Waspadai Impor dari Tiongkok 
http://www.beritasatu.com/blog/tajuk/5140-waspadai-impor-dari-tiongkok.html 
Rabu, 18 Januari 2017 | 10:26
 Neraca perdagangan Indonesia yang masih surplus tahun lalu patut disyukuri, 
bisa membantu menjaga rupiah. Namun demikian, sangat tingginya ketergantungan 
impor pada Tiongkok harus segera diwaspadai. Membanjirnya barang-barang dari 
RRT ini sudah keterlaluan, satu negara saja telah menguasai seperempat lebih 
impor RI.
 Padahal, barang-barang dari Tiongkok hampir semuanya bisa diproduksi di Tanah 
Air. Produk yang dihasilkan RRT dan Indonesia sama. Tak heran, banjir 
produk-produk impor dari negara tersebut "menghabisi" industri elektronik 
nasional. Demikian pula industri alas kaki serta tekstil dan produk tekstil 
(TPT) kita jadi terpuruk. Sekitar 70 persen pasar TPT dalam negeri sudah 
dikuasai produk asing.
 Untuk itu, Pemerintah Indonesia harus lebih mencermati perkembangan neraca 
perdagangan dengan Tiongkok yang makin jomplang, tidak sehat sama sekali. Data 
Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan, impor dari Tiongkok naik menjadi US$ 
30,7 miliar tahun 2016, atau 26 persen lebih dari total impor nonmigas RI US$ 
116,9 miliar. Padahal, ekspor kita ke sana hanya US$ 15,1 miliar atau 11,5 
persen dari total ekspor nonmigas nasional yang US$ 131,3 miliar.
 Akibatnya, defisit neraca perdagangan kita dengan satu negara itu saja 
menembus US$ 15,6 miliar tahun lalu. Hal ini tentu sangat berbahaya, bisa 
membuat total neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit, terutama saat harga 
komoditas yang menjadi andalan kita anjlok. Defisit neraca transaksi berjalan 
kita juga terancam makin lebar dan akan melemahkan rupiah.
 Bandingkan dengan hubungan perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat yang 
cukup bagus. Impor dari Negeri Paman Sam itu turun menjadi US$ 7,2 miliar atau 
hanya 6,16 persen dari total impor nonmigas RI. Padahal, ekspor kita ke sana 
naik menembus US$ 15,7 miliar atau 11,9 persen dari total ekspor nonmigas 
nasional. Alhasil, neraca perdagangan nonmigas kita dengan AS surplus hingga 
US$ 8,5 miliar, menyumbang luar biasa besar terhadap total surplus neraca 
perdagangan nonmigas dan migas RI sepanjang 2016 yang US$ 8,8 miliar.
 Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia harus berani menegosiasikan perdagangan 
yang lebih sehat dengan Pemerintah Tiongkok, atas dasar hubungan baik yang 
selama ini terjalin. Apalagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyatakan 
bahwa semua kerja sama dengan negara-negara lain harus didasarkan pada hubungan 
yang saling menguntungkan, tidak terlalu timpang.
 Pemerintah Indonesia juga harus cerdas melihat bahwa praktik perdagangan RRT 
itu tidak sepenuhnya fair. Banyak negara menengarai intervensi Pemerintah 
Tiongkok dalam memperlemah kurs yuan, selain banyak menggelontorkan subsidi 
yang menguntungkan industrinya. Belum lagi keluhan praktik dumping yang banyak 
dilakukan.
 Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia harus segera menyehatkan perdagangan 
dengan Tiongkok, termasuk dengan menegosiasikan kembali Asean-China Free Trade 
Agreement (ACFTA) yang lebih fair. Diberlakukannya perdagangan bebas dengan 
Tiongkok ini memicu defisit perdagangan yang makin lebar. Padahal, produk buah 
tropis kita saja, seperti salak dan manggis, dipersulit ekspornya karena 
dianggap tidak memenuhi standar dari RRT. Di sisi lain, berbagai macam 
produk-produk KW atau berkualitas jelek dari sana begitu mudah masuk Indonesia.
 Pemerintahan Jokowi juga harus memperketat masuknya produk-produk dari 
Tiongkok yang berkualitas rendah. Produk yang bisa diimpor hanyalah yang 
memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan bukan barang-barang dengan merek 
palsu. Produk-produk impor ini juga harus didukung kantor layanan purnajual 
untuk kepentingan konsumen di Nusantara. Pemerintah memang sudah saatnya mulai 
melindungi kepentingan konsumen di dalam negeri juga, baik dari sisi keamanan 
maupun hak untuk mendapatkan barang dan layanan purnajual yang berkualitas.
 Selain itu, Indonesia harus tegas meminta Tiongkok untuk membangun pabriknya 
di sini, tidak hanya menjadikan Indonesia semata-mata sasaran pasar berbagai 
produknya. Ketentuan yang diberlakukan untuk produk smartphone 4G, yang tahun 
ini harus memenuhi 20 persen kandungan lokal dan 30 persen tahun depan, harus 
diperluas ke produk-produk yang lain juga.
 Nyatanya, ketegasan pemerintah di sektor TI ini mampu membuat produsen besar 
dari Tiongkok--juga dari Korea Selatan dan Taiwan--mau membangun pabrik 
smartphone di sini. Investasi dari merek-merek dalam negeri pun meningkat. 
Padahal, semula hampir semua ponsel itu diimpor.
 Pemerintah juga harus bertindak tegas membakar tak tersisa semua produk-produk 
selundupan atau ilegal, tak hanya dari Tiongkok tapi dari semua negara. Sudah 
lama industri di Indonesia menderita karena digencet barang-barang selundupan 
yang tidak membayar bea masuk maupun pajak tersebut. Sementara itu, produsen 
dalam negeri yang sudah membayar pajak banyak justru tidak maksimal dilindungi.
 Padahal, perusahaan dalam negeri inilah yang menjadi mitra utama pemerintah 
untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi maupun menyediakan banyak lapangan kerja. 
Perusahaan dalam negeri inilah yang menjadi tumpuan utama pemerintah untuk 
mengamankan sasaran pajak, guna meningkatkan pembangunan maupun membayar gaji 
pegawai dan pejabat negara.
 Yang tidak kalah penting, Pemerintah Indonesia juga harus terus meningkatkan 
hubungan bisnis yang lebih baik dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, 
yang produk-produknya tidak bersaing dengan produk kita. Kita bisa meningkatkan 
ekspor produk perikanan kita ke Amerika, dengan menekankan bahwa RI kini 
berkomitmen menjaga kelestarian sumber daya bahari plus antipraktik pencurian 
ikan.
 Kita juga bisa meningkatkan ekspor TPT, alas kaki, maupun mainan ke AS, di 
tengah protes Presiden AS terpilih Donald Trump terhadap Tiongkok yang 
berdagang tidak fair. Produk-produk kita ini sebenarnya banyak yang berkualitas 
jauh lebih baik dari produk Tiongkok. Kita juga diuntungkan dengan hubungan 
baik selama ini dengan Trump, yang memiliki bisnis dan investasi besar di sini.

 

 

 

Kirim email ke