Kelahiran khimaira, separuh hewan separuh manusia 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-39113249 1 Maret 2017

 Kirim http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-39113249#share-tools


 
 Hak atas fotoTIZIANA FABI/AFP/GETTY IMAGESImage captionBabi sering menjadi 
inkubator tumbuhnya organ manusia. Upaya untuk menciptakan hewan dengan organ 
manusia punya sejarah panjang — dan kini menjadi kenyataan. Apakah sains 
melangkah terlalu jauh?
 Pada buku The Island of Doctor Moreau karyaHG Wells, tokoh Edward Pendrick 
yang terdampar karena kapalnya hancur berjalan melalui hutan. Suatu saat dia 
bertemu dua pria dan seorang perempuan yang berjongkok di sekitar pohon yang 
roboh.
 Mereka telanjang, hanya ada kain gombal yang terikat di pinggangnya dengan 
"muka yang gendut, berat, tanpa dagu, dahi yang mundur, dan rambut yang 
jarang-jarang di kepala mereka." Pendrick mencatat bahwa dia "tak pernah 
melihat makhluk yang seperti hewan" seperti itu.
 Saat Pendrick mendekat, mereka berusaha berbicara dengannya, namun bicara 
mereka "tebal dan jorok" dan kepala mereka berayun-ayun saat bicara, "mengulang 
kata-kata kosong yang rumit".
 Terlepas dari baju dan penampilan mereka, menurut Pendrick mereka "memberikan 
kesan tak tertahankan seperti babi" dalam perilakunya. Mereka, dia 
menyimpulkan, adalah "manusia gagal yang buruk rupa".
 Hewan-hewan yang pernah disangka sebagai 'makhluk jahat' 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-39019146 Ayam ternyata tidak sebodoh 
yang dibayangkan http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-39074277 Saat satu 
malam berjalan ke ruang operasi Doctor Moreau, Pendrick menemukan kebenarannya: 
tuan rumahnya sudah mengubah hewan menjadi manusia, memahat tubuh mereka dan 
otak mereka sesuai keinginannya sendiri.
 Namun terlepas dari upaya terbaik yang dia lakukan untuk menghapus insting 
hewan yang mendasar, kelompok yang rapuh itu kemudian mundur menuju anarkisme 
yang berbahaya, dan menyebabkan kematian Moreau.
 'Separuh hewan, separuh manusia' Sudah 120 tahun berlalu sejak Wells 
menerbitkan novel pertamanya, dan dengan membaca beberapa tajuk utama, Anda 
akan berpikir bahwa kita sudah semakin dekat ke visi distopia ini. "Ilmuwan 
Frankenstein mengembangkan khimaira separuh manusia, separuh hewan," klaim 
Daily Mirror terbitan Inggris pada Mei 2016.
 "Ilmuwan ingin memecah batasan antara manusia dan hewan," sebut Washington 
Times, dua bulan kemudian, mengkhawatirkan kemungkinan munculnya hewan yang 
bisa berpikir dan merasa.
Hak atas fotoILBUSCAImage captionHomer menggambarkan khimaira sebagai hibrida 
antara singa dan ular yang mengembuskan api. Harapannya adalah untuk menanamkan 
sel punca manusia di embrio hewan agar tumbuh menjadi organ manusia spesifik. 
Secara teori, pendekatan ini memberikan penggantian yang selalu tersedia bagi 
jantung atau liver yang sakit — sehingga orang tak harus mengantre donor 
manusia dan mengurangi risiko penolakan tubuh terhadap organ donor.
 Rencana yang berani dan kontroversial ini adalah puncak dari penelitian selama 
tiga dekade. Eksperimen ini membantu kita memahami berbagai misteri kehidupan, 
mengaburkan batasan antara spesies, dan menjelajahi kemungkinan sekumpulan sel 
yang acak di janin menyatu menjadi makhluk yang tumbuh dan hidup.
 Dengan rencana baru untuk mendanai proyek tersebut, kita kini berada di titik 
kritis penelitian tersebut.
