Refleksi : Dalam konteks Politik dan Etika, seorang  filsuf  Inggris  yang
bernama Sir Francis Bacon pernah mengatakan bahwa manusia itu digerakkan
oleh hasrat untuk meraih kekuasaan sampai tak terbatas. Dalam hal ini tak
ada kehendak bebas dalam diri manusia, sebab ia dikuasai oleh
kepenringan-kepentingan dirinya. Sikap manusia seperti inilah yang mendorong
sistem demokrasi di NKRI  keluar dari kerangka demokrasi Pancasila, dan
membentuk demokrasi Oligarki. Dibidang sosial-politik, oligarki ekonomi
telah menimbulkan berakumulasinya kekayaan dan pendapatan yang sangat besar
pada segelintir orang atau pada sekelompok orang, yang kemudian membuka
kesempatan pada segelintir dan sekelompok tersebut untuk membina basis
kekuatan sosial-politik, baik secara formal maupun secara non-formal untuk
melindungi,memperkokoh dan mempereluas kepentingan mereka, sehinga
terjadilah apa yang disebut self- reinforcing antara jaringan kekuasaan
ekonomi dengan jaringan kekuasaan politik. Demikianlah apa yang kita
saksikan di era rezim  ``reformasi``Jokowi-JK sekjarang ini.

 

Demokrasi Oligarki seperti yang diuraikan diatas adalah merupakan suatu
fenomena sosial yang harus dilawan secara fondamental atau mendasar, karena
fenomena ini telah merusak sistem ekonomi Pancasila, yang berdasarkan Pasal
33 UUD 1945, yang telah kita jadikan rujukan bersama. Jadi dengan munculnya
kelompok orang-orang dalam jaringan ologarki ekonomi, yang kini telah
melahirkan sistem demoktasi oligarki adalah merupakan pekerjaan besar yang
harus kita lakukan sebagai supplement terhadap pekerjaan besar yang telah
kita lakukan yaitiu revolusi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Budaya politik
kita harus mampu melakukan pekerjaan besar ini, jika memang kita committed
terhadap emansipasai rakyat Indonesia dalam keseluruhan aspek kehidupannya,
maka reformasi sosial yang mendasar perelu dilakukan. Karena oligarki
ekonomi itu tidak bisa dikoreksi hanya dengan membuat dan memberlakukan
Undang-Undang Anti Monopoli/Oligopoli atau  meriberalkan ketentuan-ketentuan
perdagangan dan investasi seperti yang kita saksikan sekarang ini. Komitment
itu perlu diujudkan dalam political will, political courage, dan kapasitas
untuk pelaksanaan yang kokoh dari Pemerintah.

 

Roeslan

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Mittwoch, 1. März 2017 05:27
An: GELORA_In
Betreff: [GELORA45] Fw: Demokrasi Oligarki! Bukan Demokrasi Kebablasan
Wichtigkeit: Hoch

 

  

 

 

From: B.DORPI P. 

Sent: Wednesday, March 1, 2017 6:44 AM

 

 
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/>
http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablasa
n/

 

 


Demokrasi Oligarki! Bukan Demokrasi Kebablasan


Haris Samsuddin  


BARU-baru ini, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa
<https://beritagar.id/artikel/berita/memaknai-demokrasi-kebablasan-versi-jok
owi> “demokrasi kita sudah terlalu kebablasan”. Selanjutnya Jokowi
mengatakan, “praktik penyimpangan demokrasi politik telah membuka peluang
terjadinya artikulasi politik yang ekstrim seperti liberalisme, radikalisme,
fundamentalisme, sektarianisme, terorisme serta ajaran lain yang
bertentangan dengan ideologi Pancasila. Penyimpangan praktik demokrasi,
Jokowi memisalkan adanya politisasi suku, agama, dan ras”.

