https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/06/285853119/alternatif-solusi-pengelolaan-
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/06/285853119/alternatif-solusi-pengelolaan-sampah-perkotaan>
sampah-perkotaan
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/06/285853119/alternatif-solusi-pengelolaan-sampah-perkotaan>
Alternatif Solusi Pengelolaan Sampah
Perkotaan
Senin, 06 Maret 2017 | 19:02 WIB
* share facebook
* share twitter
* share google+
* share pinterest
Alternatif Solusi Pengelolaan Sampah Perkotaan
Alternatif Solusi Pengelolaan Sampah Perkotaan
*INFO NASIONAL -* Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh
perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Landfill atau area
yang menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah bukan merupakan
alternatif yang sesuai karena tidak berkelanjutan dan menimbulkan
masalah lingkungan.
Saat menjadi pembicara dalam acara Ngobrol @Tempo bertema "Mencari
Alternatif Solusi Pengelolaan Sampah Perkotaan" pada Senin, 6 Maret
2017, Djoko Heru Martono, Wakil Ketua Umum Indonesian Solid Waste
Association, mengatakan, hingga kini, hampir rata-rata sampah-sampah di
perkotaan hanya dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke TPA. Sebanyak 55
persen jumlah sampah adalah sampah organik, plastik 14,31 persen, dan
kertas 9 persen.
Meski sekarang sudah ada bank sampah, menurut Djoko, itu hanya bisa
mengurangi tidak lebih dari 20 persen sampah di TPA, kecuali bank sampah
itu bergabung dengan pengkomposan. Saat ini, total TPA sudah mencapai
332 dan itu mengokupasi 8000 hektare lahan. Kalau sudah dipakai untuk
pembuangan sampah, ujar Djoko, kemungkinan selama 15 tahun lahan itu
tidak bisa dipakai lagi, kecuali untuk jalan dan penghijauan.
Dalam paparan mengenai pengelolaan sampah di kota yang dipimpinnya, Wali
Kota Makassar Mohammad Ramadhan "Danny" Pomanto, yang juga menjadi
pembicara dalam acara Ngobrol @Tempo, mengatakan pentingnya keterlibatan
masyarakat. "Dulu, kita didiagnosis bahwa TPA kita sudah tidak mampu
lagi menampung sampah. Kita harus siapkan lahan sekitar minimal 10
hektare lagi. Itu pun hanya untuk persiapan 5-10 tahun," tuturnya.
Namun, dengan mengelola sampah dari hulu hingga ke hilir dan tuntas,
permasalahan sampah di kotanya bisa teratasi dengan baik. "Setelah
dirediagnosis, di TPA kita ternyata masih mampu menampung sampah jika
bisa diproses dan dikelola dengan baik serta melibatkan masyarakat,"
katanya.
Per hari ini, sampah Kota Makassar sekitar 1200 ton per hari sampai ke
TPA, sedangkan yang tidak sampai sekitar 150-200 ton, serta 100-150 ton
di antaranya melewati bank sampah dan nonbank sampah. Kota Makassar
sudah memiliki 665 bank sampah yang terdiri atas bank sampah unit (BSU),
bank sampah sektoral, dan bank sampah pusat. "Khusus sampah plastik,
bank sampah kita sudah kelola sekitar 20 ton. Komposisi sampah kita 68
persen organik, 25 persen plastik, dan 7 persen lainnya," tuturnya.
Dia menargetkan menjadikan bank sampah sebagai ujung tombak pemilahan di
sumbernya. "Target saya adalah 1.000 (bank sampah)," ucapnya.
Untuk membuat gerakan masif pengelolaan sampah, Danny juga melibatkan RT
dan RW. Salah satu dipersiapkan adalah mengadakan kursus mengenai bank
sampah. "Saya juga bagikan motor sampah ke mereka. Agar bank sampah itu
mendapatkan sampah yang sudah terpilah dari rumah, kami juga sudah punya
sistem pengantongan sampah. Kita mengintervensi langsung ke rumah-rumah
dan membagi-bagikan dua juta kantong sampah," ujarnya.
Bahkan, kata Danny, untuk masyarakat tidak mampu, sampah mereka bisa
ditukar dengan beras, galon air, gas, kebutuhan rumah tangga, bimbingan
belajar, hingga emas. "Kalau ini berjalan, saya berharap di TPA tidak
ada lagi sampah plastik. Apalagi yang organik, kita sudah olah menjadi
biodigester," kata dia.
Dwi Retnastuti dari Koalisi Nasional Tolak Bakar Sampah juga
menginginkan agar persoalan sampah ini betul-betul dikelola dari hulu ke
hilir. "Ini untuk mencegah agar sampah itu tidak hanya melalui satu
proyek besar, kemudian selesai. Kami ingin ini dilakukan semua dari hulu
ke hilir dan melibatkan masyarakat," ujar Dwi.
Dia juga menyampaikan pentingnya transformasi dari sentralisasi menjadi
desentralisasi sehingga tidak terjadi penumpukan sampah di satu tempat
saja (TPA), tapi dari masing-masing sumber sampah sudah bisa dikelola.
"Perubahan paradigma ini penting, bagaimana pengurangan sampah harus
dilakukan di sumber. Kita akan mencoba menjadikan pencegahan itu paling
besar. Jadi bukan lagi akhirnya di TPA," ucapnya.
Dwi melanjutkan, tidak mungkin pengolahan sampah bisa berhasil tanpa ada
peran serta masyarakat. "Jadi, seandainya semua masyarakat mau melakukan
ini, saya yakin sampah tidak akan menjadi persoalan, tapi sahabat bagi
kita semua," ujarnya.
Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
R. Sudirman yang hadir dalam acara ini merasa senang karena sekarang
semakin banyak pihak yang bergerak dalam pengelolaan sampah. Namun,
menurut dia, dari sisi pengelolaan sampah, belum ada satu pendekatan
yang dapat menyelesaikan permasalahan sampah secara keseluruhan. "Jadi
tidak bisa kalau hanya kita mikirin sampah dengan teknologi kalau dari
hulunya tidak dipikirkan. Itu akan sulit kita selesaikan," tuturnya. (*)