Globalisasi sebenarnya terminologi yang netral saja, tetapi 
memang sejak jaman kolonial memberi banyak manfaat 
bagi imperialis terutama pada dimensi ekonomi / perdagangan
dan politik. Contoh globlalisasi yang netral itu misalnya 
persekolahan, musik, juga sepakbola. Di mana pun orang 
bersepakbola ya caranya pasti sama seperti itu. Jadi, 
pidato XJP di Davos tentang 'tidak akan ada yang menang 
dalam perang dagang' memang sangat benar, mengingat 
di era kemerdekaan sekarang setiap bangsa punya peluang 
yang sama sekalipun kesuksesannya bergantung pada 
kemampuan berdagang masing-masing -- dan tampaknya 
tetap perlu didukung kekuatan senjata sebagai alat pertahanan 
agar tidak gampang dipermainkan.
Pertanyaannya, apa iya RRC sudah memainkan perdagangansecara fair? Faktanya, 
dalam persepakbolaan saja RRC 
dikenal sebagai perusak pasaran jual-beli pemain. Sebaliknya,para pendukung 
industri (kaum buruh) tidak bisa dikatakan 
berupah tinggi. Sementara, dalam penjualan barang RRC juga 
terkenal sebagai perusak harga pasaran. Apa semua ini bukan 
untuk memenangkan perang dagang? Tentu saja siapa pun 
boleh punya pendapat yang berbeda. Dan, mari kita nikmati 
perbedaan dengan santai mumpung partai belum sepenuhnya 
menguasai LCS yang diaku sebagai warisan imperial Tiongkok, 
hehehe.....


   --- SADAR@... wrote:
Penafsiran seseorang tentu boleh saja berbeda-beda, tapi bagaimana sesungguhnya 
maksud dan pengertian Tiongkok, dalam hal ini Xi Jinping saat menyatakan 
Globalisasi hendaknya didorong maju terus itu, jelas TIDAK berarti jalankan 
imperialisme! Begitu juga dengan rudal Dongfeng-41, orang atau setiap negara 
boleh saja menafsirkan itulah ciri imperialisme, tapi yang juga jelas tujuan 
RRT adalah sekadar defensif, untuk perkuat PERTAHANAN negara saja, agar dirinya 
berkemampuan untuk membalas setiap serangan darimanapun didunia ini! Saya masih 
yakin sebagaimana RRT setelah berhasil melakukan peledakan bom-ATOM ditahun 
1964, PM Zhou segera menyatakan, bom-atom itu sekadar untuk defensif saja dan 
menegaskan TIDAK akan menjadi negara pertama yang menggunakan bom-atom untuk 
mencelakakan rakyat negara lain!  Salam,ChanCT
From: ajegGlobalisasi punya pengertian multidimensi (sos-bud-ek-pol)
yang inti pada semua dimensi itu berkonotasi kesatuan; 
keseragaman; bersifat lenyap-batas dst sehingga dunia terasa
seolah menyatu. Contoh gampangnya, bahasa (Inggris); 
ideologi; agama; mata uang (dollar). Berbeda dengan 'internasional' 
yang berkonotasi keberagaman / kebhinekaan, menghargai 
identitas & perbedaan, bersifat lintas-batas dst. Inter-nasion 
masih mendekati atau menyerupai universalisme.
Rudal nuklir macam Dongfeng-41 boleh saja bikin Trump gemetarketakutan, tapi 
justru membuat negara-negara non-nuklir kehilangan 
rasa segannya terhadap RRC. Sebab, kemampuan rudal ini yang 
bisa mencapai semua titik di muka bumi jelas berwarna imperialisme.

Karena itu, ketika World Economic Forum (WEF) menggemborkan 
Globalization, pihak seberangnya, World Social Forum (WSF), 
menjawab dengan, "another world is possible".