Di samping isinya yang kontradiktif, saya berpendapat pernyataan Jokowi ini
agak terburu-buru dan karena itu perlu dikritisi. Sebaliknya, menurut saya
bukan “demokrasi kita telah kebablasan”, tetapi “demokrasi kita telah
terpenjara oleh oligarki”. Sehingga, praktik penyimpangan demokrasi yang
dikeluhkan Jokowi itu, bukan disebabkan oleh demokrasi itu sendiri melainkan
oleh oligarki yang menunggangi sistem demokrasi tersebut. Dengan demikian,
kita perlu mengetahui apa itu “Demokrasi Oligarki”.

Demokrasi oligarki merupakan istilah yang digunakan oleh Yuki Fukuoka
(2013),[1]
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftn1>  yang merujuk pada suatu tatanan demokrasi di mana pertarungan
politik didominasi oleh koalisi kepentingan yang predatoris serta mendorong
peminggiran kekuatan masyarakat sipil. Gagalnya konsolidasi demokrasi pasca
runtuhnya rejim otoritarianisme Soeharto membawa implikasi negatif bagi
iklim demokrasi di era reformasi. Kebanyakan masyarakat terjebak pada eforia
reformasi yang membuat mereka lupa bahwa runtuhnya Orde Baru tidak disertai
melenyapnya kekuatan oligarki yang dibesarkan oleh rezim Soeharto.[2]
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftn2>  Justru, kekuatan oligarki yang semula bersenggama dengan rezim
Soeharto kembali mengonsolidasi diri (beradaptasi) dengan rezim reformasi
yang jauh lebih menguntungkannya.

Kenyataan bahwa Indonesia pasca tumbangnya Orde Baru kembali dikuasai oleh
para oligark telah berulang kali dinyatakan, terutama oleh Vedi R. Hadiz. Ia
dengan sangat jelas dan tegas mengatakan bahwa “keuntungan terbesar bagi
para konglomerat barangkali adalah bahwa proses reformasi terjadi di dalam
aparatur negara yang masih didominasi oleh hubungan-hubungan kekuasaan
predatoris serta berbagai tokoh yang sama yang pernah mendominasi rezim
lama”.[3]
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftn3>  Upaya pembacaan yang dilakukan Hadiz di atas bisa saja berbeda
menurut masing-masing penafsir. Namun, satu hal pasti, bahwa kenyataan rezim
politik hari ini benar-benar ada di bawah kuasa para oligark sulit
dinafikan. Oligarki sendiri sebagai suatu aliansi cair yang menghubungkan
kepentingan para konglomerat kaya raya selalu lihai dalam beradaptasi dengan
sistem apapun, baik otoratirianisme maupun demokrasi.

Coba amati, kebanyakan penguasa yang kini menempati posisi strategis di
berbagai institusi publik hingga partai politik rata-rata adalah petarung
lama. Tidak ada yang baru sama sekali. Para pimpinan (elite) partai,
penguasa media mainstream, para pejabat pemerintahan yang berada di jajaran
kabinet Jokowi, sampai pada seluruh jabatan strategis lainnya di dalam
birokrasi pemerintahan saat ini hanyalah sirkulasi elit-elit lama yang
selalu berotasi di dalam lingkar kekuasaan oligarki. Para oligark di atas,
termasuk orang-orang yang pernah diistimewakan di rezim kepemimpinan
Soeharto melalui relasi patron-client. Hubungan kekuasaan lama yang penuh
muslihat dan tipu daya semasa Orde Baru, belakangan setelah runtuhnya
“Soeharto”, tampil sebagai pejuang demokrasi berkedok populis. Inilah wajah
anomali demokrasi pasca otoritarianisme Soeharto. Kebanyakan orang tertipu
dengan politik pencitraan yang terus dipolesi oleh media, yang juga notabene
adalah milik mereka (baca: oligark).

