Trauma Kolektif Tionghoa dan Kebencian Etnis

Warga sembahyang di Vihara Dharma Bakti, Petak Sembilan, Jakarta. ANTARA 
FOTO/Zabur Karuru3k Shares    Reporter: Arman Dhani04 November, 2016dibaca 
normal 5 menit   
   - "Gua lahir di sini, gua pengen stay di sini dan ngelihat negara ini jadi 
lebih baik,” kata Yudhis keturunan Tionghoa
   - Di salah satu jembatan di Jalan Tol Bogor ada spanduk bertuliskan "Ganyang 
Cina"
Pada 2014, Indonesia tercatat sebagai negara dengan etnis Tionghoa terbanyak di 
dunia. Ada lebih dari 8,36 juta etnis Tionghoa di sini, namun mereka kerapkali 
menjadi sasaran kebencian dan kambing hitam.tirto.id - Catatan Harian Seorang 
Demonstran mengisahkan keseharian seorang mahasiswa Tionghoa bernama Soe Hok 
Gie. Ada pergulatan pemikiran, renungan filosofis, komentar tentang buku dan 
film, dan tentu saja curahan hati perihal cinta. Gie adalah salah seorang 
“Orang Cina” terkenal di kalangan mahasiswa di Indonesia. 

Mengapa dalam paragraf di atas Tionghoa dan Orang Cina ditulis berbeda? 
Tendensi dua kata itu memiliki makna berbeda. Tionghoa relatif lebih netral 
ketimbang Orang Cina. Penyebutan Orang Cina kerap memiliki tendensi 
merendahkan. 

Perihal kata Cina ini, rubrik bahasa majalah Tempo beberapa kali menghadirkan 
penulis yang saling berpolemik. Tercatat nama seperti Sapardi Djoko Damono, 
Ajip Rosidi, dan Hermina Sutami, guru besar linguistik Mandarin pada Program 
Studi Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan peneliti 
bidang leksikologi dan leksikografi ikut ambil bagian.

Mengapa label demikian penting? Ia menunjukkan bagaimana kita bersikap terhadap 
yang liyan atau yang berbeda. Di Indonesia identitas rasial bisa memberi Anda 
privilege atau kutukan. Perkara pribumi dan asing, atau bumiputra dan pendatang 
bisa membuat orang saling bertikai. Sebelumnya Tirto.id pernah menulis tentang 
rasisme terhadap orang-orang Tionghoa sepanjang sejarah nusantara dan 
Indonesia. Tionghoa di Indonesia kerap mengalami diskriminasi karena identitas 
rasnya, meski tak bisa dipungkiri sebagian elitnya tetap mendapatkan privilege. 

Selama beberapa bulan terakhir sentimen rasial itu semakin keras terasa. Di 
salah satu jembatan di Jalan Tol Bogor ada spanduk bertuliskan Ganyang Cina, 
beberapa minggu yang lalu seruan ganyang Cina juga ditunjukan dalam poster saat 
melakukan protes sikap Ahok yang dianggap menghina Al Maidah. Kebencian rasial 
ini tidak hanya terjadi di akar rumput, tapi juga para intelektual. 

Amien Rais yang pernah menjadi intelektual itu, menulis artikel berjudul "Bung 
Jokowi, Selesaikan Skandal Ahok!" di koran Republika. Dalam tubuh artikel itu 
Amien Rais mengatakan bahwa “Penguasaan tanah di berbagai kota besar juga 
berada di tangan agen-agen kepentingan asing dan aseng. Tujuh puluh delapan 
persen tanah di DKI Jakarta sudah dimiliki oleh para benalu bangsa.” 

Aseng di sini saya kira sudah cukup jelas merujuk pada kelompok Tionghoa. 
Aseng, seperti juga kata Cina, memiliki makna peyoratif. Demonstrasi yang 
menuntut Ahok diadili pada 4 November menghadirkan ketakutan akan terulangnya 
peristiwa berdarah 1998.

Kekhawatiran orang Tionghoa bahwa demonstrasi tanggal 4 November akan berakhir 
rusuh bisa dipahami. Bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia, sentimen anti Cina 
yang beberapa kali ditunjukkan di depan umum membuat mereka mau tak mau 
mengingat peristiwa berdarah 1998. Saat itu banyak warga Tionghoa di Jakarta, 
Solo, dan berbagai tempat di Indonesia menjadi korban kebencian ras. 

