res : Kalau tahun 2016 masih impor beras, dan impornya dalam jumlah besar , 
jadi stock beras penuh di gudang, maka pada permulaan tahun bisa senang tidak 
ada lagi impor beras. hehehehehehe

http://mediaindonesia.com/news/read/86190/jokowi-saya-senang-tidak-ada-lagi-impor-beras/2017-01-05

Jokowi: Saya Senang tidak Ada Lagi Impor Beras

Kamis, 5 January 2017 17:38 WIB   Penulis: Nur Aivanni 



PRESIDEN Joko Widodo bersyukur Indonesia tidak lagi mengimpor beras. Hal itu 
diutarakannya saat memberikan sambutan dalam Rapat Kerja Nasional Pembangunan 
Pertanian Tahun 2017.

Ia menceritakan biasanya pada bulan September dan Oktober digelar rapat 
terbatas (ratas) untuk mengatasi kekuarangan stok beras dan pengendalian 
harganya.

"Saya sangat bersyukur dalam dua tahun ini kaya beras. Soal beras itu kalau 
sudah masuk September biasanya ada rapat terbatas, kita mau impor berapa. Ini 
September kemarin kok tidak ada permintaan ratas. Saya juga tenang-tenang saja, 
senang saya," ungkapnya di Jakarta, Kamis (5/1).

Jokowi mengutarakan persediaan beras di Bulog ternyata meningkat dua kali 
lipat. Bila pada 2015 persediaan beras di akhir tahun kurang dari 800 ribu ton, 
di akhir 2016 persediaan mencapai 1.734.000 ton.

"Artinya sudah meningkat dua kali lebih sehingga benar pada September tidak ada 
ratas. Tidak ada ratas (bahas) mau impor berapa karena stoknya sudah dua kali 
lipat lebih," jelasnya.

Terkait komoditas jagung, Jokowi melanjutkan bahwa impor jagung pun sudah 
berhasil diturunkan. Bila sebelumnya impor jagung mencapai 3,2 juta ton, pada 
2016 impor jagung hanya 900 ribu ton.

"Anjlok langsung, kenapa anjlok seperti ini? Karena pasti pasti ada produksi 
yang sangat meningkat, pasti ada produksi yang sudah melompat dan saya meyakini 
tahun depan 900-nya sudah akan hilang, kalau pekerjaan lapangannya dikerjakan 
secara detail," tandasnya. (X-12)

- See more at: 
http://mediaindonesia.com/news/read/86190/jokowi-saya-senang-tidak-ada-lagi-impor-beras/2017-01-05#sthash.lB4DKscQ.dpuf
 

+++++
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20151227211740-92-100585/mendag-2016-ri-masih-impor-pangan/

Mendag: 2016 RI Masih Impor Pangan
Yoko Sari, CNN IndonesiaSenin, 28/12/2015 04:22 WIB

  a..  a.. Impor pangan, termasuk beras, masih akan dilakukan pemerintah 
Indonesia untuk penuhi pasok dan redam kenaikan harga. (Antarafoto/Vitalis Yogi 
Trisna)
Kupang, CNN Indonesia -- Menteri Perdagangan Thomas Lembong menyatakan, 
pemerintah sulit menghindari impor pangan pada tahun 2016 untuk menjaga 
ketersediaan dan meredam kenaikan harga di pasar dalam negeri.

"Neraca perdagangan tahun 2015 kita surplus cukup besar sehingga masih ada 
ruang untuk impor pangan. Kita harus menjaga keseimbangan supaya neraca jangan 
terlalu amblas, di sisi lain jangan sampai harga pangan melonjak," kata Mendag 
di sela-sela persiapan Perayaan Natal Nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 
Minggu (27/12).

Thomas mengatakan, surplus perdagangan pada tahun 2015 mencapai US$7 miliar 
hingga US$9 miliar. 

Menteri Perdagangan mengatakan belum puas dengan kondisi dan tren kenaikan 
harga pangan dalam negeri yang saat ini terjadi, dan untuk mengatasinya impor 
bahan pangan tidak bisa dihindari. 

      Pilihan Redaksi
        a.. Produktivitas Rendah jadi Alasan Mendag Permudah Impor Beras
        b.. Bulog akan Impor 600 Ribu Ton Jagung di Kuartal I 2016
        c.. Pasokan Daging Terbatas, Pedagang Bakso Terancam Gulung Tikar 
Thomas menambahkan langkah ini bertujuan untuk penguatan stok dan memenuhi 
kebutuhan domestik, serta menunggu peningkatan produktivitas sektor pertanian 
dalam beberapa tahun kedepan.

"Presiden dan Wakil Presiden sudah menyatakan beberapa kali bahwa swasembada 
pangan itu tujuan jangka menengah. Kita perlu waktu untuk 'menyerang' masalah 
dari akar atau fundamentalnya seperti pembangunan waduk, jalur irigasi dan 
memperbaiki logistik," kata Thomas.

Thomas mengatakan, bahan pangan yang akan diimpor pada tahun 2016 antara lain 
adalah beras, daging sapi berupa sapi bakalan dan gula mentah. 

Indonesia merencanakan mengimpor sapi sebanyak700-800 ribu ekor, sementara gula 
mentah di atas tiga juta ton.

"Ini angkanya masih belum final. Sementara untuk beras, saya yakin akan ada 
kebutuhan impor lagi di luar impor 1,5 juta ton yang disepakati pada September 
2015," kata Tom.

Tom menjelaskan, jumlah impor beras pada tahun 2016, saat ini masih dihitung di 
kantor Menteri Koordinator Perekonomian dan bekerja sama dengan Perum Bulog. 

Pemerintah Jokowi memutuskan memutuskan untuk mengimpor beras dari Thailand dan 
Vietnam sebanyak kurang lebih 1,5 juta ton pada 2015. Bahkan, pemerintah juga 
mencari negara pemasok lain seperti Pakistan akibat keterlambatan dalam 
pengambilan keputusan importasi beras tersebut.

Rencana impor beras tersebut disebabkan adanya pergeseran musim tanam akibat El 
Nino.

Saat ini beras impor belum mencapai satu juta ton sehingga masih akan ada 
kiriman beras pada kuartal pertama tahun 2016, akan tetapi Thomas yakin masih 
akan diperlukan impor beras untuk memperkuat dan menjaga stok bahan pokok ini. 

Pemerintah sebelumnya mengakui, tata niaga khususnya yang terkait dengan 
distribusi belum sepenuhnya memuaskan, sehingga akan ada upaya untuk 
mendistribusikan impor pangan tersebut langsung ke masyarakat.

Beberapa waktu lalu, pemerintah akhirnya memutuskan untuk mengimpor beras dari 
Thailand dan Vietnam sebanyak kurang lebih 1,5 juta ton. Bahkan, pemerintah 
juga mencari negara pemasok lain seperti Pakistan yang dikarenakan 
keterlambatan dalam pengambilan keputusan importasi beras tersebut.

Sementara berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) 
Kementerian Perdagangan, pada Kamis (26/11), harga rata-rata nasional beras 
kualitas medium sebesar Rp10.620,59 , sementara pada Sabtu (26/12), harga bahan 
pokok tersebut mengalami kenaikan menjadi sebesar Rp10.675,37 per kilogram. 

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik, pada Oktober 2015 lalu, rata-rata 
harga beras kualitas medium di tingkat penggilingan mengalami kenaikan sebesar 
0,24 persen, menjadi sebesar Rp8.960,96 per kilogram, dan pada September 2015 
tercatat sebesar Rp8.939,61 per kilogram. (ANTARA/yns)

+      

Kirim email ke