 "Semuanya bergerak begitu cepat di bidang ini sekarang," kata Janet Rossant di 
Rumah Sakit Anak di Toronto, dan salah satu pionir penelitian awal khimaira. 
"Ini akan membuka pemahaman baru dari biologi."
 Tentu saja, ini setelah kita menyelesaikan beberapa isu etis — pertanyaan ini 
mengubah pemahaman kita akan apa artinya menjadi manusia.
 Selama beberapa millennia, khimaira adalah legenda. Istilah ini muncul dari 
mitologi Yunani, dan Homer menggambarkan hibrida unik sebagai "buatan abadi, 
bukan manusia, dengan bagian depan singa dan ular di belakangnya, kambing di 
tengah".
 Makhluk ini mengembuskan api saat berkeliling Lycia di Asia Minor.
 Pulau ganjil di Indonesia, tempat pertemuan monyet dan hewan berkantung 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-38606565 Hewan-hewan dengan keturunan 
paling banyak http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-38209718 Gabungan 
beberapa jaringan gen
 Kenyataannya, khimaira di dunia ilmiah tak sehebat itu. Kata ini menggambarkan 
makhluk yang menggabungkan beberapa jaringan yang secara gen berbeda. Ini 
muncul secara alami, jika embrio kembar bergabung segera setelah pembuahan, 
dengan hasil yang mengejutkan.
 Pertimbangkan "bilateral gynandromorphs", satu bagian tubuh adalah perempuan, 
dan sebelahnya lagi perempuan.
 Hewan-hewan ini sebenarnya adalah kembar non-identik yang menyatu di bagian 
tengah. Jika dua jenis kelamin punya penandaan yang berbeda — seperti pada 
banyak burung dan serangga — hal ini bisa memunculkan penampilan yang aneh, 
seperti burung kardinal utara yang mendapat bulu merah di separuh badannya, dan 
separuh lainnya abu-abu.
 Namun, yang lebih sering terjadi, campuran antara sel tersebut membentuk 
mosaik yang halus di seluruh tubuh dan khimaira terlihat dan bertingkah seperti 
individu lain dalam spesies itu.
 Populasi menurun, hewan cheetah terancam punah 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-38441802 Makhluk-makhluk nyata berkepala 
dua yang mungkin sumber inspirasi Hydra 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-39036936 Ada peluang bahwa Anda 
termasuk khimaira. Penelitian menunjukkan bahwa sedikitnya 8% dari kembar 
non-identik telah menyerap sel dari saudara atau saudari mereka.
 Hewan campuran dari legenda Yunani Kuno tentu tak bisa ditemukan di dunia 
nyata, namun ini tak menghentikan ilmuwan untuk berusaha menciptakan khimaira 
hibrida di laboratorium.
 Janet Rossant, yang saat itu berada di Brock University, Kanada, adalah salah 
satu yang pertama sukses.
 Pada 1980, dia menerbitkan laporan ilmiah di jurnal Science yang mengumumkan 
khimaira yang mencampurkan dua spesies tikus: tikus laboratorium albino (Mus 
musculus) dan tikus Ryukyu (Mus caroli), spesies liar dari Asia Timur.
Hak atas fotoDIETMAR NILL/NATUREPL.COMImage captionPada 1980an, khimaira 
hibrida tikus diciptakan dari dua spesies. Upaya sebelumnya untuk menghasilkan 
hibrida khimaira "interspesifik" kerap berujung pada kekecewaan. Embrio gagal 
untuk menempel di uterus, dan yang berhasil menempel kadang cacat atau tak 
berkembang, dan biasanya gugur sebelum bisa lahir sempurna.
 Teknik Rossant melibatkan operasi yang hati-hati di titik kritis pada 
kehamilan, sekitar empat hari setelah kawin.
 Pada poin ini, telur yang dibuahi sudah terbagi menjadi kumpulan sel kecil 
yang disebut blastocyst. Kumpulan ini berisi massa sel dalam yang dikelilingi 
oleh lapisan pelindung bernama trophoblast, yang kemudian akan membentuk 
plasenta.
