Yang tidak berjubah dianggap tidak suci, jadi boleh dianggap kafir dan
digoblok goblokkan ??

2017-03-05 6:22 GMT+01:00 Hsin Hui Lin [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Ada caranya agar Shihab Riezig membaca surat ini dan dapat ilham dan
> kenyataannya lahir dan dbesarkan di Indonesia....kok ia dgn pakaiannya yg
> chas Arab itu meng goblok2an Jokowi
>
> On Mar 5, 2017 9:09 AM, "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]" <
> [email protected]> wrote:
>
>>
>>
>>
>> *Surat pagi hari dari teman di Arab* :
>> *Menjadi “diri kita sendiri” yang tetap menghargai warisan tradisi dan
>> kebudayaan leluhur kita.*
>>
>> Copas dari sebelah.
>> Wartaislami ~ Saya membuat tulisan ini, bukan untuk merendahkan bangsa
>> saya, Indonesia tercinta.
>>
>> Bukan pula menyerang negara Arab, khususnya Arab Saudi tempat di mana
>> saya berdomisili saat ini.
>>
>> Tujuan tulisan singkat saya ini untuk membangunkan teman-teman, kakak,
>> dan adik-adik saya dan sesama saudara warga negara Indonesia di mana saja
>> berada.
>>
>> Agar bisa memilih dan memilah, mana yang bisa dijadikan panutan/pedoman,
>> serta mana pula yang harus diwaspadai.
>>
>> Harapan saya hanya satu:
>> Semoga Indonesia selalu dirahmati oleh Allah Tuhan Alam Semesta Pencipta
>> langit dan bumi beserta segala isinya, dan anak-anak bangsa ini -termasuk
>> saya- tidak menjadi bangsa yang inferior(rendah diri), tidak mudah kagum,
>> dan tidak mudah menjadi beo.
>>
>> Begini, saya melihat hubungan antara Arab (khususnya Arab Teluk), Barat
>> (khususnya Amerika), dan Indonesia (khususnya yang pro-Arab) itu unik,
>> menarik, dan lucu.
>>
>> President Barack Obama meets with Saudi Crown Prince Mohammed bin Nayef,
>> center, and Saudi Foreign Minister Adel Al Jubeir at the White House on
>> Wednesday. Photo The Guardian
>>
>> Negara-negara Arab, khususnya Teluk itu “sangat Barat” dan jelas2
>> pro-Amerika (dan Inggris).
>>
>> Hampir semua produk2 Barat dari ecek-ecek (semacam restoran fast foods)
>> sampai yg berkelas dan bermerk untuk kalangan berduit, semua ada di kawasan
>> ini.
>>
>> Mall-mall megah dibangun, a.l., untuk menampung produk-produk Barat tadi.
>>
>> Warga Arab menjadi konsumen setia karena memang mereka hobi shopping
>> (bahkan terkadang lalai dengan sembahyang).
>>
>> Orang-orang Barat juga mendapat “perlakuan spesial” disini, khususnya
>> yang bekerja di sektor industri (gaji tinggi, fasilitas melimpah).
>>
>> Mayoritas orang-orang Arab juga sangat hormat & inferior(rendah diri)
>> terhadap orang-orang Barat.
>>
>> Saya sering jalan bareng bersama “kolega bule”-ku ke tempat pameran
>> barang-barang branded tsb, dan mereka menganggap saya adalah “jongosnya”.
>>
>> Bagi orang2 Arab, non-bule darimanapun asalnya apapun agama mereka adalah
>> “Kelas Buruh”, sementara org bule, sekere & sebego apapun mereka, beragama
>> atau tidak beragama, dianggap “kelas elit”.
>>
>> Mereka baru menaruh rasa hormat, kalau sudah tahu “siapa kita”.
>>
>> Sejumlah universitas2 beken di Amerika juga membuka cabang di Arab Teluk,
>> selain Saudi, (Georgetown, New York Univ, Texas A & M, Carnegie Melon Univ,
>> dll).
>>
>> Di bawah bendera King Abdullah Scholarship, Saudi telah mengirim lebih
>> dari 150 ribu warganya untuk belajar di kampus-kampus Barat, khususnya
>> Amerika, Kanada & Eropa (jg Aussie).
>>
>> Tidak ada satu pun yang disuruh belajar ke Indonesia!! !
>> Sementara (sebagian) warga Indo memimpikan belajar di Arab Saudi.
>> Lucunya, para fans/penyembah Arab Saudi dan Arab-Arab lainnya di
>> Indonesia, mereka mati-matian men-tuan-kan Arab, sementara Arab sendiri
>> tidak “menggubris” mereka (penyembah Arab).
>>
>> Para “cheerleaders/pengidola” Arab ini (para fans Arab di Indonesia),
>> juga mati2an anti-Barat padahal orang-orang Arab mati-matian membela
>> Barat.
