HistoriaBonnie TriyanaSelasa 25 Januari 2011Wajah Gayus tampak menegang.
Sesekali jemarinya bergerak, seperti meremas sesuatu. Dia tampak cemas. Siang
itu, mantan pegawai pajak itu menyampaikan “curhatnya” ke hadapan majelis
hakim.“Berdasar cerita John Grice pada saya, John Grice bilang dia adalah agen
CIA yang semua kegiatannya diketahui dan direstui oleh salah seorang anggota
Satgas (Pemberantasan Mafia Hukum)," kata Gayus dalam di PN Jaksel, Jl Ampera
Raya, Rabu (19/1/11) seperti dikutip dari detik.com.Teori konspirasi seakan
dibuat nyata oleh Gayus. Entah untuk alasan apa. Satu yang pasti, kisah
tindak-tanduk agen CIA (Central Intelligence Agency) di negeri ini berkali
terjadi dan selalu berakhir pada pertanyaan yang sama: benarkah?Pengujung
November 2008 lampau masyarakat geger. Adam Malik, pemuda angkatan 45, wartawan
senior dan wakil presiden era Orde Baru disebut-sebut jadi spion CIA di
Indonesia. Gara-garanya sebuah buku karya Tim Werner yang menyebutkan kalau dia
menjalin kontak dan menerima sejumlah bantuan CIA untuk memberangus kelompok
komunis pascaperistiwa G.30.S 1965.Pada halaman 330 dalam buku yang berjudul
Membongkar Kegagalan CIA itu disebutkan kalau “Stasiun CIA (di Jakarta)
memiliki seorang agen yang punya posisi baik: Adam Malik, mantan Marxis berusia
48 tahun yang mengabdi sebagai duta besar Sukarno di Moskow dan menteri
perdagangannya.”Informasi mengenai kedekatan hubungan antara Adam Malik dan
Amerika Serikat (AS) sebetulnya sudah pernah beredar luas pada 2002. Saat itu
Departemen Luar Negeri AS mempublikasi dokumen rahasia hubungan luar negeri AS
dengan Indonesia pada periode 1964-1968. Dalam dokumen telegram yang dikirim
oleh Marshal Green, Duta Besar AS di Jakarta, kepada Departemen Luar Negeri AS
pada 1 Desember 1965, disebutkan kalau Green pernah memberikan uang Rp 50 juta
kepada Adam Malik untuk mengendalikan Kelompok Aksi Pengganjangan (KAP)
Gestapu.Sokongan kepada CIA kepada Adam Malik memang masuk akal apabila
dikaitkan dengan kepentingan AS terhadap Indonesia dalam konteks Perang Dingin.
“Indonesia di bawah Sukarno lebih cenderung untuk “mesra” dengan Soviet, ada
kalanya juga lebih “romantis” dengan China,” kata Bernd Schafer dalam
makalahnya, “Setting of the Cold War”.Dalam situasi saling merebut pengaruh itu
masuk akal jika CIA menggunakan beragam cara untuk menjalin kerjasama dengan
pihak yang anti komunis. Apalagi ketika Sukarno semakin lama semakin akrab
dengan PKI dan tak ada jalan lain bagi AS kecuali menumbangkan kekuasaannya.
Usaha Amerika lewat CIA untuk menumbangkan kekuasaan Sukarno telah telah
berkali-kali dilakukan, terlebih ketika dia menginisiasi Gerakan Non-Blok pada
1955 yang secara konsisten menentang kolonialisme dan imperialisme yang masih
diusung negeri-negeri barat pada saat itu.George McTurnan Kahin dan Audrey
Kahin dalam bukunya, Subversi Sebagai Politik Luar Negeri, menyuguhkan fakta
kalau CIA terlibat langsung dalam pemberontakan PRRI/Permesta yang gagal di
Sumatera dan Sulawesi. Buat Gedung Putih perlawanan yang dikobarkan oleh
beberapa perwira Angkatan Darat yang berkoneksi dengan beberapa tokoh PSI dan
Masyumi itu menjadi momentum untuk menjatuhkan Sukarno.Agen CIA menjalin
hubungan rahasia dengan Sumitro Djojohadikusumo yang bertugas sebagai
penggalang dana pemberontakan PRRI/Permesta. Allen Dulles, tokoh nomer wahid
CIA langsung turun tangan untuk mengatur siasat operasi klandestin itu.
