Kisah para wisatawan Indonesia dengan paspor RI 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38559926 Mehulika SitepuBBC Indonesia
 8 jam lalu

 Kirim http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38559926#share-tools


 
 Hak atas fotoPASSPORT INDEXImage captionIndonesia tercatat sebagai salah satu 
negara dengan akses bebas visa paling sedikit di dunia. Sejumlah warga negara 
Indonesia mengisahkan pengalaman mereka menggunakan paspor Indonesia di luar 
negeri mengingat Indonesia menempati urutan ke-66 dari 94 ranking Indeks Paspor 
Global yang dikeluarkan oleh Arton Capital.
 Indeks ini meletakkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan akses bebas 
visa paling sedikit di dunia.
 Indeks Paspor Global diukur berdasarkan jumlah fasilitas bebas visa dan visa 
kunjungan saat kedatangan. Semakin tinggi skornya, maka semakin baik mobilitas 
pemilik paspor tersebut.
 Indonesia menempati urutan ke-66, sederet dengan Cina, Mongolia, Ghana dan 
Uganda.
 Negara tetangga seperti Singapura menempati ranking kedua, sedang Malaysia 
berada di urutan kelima.
 Anak hasil perkawinan campur dipaksa jadi turis di negeri orang tua 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/10/161005_indonesia_kisah_dwikenegaraan
 UU Kewarganegaraan digugat di Mahkamah Konstitusi 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/10/161004_indonesia_mk_dwikenegaraan
 Menunggu puluhan tahun untuk tetap menjadi WNI 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/150928_indonesia_lapsus_eksil_praha
 Dengan skor bebas visa 57, Indonesia mendapat akses bebas maupun visa saat 
kedatangan (VoA) di 57 negara -sembilan di antaranya adalah negara-negara ASEAN.
 Hal ini membuat pemegang paspor Indonesia harus mengurus visa bila ingin 
bepergian ke negara-negara yang tidak memberikan visa namun menjadi tujuan 
wisata seperti Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Eropa Barat.
 'Sulitnya mendapatkan visa'
 Nova Ruth, seniman asal Indonesia yang saat ini menetap di Barcelona, Spanyol, 
menuturkan dia kerap mendapat kesulitan saat mengurus visa karena tidak 
memiliki pekerjaan tetap. Dia pernah kehilangan kesempatan menghadiri 
festival-festival seni internasional akibat terkendala visa.
 "Paling terasa kesulitannya ketika masuk 30 tahun. Tidak memiliki pekerjaan 
tetap dan wanita. Karena ada kecurigaan perdagangan manusia," kata Nova.
 "Mungkin untuk sebagian orang bisa lebih mudah karena taraf ekonomi kita 
berbeda-beda. Tapi untuk seniman, atau orang yang kehidupannya alternatif, 
meskipun bisa bertahan di mana saja, agak susah untuk mendapatkan visa," 
tambahnya.
 Kesulitan pun tidak berakhir meski ketika visa sudah di tangan.
 "Saya ke Inggris pada 2014 untuk bantu acara LSM. Satu bus, cuma saya saja 
yang orang Indonesia, saya saja yang diberhentikan, ditanya-tanya di Imigrasi. 
Padahal dari organisasi yang mengundang, kami berangkat bersama. Padahal 
visanya jelas," Nova berkisah.
Hak atas fotoPAUL J. RICHARDSImage captionVisa AS disebut-sebut sebagai salah 
satu visa yang paling sulit didapatkan. Lain lagi cerita Susan Natalia. 
Pengelola situs pergidulu.com ini pernah membatalkan perjalanan ke Jepang dan 
Taiwan meski sudah membeli tiket karena aplikasi visanya ditolak.
 "Untuk bukti keuangan mereka mau lihat website yang diterjemahkan dalam bahasa 
