Senin 16 Jan 2017, 17:25 WIB
 Temui Jokowi, Antropolog Minta UU Penistaan Agama Dikaji Ulang 
https://news.detik.com/berita/d-3397350/temui-jokowi-antropolog-minta-uu-penistaan-agama-dikaji-ulang
 Ray Jordan - detikNews

 Share 0 
https://news.detik.com/berita/d-3397350/temui-jokowi-antropolog-minta-uu-penistaan-agama-dikaji-ulang#Tweet
 
https://news.detik.com/berita/d-3397350/temui-jokowi-antropolog-minta-uu-penistaan-agama-dikaji-ulang#Share
 0 
https://news.detik.com/berita/d-3397350/temui-jokowi-antropolog-minta-uu-penistaan-agama-dikaji-ulang#0
 komentar 
https://news.detik.com/berita/d-3397350/temui-jokowi-antropolog-minta-uu-penistaan-agama-dikaji-ulang#
 

 
 Antropolog menemui Presiden Joko Widodo, Senin (16/1/2017). (Ray 
Jordan/detikcom)
 Jakarta - Sejumlah antropolog menemui Presiden Joko Widodo menyampaikan petisi 
mengenai intoleransi. Para antropolog juga mengeluhkan aturan hukum soal 
penistaan agama.

Antropolog Yando Zakaria mengatakan, belakangan ini kepercayaan masyarakat di 
luar agama resmi menjadi terdiskriminasi. Karena itu, menurutnya, pemerintah 
perlu mengkaji ulang aturan penistaan agama.

"Salah satu contoh misalnya hari ini dari sisi kepercayaan banyak saudara kita 
di luar 6 agama resmi menjadi terdiskriminasi, tidak mendapat pelayanan publik, 
tidak dapat melanjutkan sekolah, dan sebagainya akibat kebijakan kita terhadap 
persoalan agama," kata Yando di kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, 
Jakarta, Senin (16/1/2017).

Aturan hukum, menurut Yando, perlu disempurnakan. Hal ini dibutuhkan untuk 
mencegah politisasi.

"Ada beberapa peraturan hukum yang perlu ditinjau, termasuk berpikir ulang UU 
Penistaan Agama. Ini bukan persoalan sederhana atau dari perspektif antropologi 
ini menjadi sangat begitu relatif dan sangat berbahaya ketika itu 
dipolitisasi," sambungnya. 

Yando menyebut, di banyak negara demokrasi, UU tentang penodaan agama dicabut. 
"Ini yang kami imbau kepada Presiden, jangan ragu mengambil tindakan-tindakan 
konkret untuk mengatasi masalah intoleransi," katanya.

"Kami khawatir, kalau kita terlambat mengurus masalah ini, mungkin mimpi kita 
menjadi Indonesia berakhir. Kalau kita gagal mengelola keberagaman ini, usia 
Indonesia mungkin hanya akan 10 tahun lagi, ini yang kami garis bawahi ke 
Presiden," tambahnya.

Ada 12 antropolog yang menemui Jokowi dan menyampaikan petisi soal intoleransi 
ini. Yando menegaskan petisi yang disampaikan kepada Jokowi murni berdasarkan 
atas keilmuan.

"Kami menggunakan basis antropologi. Jadi kami bebas, tidak terkait dengan 
kekuatan politik tertentu. Sebagai ilmuwan, antropolog, kami juga prihatin 
terhadap dunia akademik, para intelektual, peneliti kita, belum bicara tentang 
ancaman-ancaman krisis kebinekaan ini," sambung Yando. 
(jor/fdn)
 
 
 

 

Kirim email ke