Sejumlah perwira pembangkang seperti Simbolon, Ventje Sumual dan Ahmad Husein
pun dijadikan partner dalam operasi subversif CIA untuk menumbangkan
Sukarno.Pada kenyataannya CIA gagal. Pasukan PRRI lari tunggang-langgang
diserang TNI di bawah kepemimpinan Jend. Nasution, perwira yang dikenal
anti-komunis. Semua di luar dugaan AS. Bantuan senjata dan latihan tempur yang
diberikan AS kepada pihak pemberontak sia-sia tanpa guna. Operasi bawah tanah
CIA yang langsung dikontrol oleh kantor pusat CIA pun bubar. Para pemberontak
tak sempat meledakkan instalasi minyak Caltex di Pekanbaru, Riau sebagaimana
direncanakan oleh CIA yang kelak akan digunakan sebagai dalih AS menyerang
Indonesia.Tapi AS tak mau menyerah. Lewat jejaring spionasenya ia masih saja
berupaya mendongkel kekuasaan Presiden Sukarno. Lewat para pemberontak Permesta
di Sulawesi Utara CIA terus menyokong perlawanan terhadap pusat. Namun
lagi-lagi aksi klandestin CIA terbongkar ketika tentara Indonesia berhasil
menembak jatuh pesawat yang dikemudikan Allen Pope, pilot berkewarganegaraan
AS. Dia diadili dan dijatuhi hukuman mati. Pope diampuni setelah istri dan
ibunya memohon pembebasannya kepada Presiden Sukarno.CIA juga disebut-sebut
mendalangi upaya pembunuhan terhadap Presiden Sukarno. Salah satu aksi
pembunuhan yang gagal dan cukup menggegerkan adalah Peristiwa Cikini, 30
November 1957. Dalam peristiwa itu 11 orang tewas seketika dan 30 lainnya
mengalami luka-luka. Sebagian besar korban adalah anak-anak, siswa Perguruan
Cikini. Presiden Sukarno yang baru saja selesai mengikuti bazaar di tempat
anak-anaknya bersekolah itu tiba-tiba dilempari granat. Pengawal berhasil
menyelamatkannya.Zulkifli Lubis disebut-sebut ada di balik percobaan pembunuhan
itu. Dia yang juga dikenal sebagai pendiri intelijen Indonesia berkali-kali
melakukan upaya pendongkelan Presiden Sukarno. Dalam peristiwa 17 Oktober 1952
Lubis justru berseberangan dengan kelompok Nasution yang menjadi aktor
penodongan moncong meriam ke Istana Merdeka namun pada pemberontakan PRRI dia
memiliki peranan yang cukup penting.Amerika memang tak nyaman dengan gaya
kepemimpinan Sukarno dan upayanya yang menggalang kekuatan dunia ketiga.
Sukarno memang menyatakan kalau Gerakan Non-Blok tak memih kepada salah satu
kekuatan, di Timur maupun di Barat. Namun demikian menurut pengakuan Sukarno
dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesiamerasa lebih
nyaman bekerjasama dengan Soviet setelah Presiden AS John Kennedy tewas.
Tewasnya Kennedy memupuskan harapan hubungan Indonesia-AS untuk lebih akrab
lagi.“Presiden Kennedy dapat memahami jalan pemikiranku...Andaikata Presiden
Kennedy masih hidup, Indonesia dan Amerika Serikat mungkin tidak akan hanyut
terpisah jauh satu sama lain,” kata Sukarno pada Cindy Adams.Amerika lewat
tangan CIA tak pernah berhenti untuk menjatuhkan Sukarno. Mereka bahkan membuat
sebuah film porno yang diperankan oleh seorang aktor berpostur seperti Sukarno.
