Kalau di kalangan kaum yang cukup berpendidikan di Jerman banyak yang
menyebutkan sistim kekuasaan di Saudi Arabia itu sebagai: Die
Enthaupt-Diktatur, dlm bhs Indonesia: Diktatur Penggal-Kepala.

Kalau dipikir betapa terbelakangnya pandangan umum hasil pendidikan
pengpeng sejak periode jaman orba di Indonesia sampai dewasa ini.






Am Thu, 2 Mar 2017 08:42:28 +0100
schrieb "kh djie [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>:

> Surat dari seorang professor Indonesia, pengajar di Saudi Arabia.
> 
> ---------- Forwarded message ----------
> 
> 
> Surat pagi hari dari teman di Arab :
> 
> Copas dari sebelah.
> Wartaislami ~ Saya membuat tulisan ini, bukan untuk merendahkan bangsa
> saya, Indonesia tercinta.
> 
> Bukan pula menyerang negara Arab, khususnya Arab Saudi tempat di mana
> saya berdomisili saat ini.
> 
> Tujuan tulisan singkat saya ini untuk membangunkan teman-teman,
> kakak, dan adik-adik saya dan sesama saudara warga negara Indonesia
> di mana saja berada.
> 
> Agar bisa memilih dan memilah, mana yang bisa dijadikan
> panutan/pedoman, serta mana pula yang harus diwaspadai.
> 
> Harapan saya hanya satu:
> Semoga Indonesia selalu dirahmati oleh Allah Tuhan Alam Semesta
> Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, dan anak-anak bangsa
> ini -termasuk saya- tidak menjadi bangsa yang inferior(rendah diri),
> tidak mudah kagum, dan tidak mudah menjadi beo.
> 
> Begini, saya melihat hubungan antara Arab (khususnya Arab Teluk),
> Barat (khususnya Amerika), dan Indonesia (khususnya yang pro-Arab)
> itu unik, menarik, dan lucu.
> 
> 
> President Barack Obama meets with Saudi Crown Prince Mohammed bin
> Nayef, center, and Saudi Foreign Minister Adel Al Jubeir at the White
> House on Wednesday. Photo The Guardian
> 
> Negara-negara Arab, khususnya Teluk itu “sangat Barat” dan jelas2
> pro-Amerika (dan Inggris).
> 
> Hampir semua produk2 Barat dari ecek-ecek (semacam restoran fast
> foods) sampai yg berkelas dan bermerk untuk kalangan berduit, semua
> ada di kawasan ini.
> 
> Mall-mall megah dibangun, a.l., untuk menampung produk-produk Barat
> tadi.
> 
> Warga Arab menjadi konsumen setia karena memang mereka hobi shopping
> (bahkan terkadang lalai dengan sembahyang).
> 
> Orang-orang Barat juga mendapat “perlakuan spesial” disini, khususnya
> yang bekerja di sektor industri (gaji tinggi, fasilitas melimpah).
> 
> Mayoritas orang-orang Arab juga sangat hormat & inferior(rendah diri)
> terhadap orang-orang Barat.
> 
> Saya sering jalan bareng bersama “kolega bule”-ku ke tempat pameran
> barang-barang branded tsb, dan mereka menganggap saya adalah
> “jongosnya”.
> 
> Bagi orang2 Arab, non-bule darimanapun asalnya apapun agama mereka
> adalah “Kelas Buruh”, sementara org bule, sekere & sebego apapun
> mereka, beragama atau tidak beragama, dianggap “kelas elit”.
> 
> Mereka baru menaruh rasa hormat, kalau sudah tahu “siapa kita”.
> 
> Sejumlah universitas2 beken di Amerika juga membuka cabang di Arab
> Teluk, selain Saudi, (Georgetown, New York Univ, Texas A & M,
> Carnegie Melon Univ, dll).
> 
> Di bawah bendera King Abdullah Scholarship, Saudi telah mengirim
> lebih dari 150 ribu warganya untuk belajar di kampus-kampus Barat,
> khususnya Amerika, Kanada & Eropa (jg Aussie).
> 
> Tidak ada satu pun yang disuruh belajar ke Indonesia!! !
> Sementara (sebagian) warga Indo memimpikan belajar di Arab Saudi.
> Lucunya, para fans/penyembah Arab Saudi dan Arab-Arab lainnya di
> Indonesia, mereka mati-matian men-tuan-kan Arab, sementara Arab
> sendiri tidak “menggubris” mereka (penyembah Arab).
> 
> Para “cheerleaders/pengidola” Arab ini (para fans Arab di Indonesia),
> juga mati2an anti-Barat padahal orang-orang Arab mati-matian membela
> Barat.
> 
> Kita bertutur memakai istilah bahasa mereka (akhi, ukhty, antum, dan