>>
>> Kita bertutur memakai istilah bahasa mereka (akhi, ukhty, antum, dan
>> berbagai istilah arab lainnya, padahal, mereka merendahkan kita). Kita
>> seolah gagal faham untuk membedakan antara Islam dan Arab.
>> Islam menghargai kita sedangkan Arab menganggap kita ini bangsa budak.
>>
>> Saya bukan anti-Arab atau anti-Barat karena teman-teman baikku banyak
>> sekali dari “dua dunia” ini.
>>
>> Saya juga bukan pro-Arab atau pro-Barat. *Saya adalah saya yang tetap
>> orang kampungan Jawa*.
>>
>> Daripada “menjadi Arab” atau “menjadi Barat”, akan lebih baik jika kita 
>> *menjadi
>> “diri kita sendiri” yang tetap menghargai warisan tradisi dan kebudayaan
>> leluhur kita.*
>>
>> Itulah orang Saudi, mereka menganggap kecil terhadap orang Indonesia, di
>> hotel, di kantor, bahkan mrk menyangka saya cuma tenaga profesional ecek
>> ecek, mereka tanya gaji, disangka CUMA 2 ribu atau 3 ribu Real. (1 real =
>> 3700)
>>
>> Waktu saya bilang jumlah gaji saya, mereka baru tahu gaji saya sama
>> dengan orang Amerika atau Inggris, dan mereka tanya kok bisa begitu.
>>
>> Saya bilang, saya pernah training di Inggris dan di Amerika, dan ternyata
>> gaji saya lebih besar dari gaji dokter Saudi.
>>
>> Itulah kenyataannya, dan yang menggaji saya perusahaan di Abu Dhabi yang
>> tidak menganggap rendah karyawannya berdasarkan kebangsaan atau Nationality
>> profiling.
>>
>> Mudah-mudahan pemerintah tidak mengirim lagi TKI atau TKW sehingga mereka
>> tidak menganggap orang Indonesia bangsa budak.
>>
>> Tetapi kirim tenaga terdidik, terutama yang menguasai bahasa Inggris.
>>
>> Sekali lagi:
>>
>> Saya bukan anti Arab dan juga bukan anti Barat saya cuma orang Jawa –
>> Indonesia yang dipercaya sebagai orang yang bekerja sebagai tenaga ahli
>> yang dibayar berdasarkan keahliannya.
>>
>> Suatu hari, dan ini bukan untuk menyombongkan diri, saya merasa bangga
>> ketika saya keluar dari sebuah hotel di Jeddah, saya dijemput oleh sopir
>> orang Arab berasal dari Thaif.
>> Itu kebanggaan saya, karena biasanya yg jadi sopir itu orang Indonesia.
>>
>> Mudah-mudahan kita tidak jadi bangsa budak dan budak diantara bangsa lain.
>>
>> Belum lama ini sy mengadakan survei dg responden para mahasiswaku
>> (sekitar 100 mhs) yg mayoritas beretnik Arab & Saudi. Survei ini bersifat
>> “confidential” dan identitas mahasiswa tdk diketahui. Salah satu pertanyaan
>> dlm survei adl: “Agar lebih Islami, apakah masyarakat Muslim non-Arab harus
>> meniru & mencontoh masyarakat Arab & menjalankan kebudayaan mrk?” Jawaban
>> mrk, sekitar 60% bilang “tidak”, 12% bilang “ya”, selebihnya “mungkin” &
>> “tidak tahu”.
>>
>> Saya tdk tahu secara pasti apakah jawaban mrk itu ada kaitannya dg
>> “doktrin2” pentingnya menghargai pluralitas budaya, agama, & masyarakat yg
>> selama ini sy “ajarkan” di kelas atau mungkin karena pengaruh pendidikan yg
>> semakin meningkat atau gelombang modernisasi & “internetisasi” yg mewabah
>> di kawasan Arab.
>>
>> Apapun faktor2nya yg jelas hasil survei ini “sedikit menggembirakan”
>> (setidaknya buatku), meskipun masih bny tantangan cukup besar menghadang di
>> depan mata. Bukan suatu hal yg mustahal jika kelak kaum Muslim Arab & Saudi
>> khususnya bisa menjadi lebih maju, terbuka, dan toleran. Dan bukan suatu
>> hal yg mustahal pula jika kelak kaum Muslim Indonesia justru “nyungsep”
>> menjadi umat yg bebal, tertutup, dan intoleran.
>>
>> Di saat masyarakat Arab mulai lelah dg konflik & kekerasan serta mulai
>> menyadari pentingnya keragaman & hidup bertoleransi, sejumlah kaum Muslim
>> di Indonesia justru menjadi umat intoleran dan anti-kemajemukan…
>>
>> Sumanto Al Qurtuby, seorang professor Warga Negara Indonesia, dosen di
>> King Fahd University for Petroleum and Gas, Arab Saudi.
>>
>> *Jika artikel ini bermanfaat buat anda dan orang lain silahkan share
>> sebanyak-banyaknya
>>
>> Sumber :arrahmah.co.id
>>
>> 
>

Kirim email ke