Sheffield Edwards pejabat tinggi CIA di era Allen Dulles otak di belakang
pembuatan film cabul itu. Sukarno dijadikan bahan olok-olok oleh Amerika. Besar
kemungkinan pula AS khawatir akan kehilangan pundi-pundi uangnya kalau Sukarno
tetap menjadi presiden dan menasionalisasi seluruh aset perusahaan milik AS
yang telah beroperasi di Indonesia sejak zaman kolonial.Penggulingan Sukarno
bagi AS adalah tujuan yang masuk akal. Penggunaan aset-aset CIA di Indonesia
pun menjadi keharusan untuk mendukung tujuan tersebut. Membandingkan keadaan
era Sukarno dengan sekarang tentu berbeda. Sekarang pemerintah AS relatif tak
punya halangan berarti di dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia, apalagi
semenjak pemerintah Suharto berkuasa. Jadi apakah Gayus benar dengan
pengakuannya di Pengadilan? Satu yang pasti, CIA bukan tipe spion melayu yang
mengaku intel ketika menjalankan aksinya. Wajah Gayus tampak menegang. Sesekali
jemarinya bergerak, seperti meremas sesuatu. Dia tampak cemas. Siang itu,
mantan pegawai pajak itu menyampaikan “curhatnya” ke hadapan majelis
hakim.“Berdasar cerita John Grice pada saya, John Grice bilang dia adalah agen
CIA yang semua kegiatannya diketahui dan direstui oleh salah seorang anggota
Satgas (Pemberantasan Mafia Hukum)," kata Gayus dalam di PN Jaksel, Jl Ampera
Raya, Rabu (19/1/11) seperti dikutip dari detik.com.Teori konspirasi seakan
dibuat nyata oleh Gayus. Entah untuk alasan apa. Satu yang pasti, kisah
tindak-tanduk agen CIA (Central Intelligence Agency) di negeri ini berkali
terjadi dan selalu berakhir pada pertanyaan yang sama: benarkah?Pengujung
November 2008 lampau masyarakat geger. Adam Malik, pemuda angkatan 45, wartawan
senior dan wakil presiden era Orde Baru disebut-sebut jadi spion CIA di
Indonesia. Gara-garanya sebuah buku karya Tim Werner yang menyebutkan kalau dia
menjalin kontak dan menerima sejumlah bantuan CIA untuk memberangus kelompok
komunis pascaperistiwa G.30.S 1965.Pada halaman 330 dalam buku yang berjudul
Membongkar Kegagalan CIA itu disebutkan kalau “Stasiun CIA (di Jakarta)
memiliki seorang agen yang punya posisi baik: Adam Malik, mantan Marxis berusia
48 tahun yang mengabdi sebagai duta besar Sukarno di Moskow dan menteri
perdagangannya.”Informasi mengenai kedekatan hubungan antara Adam Malik dan
Amerika Serikat (AS) sebetulnya sudah pernah beredar luas pada 2002. Saat itu
Departemen Luar Negeri AS mempublikasi dokumen rahasia hubungan luar negeri AS
dengan Indonesia pada periode 1964-1968. Dalam dokumen telegram yang dikirim
oleh Marshal Green, Duta Besar AS di Jakarta, kepada Departemen Luar Negeri AS
pada 1 Desember 1965, disebutkan kalau Green pernah memberikan uang Rp 50 juta
kepada Adam Malik untuk mengendalikan Kelompok Aksi Pengganjangan (KAP)
Gestapu.Sokongan kepada CIA kepada Adam Malik memang masuk akal apabila
dikaitkan dengan kepentingan AS terhadap Indonesia dalam konteks Perang Dingin.
“Indonesia di bawah Sukarno lebih cenderung untuk “mesra” dengan Soviet, ada
kalanya juga lebih “romantis” dengan China,” kata Bernd Schafer dalam
makalahnya, “Setting of the Cold War”.Dalam situasi saling merebut pengaruh itu
masuk akal jika CIA menggunakan beragam cara untuk menjalin kerjasama dengan
pihak yang anti komunis. Apalagi ketika Sukarno semakin lama semakin akrab
dengan PKI dan tak ada jalan lain bagi AS kecuali menumbangkan kekuasaannya.
Usaha Amerika lewat CIA untuk menumbangkan kekuasaan Sukarno telah telah
berkali-kali dilakukan, terlebih ketika dia menginisiasi Gerakan Non-Blok pada
1955 yang secara konsisten menentang kolonialisme dan imperialisme yang masih
diusung negeri-negeri barat pada saat itu.George McTurnan Kahin dan Audrey
Kahin dalam bukunya, Subversi Sebagai Politik Luar Negeri, menyuguhkan fakta
kalau CIA terlibat langsung dalam pemberontakan PRRI/Permesta yang gagal di
Sumatera dan Sulawesi. Buat Gedung Putih perlawanan yang dikobarkan oleh
beberapa perwira Angkatan Darat yang berkoneksi dengan beberapa tokoh PSI dan
Masyumi itu menjadi momentum untuk menjatuhkan Sukarno.Agen CIA menjalin
hubungan rahasia dengan Sumitro Djojohadikusumo yang bertugas sebagai
penggalang dana pemberontakan PRRI/Permesta. Allen Dulles, tokoh nomer wahid
CIA langsung turun tangan untuk mengatur siasat operasi klandestin itu.
