Berdasarkan riset Atlas Tobbaco, Indonesia menduduki ranking satu dengan jumlah 
perokok tertinggi di dunia. Jumlah perokok di Indonesia tahun 2016 mencapai 90 
juta jiwa. 
...Di Indonesia, merokok merenggut nyawa setidaknya 244.000 orang setiap 
tahunnya. Merokok menyebabkan sekitar 21% kematian laki-laki dewasa dan 8% 
kematian perempuan dewasa setiap tahunnya. Dan dapat disimpulkan 50% dari orang 
yang terkena akibat rokok mengalami kematian dini.
...Yang lebih membuat kita terbelalak, sebanyak 84,8 juta jiwa perokok di 
Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp20 ribu per hari. Perokok di Indonesia 
70% di antaranya berasal dari kalangan keluarga miskin. 
...Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, konsumsi rokok tahun 2010 
menyebabkan pengeluaran tak perlu sebesar Rp231,27 triliun. Dana sebesar itu 
dibuang sia-sia, tak ada manfaat. Justru menyebabkan kematian dan kemiskinan.
...Senin, 06/03/2017 11:35 WIB
Rokok: Jerat Kematian dan Kemiskinan



Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia adalah negara perokok. Hal ini dibuktikan 
dengan semakin meningkatnya jumlah perokok dari tahun ke tahun. Berdasarkan 
riset Atlas Tobbaco, Indonesia menduduki ranking satu dengan jumlah perokok 
tertinggi di dunia. Jumlah perokok di Indonesia tahun 2016 mencapai 90 juta 
jiwa. Indonesia sendiri menempati urutan tertinggi prevalensi merokok bagi 
laki-laki di ASEAN yakni sebesar 67,4 persen.

Kenyataan ini diperparah bahwa perokok di Indonesia usianya semakin muda. Data 
Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak menunjukkan jumlah perokok anak di 
bawah umur 10 tahun di Indonesia mencapai 239.000 orang. 19,8% pertama kali 
mencoba rokok sebelum usia 10 tahun, dan hampir 88,6% pertama kali mencobanya 
di bawah usia 13 tahun.

Tingginya angka perokok usia muda, bukan tak menuai persoalan. Perokok usia 
muda masuk dalam kategori “usia produktif”. Namun akibat merokok, mereka 
kehilangan produktivitas karena mortalitas dini. Merokok dapat menurunkan 
kapasitas paru-paru, sedangkan kapasitas paru-paru sangat berpengaruh pada 
kondisi dan aktivitas fisik tubuh kita. Oleh karena itu, semakin lama individu 
merokok maka akan menurunkan produktivitas kerja. Karena kondisi fisik tubuh 
kita semakin lemah dan renta.

Hal ini menyebabkan rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia. Seperti 
yang diungkapkan Asian Productivity Organization (APO), Produktivitas tenaga 
kerja Indonesia hanya sekitar 21,9 dolar AS. Posisi Indonesia berada di bawah 
Malaysia dan Thailand bahkan Sri Lanka. Miris, negara dengan jumlah penduduk 
paling tinggi, namun rendah produktivitasnya. Semua ini akibat rokok.

Bukan hanya rendahnya produktivitas. Rokok juga menyebabkan kecacatan. Di 
Indonesia menurut data Indonesia Global Adult Tobacco Survey, kecacatan akibat 
konsumsi tembakau adalah lebih dari 3,5 juta tahun hidup yang disesuaikan 
dengan kecacatan (Disability-Adjusted Life Year / DALY). Hal ini setara dengan 
kehilangan ekonomi sebesar 106 triliun rupiah (US$11 miliar).

Tak sekadar rugi ekonomi. Rokok juga mematikan. Di Indonesia, merokok merenggut 
nyawa setidaknya 244.000 orang setiap tahunnya. Merokok menyebabkan sekitar 21% 
kematian laki-laki dewasa dan 8% kematian perempuan dewasa setiap tahunnya. Dan 
dapat disimpulkan 50% dari orang yang terkena akibat rokok mengalami kematian 
dini.

Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara dengan jumlah kematian penyakit 
kardiovaskular tertinggi. Sedangkan menurut World Health Organization, rokok 
menjadi penyebab utama tingginya angka kematian penyakit kardiovaskular setelah 
tekanan darah tinggi.

Yang lebih membuat kita terbelalak, sebanyak 84,8 juta jiwa perokok di 
Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp20 ribu per hari. Perokok di Indonesia 
70% di antaranya berasal dari kalangan keluarga miskin. Badan Pusat Statistik 
(BPS) merilis bahwa pada bulan September 2016, rokok adalah komoditas yang 
menyumbang kemiskinan sebesar 10,70 persen di perkotaan dan pedesaan.

Orang lebih suka mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli rokok, 
daripada untuk biaya peningkatan taraf hidup mereka, seperti pendidikan, kursus 
ketrampilan sampai investasi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, konsumsi 
rokok tahun 2010 menyebabkan pengeluaran tak perlu sebesar Rp231,27 triliun. 
Dana sebesar itu dibuang sia-sia, tak ada manfaat. Justru menyebabkan kematian 
dan kemiskinan.

Tak berhenti sampai di sini. Industri rokok telah memiskinkan banyak petani 
tembakau di Indonesia. Tata niaga tembakau saat ini justru memiskinkan petani 
karena harga dikendalikan oleh grader. Selain itu, pabrik menekan petani 
sehingga terjadi oligopsoni. Tingginya harga tembakau tak dinikmati petani. 
Posisi tawar petani justru semakin lemah dalam menghadapi pemilik lahan, 
tengkulak, dan industri.

Namun yang memiriskan, di tengah rokok yang menjadi jerat kematian dan 
kemiskinan banyak orang, Klan Hartono (klan bisnis industri rokok) berada di 
urutan enam daftar keluarga paling kaya se-Asia. Rilis Forbes pada November 
2016 menyebutkan kekayaan Hartono bersaudara mencapai US$ 18,6 miliar atau 
sekitar Rp 245,5 triliun. Aset yang dimiliki keluarga Hartono berasal dari 
perusahaan rokok Djarum. (ded/ded)

Kirim email ke