Dominasi oligarki dalam ranah politik Indonesia terjadi karena kenaifan
asumsi reformasi institusional neoliberal yang percaya akan primasi
pengelolaan institusi rasional. Kenaifan ini mengabaikan keberadaan relasi
ekonomi politik oligarki yang menyejarah. Kemampuan oligarki untuk
menaklukkan kekuasaan negara serta melakukan disorganisasi atas kekuatan
oposisi masyarakat sipil, membuat proses reformasi institusional neoliberal
tidak memiliki basis sosial dan politik yang kuat. Hal inilah yang kemudian
menyebabkan oligarki dapat mempertahankan dominasi politiknya, yang
dengannya merepresi kemungkinan bagi munculnya agensi politik
non-oligarki.[4]
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftn4> 

Harus disadari bahwa reformasi politik yang beriringan dengan reformasi
ekonomi pasca Orde Baru, tidak sama sekali menghancurkan relasi oligarki
ini. Kenyataan bahwa lemahnya kekuatan civil society belakangan ini dalam
membendung gurita oligarki semakin membuktikan tesis Richard Robison dan
Vedi R Hadiz bahwa penguasaan atas politik negara sekaligus disertai
disorganisasi kekuatan oposisional yang tercakup dalam elemen masyarakat
sipil menjadi dasar historis bagi dominasi oligarki terhadap kekuatan
politik non-oligarki. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa perseteruan
politik di era reformasi kembali meneguhkan posisi elit lama.[5]
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftn5> 

Jeffrey Winters, salah seorang penggagas tesis oligarki terkemuka lewat
bukunya Oligarchy (2011), mengemukakan bahwa pembacaan terhadap dinamika
kekuasaan politik harus didasarkan pada konsentrasi sumber daya kekuasaan
yang dimiliki setiap oligark. Tulisnya, “oligark didefinisikan oleh tipe dan
ukuran sumber daya kekuasaan yang dikendalikannya”.[6]
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftn6>  Winters membagi sumber daya kekuasaan mencakup hak politik
formal, jabatan resmi (baik di dalam maupun di luar pemerintahan), kuasa
pemaksaan (coercive power), kekuatan mobilisasi (mobilizational power), dan
kekuasaan material (material power). Khusus untuk sumber daya kekuasaan yang
terakhir (kekuasaan material) merupakan basis kekuasaan oligark.

Oligark adalah aktor yang diberdayakan oleh kekayaan (sumber daya paling
menonjol di antara bentuk-bentuk kekuasaan lainnya).[7]
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftn7>  Oligark berbeda dengan kaum elit pada umumnya yang cenderung
menggunakan kekuasaan non-material. Oligark lebih cenderung menggunakan
basis sumber daya material dalam melangsungkan manuver politiknya. Dalam
konteks demokrasi, kaum oligark memanfaatkan situasi ketimpangan sumber daya
material sebagai peluang memenangkan konstestasi politik
(pemilu/pemilukada). Mahalnya biaya politik ditambah mentradisinya politik
transaksional belakangan ini semakin mempermudah para oligark dalam
menggeser rival politiknya yang tidak memiliki basis material yang memadai.

Hemat saya, tesis oligarki Winters yang melihat kondisi ketidaksetaraan
kekayaan yang ekstrem antar-warga senantiasa mengarah pada ketidaksetaraan
politik yang juga ekstrem menemukan relevansinya di Indonesia saat ini. Hal
ini terbukti di mana momentum pemilu/pemilukada tereduksi semata-mata
sebagai ajang pertarungan kepentingan para oligark, bukan urusan menyeleksi
wakil rakyat yang kompeten dan berintegritas secara fair dan demokratis.
Dalam demokrasi oligarki, rakyat (voters) tidak memilih apa yang mereka
kehendaki, melainkan telah dipilihkan oleh segelintir elit kekuasaan yang
memegang peran dominatif di dalam institusi demokrasi.

Bagaimana dikatakan pilihan rakyat, jika calon pemimpin/penguasa baik di
pusat maupun di daerah, melewati suatu saringan politik di internal partai
(kecuali calon independen) yang sarat dengan kalkulasi kapital tanpa melalui
usulan publik (rakyat) dianggap pilihan rakyat? Nalar sehat macam apa yang
melihat fakta politik demikian sebagai logika publik yang mengafirmasi diri
dalam bentuk pilihan rasional? Bukankah itu yang selama ini kita sebut
kegilaan di atas kegilaan? Alias ketidakwarasan yang cenderung diafirmasi
secara terus-menerus tanpa refleksi.

