Lalu, ... siapa sesungguhnya yang lebih Arab dan lebih ISLAM antara Raja Salman 
dan Habib Rizieq, ya???

Masih PANTAS dan BERANI kah MUI, FPI meneruskan sikap radikalisnya, ... selalu 
hendak dan berusaha keras menyingkirkan bahkan memusnahkan segala yang berbeda 
dengan dirinya sendiri, dengan menuduh kafir penista Agama Islam?!

Mudah-mudahan saja sikap dan kehadiran Raja Salman di Indonesia kali ini bisa 
di renungkan bagi kelompok radikalis itu dan menjadi Islam yang baik-baik, ...! 
Dengan demikian kehidupan bermasyarakat di Nusantara ini bisa terasa lebih 
damai, harmonis dengan kebhinekaan, ...


Salam-damai,
ChanCT


From: [email protected] [GELORA45] 
Sent: Saturday, March 4, 2017 9:46 AM
To: [email protected] 
Subject: [GELORA45] Banyak makna di balik jabat tangan Ahok dan Raja Salman




"Bahwa Raja Salman juga mengatakan keberpihakan kepada kaum pluralis di negeri 
ini. Langkah politiknya (Ahok) diridai. Di mata beliau dia yang teraniaya," 
ujarnya.


...

Banyak makna di balik jabat tangan Ahok dan Raja Salman
Sabtu, 4 Maret 2017 07:16
Reporter : Angga Yudha Pratomoa.. a.. a.. a.. 8 
  SHARES

Ahok salaman dengan Raja Salman. ©2017 Instagram.com/basukibtp



Merdeka.com - Banyak kejadian menarik selama kedatangan Raja Salman Bin Abdul 
Aziz al-Saud, ke Indonesia. Salah satunya momen Gubernur DKI Jakarta Basuki T 
Purnama alias Ahok, ikut menyambut sekaligus berjabat tangan dengan orang nomor 
wahid di Arab Saudi itu.

Banyak pihak mengartikan momen pertemuan Ahok dan Raja Salman ketika di Bandara 
Halim Perdanakusuma itu. Foto jabat tangan itu sampai diunggah Ahok pada akun 
Instagram resmi miliknya. Bahkan sempat menjadi viral. Meski begitu, bagi 
kalangan ahli, momen jabat tangan itu dianggap punya arti penting.

Budayawan Mohamad Sobary menyebut jabat tangan terdakwa penistaan surah Al 
Maidah itu dan Raja Salman tidak hanya berkaitan dengan politik. Ini sekaligus 
menunjukkan bahwa Raja Salman merupakan sosok menghargai perbedaan.

"Dia (Raja Salman) ingin menggambarkan mereka (Arab Saudi) lebih toleran. Raja 
Salman perlihatkan salaman bukan soal halal dan haram, namun karena 
kedudukannya sebagai raja," kata Sobary di Jakarta, Jumat kemarin.

Jabat tangan antara Raja Salman dengan Ahok, lanjut dia, juga menunjukkan 
simbol rida dan keberpihakannya kepada kaum pluralis. Selain itu, jabat tangan 
ini menjadi bentuk kritik bagi kalangan intoleran.

"Bahwa Raja Salman juga mengatakan keberpihakan kepada kaum pluralis di negeri 
ini. Langkah politiknya (Ahok) diridai. Di mata beliau dia yang teraniaya," 
ujarnya.

Sobary menyesalkan kondisi masyarakat kerap menggunakan isu SARA dalam 
berpolitik. Salah satunya spanduk bertuliskan larangan menyalatkan jenazah 
berbeda pilihan politik sebagai suatu kebodohan tidak boleh ditolerir.

Senada dengan Sobary, Pengamat Etika dan Komunikasi Politik, Pastor Romo 
Antonius Benny Susetyo mengaku perbedaan masalah agama dijadikan alat dalam 
berpolitik. Seperti dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta ini, isu SARA 
dijadikan alat legitimasi untuk menduduki jabatan gubernur. "Jangan hancurnya 
keragaman hanya karena pilkada ini," ucap Benny.

Menurut dia, isu SARA belakangan ini digunakan dalam berpolitik, berbanding 
terbalik dengan semangat keragaman diusung Soekarno dalam membangun bangsa 
Indonesia. Maka dari itu, kata Benny, Raja Salman menyimbolkan ajakan kepada 
masyarakat Indonesia untuk beragama dan mencintai perbedaan seperti Soekarno.

"Agama adalah untuk semua bukan untuk politik. Raja salman mengajak kita 
beragama yang mencintai perbedaan, kemanusiaan, peradaban, dan keadilan," 
jelasnya.

Sementara itu, Raja Salman ternyata mengagumi toleransi dan keharmonisan di 
Indonesia. Itu diungkapkan ketika dirinya bersama Presiden Joko Widodo mengajak 
28 tokoh perwakilan dari enam agama di Indonesia bertemu.

Dalam keterangan pers, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menggambarkan 
pertemuan tersebut penuh dengan kegembiraan. Raja Salman disebutkan sangat 
senang bisa datang ke Indonesia karena negara yang stabil di bidang politik dan 
ekonomi.

"Dan stabilitas ini tercipta karena toleransi dan harmoni antaragama," ungkap 
Retno.

Raja Salman bahkan mengatakan dialog dan komunikasi antarumat agama tercipta 
karena toleransi. Sehingga itu penting untuk memerangi radikalisme dan 
terorisme. [ang]










Kirim email ke