Yudhis Tira adalah seorang penulis dan musisi yang tinggal di Jakarta. Sebagai 
orang keturunan Tionghoa, ia mengaku tidak akan bisa melupakan peristiwa 1998. 
Yudhis baru berusia 12 tahun ketika tragedi itu terjadi. Dari sanalah ia paham 
betul apa itu ketakutan. 

“Menurut gue emang kejadian itu mestinya jangan pernah dilupakan,” katanya. 
Usai 1998 pengalaman buruknya terkait diskriminasi rasial terjadi saat SMA. 
“Gue pernah jalan-jalan di blok M. Kadang suka ada yang nyamperin cuman buat 
ngatain 'Cina' ke depan muka gue secara agresif,” katanya.

Barangkali bagi banyak orang apa yang dialami Yudhis adalah pengalaman sepele. 
Tapi jika ada orang asing yang sama sekali tidak anda kenal lantas teriak di 
depan muka anda hanya karena perbedaan ras bisa itu bisa sangat menekan. 

Kekhawatiran serupa menyebar dan mulai muncul di media sosial. Jenny Jusuf 
penulis naskah film yang juga keturunan Tionghoa ini menyampaikan 
kekhawatirannya di media sosial. Ia berbagi pengalaman bahwa meski telah lewat 
16 tahun, anggota keluarganya kadang masih mempersiapkan tas kecil sebagai 
rencana cadangan apabila kerusuhan rasial terjadi lagi. 

Jenny memiliki anggota keluarga yang pernah menjadi korban peristiwa 1998. 
Paman Jenny sempat terjebak di bengkelnya saat kerusuhan meletus. Dalam kondisi 
putus asa, paman Jenny menelpon keluarga untuk pamit dan mengucapkan selamat 
tinggal. Beruntung karyawan berhasil menyelamatkan pamannya. “Paman saya yang 
paling muda terjebak massa dan berhasil selamat karena untungnya kulitnya 
legam. Dan ia ikut berteriak 'ganyang Cina!",” katanya. 

Meski tidak langsung mengalami kerusuhan 1998, Jenny dan adiknya tidak 
diizinkan keluar rumah selama dua minggu. Setiap hari ia dan keluarganya 
ketakutan mendengar berbagai cerita yang terjadi. “Kami berkumpul di rumah 
nenek dan menonton masyarakat dari perkampungan sekitar menjarahi pertokoan. 
Ibu saya mengepak baju-baju kami, dan itulah yang saya teruskan sampai hari 
ini. Pack a suitcase, just in case. Jadi, ya, setelah 16 tahun trauma itu masih 
ada,” katanya.

Psikolog dari Universitas Indonesia, Rosmini, saat dihubungungi tirto.id, 
Jakarta, Kamis (3/11/2016), menyebutkan bahwa ketakutan kelompok Tionghoa di 
Indonesia dan di Jakarta khususnya memang berdasar. Pengalaman kolektif 
orang-orang Tionghoa pada 1998 membuat mereka takut dan tidak nyaman, maka 
ketika ada aksi masa besar-besaran ingatan mereka kembali ke 
perlakuan-perlakuan di masa lalu. 

“Trauma itu yang terus membekas pada orang-orang. Apalagi yang merasa dirinya 
minoritas seperti ras tertentu atau Tionghoa,” katanya

Mereka pernah tahu, apakah orang tuanya, saudaranya, yang mengalami masa yang 
tidak enak. Kemudian menjadi cerita ke anak dan cucu sehingga mau tidak mau, 
akan membuat orang tidak nyaman dengan ada demonstrasi apalagi dengan 
embel-embel kebencian ras. Ia menilai trauma kolektif itu tidak hanya dimiliki 
oleh orang dewasa, mereka yang masih kecil atau yang tak pernah mengalami hal 
itu bisa saja takut. 

“Karena orang tuanya cerita banyak dan banyak yang eksodus ke luar negeri. Dan 
belajar lalu kembali karena sudah punya kepercayaan lagi kepada Indonesia untuk 
tinggal di sini. Itu yang membuat mereka ketakutan,” kata Rosmini.

Penyebab trauma kolektif bisa bermacam-macam, tapi yang jelas menurut Rosmini 
banyak ketakutan itu diajarkan dan diwariskan. “Kelompok keluarga yang kemudian 
pengalamannya mungkin tidak satu macam, jadi bisa macam-macam. Kemudian menjadi 
suatu cerita yang selalu didengungkan, ibaratnya seperti itu,” katanya. 

Cerita dan ketakutan yang diteruskan dan disebarkan ini menyebar ke setiap 
anggota keluarga. Kalau kita buka dokumen tahun 1998 kita bisa melihat 
tragisnya korban Tionghoa pada 1998. Ada yang diperkosa, dibakar hidup-hidup, 
dijarah, dibunuh di jalanan. 