Sejumlah perwira pembangkang seperti Simbolon, Ventje Sumual dan Ahmad Husein
pun dijadikan partner dalam operasi subversif CIA untuk menumbangkan
Sukarno.Pada kenyataannya CIA gagal. Pasukan PRRI lari tunggang-langgang
diserang TNI di bawah kepemimpinan Jend. Nasution, perwira yang dikenal
anti-komunis. Semua di luar dugaan AS. Bantuan senjata dan latihan tempur yang
diberikan AS kepada pihak pemberontak sia-sia tanpa guna. Operasi bawah tanah
CIA yang langsung dikontrol oleh kantor pusat CIA pun bubar. Para pemberontak
tak sempat meledakkan instalasi minyak Caltex di Pekanbaru, Riau sebagaimana
direncanakan oleh CIA yang kelak akan digunakan sebagai dalih AS menyerang
Indonesia.Tapi AS tak mau menyerah. Lewat jejaring spionasenya ia masih saja
berupaya mendongkel kekuasaan Presiden Sukarno. Lewat para pemberontak Permesta
di Sulawesi Utara CIA terus menyokong perlawanan terhadap pusat. Namun
lagi-lagi aksi klandestin CIA terbongkar ketika tentara Indonesia berhasil
menembak jatuh pesawat yang dikemudikan Allen Pope, pilot berkewarganegaraan
AS. Dia diadili dan dijatuhi hukuman mati. Pope diampuni setelah istri dan
ibunya memohon pembebasannya kepada Presiden Sukarno.CIA juga disebut-sebut
mendalangi upaya pembunuhan terhadap Presiden Sukarno. Salah satu aksi
pembunuhan yang gagal dan cukup menggegerkan adalah Peristiwa Cikini, 30
November 1957. Dalam peristiwa itu 11 orang tewas seketika dan 30 lainnya
mengalami luka-luka. Sebagian besar korban adalah anak-anak, siswa Perguruan
Cikini. Presiden Sukarno yang baru saja selesai mengikuti bazaar di tempat
anak-anaknya bersekolah itu tiba-tiba dilempari granat. Pengawal berhasil
menyelamatkannya.Zulkifli Lubis disebut-sebut ada di balik percobaan pembunuhan
itu. Dia yang juga dikenal sebagai pendiri intelijen Indonesia berkali-kali
melakukan upaya pendongkelan Presiden Sukarno. Dalam peristiwa 17 Oktober 1952
Lubis justru berseberangan dengan kelompok Nasution yang menjadi aktor
penodongan moncong meriam ke Istana Merdeka namun pada pemberontakan PRRI dia
memiliki peranan yang cukup penting.Amerika memang tak nyaman dengan gaya
kepemimpinan Sukarno dan upayanya yang menggalang kekuatan dunia ketiga.
Sukarno memang menyatakan kalau Gerakan Non-Blok tak memih kepada salah satu
kekuatan, di Timur maupun di Barat. Namun demikian menurut pengakuan Sukarno
dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesiamerasa lebih
nyaman bekerjasama dengan Soviet setelah Presiden AS John Kennedy tewas.
Tewasnya Kennedy memupuskan harapan hubungan Indonesia-AS untuk lebih akrab
lagi.“Presiden Kennedy dapat memahami jalan pemikiranku...Andaikata Presiden
Kennedy masih hidup, Indonesia dan Amerika Serikat mungkin tidak akan hanyut
terpisah jauh satu sama lain,” kata Sukarno pada Cindy Adams.Amerika lewat
tangan CIA tak pernah berhenti untuk menjatuhkan Sukarno. Mereka bahkan membuat
sebuah film porno yang diperankan oleh seorang aktor berpostur seperti Sukarno.