Inggris dan dikonversi mata uangnya ke yen Jepang. Saya sudah kasih penjelasan 
ini dan itu dan mencoba melengkapi sampai dua kali ke Konjen Jepang di Sydney 
tetap mereka tidak mau terima aplikasi saya karena katanya tidak bisa diproses 
kalau tidak ada dokumen-dokumen tersebut," kisah Susan.
 "Akhirnya kami batalkan perjalanan ke Jepang padahal waktu itu sudah beli 
tiket Jepang. Otomatis tiket ke Taiwan pun ikut hangus dan batal ke Taiwan 
juga."
 Bahkan untuk negara yang memberikan bebas visa seperti Maroko pun, Susan 
pernah mengalami kendala karena petugas imigrasi Maroko tidak mengetahui 
kebijakan bebas visa ke pemegang paspor Indonesia.
 "Saya sempat dipingpong dari satu konter ke konter lainnya dan disuruh 
bolak-balik sampai dibentak-bentak sama petugasnya sambil bertanya "Apa masalah 
Anda?" Saya jawab "Saya tidak tahu "karena saya sendiri juga bingung apa 
masalahnya", kata Susan.
Hak atas fotoPERGIDULU.COMImage captionSuami Susan, Adam Poskitt yang memiliki 
paspor Australia hampir tidak pernah mendapatkan masalah dengan urusan visa. 
Bukan sekali itu Susan yang sudah menjelajahi sekitar 50 negara mendapat 
masalah karena petugas imigrasi suatu negara tidak paham kebijakan bebas visa 
atau visa kunjungan saat kedatangan (VoA) dengan Indonesia.
 "Pada saat lintas perbatasan dari Turki ke Georgia tahun 2013, waktu itu 
Georgia masih memberlakukan VoA untuk WNI, sekarang harus daftar terlebih 
dahulu. Kami sudah riset terlebih dahulu bahwa WNI bisa VoA. Namun ternyata 
pada saat di perbatasan petugas imigrasi kurang yakin sehingga butuh waktu lama 
untuk memproses imigrasi saya," cerita Susan.
 "Belum yakin juga, mereka minta izin untuk mewawancarai saya. Tidak di ruangan 
khusus sih, tapi agak malu juga karena disuruh keluar dari barisan untuk 
ditanya-tanya.
 "Pertanyaannya sih sederhana: "Mau apa di sini?", "Berapa lama?", "Menginap di 
mana?" Tidak lama juga, paling tiga hingga lima menit. Tapi malu karena kami 
naik bis umum dan seluruh penumpang bis terpaksa menunggu karena saya paling 
terakhir keluar dari gedung imigrasi. Baliknya dari Armenia ke Georgia juga 
sama, kena wawancara lagi."
 Suami Susan, Adam Poskitt, adalah pemegang paspor Australia. Dibandingkan 
Susan, Adam hampir tidak pernah mendapatkan masalah akibat urusan visa.
 "Semua pengalaman yang berkaitan dengan visa jauh lebih gampang untuk Adam 
karena untuk paspor Australia tidak banyak negara yang perlu visa", tutur Susan.
 Bagi sebagian orang juga percaya jika sudah memiliki visa negara-negara 
tertentu seperti Amerika Serikat dan Schengen (visa sejumlah negara Uni Eropa) 
akan lebih mudah memasuki negara lain.
 Seperti dikatakan Jossi Marchelli, "Saya bisa lebih cepat dibanding teman saya 
misalnya waktu saya daftar visa Korea mungkin saya ada visa Amerika, Australia 
dan Inggris. Visa-visa seperti Amerika, Schengen mempermudah kita sebagai 
pemegang paspor Indonesia."
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionMengurus visa sering menjadi momok para 
wisatawan Indonesia untuk bepergian. Menjadi bahan pertimbangan Urusan visa 
kerap menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan negara tujuan perjalanan 
berikutnya.
 Murni Amalia Ridho, pengelola situs indohoy.com mengatakan proses pengajuan 
visa yang membutuhkan waktu membuatnya mencari tempat wisata yang tidak 
membutuhkan visa.
 "Saya kerja sekian minggu di suatu tempat dan liburnya dua minggu. Mengajukan 
