Turut Berdukacita
Pengurusdan seluruh anggota Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia (YSBI) di Belanda menyakatan turut berdukacita atasberpulangnya teman tercinta Mawie Ananta Jonie pada tanggal 1 Maret 2017 di kota Almere. SaudaraMawie adalah salah seorang korban keganasan rejim fasis Orde Baru JenderalSuharto. Mawie terpaksa menjadi seorang eksil karena dilarang pulang ke tanahairnya Indonesia. Semula Mawie berangkat ke luar negeri untuk melanjutkanstudinya di Beying, Tiongkok. Namun akhirnya ia meninggalkan negeri itu sebagaiakibat perkembangan situasi politik antara Tiongkok dan Indonesia di jamanSuharto. Selanjutnya keluarga Mawie meminta swaka kepada pemerintah Belanda dandiberi tempat di kota Almere Stad. Di sanalah ia berdomisili bersama keluarga,hingga akhir hayatnya. Mawiedilahirkan di Padang pada 5 Mei 1940 dan meninggal dunia di Almere (Belanda)pada tanggal 1 Maret 2017. Ketika masih di Indonesia, Mawie dikenal sebagaiaktivis Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Ia pernah menjadi Ketua IPPISumatra Barat, kemudian lewat Kongres IPPI, Mawie diangkat menjadi salahseorang Pengurus Besar IPPI pusat. Ketika masih tinggal di kota Padang, iamenjadi salah seorang wartawan surat kabar “Suara Persatuan” yang dipimpionoleh Umar Said. Di Jakarta, ia pernah menjadi wartawan koran “Bintang Timur”.Selama menjadi orang eksil di Belanda, Mawie pernah menjadi bendahara YSBI,menjadi salah seorang redaktur majalah sastra dan budaya “Kreasi”. Mawie jugasudah berhasil melahirkan beberapa buah buku, dua diantaranya adalah “AnakMinang Itu ke Peking” dan “Cerita Untuk Nancy”. Dalam buku kumpulan puisi "DiNegeri Orang" juga tercantum nama Mawie dengan beberapa puisinya. Pada buku“Anak Minang Itu ke Peking”, dalam pembukaannya kita jumpai sebuah puisiberjudul “Sepucuk Surat Dari Rantau”: Lengang bergumul dengan bayangandan sepi di luar menanti, di antara deru kapal yang datangdan yang berangkat pergi. Kusaksikan perempuan berbajukurung selendang di bahunya, sudah lama aku tak pulang kampungsejak ordebaru berkuasa. Sekali aku datang lalu ditangisidengan peluk dan ciuman, nenek tua datang bertongkat menyampaikan sebuah senyuman. Walaupun usia ini sudah lanjut yanenek kau sehat dan kuat, kita punya angan angan hadirmenyambut pesta rakyat. Ini surat dari rantau membawa salam kepada sawah danladang, orang yang pernah diberitakan mati karena membangkang. Amesterdam, 26 /02/2008. Kini Mawie sudah tiada,pergi untuk selamanya. Ia meninggalkan seorang istri Lily Salawati Mawie, duaorang putra Noa Brindo Mawie dan Pinta R.Mawie, serta seorang cucu Nancy. Dia Indonesia iameninggalkan sanak keluarga di Tanah Minang tercinta. Selamat jalan sang penyair, semoga Tuhan memberi tempat yang wajar bagidirimu. Semua jejakmu yang baik, akan diikuti generasi mendatang. Bagi seluruhkeluarga yang ditinggalkan, agar tabah menghadapi musibah ini. Amsterdam, 5 Maret 2017. Atas nama Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia (YSBI) di Belanda. K. Sulardjo :Ketua Chalik Hamid :Sekretaris.