 Bekerja dengan William Frels, Rossant mengambil M. musculus dan 
menyuntikkannya dengan sel massa dalam dari spesies lain, M. carolis.
 Katak mini seukuran kuku manusia ditemukan di India 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39049024 Hewan-hewan dengan sengat paling 
mematikan 
http://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2016/08/160808_vert_earth_hewan_sengat 
Mereka menyuntikkan lagi kantung berisi sel campuran ini ke induk-induk M. 
musculus. Dengan memastikan trophoblast M. musculus tetap utuh, mereka 
memastikan bahwa plasenta yang dihasilkan akan sama dengan DNA induk. Ini 
membantu embrio menempel pada uterus.
 Selanjutnya, mereka tinggal menunggu 18 hari sampai kehamilan ini selesai.
 Hasilnya, sukses: dari 48 tikus yang dilahirkan, 38 memiliki jaringan campuran 
dari kedua spesies. "Kami menunjukkan bahwa Anda bisa menembus batasan 
spesies," kata Rossant.
 Campuran ini terlihat jelas dalam bulu tikus, dengan putih albino dari M. 
musculus bergantian dengan garis-garis jingga dari M. caroli.
Hak atas fotoSINCLAIR STAMMERS/SPLImage captionUntuk menciptakan hibrida, sel 
dari satu spesies disuntikkan ke spesies lain. Meski suhu mereka berbeda dari 
orangtuanya. "Jelas bahwa ini campuran aneh," kata Rossant.
 "M. caroli itu sangat suka meloncat: Anda harus menaruh mereka di dasar tempat 
sampah agar tidak melompat ke arah Anda, dan Anda harus memegang mereka dengan 
capit dan sarung tangan kulit."
 Sementara M. musculus lebih tenang. "Khimaira-nya berada di tengah-tengah."
 Lain spesies, lain perilaku Dengan pemahaman ilmu saraf modern, Rossant 
berpendapat bahwa hal ini bisa membantu kita dalam menelusuri alasan spesies 
berbeda bertingkah berbeda pula.
 "Anda bisa memetakan perbedaan perilaku di wilayah otak yang berbeda yang 
digunakan oleh dua spesies," katanya.
 "Saya pikir ini akan menjadi sangat menarik untuk diperiksa."
 Pada penelitian awalnya, Rossant menggunakan khimaira ini untuk meneliti 
biologi dasar kita.
 Saat pemeriksaan genetik masih berada di tahap awal, perbedaan antara dua 
spesies bisa membantu mengidentifikasi penyebaran sel dalam tubuh, dan 
memungkinkan ahli biologi untuk memeriksa elemen mana pada embrio awal yang 
digunakan untuk menciptakan organ baru.
 Hewan kecil ini bisa hidup tak bernapas selama 17 hari 
http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_earth/2016/10/161018_vert_earth_kalajengking
 Apakah Anda dapat menebak mata hewan dalam foto ini? 
http://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2016/09/160913_vert_earth_mata_hewan 
Dua garis keturunan itu bahkan bisa membantu ilmuwan menyelidiki peran dalam 
gen tertentu.
 Mereka bisa menciptakan mutasi dalam salah satu embrio awal, tapi tidak pada 
yang lainnya. Dengan mengamati efeknya pada khimaira yang dihasilkan bisa 
membantu memisahkan berbagai fungsi gen yang berbeda di bagian tubuh yang 
berbeda pula.
 Dengan teknik Rossant, berbagai khimaira hibrida lain pun muncul dan 
dilahirkan di laboratorium di seluruh dunia.
 Campuran kambing-domba Termasuk khimaira kambing-domba, yang disebut geep.
 Hewan ini cukup mencolok untuk dilihat, campuran dari wol dan bulu yang kasar. 
Time menggambarkannya sebagai "lucu-lucuan penjaga kebun binatang: kambing yang 
dipakaikan sweater angora."
 Rossant juga menjadi penasihat berbagia proyek konservasi, yang berharap untuk 
menggunakan tekniknya untuk menyuntikkan embrio spesies yang hampir punah dalam 
janin hewan domestik. "Saya tidak yakin ini bisa sepenuhnya berjalan, namun 
konsep itu ada di sana."
