam uang kertas Rp 1.000 
yang dirilis Bank Indonesia beberapa hari lalu.

Unsur panitia dari Sekolah Hamzah Fansuri, Thayeb Lhoh Angen menyebutkan, di 
antara pakar dan pemerhati sejarah yang diundang hadir dalam kegiatan tersebut 
adalah:

* Dr Husaini Ibrahim MA, arkeolog Unsyiah dan Yayasan Warisan Aceh Nusantara 
(Wansa)
* Taqiyuddin Muhammad, Peneliti Sejarah Kebudayaan Islam dari CISAH (Central 
Information for Samudra Pasai Heritage)
* Harun Keuchik Leumiek, budayawan dan kolektor pakaian serta perhiasan 
bangsawan Aceh.
* Tuwanku Warul Walidin bin Tuwanku Muhammad Yusuf, cicit Sultan Aceh 
Darussalam terakhir
* Asrizal H Asnawi, Anggota DPR Aceh dari partai PAN
* Mukhlis Mukhtar SH, Advokad YARA
* Haikal Afifa dari Institut Peradaban Aceh
* Muhajir Ibnu Marzuki dari Sekolah Hamzah Fansuri

"Kita sengaja mengundang handai taulan untuk bersama-sama membicarakan tentang 
bagaimana sejarah kita yang sebenarnya. Karena ada dugaan pembelokan sejarah 
Aceh, terutama tentang sosok pejuang perempuan Aceh oleh pihak kolonial," ucap 
Asrizal.

Asrizal mengatakan, acara ini dimoderatori oleh Munawar Liza Zainal, salah 
seorang politisi Aceh, yang pernah menjabat wali kota Sabang.

Asrizal dan Thayeb Lhoh Angen berharap para pihak yang peduli dengan syariat 
Islam serta sejarah perjuangan rakyat Aceh untuk menghadiri acara ini.

"Diskusi ini terbuka untuk umum dan gratis," kata Asrizal. (*)

Kirim email ke