From: Chalik Hamid [email protected] [GELORA45] 
Sent: Sunday, March 5, 2017 1:29 PM


  

Turut Berdukacita

Pengurus dan seluruh anggota Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia (YSBI) di 
Belanda  menyakatan turut berdukacita atas berpulangnya teman tercinta Mawie 
Ananta Jonie  pada tanggal 1 Maret 2017 di kota Almere.
Saudara Mawie adalah salah seorang korban keganasan rejim fasis Orde Baru 
Jenderal Suharto. Mawie terpaksa menjadi seorang eksil karena dilarang pulang 
ke tanah airnya Indonesia. Semula Mawie berangkat ke luar negeri untuk 
melanjutkan studinya di Beying, Tiongkok. Namun akhirnya ia meninggalkan negeri 
itu sebagai akibat perkembangan situasi politik antara Tiongkok dan Indonesia 
di jaman Suharto. Selanjutnya keluarga Mawie meminta swaka kepada pemerintah 
Belanda dan diberi tempat di kota Almere Stad. Di sanalah ia berdomisili 
bersama keluarga, hingga akhir hayatnya.
Mawie dilahirkan di Padang pada 5 Mei 1940 dan meninggal dunia di Almere 
(Belanda) pada tanggal 1 Maret 2017. Ketika masih di Indonesia, Mawie dikenal 
sebagai aktivis Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Ia pernah menjadi Ketua 
IPPI Sumatra Barat, kemudian lewat Kongres IPPI, Mawie diangkat menjadi salah 
seorang Pengurus Besar IPPI pusat. Ketika masih tinggal di kota Padang, ia 
menjadi salah seorang wartawan surat kabar “Suara Persatuan” yang dipimpin oleh 
Umar Said. Di Jakarta, ia pernah menjadi wartawan koran “Bintang Timur”. Selama 
menjadi orang eksil di Belanda, Mawie pernah menjadi bendahara YSBI, menjadi 
salah seorang redaktur majalah sastra dan budaya “Kreasi”. Mawie juga sudah 
berhasil melahirkan beberapa buah buku, dua diantaranya adalah “Anak Minang Itu 
ke Peking” dan “Cerita Untuk Nancy”. Dalam buku kumpulan puisi "Di Negeri 
Orang" juga tercantum nama Mawie dengan beberapa puisinya. Pada buku “Anak 
Minang Itu ke Peking”, dalam pembukaannya kita jumpai sebuah puisi berjudul 
“Sepucuk Surat Dari Rantau”:
Lengang bergumul dengan bayangan dan sepi di luar menanti,
di antara deru kapal yang datang dan yang berangkat pergi.
Kusaksikan perempuan berbaju kurung selendang di bahunya,
sudah lama aku tak pulang kampung sejak ordebaru berkuasa.
Sekali aku datang lalu ditangisi dengan peluk dan ciuman,
nenek tua datang bertongkat  menyampaikan sebuah senyuman.
Walaupun usia ini sudah lanjut ya nenek kau sehat dan kuat,
kita punya angan angan hadir menyambut pesta rakyat.
Ini surat dari rantau membawa salam kepada sawah dan ladang,
orang yang pernah diberitakan mati karena membangkang.
Amesterdam, 26 /02/2008.
Kini Mawie sudah tiada, pergi untuk selamanya. Ia meninggalkan seorang istri 
Lily Salawati Mawie, dua orang putra Noa Brindo Mawie dan Pinta R.Mawie, serta 
seorang cucu Nancy. Dia Indonesia ia meninggalkan sanak keluarga di Tanah 
Minang tercinta.
Selamat jalan sang penyair, semoga Tuhan memberi tempat yang wajar bagi dirimu. 
Semua jejakmu yang baik, akan diikuti generasi mendatang. Bagi seluruh keluarga 
yang ditinggalkan, agar tabah menghadapi musibah ini.
Amsterdam, 5 Maret 2017.
Atas nama Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia (YSBI) di Belanda.
K. Sulardjo                     : Ketua
Chalik Hamid                 : Sekretaris.

Kirim email ke