 Kini tujuannya adalah menambah manusia dalam campuran itu, proyek yang bisa 
memulai era baru "pengobatan regeneratif".
Hak atas fotoGEOFF TOMPKINSON/SPLImage captionCampuran antara kambing dan 
domba, geep. Selama dua dekade, dokter telah mencoba untuk menemukan cara 
memanen sel punca, yang berpotensi membentuk jaringan, dan mendorongnya untuk 
menumbuhkan organ baru di cawan petri.
 Strategi ini akan berpotensi besar dalam mengganti organ yang sakit.
 "Satu-satunya masalah adalah ini sangat mirip dengan sel di embrio, tidak 
identik," kata Juan Carlos Izpisua Belmonte di Salk Institute for Biological 
Studies di La Jolla, California. Sejauh ini, tidak ada yang layak untuk 
pencangkokan.
 Izpisua Belmonte, dan beberapa ilmuwan lain sepertinya, berpikir bahwa 
jawabannya ada di lahan pertanian.
 Tujuannya adalah menciptakan hewan khimaira yang bisa menumbuhkan organ yang 
bisa dipesan.
 "Embriogenesis terjadi setiap hari dan embrio itu muncul sempurna 99%," kata 
Izpisua Belmonte. "Kita tidak tahu bagaimana melakukan ini secara in vitro, 
tapi hewan melakukannya dengan baik, jadi kenapa tidak membiarkan alam yang 
bekerja?"
 Orangutan buta di Kalimantan jalani operasi mata 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38866620 Pohon yang membentuk sejarah 
manusia http://www.bbc.com/indonesia/vert-earth-39019142 Tak seperti "geep" 
yang menunjukkan mosaik jaringan di seluruh badannya, jaringan asing di 
khimaira akan terbatas pada organ yang spesifik.
 Dengan memanipulasi gen tertentu, peneliti berharap bahwa mereka bisa 
menghilangkan organ yang disasar di tubuh utamanya, dan menciptakan kekosongan 
yang bisa ditempati oleh sel manusia dan tumbuh sesuai ukuran dan bentuknya.
 "Hewan adalah inkubator," kata Pablo Juan Ross di University of 
California-Davis, yang juga meneliti kemungkinan itu.
 Menumbuhkan organ Kita sudah tahu hal ini mungkin secara teori. Pada 2010, 
Hiromitsu Nakauchi dari Stanford University School of Medicine dan koleganya 
menciptakan pankreas tikus di tubuh tikus lain menggunakan teknik serupa.
 Babi kini menjadi hewan inkubator yang lebih sering digunakan, karena secara 
anatomi, mereka mirip dengan manusia.
 Jika sukses, strategi ini akan menyelesaikan banyak masalah dalam donasi organ 
sekarang.
Hak atas fotoMONTY RAKUSENImage captionBeberapa ilmuwan berupaya menumbuhkan 
organ manusia di dalam babi. "Rata-rata waktu menunggu untuk ginjal adalah tiga 
tahun," kata Ross. Sebagai perbandingan, organ yang dibuat dan ditumbuhkan 
secara khusus di dalam babi akan siap dalam lima bulan.
 "Ini keuntungan lain dari menggunakan babi. Mereka tumbuh dengan cepat."
 Terlepas dari pencangkokan, khimaira hewan-manusia juga bisa mengubah cara 
kita berburu obat-obatan.
 Saat ini, banyak perawatan baru yang tampak efektif dalam uji hewan, namun 
memiliki efek tak terduga pada manusia. "Semua uang dan waktu itu hilang," kata 
Izpisua Belmonte.
 Contohnya obat untuk penyakit liver. "Jika kita bisa menaruh sel manusia di 
dalam liver babi, maka dalam tahun pertama pengembangan obat itu, kita bisa 
melihat apakah obat itu berbahaya bagi manusia," katanya.
 Rossant sepakat bahwa pendekatan itu bisa punya potensi besar, meski ini 
adalah langkah-langkah pertama dalam sebuah jalan panjang.