Sheffield Edwards pejabat tinggi CIA di era Allen Dulles otak di belakang
pembuatan film cabul itu. Sukarno dijadikan bahan olok-olok oleh Amerika. Besar
kemungkinan pula AS khawatir akan kehilangan pundi-pundi uangnya kalau Sukarno
tetap menjadi presiden dan menasionalisasi seluruh aset perusahaan milik AS
yang telah beroperasi di Indonesia sejak zaman kolonial.Penggulingan Sukarno
bagi AS adalah tujuan yang masuk akal. Penggunaan aset-aset CIA di Indonesia
pun menjadi keharusan untuk mendukung tujuan tersebut. Membandingkan keadaan
era Sukarno dengan sekarang tentu berbeda. Sekarang pemerintah AS relatif tak
punya halangan berarti di dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia, apalagi
semenjak pemerintah Suharto berkuasa. Jadi apakah Gayus benar dengan
pengakuannya di Pengadilan? Satu yang pasti, CIA bukan tipe spion melayu yang
mengaku intel ketika menjalankan aksinya. #yiv9466108004 #yiv9466108004 --
#yiv9466108004ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-mkp #yiv9466108004hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-mkp #yiv9466108004ads
{margin-bottom:10px;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-mkp .yiv9466108004ad
{padding:0 0;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-mkp .yiv9466108004ad p
{margin:0;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-mkp .yiv9466108004ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-sponsor
#yiv9466108004ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9466108004
#yiv9466108004ygrp-sponsor #yiv9466108004ygrp-lc #yiv9466108004hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9466108004
#yiv9466108004ygrp-sponsor #yiv9466108004ygrp-lc .yiv9466108004ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9466108004 #yiv9466108004actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9466108004
#yiv9466108004activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9466108004
#yiv9466108004activity span {font-weight:700;}#yiv9466108004
#yiv9466108004activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv9466108004 #yiv9466108004activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9466108004 #yiv9466108004activity span
span {color:#ff7900;}#yiv9466108004 #yiv9466108004activity span
.yiv9466108004underline {text-decoration:underline;}#yiv9466108004
.yiv9466108004attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv9466108004 .yiv9466108004attach div a
{text-decoration:none;}#yiv9466108004 .yiv9466108004attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9466108004 .yiv9466108004attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9466108004 .yiv9466108004attach label a
{text-decoration:none;}#yiv9466108004 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv9466108004 .yiv9466108004bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9466108004
.yiv9466108004bold a {text-decoration:none;}#yiv9466108004 dd.yiv9466108004last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9466108004 dd.yiv9466108004last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9466108004
dd.yiv9466108004last p span.yiv9466108004yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv9466108004 div.yiv9466108004attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv9466108004 div.yiv9466108004attach-table
{width:400px;}#yiv9466108004 div.yiv9466108004file-title a, #yiv9466108004
div.yiv9466108004file-title a:active, #yiv9466108004
div.yiv9466108004file-title a:hover, #yiv9466108004 div.yiv9466108004file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9466108004 div.yiv9466108004photo-title a,
#yiv9466108004 div.yiv9466108004photo-title a:active, #yiv9466108004
div.yiv9466108004photo-title a:hover, #yiv9466108004
div.yiv9466108004photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9466108004
div#yiv9466108004ygrp-mlmsg #yiv9466108004ygrp-msg p a
span.yiv9466108004yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9466108004
.yiv9466108004green {color:#628c2a;}#yiv9466108004 .yiv9466108004MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv9466108004 o {font-size:0;}#yiv9466108004
#yiv9466108004photos div {float:left;width:72px;}#yiv9466108004
#yiv9466108004photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9466108004
#yiv9466108004photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9466108004
#yiv9466108004reco-category {font-size:77%;}#yiv9466108004
#yiv9466108004reco-desc {font-size:77%;}#yiv9466108004 .yiv9466108004replbq
{margin:4px;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9466108004
#yiv9466108004ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9466108004
#yiv9466108004ygrp-mlmsg select, #yiv9466108004 input, #yiv9466108004 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9466108004
#yiv9466108004ygrp-mlmsg pre, #yiv9466108004 code {font:115%
monospace;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-mlmsg #yiv9466108004logo
{padding-bottom:10px;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-msg
p#yiv9466108004attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9466108004
#yiv9466108004ygrp-reco #yiv9466108004reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-sponsor
#yiv9466108004ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9466108004
#yiv9466108004ygrp-sponsor #yiv9466108004ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9466108004
#yiv9466108004ygrp-sponsor #yiv9466108004ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv9466108004 #yiv9466108004ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9466108004
#yiv9466108004ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv9466108004