"Kami disuruh pindah ke rusun dengan kewajiban membayar sewa setiap bulannya. 
Sementara, rumah yang dulu kami dapatkan dengan tetesan keringat dan darah 
dihancurkan begitu saja tanpa ada ganti rugi," ungkap Mulyadi.
...Setelah beberapa bulan menyandang status sebagai penghuni rusun, nasib Yanti 
dan keluarganya nyaris berbalik 180 derajat. "Kehidupan kami sekarang 
betul-betul terpuruk di sini. Pendapatan jadi jauh berkurang, sedangkan biaya 
hidup semakin meningkat," ungkap perempuan itu.
...Mengenang Tangisan Warga Korban Penggusuran

  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Mengenang Tangisan Warga Korban Penggusuran | Republika Online
   Republika/Raisan Al Farisi                        Mulyadi (43 tahun) masih 
mengingat jelas peristiwa pahit yan...  |   |

  |

  |

 
Jumat , 16 Desember 2016, 16:00 WIB Republika/Raisan Al Farisi               
Mulyadi (43 tahun) masih mengingat jelas peristiwa pahit yang menimpanya pada 
September lalu. Dia menyaksikan sendiri rumah yang dihuninya bersama 
keluarganya selama berpuluh-puluh tahun, hancur seketika dihantam alat-alat 
berat yang dikerahkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Pemerintah 
Kota (Pemkot) Jakarta Selatan (Jaksel). Mulyadi mengenang, aparat gabungan 
Satpol PP, polisi, dan TNI menjaga ketat proses perobohan permukiman warga di 
sepanjang bantaran Sungai Ciliwung. Isak tangis ibu-ibu, nenek-nenek, dan anak 
kecil yang melihat ekskavator menggaruk habis puluhan rumah tidak menghentikan 
tindakan petugas yang menjalankan perintah atasannya.

"Ahok (Basuki Tjahaja Purnama-Red) mungkin tidak pernah peduli dengan tangisan 
warga Bukit Duri yang dia gusur itu," ucap Mulyadi kepada Republika, kemarin. 
Selain hunian milik Mulyadi, ada puluhan rumah lainnya di RT 06 RW 12 Kelurahan 
Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jaksel, yang ikut dibongkar aparat ketika itu. 
Para warga pun hanya bisa pasrah menyaksikan hunian mereka diratakan dengan 
tanah. 

Menurut Mulyadi, Ahok sudah memberikan mimpi buruk bagi puluhan keluarga yang 
dulu mendiami RT 06 RW 12 Bukit Duri. Mantan bupati Belitung Timur itu, 
dinilainya tidak hanya mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dalam memperlakukan 
rakyat kecil di Ibu Kota, tetapi juga meremehkan proses hukum yang sedang 
berjalan. Sebagai buktinya, eksekusi terhadap permukiman di Bukit Duri, 
beberapa bulan lalu, dilakukan Ahok pada saat gugatan kelompok (class action) 
warga atas kebijakan penggusuran tersebut sedang ditangani oleh Pengadilan 
Negeri Jakarta Pusat.

"Kemarin, ketika Ahok hadir sebagai terdakwa dalam sidang kasus penodaan agama 
di PN Jakarta Utara, dia menangis. Saya pikir tangisannya itu hanya air mata 
buaya. Dia tidak sadar, betapa banyak air mata warga yang tumpah akibat 
perlakuannya yang sewenang-wenang terhadap rakyat miskin di kota ini," ujar 
Mulyadi.

Selepas penggusuran Bukit Duri, pria itu mengaku kehidupan keluarganya semakin 
sulit. Kini, Mulyadi beserta istri dan tiga orang anaknya terpaksa mengontrak 
kamar berukuran 3x5 meter di sebuah rumah yang berada di kawasan Kampung 
Melayu, Jakarta Selatan. Selain dia, ada 19 keluarga eks Bukit Duri lainnya 
yang juga menyewa kamar di rumah yang sama. Sebagian dari mereka adalah 
perempuan lanjut usia, anak-anak, dan kaum dhuafa. "Rumah yang kami sewa ini 
punya 20 kamar. Tapi, yang dihuni cuma 19 kamar, yang satunya lagi kami jadikan 
gudang," ucap Mulyadi.

Saat Republika menyambangi 'kediaman baru' Mulyadi, suasana di rumah itu tidak 
jauh berbeda dengan panti sosial. Warga yang tinggal di sana harus memasak di 
dapur bersama untuk memenuhi kebutuhan makan harian mereka. Sebagian dari 
mereka ada pula yang terpaksa membeli lauk di warung tegal (warteg) di sekitar 
situ, karena tidak kebagian tempat memasak.