 "Saya harus mengakui keberanian mereka dalam menjalani ini," katanya. "Bisa 
dilakukan, tapi saya harus bilang bahwa tantangannya serius."
 Banyak dari kesulitan ini adalah hal teknis.
Hak atas fotoPETEDRAPERImage captionKekhawatiran etis telah menunda penelitian 
dalam khimaira hewan-manusia. Kesenjangan evolusi antara manusia dan babi jauh 
lebih besar daripada jarak antara tikus dan tikus lab, dan ilmuwan tahu dari 
pengalaman mereka bahwa ini menyulitkan bagi sel donor untuk berakar.
 "Anda harus menciptakan kondisi agar sel manusia bisa hidup dan bertahan," 
kata Izpisua Belmonte.
 Agar tercapai, maka sumber dari sel punca manusia yang murni harus ditemukan, 
dan sel ini harus mampu berubah menjadi jaringan apapun, dan mungkin mengubah 
genetika tubuh utamanya agar menjadi lebih ramah.
 Namun kekhawatiran etika inilah yang menunda penelitian. Pada 2015, Intitusi 
Kesehatan Nasional AS telah mengumumkan moratorium atas pendanaan bagi khimaira 
hewan-manusia.
 Sejak itu, sudah diumumkan rencana untuk menghapus larangan tersebut, dengan 
syarat setiap eksperimen harus mendapat peninjauan tambahan sebelum pendanaan 
disetujui. Sementara itu,
 Izpisua Belmonte telah ditawari pendanaan $2,5 juta atau Rp30 miliar lebih 
dengan syarat dia menggunakan sel punca monyet, bukan manusia, untuk 
menciptakan khimaira.
 Satu kekhawatiran emosi adalah jika sel punca mencapai otak babi, maka akan 
menciptakan hewan yang memiliki perilaku serta kemampuan kami.
 "Saya merasa ini sesuatu yang harus dipertimbangkan dan dibicarakan dengan 
mendalam," kata Rossant.
 Pikiran manusia di dalam tubuh hewan Toh Rossant menemukan bahwa khimaira 
berbagi perilaku dan sikap dari kedua spesies. Akan sangat mengerikan untuk 
menciptakan pikiran manusia yang terperangkap dalam tubuh hewan, mimpi buruk 
yang dibayangkan Wells.
 Para peneliti menyebut beberapa kekhawatiran yang bisa muncul. "Dengan 
menyuntikkan sel dalam satu tahap perkembangan embrio tertentu, kita bisa 
mencegah hal ini terjadi," kata Izpisua Belmonte.
 Opsi lain adalah untuk memprogram sel punca dengan "gen bunuh diri" yang akan 
membuat mereka menghancurkan diri dalam kondisi tertentu, untuk mencegah mereka 
Kelahiran khimaira separuh hewan separuh manusia menempel di jaringan saraf.
Hak atas fotoHECTOR GUERRERO/AFP/GETTY IMAGESImage captionHibrida kambing dan 
domba sangat jarang. Meski begitu, solusi ini belum meyakinkan Stuart Newman, 
ahli sel biologi di New York Medical College, AS.
 Dia mengatakan dia khawatir akan arah penelitian ini sejak terciptanya geep 
pada 1980an. Kekhawatirannya bukan hanya soal hari ini, tapi bahwa di masa 
depan, khimaira akan semakin banyak mengambil karakteristik manusia.
 "Hal ini menjadi semakin menarik, baik secara ilmiah maupun medis, semakin 
mereka menjadi manusia," kata Newman.
 "Mungkin sekarang Anda bilang 'saya tidak akan membuat sesuatu yang sebagian 
besarnya manusia', tapi ada dorongan untuk melakukan itu…Ada semacam momentum 
bahwa keseluruhan upaya ini membuat Anda melangkah semakin jauh dan semakin 
jauh."
 Andaikan ilmuwan menciptakan khimaira untuk mempelajari pengobatan baru untuk 
Alzheimer's.
