Peranakan Bukan Lagi Hanya Keturunan Campuran 
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170127145617-277-189507/peranakan-bukan-lagi-hanya-keturunan-campuran/
 Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia
 Sabtu, 28/01/2017 09:37 WIB
 
 

 
 Peranakan Tionghoa masih merayakan Imlek. (CNN Indonesia/Safir Makki)
 
 Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak orang menganggap bahwa peranakan hanya 
berarti keturunan anak negeri dengan orang asing. Akan tetapi, komunitas 
peranakan Tionghoa menganggap pemahaman tersebut sudah ketinggalan zaman.

Ketua Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia atau Aspertina, Andrew A Susanto, 
mengatakan peranakan saat ini bukan lagi karena darah, melainkan karena budaya.

"Kami melihat peranakan bukan lagi soal keturunan darah, namun sudah berbicara 
soal budaya," kata Andrew saat ditemui CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

"Budaya peranakan adalah budaya unik yang ada di Nusantara. Ini hasil dari 
akulturasi atau pencampuran budaya Tiongkok, budaya lokal Nusantara, dan budaya 
Eropa."

 Lihat juga:Mengenal Peranakan, Memahami Keberagaman Indonesia 
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170127231240-277-189611/mengenal-peranakan-memahami-keberagaman-indonesia/

Andrew menuturkan, peranakan Tionghoa berasal dari para pekerja kasar yang 
merantau dari China ke Nusantara ratusan tahun lalu. 

Para pekerja yang kebanyakan laki-laki itu kemudian menikah dengan wanita 
pribumi dan menghasilkan keturunan campuran pertama.

Menurut Andrew, seiring dengan penjajahan Belanda di Nusantara, perkembangan 
peranakan Tionghoa juga dipengaruhi budaya dari Eropa.

"Akhirnya menghasilkan budaya peranakan yang sangat eksotis dan unik," ujarnya. 

Budaya peranakan itu masih bertahan hingga kini dan mencakup banyak hal mulai 
dari kuliner, busana, tradisi, hingga arsitektur. 
 Salah satu tanda peranakan adalah adanya bangunan berarsitektur Tionghoa di 
kawasan Pecinan. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Dan menurut Andrew, budaya peranakan Tionghoa di Indonesia berbeda dengan sang 
leluhur di China daratan. Meskipun, peranakan Tionghoa di Indonesia masih 
mengikuti kepercayaan yang sama dengan leluhur.

Misalnya seperti pada perayaan besar seperti Imlek atau Cap Go Meh. Masyarakat 
peranakan Tionghoa di Indonesia mengonsumsi makanan perayaan yang berbeda 
dengan di China.

"Misalnya lontong Cap Go Meh, itu adalah budaya kuliner yang tidak sama dengan 
yang ada di China. Hanya khas Nusantara,"

Menurut Andrew, bukti lain peleburan budaya peranakan Tionghoa adalah 
keberadaan kebaya encim. Kebaya tersebut muncul karena ada sentuhan kebaya 
lokal yang dipengaruhi Tiongkok dan Eropa.

 Lihat juga:Yu Sheng, Tradisi Imlek Demi Kemakmuran 
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170127185648-266-189561/yu-sheng-tradisi-imlek-demi-kemakmuran/

Dari kebaya encim, unsur China dapat terlihat dari keberadaan bunga peony yang 
berasal dari Negara Tirai Bambu. Sedangkan unsur Eropa terlihat dari pemilihan 
putih sebagai warna umum kebaya encim, ini bertentangan dengan kepercayaan 
Tionghoa bahwa putih melambangkan kedukaan.

"Kalau Tionghoa asli kemungkinan enggak akan pake warna putih dengan motif 
Tiongkok. Tapi kalau peranakan dipakai," kata Andrew.

Motif khas Tionghoa juga dapat ditemukan pada kain nusantara, biasanya memiliki 
warna cerah dengan motif seperti burung hongla, naga, dan kura-kura. 

Karena berbaur dengan budaya lokal, budaya peranakan yang ada di Indonesia bisa 
jadi berbeda satu daerah dengan lainnya. Semua tergantung kondisi geografis dan 
budaya setempat.

"Namun bagi saya, yang menyatukan Indonesia adalah budaya-budaya leluhur dan 
keberagaman Indonesia," kata Andrew. 

"Kami berharap masyarakat dapat terus tumbuh di masa depan tanpa melupakan 
budaya luhur lokal yang ada di Indonesia. Suka tidak suka, budaya itu melekat 
pada masyarakat dan tergantung kepada masyakat lestari atau tidaknya budaya 
itu."

(end/end)
 

 

 

Kirim email ke