Dari keterangan sejumlah pihak sepertinya proses pembelian 
AW 101 memang sudah mengikuti peraturan yang ada. 

Anehnya lagi, hampir semua pihak terkait itu seperti kompak 
menduga semua ini terjadi akibat "masalah komunikasi".Kurang jelas apa yang 
dimaksud "masalah komunikasi" ini.Padahal, memang mustahil KSAU membangkang 
terhadap 
panglima TNI, menteri pertahanan, lebih-lebih presiden.

Yang jelas, di antara pihak tsb ada yang menyebut masalah 
komunikasi ini sambil tersenyum simpul, ada yang memberi 
nada tekanan, dan ada juga yang takut-takut.
Yang pasti, bagaimana bisa menteri keuangan mengeluarkanuang untuk pembayaran.
Ada yang mau senyum? - DR. Connie:Langkah KSAU Sudah Sesuai Prosedur Kamis, 
5Januari 2017, 12:18 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO  TRIBUNNEWS.COM, 
JAKARTA-PembelianHelikopter AW101 untuk kepentingan militer serta SAR yang 
diajukan oleh TNI AUterus menuai sorotan. Banyak kalangan menilai langkah KSAU 
MarsekalTNI Agus Supriatna yang tetap melanjutkan pembelian AW101 tersebut 
merupakantindakan yang kontra dengan semangat membangun industri pertahanan 
dalamnegeri. Namun, sikap KSAU ada juga yangmendukung. Dukungan pun datang dari 
pengamat pertahanan DR Connie RahakundiniBakrie. Ia menilai langkah yang 
dilakukan oleh TNI AU dalam hal ini KSAU sudahsesuai dengan protap serta 
perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakanDIPA TNI AU 2015. Connie 
meyakini Kebijakan merubah heliVVIP menjadi heli angkut militer dan SAR sudah 
melalui tahapan serta kajianyang mendalam. "Kalau ada yang menilai 
KASAUseolah-olah melawan panglima tertinggi yakni Presiden, Panglima TNI dan 
MenteriPertahanan itu ngawur dan tidak mendasar." tegas Connie, Kamis 
(5/1/2017). Dalam pernyataannya yang diterimatribunnews.com, peneliti di INSS 
(Institute of National Security Studies), TelAviv, Israel, ini melihat adanya 
persaingan bisnis dalam industri pertahanandunia. "Ada gerakan politis yang 
sengajamembenturkan antara Presiden, Panglima TNI, Menteri Pertahanan dengan 
KASAU.Gerakan ini pun menyebarluaskan data palsu tentang AW101 versus 
Cougar."ungkap Connie. Connie yang juga Dewan Pembina NationalAir and Space 
Power of Indonesia ini malah mempertanyakan keberadaan Airbusyang sudah 
menguasai PTDI selama 30 tahun. "Airbus menciptakan C295 yang kemudiandirakit 
di Indonesia, lalu diakui sebagai CN295 padahal pihak Airbus tidakpernah secara 
tertulis menyebutnya sebagai CN295," tuturnya. "Begitu pula EC725 Cougar, kok 
malahdisebut sebagai produksi dalam negeri? ini yang harus diketahui oleh 
Presiden,dan KASAU sebagai Komisaris Utama PTDI paham betul." Jelasnya. Connie 
bahkan meminta PTDI untukmenyampaikan ke publik bahwa belum mampu membuat heli 
sendiri. Jangan adakebohongan dan pembiaran monopili demi untuk tetap eksis 
sebagai pemasok helihasil pembelian dan perakitan seperti yang mereka klaim. 
"Sekarang pernah nggak PTDImelaporkan transparasi keuangan ke DPR serta 
transparansi teknologi kepublik." Connie yang merupakan pengajar di SESKOAU dan 
SESKOAL inimenegaskan kembali. Editor : RachmatHidayat

Kirim email ke