--- SADAR@... wrote:
Satu pencerahan yang sangat baik, GLOBALISASI tidak berarti IMPERIALISME! Dan 
globalisasi inilah yang justru hendak digencarkan Xi didepan Forum Ekonomi 
Dunia Davos minggu yl ini. Bagaimana negara-negara didunia ini lebih mempererat 
kerjasama, bukan seperti Trump justru akan menjalankan kibijaksanaan 
konservatif nya yang menjurus ke proteksionisme, untuk mendahulukan dan 
melindungi AS! Yang juga cukup menarik diperhatikan, Trump menuduh RRT selama 
ini tidak menjalankan liberalisme dalam dunia perdagangannya, masih saja 
dikendalikan oleh pemerintah dengan ketat. Jadi untuk mengurangi kerugian yang 
diderita AS, Trump untuk melindungi produksi AS sendiri akan menaikkan pajak 
utk barang dari Tiongkok. Padahal sudah lama sementara orang menyatakan, 
sehubungan dengan perdagangan RRT-AS ini, yang sangat dirugikan sebetulnya RRT. 
Bagaimana produksi Tiongkok bisa dijual MURAH di AS, bahkan untuk sementara 
barang, seperti Levi’s di AS sekitar 35$ (tidak sampai 300 Yuan) tapi di 
Tiongkok sendiri harus bayar 700 Yuan. Jadi, bisa lebih murah beli di AS dan 
jelas SANGAT menguntungkan rakyat AS dan dengan begitu berarti sangat merugikan 
tentu rakyat Tiongkok yang harus bayar mahal untuk hasil kerja produksinyanya 
sendiri? Saya tidak mengerti mengapa bisa terjadi begitu, dan tentunya yang 
pasti majikan yang sangat diuntungkan? Jadi, saya perhatikan apa yang 
dijalankan pemerintah RRT dibidang ekonomi, dalam usaha perdagangan didunia 
juga tidak jalankan liberalisme, membiarkan berlangsung sesuai hukum pasar, 
termasuk harga barang, ... bahkan Xi dengan politik “Jalan Sutera” nya yang 
berprinsip “Maju Bersama dan Untung Bersama” terhadap negara-negara didunia, 
sebagai usaha mendorong maju ekonomi didunia. Hanya saja saya juga meloihat 
politik RRT dengan “Jalan Sutera” nya didunia ini juga masih menghadapi 
TANTANGAN berat, menghadapi ganjelan dan dihadang oleh banyak negara yang masih 
hendak pertahankan hegemoni AS. Masih saja meragukan ketulusan hati RRT yang 
komunis itu tidak bedanya dengan imperialisme juga.  Salam,ChanCT From: 
nesare1@...  Gak bisa semua barang dibikin dalam suatu negara. Tidak 
mungkin!Makanya ada teori comparative advantage dalam ilmu ekonomi.Negara akan 
memproduksi barang2 yang mempunyai comparative advantage lebih tinggi.Ngapain 
bikin produk yang lebih jelek dan lebih mahal drpd import?Mau produksipun, 
belum tentu sum ber daya mencukupi/memadai baik dari segi sumber daya alam 
maupun manusianya.Disinilah konsep globalisasi terjadi.Bagi mereka yang tidak 
mau adanya globalisasi, itu namanya mau hidup tertutup. Mereka salah kaprah 
telah mencap arti globalisasi sebagai imperialism. Bukan ini dasar 
pemikirannya. Secara alamiah orang dagang sudah dari dulu mulai dari barter. 
Barter barang itu adalah prinsip dagang yang paling kuno. Masalah selanjutnya 
apakah globalisasi menguntungkan pemilik modal dan negara yg lebih maju, itu 
masalah kelanjutannya. Ini yg harus dikritik. Tetapi bukan mencacimaki 
globalisasi itu sendiri.Ya boleh2 saja seperti trump teriak2 proteksionis. Tapi 
lihat saja negara lain memangnya tidak bisa proteksionisme juga. Ini kan 
masalah reciprocal/give and take. Kalau USA gak mau import barang RRT, tentunya 
RRT juga bisa tidak mau import barang USA. Ini namanya perang dagang. Ini yg 
ditakuti oleh dunia global sbg ancaman stabilitas dunia.Setelah trump teriak2 
pakai produk dalam negeri dan mau produksi didalam negeri, memangnya akan 
menaikkan economic growth? Kan belum tentu. Saya malahan lihatnya: gak akan. 
