http://www.antaranews.com/berita/616172/tabungan-warga-baduy-berupa-pohon-albasia
*Tabungan warga Baduy berupa pohon albasia*
Minggu, 5 Maret 2017 19:48 WIB | 1.787 Views
Pewarta: Mansyur
Tabungan warga Baduy berupa pohon albasia
Dokumentasi ribuan warga Baduy mengikuti upacara Seren Taun atau Seba
Baduy, di Serang, Banten, Sabtu malam (25/4/15). Upacara Seren Taun
digelar rutin tiap tahun setelah panen raya dengan menyerahkan beras,
palawija, gula merah dan hasil bumi lainya kepada Gubernur Banten,
Bupati Lebak serta Camat Leuwi Damar. (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)
Lebak, Banten (ANTARA News) - Sejumlah petani Baduy di pedalaman
Kabupaten Lebak, Banten, beramai-ramai tanam albasia sebagai tabungan
masa depan.
"Kami tanam albasia sebanyak 1.200 pohon dan bisa menghasilkan uang lima
tahun ke depan," kata Santa (40) seorang petani Baduy, di Lebak, Minggu.
Penanaman albasia itu ditanam di lahan Perum Perhutani Blok Cicuraheum
Kecamatan Cileles Kabupaten Lebak seluas satu hektare.
Gerakan tanam albasia itu, selain konservasi alam juga bisa menghasilkan
pendapatan ekonomi.
Saat ini, petani Baduy beramai-ramai mengembangkan tanaman albasia atau
pohon sengon sebagai tabungan masa depan.
Selama ini masyarakat hanya mengandalkan kehidupan ekonomi dari bercocok
tanam ladang. "Kami terbantu ekonomi dengan menanam albasia itu, selain
bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga juga beli tanah," katanya.
Menurut Santa, saat ini tanaman albasia miliknya sudah memasuki usia dua
tahun sebanyak 800 pohon, sedangkan 400 pohon kini berusia satu pekan.
Kemungkinan tanaman albasia itu tumbuh subur karena tidak terserang hama
maupun penyakit tanaman.
Apabila, tanaman albasia itu menghasilkan uang sekitar Rp80 juta. Saat
ini, permintaan kayu albasia relatif tinggi dan banyak penampung
mendatangi petani hingga ke lapangan.
"Kami menjual kayu albasia itu kepada pengumpul langganannya. Tahun ini
menanam albasia sekitar 900 pohon," katanya.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak,
Ruly, mengatakan produksi kayu-kayuan milik rakyat itu sekitar 100.000
meter kubik/tahun di 28 kecamatan. Harga di pasaran Rp300.000 permeter
kubik.
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2017