Usai Masjid, Muncul Spanduk Kuburan Tolak Mayat Pro Penista Agama 
http://www.suara.com/news/2017/03/05/063000/usai-masjid-muncul-spanduk-kuburan-tolak-mayat-pro-penista-agama
 
 Siswanto
 Minggu, 05 Maret 2017 | 06:30 WIB
 


 

 Ilustrasi makam. (Shutterstock)

 

 
 Menurut foto-foto yang beredar di media sosial, spanduk tersebut dipasang di 
bagian pagar pemakaman. 

 Suara.com - Setelah heboh spanduk bertuliskan "masjid ini tidak mensholatkan 
jenazah pendukung dan pembela penista agama," media sosial kembali diramaikan 
spanduk berisi tulisan makam menolak jenazah pendukung penista agama di Jakarta.
 "Pemakaman ini ga nerima bangke orang munafik/pendukung dan pembela penista 
agama," demikian tulisan spanduk yang viral di media sosial.
 Menurut foto-foto yang beredar di media sosial, spanduk tersebut dipasang di 
bagian pagar pemakaman.
 Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui secara pasti lokasi kuburan yang 
dipasang spanduk yang kontennya termasuk provokatif tersebut.
 Tapi pemilik akun Facebook bernama Rustam menyebutkan lokasi spanduk tersebut 
terdapat di salah satu tempat pemakaman umum di daerah Kalibata, Jakarta 
Selatan. Rustam merupakan salah satu netizen yang mengunggah foto tersebut.
 Pihak berwenang belum memberikan penjelasan tentang kasus terbaru yang muncul 
menjelang pilkada Jakarta putaran kedua.
 Pilkada Jakarta putaran kedua diikuti oleh dua pasangan kandidat. Yaitu Basuki 
Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. 
Saat ini, Ahok terjerat kasus dugaan penistaan agama yang kasusnya sedang 
diproses di pengadilan.
 Sebelumnya, terkait dengan maraknya spanduk berisi pesan boikot jenazah 
pendukung calon gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Kepala Satuan Polisi 
Pamong Praja DKI Jakarta Jupan Royter berpesan kepada ketua rukun warga dan 
ketua rukun tetangga agar mengingatkan pengurus masjid supaya tidak terjebak 
dengan permainan isu sentimen agama.
 "Jadi RT atau RW bisa juga mengingatkan pengurus masjid, bisa pengurus agama. 
Kita ingin hidup damai, bertetangga, sesama umat beragama tentram," kata Jupan 
kepada Suara.com, Rabu (1/3/2017).
 Dia juga meminta perangkat daerah, seperti lurah dan camat turut serta 
memonitor aktivitas di lingkungan warga agar tidak memicu gangguan kegaduhan di 
tengah masyarakat.
 "Janganlah yang menimbulkan keresahan, jangan yang bersifat provokatif, mari 
kita jaga ketentraman. Jadi tidak tendensius dan provokatif. Ini peran kita 
semua Ketua RT, RW, tokoh masyarakat, lurah, dan camat," kata dia.
 Terutama kepada masyarakat, Jupan mengimbau jangan mudah ikut-ikutan dengan 
kegiatan yang berpotensi memecah belah warga.
 "Mari kita ciptakan suasana yang kondusif, aman, nyaman, untuk lingkungan 
kita, untuk masyarakat Jakarta, sehingga kesatuan dan persatuan tetap terjaga. 
Semua elemen masyarakat kami harapkan," katanya.
 Jupan menginstruksikan kepada jajarannya untuk mengedepankan langkah persuasif 
dalam menertibkan maraknya pemasangan spanduk menjelang pilkada Jakarta periode 
kedua.
 "Itu juga kita tugaskan kepada anggota, untuk melatih diri berkomunikasi 
dengan masyarakat supaya taat hukum," kata Jupan.
 
 Dia mengaku sudah mengetahui dalang yang menggerakkan pemasangan spanduk 
boikot jenazah pendukung Ahok. Namun, dia merahasiakan identitasnya.
 

Kirim email ke