Rosmini juga menjelaskan bahwa kebencian terhadap ras atau kelompok tertentu 
juga diwariskan. “Mungkin karena mengalami pengalaman yang tidak nyaman. Terus 
kemudian ada sesuatu atau harta yang lebih dari yang lain, ada banyak membuat 
manusia tidak nyaman jika dikaitkan dengan orang yang memiliki sesuatu milik 
dia juga,” katanya. 

Melalui cerita dan stereotip kebencian ditanamkan, orang melakukan 
generalisasi, tak peduli siapa asal mata sipit dan kulit putih dibilang Cina. 
Mereka dianggap kaya dan menghisap harta pribumi. 

share infografik

“Cerita yang didapat, kadang-kadang tidak mendapat secara utuh. Banyak juga 
hanya negatif yang terlihat dan positifnya tidak kelihatan,” jelas Rosmini. 
"Padahal ada banyak orang Tionghoa yang memiliki nasionalisme yang luar biasa. 
Ini mau dibilang satu ras tetapi sebenarnya nggak bisa karena tergantung 
individu masing-masing."

Mugiyato Sipin dari IndoRights menyebut bahwa akar ketakutan warga Tionghoa di 
Indonesia terhadap aksi demonstrasi 4 November karena negara absen. Ini mesti 
diletakkan pada konteks kegagalan negara menyelesaikan kasus pelanggaran HAM 
1998. Negara tak bisa memberikan keadilan dan rasa aman kepada masyarakat 
Tionghoa di Indonesia. 

“Negara pasca-otoritarian tidak pernah mengutuk secara terbuka atas terjadinya 
peristiwa 12-14 Mei 1998,” katanya. "Negara tidak mengungkap secara terbuka 
peristiwa tersebut, padahal sudah ada TGPF dan KPP HAM Komnas HAM. Tim pencari 
fakta sudah menemukan dugaan keterlibatan negara dalam bentuk commission dan 
ommission. Penyelidikan Komnas HAM tidak pernah ditindaklanjuti dengan proses 
penyidikan dan penuntutan di pengadilan HAM Ad Hoc sebagaimana diatur dalam UU 
No 26/2000 tentang Pengadilan HAM, padahal temuan Komnas HAM menyebut ditemukan 
adanya dugaan telah terjadinya pelanggaran HAM yang berat”, kata Mugi.

Mugiyanto melihat tidak ada komitmen negara untuk menjamin kemanan dan hak 
asasi manusia warganya. Tidak hanya warga Tionghoa tapi juga seluruh korban 
pelanggaran HAM yang terjadi pada 1998. 

“Alih-alih menghukum, pemerintah malah mempromosikan pejabat 
polisi/militer/negara yang diduga terlibat dalam pelanggaran HAM yang berat 
tersebut: Sjafri, Wiranto dan lainnya,” katanya. Dengan mengangkat dan 
mempromosikan pejabat yang diduga terlibat kejahatan kemanusiaan negara 
menjustifikasi dan membiarkan pelanggaran HAM tadi.

Lantas bagaimana setelah hari ini? Jenny Jusuf sendiri berharap bahwa ini 
sekadar kekhawatiran yang berpangkal dari trauma. Ia mengatakan bahwa paska 
kepemimpinan Gus Dur banyak hal baik terjadi. 

“Kalau dulu saya masih harus menyertakan surat ganti nama untuk membuat paspor, 
adik saya tidak mengalami hal yang sama,” kata Jenny. Banyak hal yang sudah 
menjadi jauh lebih mudah bagi kelompok masyarakat Tionghoa di Indonesia. Namun 
perlakukan kasar dan tindakan rasis masih kerap dialami sekalipun itu ‘hanya’ 
berupa teriakan ‘Hoi Cina!’ atau ‘Amoy!’ dari kuli bangunan. 

Yudhis mengaku bahwa kondisi hari ini jauh lebih baik daripada 1998. Dulu 
merupakan hal yang tidak mungkin dan mimpi seorang Tionghoa non-Muslim bisa 
maju sebagai alon gubernur Jakarta. “Gua memandang Indonesia ya sebagai rumah. 
Gua lahir di sini, gede di sini, sekolah di sini. Biarpun pernah kuliah di 
luar, 90% temen baik gua di sini, gua kerja di sini, dan gua pengen stay di 
sini dan ngelihat negara ini jadi lebih baik. Sukur-sukur bisa berkontribusi,” 
katanya. 


Kirim email ke