Kenapa? Karena barang2 yang diproduksi didalam negeri itu akan banyak 
dikerjakan secara otomatis oleh robot dan mesin. Ini sebetulnya persoalan yg 
dihadapi oleh usa. Trump pikir kalau produksi dalam negeri digalakkan akan 
menciptakan employment di usa. Ini tidak benar. Riset2nya sudah banyak. Orang2 
sudah sangat takut akan otomatisasi terutama oleh robot. Robotic technology 
yang begitu pesat berkembang sangat menakutkan disamping tentunya akan 
kegunaannya yang tidak bisa diragukan. Sampai2 stephen hawking prihatin dan 
ngomong dimana2 ttg keprihatinannya ttg robotic ini.Trump sudah teken keluar 
dari TPP kemarin.  Ini jelas tujuannya adalah menyerang RRT.Ini jelas 
proteksionisme. Foreign policynya sudah terbuka b ahwa trump akan baikan dengan 
rusia utk menyerang RRT.Ini yg perlu disoroti hasilnya gimana nantinya.Brexit 
juga adalah proteksionisme.Semua proteksionisme ini lawan dari globalisasi.Bagi 
kelompok kiri yg melawan globalisasi mestinya ketawa kan globalisasi 
dikebiri.Lucunya yang mengebiri adalah usa dedongkotnya kapita lisme.Kalau 
memang kita mau mikir ya akhirnya akan kembali ke realitas. Orang kalau 
kepentingannya diusik akan beradaptasi.Ini persis yg dilakukan oleh lenin yg 
menerapkan NEP itu. Memang ideologi bermain. Jelas sekali. Tetapi ideologi itu 
bukan ajek/stationary tetapi dinamis. Manusia tidak bisa hanya ber idealisme 
saja. ujung2nya realisme akan berbicara. Ketika realisme bicara, mau tidak mau 
manusia harus membuat suatu keputusan.Proteksionisme ini lebih berbahaya karena 
memikirkan diri sendiri. ini adalah produk seorang nasional tetapi bukan jalan 
pikiran dan pandangan orang kiri.Nesare
From: nesare1@... 
Gak bisa semua barang dibikin dalam suatu negara. Tidak mungkin!Makanya ada 
teori comparative advantage dalam ilmu ekonomi.Negara akan memproduksi barang2 
yang mempunyai comparative advantage lebih tinggi.Ngapain bikin produk yang 
lebih jelek dan lebih mahal drpd import?Mau produksipun, belum tentu sumber 
daya mencukupi/memadai baik dari segi sumber daya alam maupun 
manusianya.Disinilah konsep globalisasi terjadi.Bagi mereka yang tidak mau 
adanya globalisasi, itu namanya mau hidup tertutup. Mereka salah kaprah telah 
mencap arti globalisasi sebagai imperialism. Bukan ini dasar pemikirannya. 
Secara alamiah orang dagang sudah dari dulu mulai dari b arter. Barter barang 
itu adalah prinsip dagang yang paling kuno. Masalah selanjutnya apakah 
globalisasi menguntungkan pemilik modal dan negara yg lebih maju, itu masalah 
kelanjutannya. Ini yg harus dikritik. Tetapi bukan mencacimaki globalisasi itu 
sendiri.Ya boleh2 saja seperti trump teriak2 proteksionis. Tapi lihat saja 
negara lain memangnya tidak bisa proteksionisme juga. Ini kan masalah 
reciprocal/give and take. Kalau USA gak mau import barang RRT, tentunya RRT 
juga bisa tidak mau import barang USA. Ini namanya perang dagang. Ini yg 
ditakuti oleh dunia global sbg ancaman stabilitas dunia.Setelah trump teriak2 
pakai produk dalam negeri dan mau produksi didalam negeri, memangnya akan 
menaikkan economic growth? Kan belum tentu. Saya malahan lihatnya: gak akan. 