 

Penutup 

Kembali ke penyataan Jokowi, sudah jelas bahwa jika Jokowi menghendaki
demokrasi berjalan sebagaimana esensinya, yakni sebagai kekuasaan rakyat,
maka ia harus mengambil langkah-langkah politik dan ekonomi untuk membendung
atau membonsai kekuasaan oligarki yang mendominasi lapangan permainan
politik saat ini.

Jokowi dan para penasehatnya harus ingat bahwa “politisasi suku, agama, dan
ras”, yang disebutnya sebagai “penyakit demokrasi” bukanlah hal yang baru
muncul sekarang ini. Ia sudah bertunas dan berkecambah sejak 10 tahun
kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan memuncak pada masa
Pilpres 2014 lalu. Penyakit ini semakin berbiak karena tidak ada
langkah-langkah politik dan ekonomi yang strategis untuk membendungnya.

Bagi gerakan sosial, mandegnya agenda demokratisasi, selain karena
cengkeraman oligarki yang terus bertahan, juga menandakan betapa lemahnya
konsolidasi kekuatan civil society. Adalah naif belaka untuk mengharapkan
Jokowi mau membonsai kekuatan oligarki. Dialektika hubungan kekuasaan
seperti inilah yang mesti kita sadari dan jabarkan dalam lapangan politik
yang konkret dan terukur capaiannya. Dengan demikian, kita memang perlu
mengkritisi dan menentang langkah-langkah politik-ekonomi Jokowi yang pro
oligarki, yang tidak memiliki imajinasi politik di luar kenyataan
ekonomi-politik warisan rezim Orde Baru ini. Tetapi kita juga harus jujur
sejujur-jujurnya bahwa kita tidak cukup serius membangun gerakan
sosial-politik yang terorganisasi secara ideologi, politik dan organisasi
untuk melawan demokrasi oligarki ini.***

 

Penulis adalah Anggota Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam
(FNKSDA) Malang dan Peneliti di Intrans Institute

 

————-

 
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftnref1> [1] Yuki Fukuoka, “Oligarchy and Democracy in Post-Soeharto”,
Political Studies Review II, no. I, 2013: 52-64.

 
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftnref2> [2] Terkait pembiakan para kapitalis domestik yang kemudian
tumbuh bersama dengan koalisi kepentingan ekonomi politik di era Orde Baru
dapat dilihat melalui karya Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya
Kapitalisme Indonesia, ditejemahkan oleh Harsutejo dari judul asli
Indonesia: The Rise of Capital, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2102). Lingkar
konglomerat domestik yang dibesarkan dari hasil persenggamaan kekuasaan
otoriter Soeharto inilah yang di kemudian hari setelah runtuhnya Soeharto
mengambil alih kekuasaan baik di tingkat nasional maupun lokal dan membentuk
lingkaran kekuasaan oligarkis.

 
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftnref3> [3] Vedi R Hadiz, Dinamika Kekuasaan: Ekonomi Politik
Indonesia Pasca-Soeharto. Diterjemahkan oleh A Zaim Rofiqi dan Dahris
Setiawan, (Jakarta: LP3ES, 2005), 149-150.

 
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftnref4> [4] Muhammad Ridha, “Oligarki dan Agensi Politik Indonesia di
Era Neoliberal: Evaluasi Kritis Tesis Oligarki Robison-Hadiz”, Jurnal
Indoprogress, no. 6, vol. II, 2016, 9.

 
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftnref5> [5] Richard Robison dan Vedi R Hadiz, Reorganising Power in
Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets, (London:
Routledge Curzon, 2004).

 
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftnref6> [6] Jeffrey Winters, Oligarki. Diterjemahkan oleh Zia Anshor,
(Jakarta: PT Gramedia, 2011), 17.

 
<http://indoprogress.com/2017/02/demokrasi-oligarki-bukan-demokrasi-kebablas
an/#_ftnref7> [7] Jefrey A Winters, “Oligarki dan Demokrasi di Indonesia”,
Majalah Prisma, no. 1, vol. 33, 2014, 14.

 

 

 

 



Kirim email ke