http://www.antaranews.com/berita/615935/limapuluh-kota-darurat-bencana-banjir-longsor-tujuh-hari?utm_source=topnews&utm_medium=home&utm_campaign=news
*Limapuluh Kota darurat bencana banjir-*
*longsor tujuh hari*
Sabtu, 4 Maret 2017 10:51 WIB | 2.007 Views
Pewarta: Miko Elfisha
Limapuluh Kota darurat bencana banjir-longsor tujuh hari
Ilustrasi - Warga melewati banjir yang merendam rumah di Nagari Taram,
Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Selasa (9/2/16). Tahun ini
banjir juga melanda beberapa kecamatan di kabupaten tersebut. (ANTARA
FOTO/Iggoy el Fitra/ama/16)
Mulai saat ini, kita tetapkan darurat bencana untuk tujuh hari ke depan
Sarilamak, Sumbar (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota,
Sumatera Barat (Sumbar), menetapkan daerah tersebut dalam kondisi
darurat bencana banjir dan longsor selama tujuh hari ke depan.
"Mulai saat ini, kita tetapkan darurat bencana untuk tujuh hari ke
depan," kata Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi seusai rapat koordinasi
antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Taruna
Siaga Bencana (Tagana), DPRD, dan instansi terkait di eks kantor bupati
yang berada di Kota Payakumbuh, Sabtu pagi
Ia mengatakan status tersebut ditetapkan karena melihat dampak bencana
banjir dan longsor yang melanda daerah itu sehingga banyak infrastruktur
yang rusak, area pertanian rusak, dan banyak warga yang merasakan
dampaknya secara langsung.
Menurutnya, tim penanganan bencana yang terdiri atas Basarnas, Dinas
Sosial, PMI, Tim Kesehatan, TNI, Polri dan berbagai ormas lainnya telah
melakukan penanganan hingga sebelum tanggap darurat ditetapkan.
Bupati juga akan melakukan rapat dengan semua instasi terkait untuk
mendapatkan langkah-langkah penangannya bencana tersebut, termasuk
tindakan untuk mengevakuasi masyarakat, serta penyedian logistik.
Ia meminta semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) setempat untuk
berperan aktif dalam menangani bencana banjir dan longsor itu.
"Kepada BPBD, Basarnas, Tagana mengambil langkah untuk penyelamatan
masyarakat dari banjir, Dinas Sosial menyuplai makanan dan logistik,
serta Dinas Kesehatan menyediakan obat-obatan sehingga tidak banyak
masyarakat yang sakit. Untuk OPD lainnya untuk berperan aktif dalam
musibah ini," kata Bupati.
Berdasarkan data yang dihimpun di BPBD setempat, banjir dan longsor
terjadi di 23 titik, dari 23 lokasi tersebut, 13 titik longsor dan 10
lokasi banjir.
Dari 13 titik longsor, tujuh di antaranya terjadi di Nagari Koto Alam
dan satu titik di Sibunbun Nagari Tanjung Balik, Kecamatan Pangkalan
Koto Baru. Selain itu, tiga titik di Nagari Maek, Kecamatan Bukit
Barisan, dua titik sebelum Kelok Sebilan, tepatnya di Air Putiah,
Kecamatan Harau.
Banjir melanda 10 lokasi, di antaranya Nagari Sopang, Pangkalan, dan
Gunuang Malintang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru.
Selain itu, di Kecamatan Kapur IX, Nagari Limbanang Baruah, Kecamatan
Suliki, Nagari Mungka, Kecamatan Mungka, dan Nagari Subarang air, Balai
Panjang, dan Bukik Sikumpa, Kecamatan Lareh Sago Halaban.
Pemkab sudah menurunkan alat berat untuk menyingkirkan material longsor
sehingga badan jalan yang tertimbun meterial dapat dilalui. Jalan
tersebut sebagai akses masyarakat ke Pangkalan.
Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota Safaruddin menyarankan agar
penanganan bencana tersebut dilakukan dalam satu komando sehingga
memudahkan mengambil langkah penanganan ke depannya.
Selain itu, ditunjuk koodinasi di masing-masing kecamatan, hal itu
mengingat lokasi bencana bukan hanya satu atau dua titik, melainkan
banyak lokasi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumbar Pagar Negara meminta
bantuan pada BPBD Kabupaten Kampar untuk penanggulangan banjir dan
longsor di Kecamatan Pangkalan Koto Baru.
"Kita sudah berusaha untuk masuk ke daerah bencana, tetapi terhambat
oleh beberapa titik longsor. Terpaksa kita minta bantuan BPBD Kampar
yang kemungkinan memiliki akses lebih baik ke daerah bencana," kata dia.
Ia mengatakan sekarang BPBD bersama pihak terkait sedang berupaya
menyingkirkan material longsor menggunakan alat berat agar bisa masuk ke
lokasi banjir untuk membantu masyarakat.
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2017