 Tim peneliti mungkin akan mendapat izin untuk menciptakan khimaira yang berisi 
20% otak manusia, dan kemudian akan memutuskan bahwa 30% atau 40% akan 
dibutuhkan untuk memahami efek dari obat baru itu.
 Badan pendanaan ilmiah akan membutuhkan target yang semakin ambisius, kata 
Newman. "Bukannya orang ingin menciptakan makhluk-makhluk ini…tapi hal ini akan 
terus berjalan, tidak ada titik berhenti yang alami."
 Terlebih penting lagi, ini akan mematikan rasa kemanusiaan kita.
 "Ada perubahan di budaya kita yang memungkinkan kita untuk melewati batasan 
ini. Ini bermain dengan ide bahwa manusia hanyalah objek materi," katanya.
 Contohnya, jika ada khimaira manusia, kita tidak akan sekhawatir itu untuk 
memanipulasi gen kita sendiri untuk menciptakan bayi yang dirancang khusus. 
Newman tak sendiri dalam pandangan ini.
 John Evans, seorang sosiolog di University of California San Diego, AS, 
mengatakan bahwa diskusi utama soal khimaira hewan-manusia fokusnya adalah pada 
pemahaman kognitif.
 Contohnya, kita mungkin akan memutuskan tidak apa untuk memperlakukan mereka 
dengan cara tertentu sepanajng mereka tak memiliki pemahaman atau bahasa 
manusia, namun logika itu bisa terus berlanjut saat mempertimbangkan orang lain 
dalam spesies kita sendiri.
 "Jika masyarakat berpikir bahwa manusia adalah gabungan kemampuan, maka 
manusia yang memiliki lebih sedikit dari kemampuan ini akan dianggap lebih 
sedikit nilainya," kata Evans.
 Izpisua Belmonte berpikir bahwa kekhawatiran ini — terutama headline yang 
sensasional — terlalu awal.
 Timor Leste siapkan peternakan buaya walau buaya dianggap hewan suci 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160807_majalah_lingkungan_buaya_timorleste
 Hiu Greenland 400 tahun 'hewan bertulang belakang tertua' 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160812_majalah_hiu_tertua "Media 
dan regulator berpikir bahwa kita akan menumbuhkan organ penting manusia di 
dalam babi, besok," katanya. "Itu fiksi ilmiah. Kami baru ada di tahap yang 
sangat awal."
 Pertanyaan soal moralitas Dan seperti disebut dalam editorial di jurnal 
Nature, mungkin reaksi spontan kita tak seharusnya membentuk diskusi soal moral.
 Ide khimaira mungkin menjijikkan bagi sebagian orang, namun penderitaan 
orang-orang dengan penyakit yang tak terobati juga sama jahatnya. Keputusan 
kita harus didasarkan lebih dari reaksi awal saja.
 Apapun kesimpulan yang dicapai, kita harus sadar bahwa dampaknya bisa lebih 
jauh daripada ilmu yang sekarang ada.
 "Bagaimana kita berbicara tentang manusia dalam perdebatan ini mungkin akan 
mengubah cara kita melihat diri kita sendiri," tulis Evans.
 Pertanyaan akan apa artinya menjadi manusia berada di inti novel klasik Wells.
 Setelah Pendrick berhasil selamat dari pulau Dokter Moreau, dia kembali ke 
kehidupan sunyi di pedesaan Inggris, memilih menghabiskan malam-malam sepinya 
melihat ke langit.
 Setelah menjadi saksi bahwa batasan antar-spesies telah diterabas dengan cara 
yang kasar, dia tak bisa lagi bertemu manusia lain tanpa melihat sosok hewan di 
dalam diri kita.
 "Tampaknya, saya juga adalah seorang makhluk yang tak masuk akal, tak lebih 
dari hewan yang tersiksa dengan kelainan di otaknya dan membuatnya berjalan 
sendirian, seperti domba yang terkena gid."
 Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The birth of half-human, half-animal 
chimeras 
http://www.bbc.com/earth/story/20170104-the-birth-of-the-human-animal-chimeras 
di laman BBC Earth http://www.bbc.com/earth

 

 

Kirim email ke