> berbagai istilah arab lainnya, padahal, mereka merendahkan kita). Kita
> seolah gagal faham untuk membedakan antara Islam dan Arab.
> Islam menghargai kita sedangkan Arab menganggap kita ini bangsa budak.
> 
> Saya bukan anti-Arab atau anti-Barat karena teman-teman baikku banyak
> sekali dari “dua dunia” ini.
> 
> Saya juga bukan pro-Arab atau pro-Barat. Saya adalah saya yang tetap
> orang kampungan Jawa.
> 
> Daripada “menjadi Arab” atau “menjadi Barat”, akan lebih baik jika
> kita menjadi “diri kita sendiri” yang tetap menghargai warisan
> tradisi dan kebudayaan leluhur kita.
> 
> Itulah orang Saudi, mereka menganggap kecil terhadap orang Indonesia,
> di hotel, di kantor, bahkan mrk menyangka saya cuma tenaga
> profesional ecek ecek, mereka tanya gaji, disangka CUMA 2 ribu atau 3
> ribu Real. (1 real = 3700)
> 
> Waktu saya bilang jumlah gaji saya, mereka baru tahu gaji saya sama
> dengan orang Amerika atau Inggris, dan mereka tanya kok bisa begitu.
> 
> Saya bilang, saya pernah training di Inggris dan di Amerika, dan
> ternyata gaji saya lebih besar dari gaji dokter Saudi.
> 
> Itulah kenyataannya, dan yang menggaji saya perusahaan di Abu Dhabi
> yang tidak menganggap rendah karyawannya berdasarkan kebangsaan atau
> Nationality profiling.
> 
> Mudah-mudahan pemerintah tidak mengirim lagi TKI atau TKW sehingga
> mereka tidak menganggap orang Indonesia bangsa budak.
> 
> Tetapi kirim tenaga terdidik, terutama yang menguasai bahasa Inggris.
> 
> Sekali lagi:
> 
> Saya bukan anti Arab dan juga bukan anti Barat saya cuma orang Jawa –
> Indonesia yang dipercaya sebagai orang yang bekerja sebagai tenaga
> ahli yang dibayar berdasarkan keahliannya.
> 
> Suatu hari, dan ini bukan untuk menyombongkan diri, saya merasa bangga
> ketika saya keluar dari sebuah hotel di Jeddah, saya dijemput oleh
> sopir orang Arab berasal dari Thaif.
> Itu kebanggaan saya, karena biasanya yg jadi sopir itu orang
> Indonesia.
> 
> Mudah-mudahan kita tidak jadi bangsa budak dan budak diantara bangsa
> lain.
> 
> Belum lama ini sy mengadakan survei dg responden para mahasiswaku
> (sekitar 100 mhs) yg mayoritas beretnik Arab & Saudi. Survei ini
> bersifat “confidential” dan identitas mahasiswa tdk diketahui. Salah
> satu pertanyaan dlm survei adl: “Agar lebih Islami, apakah masyarakat
> Muslim non-Arab harus meniru & mencontoh masyarakat Arab &
> menjalankan kebudayaan mrk?” Jawaban mrk, sekitar 60% bilang “tidak”,
> 12% bilang “ya”, selebihnya “mungkin” & “tidak tahu”.
> 
> Saya tdk tahu secara pasti apakah jawaban mrk itu ada kaitannya dg
> “doktrin2” pentingnya menghargai pluralitas budaya, agama, &
> masyarakat yg selama ini sy “ajarkan” di kelas atau mungkin karena
> pengaruh pendidikan yg semakin meningkat atau gelombang modernisasi &
> “internetisasi” yg mewabah di kawasan Arab.
> 
> Apapun faktor2nya yg jelas hasil survei ini “sedikit menggembirakan”
> (setidaknya buatku), meskipun masih bny tantangan cukup besar
> menghadang di depan mata. Bukan suatu hal yg mustahal jika kelak kaum
> Muslim Arab & Saudi khususnya bisa menjadi lebih maju, terbuka, dan
> toleran. Dan bukan suatu hal yg mustahal pula jika kelak kaum Muslim
> Indonesia justru “nyungsep” menjadi umat yg bebal, tertutup, dan
> intoleran.
> 
> Di saat masyarakat Arab mulai lelah dg konflik & kekerasan serta mulai
> menyadari pentingnya keragaman & hidup bertoleransi, sejumlah kaum
> Muslim di Indonesia justru menjadi umat intoleran dan
> anti-kemajemukan…
> 
> Sumanto Al Qurtuby, seorang professor Warga Negara Indonesia, dosen
> di King Fahd University for Petroleum and Gas, Arab Saudi.
> 
> *Jika artikel ini bermanfaat buat anda dan orang lain silahkan share
> sebanyak-banyaknya
> 
> Sumber :arrahmah.co.id
> 

Kirim email ke