Ahok Senyap, Anies Turunkan Spanduk, Fadli Zon Ketakutan
https://seword.com/politik/ahok-senyap-anies-turunkan-spanduk-fadli-zon-ketakutan/
BY ASAARO LAHAGU ON MARCH 12, 2017POLITIK


Kampanye senyap Ahok (Tribunnews.com)



Menjelang pemungutan suara 19 April,  strategi kampanye Ahok berubah. Kalau 
pada putaran pertama, kampanye penuh dengan hiruk pikuk, kini penuh dengan 
kesenyapan. Ahok tidak lagi mau disorot oleh media. Tidak ada lagi flash mob di 
mall. Tidak ada lagi kampanye gegap-gempita. Karena semua itu bisa sudah 
stagnan.

Kini Ahok kampanye senyap. Ia datangi langsung para pemilih yang berpotensi 
memilih dirinya. Jika mendengar ada yang sakit, nikah, butuh pertolongan, ia 
datangi secara diam-diam. Jika ada warga Jakarta yang dilanda kemalangan, ia 
datangi. Ahok kini sedang merubah strateginya dari hiruk-pikuk ke bentuk 
sunyi-senyap. Ia mendatangi langsung para pemilih untuk mensosialisasikan 
berbagai programnnya.

Sasaran Ahok memang mereka yang dulunya memilih Agus. Suara kepada Agus inilah 
yang sedang diperebutkan oleh Anies-Sandi. Modal Anies-Sandi sendiri sudah 
mencapai 40%. Jadi tinggal mencari 11% untuk merebut posisi strategis gubernur 
DKI Jakarta.

Hal yang sama juga telah dimiliki oleh Ahok. Modal suara Ahok 43%, ditambah 
para pemilih  Ahok yang terjegal 2%, maka Ahok telah menggegam jumlah suara 
45%. Itu berarti tinggal 6% lagi untuk suara yang harus dicari untuk 
memenangkan pertarungan. Dimana suara-suara itu dicari? Ya di gang-gang sempit, 
di pasar-pasar dadakan, di warung-warung kopi dan hajatan-hajatan sederhana.

Titik perhatian Ahok-Djarot sekarang adalah memastikan nama setiap pemilih 
terdaftar di DPT dan memastikan datang menyoblos pada tanggal 19 April 
mendatang. Pengawal kotak suara di setiap TPS juga telah dibentuk oleh tim 
pemenangan Ahok-Djarot. Ada sekitar 10.000 pasukan khusus yang telah dilatih 
untuk mengawal pencoblosan di setiap TPS.

Golkar dan PDIP juga terus meningkatkan peran dalam memenangkan Ahok. Ada kabar 
baru dari PDIP. Megawati akan menurunkan Risma untuk memenangkan Ahok di 
Jakarta. Jika Anies mendatangi Aher dari Jawa Barat, maka Ahok juga mampu 
mendatangkan Risma dari Surabaya.

Sementara itu untuk menetralisir keadaan, Ketua KPU DKI Sumarno dan Ketua 
Bawaslu DKI, Mimah Susanti diundang datang dalam rapat tertutup partai 
pengusung petahana Ahok-Djarot. Keduanya sukses dihadirkan di Novotel Hotel, 
Jakarta Pusat, untuk menjelaskan berbagai peraturan KPUD dan Bawaslu. Jelas ada 
pesan luar biasa membahana kepada KPUD DKI agar tetap netral dan jangan 
mencoba-coba untuk bermain.

Di media, perang propaganda oleh para cyber army Ahok-Djarot semakin meningkat. 
Kalau dulu sasaran tembak adalah Agus, kini 100%  serangan diarahkan kepada 
Anies-Sandi. Kabar bahwa ada pendukung Ahok yang sudah meninggal tidak mau 
disolatkan oleh Masjid pendukung Anies-Sandi, menjadi santapan empuk media 
untuk menyerang Anies-Sandi.

Opini publik di Jakarta yang masih waras kini semakin jijik kepada para 
pendukung Anies. Setelah para pendukung Anies melancarkan isu-isu SARA,  kini 
serangan kepada Ahok-Djarot dilancarkan lewat politik jenazah. Anies pun 
terpaksa buka suara. Tekanan dan bullian media, perintah Menteri agama, serta 
bergeraknya GP Ansor yang bersedia menyolatkan jenazah, membuat Anies 
mengeluarkan perintah untuk menurunkan spanduk hasutan penolakan menyolatkan 
jenazah itu.

Jelas menolak penyolatan jenazah hanya gara-gara mendukung Ahok, adalah 
tindakan konyol dan ketidakwarasan yang luar biasa. Kadar keagamaan orang-orang 
yang berilaku demikian sangat dangkal dan telah dirasuki fanatisme yang 
melewati batas. Jika Anies tidak meminta menurunkan spanduk tersebut, maka ia 
sama saja sebagai kaum tidak waras.

Kini menjelang Pilkada putaran kedua 19 April mendatang, tekanan kepada 
pasangan Anies-Sandi semakin menguat. Berbagai laporan tentang Anies-Sandi 
terkait pelanggaran hukum mulai diproses oleh aparat. Mengapa? Alasannya jelas. 
Anies-Sandi selama ini mengkampanyekan dirinya sebagai sosok bersih, santun, 
adil, tidak korup dan sosok tak bercela. Dan inilah yang mau diuji oleh aparat 
kepolisian dan KPK. Benarkah Anies-Sandi sosok santun dan bersih bagai malaikat?

Ketika aparat mulai menguji Anies-Sandi, Fadli Zon yang kebelet memenangkan 
sosok yang didukungnya, mulai ketakutan. Lewat cuitan-cuitannya di Twitter, ia 
melontarkan bahwa penguasa tertinggi sedang bermain di Pilkada DKI. Penguasa 
tertinggi sedang melancarkan strategi untuk menjegal Anies-Sandi.

Jelas Fadli Zon dilanda ketakutan. Ia takut kalau panggilan pemeriksaan yang 
dilakukan aparat kepada Anies-Sandi membuat pamor Anies-Sandi anjilok. Fadli 
Zon takut jika akhirnya Anies-Sandi ditemukan oleh aparat ternyata menyimpan 
bau busuk pelanggaran hukum dan tidak seperti yang digembar-gemborkan bersih, 
santun dan tak bercela. Dan ketakutan terakhir Fadzli Zon adalah jika 
Anies-Sandi ternyata pada akhirnya kalah oleh pasangan Ahok-Djarot.

Jadi, melihat kampanye senyap Ahok, partai pendukung sukses merapat ke KPUD dan 
Bawaslu, pendukung Anies meluncurkan senjata pamungkas, yakni politik mayat, 
politik jenazah. Dan ternyata ini membuat tekanan kepada Anies datang luar 
biasa. Akibatnya Anies terpaksa mengeluarkan perintah untuk menurunkan spanduk 
politik jenazah itu. Sementara itu, di tengah situasi pertarungan yang semakin 
sengit, Fadli Zon mulai dilanda ketakutan karena mulai mencium aroma kekalahan 
untuk ke sekian kalinya. Begitulah kura-kura.

Salam Seword,

Asaaro Lahagu


Kirim email ke