NTT masuk ranking ketiga di Indonesia sebagai daerah termiskin. Kekeringan, gagal panen, rawan pangan, minimnya lapangan kerja, masalah TKI/TKW yang jadi korban perdagangan orang, dan sebagainya Bukankah itu SIKON dan KENYATAAN ? Untuk menghadapi sikon dan kenyataan itu, jalan keluar yang ditawarkan orang-orang revisionis dan reformis adalah mendukung Statusquo dan pembangunan semua yang BESAR DAN MEGAH dan kapitalisme!!! Grha » Berita Gereja » Pdt. Merry Kolimon:Pendeta Jangan Cuma Sibuk Bangun Gedung Gereja yang Megah
Pdt. MerryKolimon: Pendeta Jangan Cuma Sibuk Bangun Gedung Gereja yang Megah | Jumat, 3 Maret 2017 ~ 10:11 AM | Penulis: PGI ~ Berita Gereja Pdt. Merry Kolimon KUPANG,PGI.OR.ID-Ketua Sinode GMIT, Pendeta Dr. Merry Kolimon meminta agar para pendeta jangan cuma sibuk kumpulkan uangdari jemaat untuk bangun gedung gereja yang megah tetapi lupa mengurus masalahsosial, ekonomi dan SDM jemaat. “NTTmasuk ranking ketiga di Indonesia sebagai daerah termiskin. Kekeringan, gagalpanen, rawan pangan, minimnya lapangan kerja, masalah TKI/TKW yang jadi korbanperdagangan orang, dan sebagainya. Herannya di saat yang sama, para pendeta danjemaat sibuk bangun gedung gereja yang megah dengan dana miliaran rupiah. Inisangat ironis,” kritikPendeta Kolimon dalam menyampaikan refleksi persidangan dan pesan-pesansaat membuka Sidang Majelis Klasis Kupang Tengah di Gereja Ebenhaezer Tarus Timur, Rabu (1/3). Memasuki tahun 2017, sebagai ulang tahun GMIT yangke-70 dan ulang tahun ke-500 gereja reformasi dengan semangat pembaharuan danperubahan serta pertobatan, kata PendetaKolimon, harus diubah cara pandang membangun gereja dan jemaat. “Tahun 2007 moratorium membangun gereja.Tidak boleh ada bangun gereja yang megah-megah. Uang miliaran rupiah itusebaiknya dipakai untuk membangun sumber daya jemaat dan sebagainya,” kata Pendeta Kolimon. Ia berceritera saat mendapat beasiswauntuk studi di Belanda, di sana ditemukan fakta para pendeta sibuk membangungereja yang megah sekali dengan dana ratusan miliar bahkan triliun. Namunternyata tidak ada jemaat yang masuk gereja. Kosong saja gedung mewah itu. “Akibatnya gereja diubah jadi tempatpameran seni lukis, jadi perpustakaan bahkan diubah jadi mesjid. Sebab tidakada jemaat yang rajin ke gereja. Saya tidak mau hal ini terjadi di sini,”katanya mengingatkan. Dalam rangka merayakan 70 tahun HUT GMIT padabulan Oktober 2017 sebagai tahun pemulihan dan 500 tahun HUT Reformasi sebagaitahun pembaharuan, Pendeta Kolimon meminta agar tidak dirayakan secara seremonial belaka. “Tapi apa yang kita harus buat? Apa yangharus kita rubah dan kita pulihkan? Apa yang harus kita buat bagi sesama dandiri kita sendiri. Tentu Itu harus dimulai dari merubah diri sendiri,” katanyamengingatkan. Ia juga meminta agar program kerja GMIT yakniTanam Air dan Hutan Gereja supaya mulai digalakkan jemaat dan pendeta di gerejamasing-masing. “Gali lubang untuk jebak air. Dan galilubang untuk tanam pohon yang bermanfaat. Harus ada hutan gereja. Dan itusearah dengan program Taman Eden yang digalakkan Pemkab Kupang. Nanti saya akanperiksa dan minta pertanggungjawaban, tunjukkan di mana hutan gereja yang telahdibuat?,” pinta Kolimon. Sementara itu Ketua Majelis Klasis KupangTengah, Pendeta Gayus D. Pollin, menjelaskan sidang majelis klasis bertujuan untukmenetapkan program pelayanan kebersamaan jemaat-jemaat tahunan dan rencanaanggaran pendapatan dan belanja klasis (RAPBK). Berikutnya, menindaklanjuti hasil evaluasidan rekomendasi persidangan klasis; merumuskan kelanjutan program pelayanankebersamaan majelis klasis tahun berikut dan konsolidasi pengurus majelisklasis seperti pengangkatan anggota baru dan pemberhentian anggota majelisklasis. Sidang Majelis Klasis Kupang Tengah Tahun2017 berlangsung dari tanggal 1 – 3 Maret 2017 di Gereja Ebenhaezer Tarus Timur. Sidang ini mengusung tema: Yesus Kristusadalah Tuhan (Filipi 2:11). Dan sub tema: Berdasarkan karya Kristus yangmemperbaharui, kita berkarya untuk perubahan dan pembaharuan diri, gerja danmasyarakat. (Pos Kupang.com)