visa jauh-jauh hari tidak bisa karena saya di luar kota biasanya. Jadinya suka 
malas. Akhirnya saya selalu mencari tempat-tempat yang tidak menggunakan visa 
bagi orang Indonesia. Jadi memang mikir dua kali sih untuk mengajukan visa," 
kata Murni.
 "Sampai sekarang proses-proses seperti itu membuat saya berpikir dua kali 
untuk daftar (visa). Apalagi sekarang saya lagi statusnya freelance jadi lebih 
susah lagi dan mengajukan visa kn harus ada keterangan kerja di mana."
 Begitupun halnya dengan Susan, "Urusan daftar visa seringkali jadi 
pertimbangan saat kami memilih destinasi perjalanan kami. Ketika tahun 2016 
lalu kami (Susan dan suaminya) ke Amerika Selatan kami memutuskan untuk ke 
empat negara saja di mana keempatnya bebas visa untuk WNI."
 Penuhi semua syarat Sebenarnya tidak selalu sulit untuk mendapat visa bagi 
pemegang paspor Indonesia.
 Jossi Marchelli juga sudah bepergian ke 51 negara dan tidak pernah mendapat 
kesulitan mendapatkan visa.
 Kuncinya hanya memenuhi semua persyaratan yang diberikan negara tujuan.
 "Setiap saya apply (daftar) visa saya selalu lengkapi semua dokumennya dan 
semuanya lancar, bahkan saya tidak pernah urus visa harus bolak-balik. Dan itu 
berdasarkan riset saja. Melihat di Google, blog-blog orang yang sudah pernah ke 
negara itu," kata Jossi.
 Susan juga menegaskan hal yang sama.
 "Banyak yang sudah takut duluan karena ada anggapan sulit. Padahal sebenarnya 
kalau syarat-syaratnya dipenuhi dan tidak ada niat buruk, misalnya mau kerja 
ilegal atau berencana tidak pulang, tidak usah takut apply visa. Cuma ya itu, 
harus telaten dan sabar karena prosesnya birokratis," kata Susan.
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionVisa Schengen, salah satu visa yang 
paling diminati pemegang paspor Indonesia, adalah salah satu yang sedang 
diupayakan Kemenlu. Upaya pemerintah Ditanyakan mengapa jumlah negara yang 
memberikan bebas visa sangat sedikit dibandingkan negara lain, khususnya negara 
tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang termasuk salah satu dari 10 paspor 
terbaik, Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa negara dengan populasi yang 
sedikit lebih gampang mendapatkan bebas visa tanpa menjelaskan lebih jauh 
alasannya.
 "Negara yang populasinya sedikit biasa lebih mudah mendapatkan VF (visa free, 
bebas visa)," kata Arrmanatha Nasir, juru bicara Kementerian Luar Negeri.
 Saat ini pemerintah, lewat Kementerian Luar Negeri, sedang berupaya untuk 
menambah daftar negara bebas visa bagi Indonesia.
 "Kita terus berupaya untuk mendapatkan VF dari berbagai negara atau setidaknya 
mempermudah proses dan memperpanjang visa. Seperti Australia, jangka waktu visa 
sekarang bisa sampai empat tahun kalau tidak salah," kata Arrmanatha.
 Visa Schengen, salah satu visa yang paling diminati pemegang paspor Indonesia, 
adalah salah satu yang sedang diupayakan Kemenlu.
 "Saat ini sedang diupayakan untuk mendapatkan bebas visa negara negara 
Schengen," tambah Arrmanatha.
 "Untuk Schengen memang ada proses yang cukup lama karena selain mendapat 
dukungan dari negara-negara Uni Eropa, mereka juga ada mekanisme untuk proses," 
jelas Arrmanatha.
 "Kriteria pemberian VF itu banyak dan macam-macam yang juga bersifat teknis. 
Beberapa negara juga tidak mengenal bebas visa," tambahnya.

 

 

 

Kirim email ke