Kenapa? Karena barang2 yang diproduksi didalam negeri itu akan banyak 
dikerjakan secara otomatis oleh robot dan mesin. Ini sebetulnya persoalan yg 
dihadapi oleh usa. Trump pikir kalau produksi dalam negeri digalakkan akan 
menciptakan employment di usa. Ini tidak benar. Riset2nya sudah banyak. Orang2 
sudah sangat takut akan otomatisasi terutama oleh robot. Robotic technology 
yang begitu pesat berkembang sangat menakutkan disamping tentunya akan 
kegunaannya yang tidak bisa diragukan. Sampai2 stephen hawking prihatin dan 
ngomong dimana2 ttg keprihatinannya ttg robotic ini.Trump sudah teken keluar 
dari TPP kemarin.  Ini jelas tujuannya adalah menyerang RRT.Ini jelas 
proteksionisme. Foreign policynya sudah terbuka bahwa trump akan baikan dengan 
rusia utk menyerang RRT.Ini yg perlu disoroti hasilnya gimana nantinya.Brexit 
juga adalah proteksionisme.Semua proteksionisme ini lawan dari globalisasi.Bagi 
kelompok kiri yg melawan globalisasi mestinya ketawa kan globalisasi 
dikebiri.Lucunya yang mengebiri adalah usa dedongkotnya kapitalisme.Kalau 
memang kita mau mikir ya akhirnya akan kembali ke realitas. Orang kalau 
kepentingannya diusik akan beradaptasi.Ini persis yg dilakukan oleh lenin yg 
menerapkan NEP itu. Memang ideologi bermain. Jelas sekali. Tetapi ideologi itu 
bukan ajek/stationary tetapi dinamis. Manusia tidak bisa hanya ber idealisme 
saja. ujung2nya realisme akan be rbicara. Ketika realisme bicara, mau tidak mau 
manusia harus membuat suatu keputusan.Proteksionisme ini lebih berbahaya karena 
memikirkan diri sendiri. ini adalah produk seorang nasional tetapi bukan jalan 
pikiran dan pandangan orang kiri.Nesare
From: Hsin Hui Lin

 Bg.Djie,RRT hanya mengingatkan zaman "gunboat policy" sudah liwat,  On Jan 24, 
2017 7:03 PM, djiekh@... wrote:
  Bung Lin,      Kalau dulu Amerika maunya buat barang2 yang nilai jualnya per 
unit tidak tinggi, dan makan banyak energi dan menimbulkan banyak polusi di 
luar negeri, sedangkan yang high tech, yang memberikan keunungan luar biasa 
dispesialisadi di Amerika, ternyata menimbulkan cukup anyak pengangguran.  Jadi 
Trump maunya apa semua mau dibikin sendiri di Amerika ? Atau boleh juga di 
negeri lain, asal tidak di Tiongkok untuk mempersulit Tiongkok ?   Ini akan 
memaksa Tiongkok perlahan lahan juga harus berubah untuk lebih bergeser ke arah 
memproduksi barang2 high tech. Mungkin akhirnya jusru bagus ?? 
     On 24 January 2017 at 14:13, ehhlin@... wrote: 
     DONGFENG _41..... Untuk mengingkatkan Trump ....?!  ---------- Forwarded 
message ----------
From: "Hsin Hui Lin"

 
   ---------- Forwarded message ----------
From: Hsin Hui Lin 
  http://www.globaltimes.cn/content/1030353.shtml#.WIbyMJH-cHc.gmail




   

Kirim email ke