Untuk bisa tetap tinggal di rumah itu, Mulyadi mengatakan, setiap penghuni 
kamar mesti membayar sewa Rp 430 ribu per bulan kepada pemilik rumah. "Tentu 
saja biaya hidup kami sekarang semakin meningkat dengan adanya beban sewa 
bulanan ini. Tapi, ini jauh lebih manusiawi daripada harus pindah ke Rusun 
(Rumah Susun) Rawa Bebek," ujar lelaki yang sehari-harinya bekerja sebagai 
buruh di Pasar Jatinegara itu.

Sebelum penggusuran Bukit Duri terjadi, Mulyadi mengatakan, Pemprov DKI memang 
pernah menawarkannya untuk pindah ke Rusun Rawa Bebek yang terletak di 
Kelurahan Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur. Namun, dia menolak tinggal di 
rusun itu. Alasannya, lokasi rusun yang berjauhan dari tempatnya bekerja bakal 
membuat beban hidup keluarganya semakin tinggi. Menurut dia, program relokasi 
ke rusun yang diterapkan Ahok saat ini sangat tidak manusiawi untuk rakyat 
kecil sepertinya.

"Kami disuruh pindah ke rusun dengan kewajiban membayar sewa setiap bulannya. 
Sementara, rumah yang dulu kami dapatkan dengan tetesan keringat dan darah 
dihancurkan begitu saja tanpa ada ganti rugi," ungkap Mulyadi.

Pengalaman serupa dialami Yanti (38). Dia masih ingat betul kejadian yang 
menimpanya delapan bulan lalu, tatkala rumahnya yang berada di Kampung 
Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, diluluhlantakkan oleh buldoser dan 
ekskavator dari Pemprov DKI. Seperti halnya penggusuran Bukit Duri, rumahnya 
juga dieksekusi lantaran dicap Ahok sebagai bangunan ilegal yang berdiri di 
atas 'tanah negara'.

Tak hanya rumah, perempuan ini dulu juga punya satu kios kelontong di Kampung 
Akuarium. Di kios itulah, Yanti berjuang mencari penghasilan tambahan buat 
menghidupi keluarganya. Sementara suaminya, Suroso (49), mencari nafkah dengan 
bekerja sebagai pegawai toko di Pasar Pagi Lama Asemka, Tambora, Jakarta Barat.

Ketika Kampung Akuarium digusur pada April lalu, Yanti dan Suroso memilih 
pindah ke Rusun Rawa Bebek, Jakarta Timur. Berdasarkan hasil undian pada waktu 
itu, mereka mendapat 'jatah' satu unit hunian di lantai dua Blok A hunian 
vertikal tersebut. Di sanalah, suami istri itu kini menjalani kehidupan baru 
bersama kedua anak mereka.

Setelah beberapa bulan menyandang status sebagai penghuni rusun, nasib Yanti 
dan keluarganya nyaris berbalik 180 derajat. "Kehidupan kami sekarang 
betul-betul terpuruk di sini. Pendapatan jadi jauh berkurang, sedangkan biaya 
hidup semakin meningkat," ungkap perempuan itu.

Tidak ada lagi rumah, apalagi kios kelontong yang dulu menjadi sumber 
penghidupan keluarga. Sejak alat-alat berat meluluhlantakkan Kampung Akuarium, 
semuanya hanya tinggal kenangan. Sebagai gantinya, Pemprov DKI mengizinkan 
mereka menempati satu petak hunian sempit berukuran 26 meter persegi di Rusun 
Rawa Bebek dengan membayar sewa hunian Rp 300 ribu per bulan.

Sekarang, Yanti berjualan minuman dan makanan ringan di selasar Blok A Rusun 
Rawa Bebek untuk meringankan beban suaminya. Sementara, Suroso sampai hari ini 
masih tetap bekerja di Pasar Pagi Lama Asemka. Sudah barang tentu, jarak tempuh 
yang harus dilalui pria itu untuk mencapai tempat kerjanya kini semakin jauh 
jika dibandingkan ketika ia dan istrinya masih bermukim di Kampung Akuarium. 
Pasalnya, lokasi Rusunawa Rawa Bebek berada di kawasan Timur Jakarta, sedangkan 
Pasar Pagi Lama Asemka terletak di bagian barat Ibu Kota.

Dulu, Suroso hanya perlu waktu 10 menit mengendarai sepeda motor dari rumah ke 
tempat kerjanya. Sekarang, perjalanannya dari Rawa Bebek ke Pasar Pagi Lama 
Asemka bisa memakan waktu satu jam. "Apalagi kalau pas lagi macet, bisa 2,5 jam 
baru nyampe ke tempat kerja. Setiap hari, saya harus keluar duit Rp 20 ribu 
untuk beli bensin motor saja. Kalau ditotal setiap bulannya bisa habis Rp 500 
ribuan," ujar Suroso.    Oleh Ahmad Islamy Jamil, ed: Erik Purnama Putra

Kirim email ke